Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 63 Penolakan


__ADS_3

Pagi hari, setelah Denny berangkat ke kantor, Hanna pergi berbelanja keperluan rumah di mall.


Saat menaiki escalator, menuju ke tempat bagian makanan, tanpa sengaja matanya melirik ke toko pakaian dalam wanita. Pikirannya teringat ucapan Bik Surtik. Tanpa pikir panjang, Hanna menjejakkan kakinya masuk ke toko. Para pelayan ramah menawarkan berbagai model pakaian tidur. Hanna pun membeli beberapa pakaian tidur dan tidak lupa memilih pakaian tidur yang seksi.


Hanna lanjut berbelanja kebutuhan rumah. Berjalan mendorong trolli memilih beberapa jenis makanan, minuman dan perlengkapan dapur lainnya. Merasa sudah cukup, Hanna pun melangkah menuju bagian kasir. Setelah selesai membayar, Hanna membawa semua barang belanjaan menuju mobil.


Sampai di rumah, semua barang belanjaan dibawa Bik Surtik ke dapur. Hanna menuju kamar, di dalam, Hanna duduk di tepi tempat tidur.


“Nyonya, ini Bibik,” Suara Bik Surtik terdengar memanggil di balik pintu.


“Ada apa Bik, masuk aja?” Hanna malas melangkah ke luar, kakinya terasa pegal setelah lama berjalan.


“Nyonya, belanjaannya terbawa ke dapur,” Bik Surtik menyerahkan sebuah kantong belanjaan Hanna tiba di hadapan Hanna.


“Oh, iya Bik, saya tadi belanja pakain tidur. Sebentar, ini saya juga ada belikan untuk Bibik.” Hanna membuka kantong belanjaan dan memberikan sebuah baju tidur.


“Wah, terima kasih Nyonya. Untuk Nyonya sudah dipilih yang tuan Denny suka?” Mata Bik Surtik melirik genit.


“Iya, sesuai saran Bibik, yang mencolokkan?” Hanna tersenyum membalas tatapan genit Bik Surtik.


“Hi, hi, hi, Bibik doakan berhasil. Bibik ke luar dulu, mau beresin belanjaan di dapur,” Bik Surtik melangkah ke luar kamar dan tersenyum bahagia, Hanna mau berusaha memikat hati Denny. Dia berharap majikannya juga bahagia.


Hanna tersenyum menatap kepergian Bik Surtik. Dia pun menyadari, kalau kesepian dirinya dirasakan juga oleh orang-orang di sekitarnya.


Di kantor, Denny disibukkan beberapa pertemuan dan Iqbal selalu setia mendampinginya. Terkadang pertemuan dilakukan di beberapa tempat terpisah di luar kantor. Seperti hari ini, kembalinya dari pertemuan di luar, Denny merasa sangat lelah. Menghempaskan tubuhnya di sofa dan memejamkan mata.


“Hari ini jadwalmu cukup padat, sampai nanti malam masih ada pertemuan yang harus dilakukan. Sebaiknya istirahatlah, agar tenagamu terkumpul kembali.” Iqbal menatap Denny yang kelelahan.


“Hem, aku ingin tidur sebentar. Kau bangunkan aku lima belas menit sebelum pertemuan,” selain lelah, kantuk menggantungi kantung matanya karena kembali ke rumah larut malam.


“Baiklah, aku ke luar. Ada sesuatu yang harusku lakukan,” Iqbal menatap Denny berjalan ke ruang istirahatnya dan dia pun melangkah ke luar meninggalkan kantor Denny.


Hari merangkak malam, pertemuan telah selesai dilakukan. Denny menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi mobil. Hanna telah menghubungi sebelumnya, menunggu makan malam bersama di rumah. Denny menjawab tidak bisa makan malam di rumah karena masih ada pertemuan harus dilakukan. Walaupun mereka tidak memiliki kedekatan layaknya sepasang suami istri, tapi Denny tetap menghargai perbuatan Hanna seperti menyiapkan pakaian kerja, sarapan pagi dan melakukan makan malam di rumah.


Mobil pun berjalan membelah malam di keramaian kota. Denny meminta Iqbal menghantarnya pulang ke rumah. Sampai di rumah, Hanna menyambut mereka berdua. Denny melangkah masuk langsung menuju kamar tanpa menghiraukan senyum keramahan Hanna. Iqbal masih berdiri di depan pintu dan hanya bisa menghela nafas panjang melihat sikap acuh Denny.

__ADS_1


“Hai An, boleh minta kopi? Aku masih harus menyetir mobil pulang ke apartemen. Jadi mata ini harus bisa ditahan, jangan sampai ngantuk di jalan,” Iqbal tersenyum menatap Hanna yang terlihat murung.


“Tentu boleh, kamu masuk dan duduklah, sebentar aku siapkan.” Balas Hanna menjawab permintaan Iqbal.


“Mas Denny mau minum juga apa ngak ya?” Gumam Hanna berbicara dengan dirinya sendiri.


“Ada apa An?” Tanya Iqbal melangkah masuk dan melihat Hanna yang sedikit kebingungan.


“Oh, ngak apa-apa,” Hanna melangkah ke dapur dan meningalkan Iqbal duduk di sofa ruang tamu.


Beberapa saat kemudian, Hanna sudah kembali dengan membawa secangkir kopi di dalam nampan.


“Bal, ini kopinya. Kelihatannya hari ini kalian sangat repot, banyak pekerjaan di kantor?” Tanya Hanna membuka percakapan.


“Hem, satu harian ini Denny harus melakukan beberapa pertemuan, sangat melelahkan,” Jawab Iqbal sambil menyeruput kopinya.


“Mas Denny pasti capek. Ngak mungkin malam ini dilakukan,” bisik batin Hanna mengetahui kesibukan Denny hari ini.


“Kamu kenapa An, mengapa melamun?” Tanya Iqbal menatap Hanna yang terpaku diam.


“Tidak, setelah minum kopi ini, aku akan pulang. Aku juga capek, mau istirahat, besok masih ada pekerjaan yang harus dilakukan,” ucap Iqbal menatap Hanna yang terlihat kecewa.


“Makanya cepat cari pasangan, supaya ada yang nyambut kamu pulang dan buatkan kopi,” canda Hanna berusaha tersenyum.


“Aku juga mau seperti yang kamu bilang. Apa ada wanita cantik yang bisa kamu kenalkan sama aku?” Iqbal membalas candaan Hanna.


“Banyak, kamu tinggal pilih mau Indonesia asli, campuran atau bule juga ada,” Hanna menjawab pertanyaan Iqbal membalas candaan yang dianggapnya tidak serius.


Iqbal senang Hanna bisa tersenyum, melihat sikap Denny yang acuh kepadanya Iqbal bisa merasakan kesepian Hanna.


“Wah, aku ketemu Mak Comblang yang complit rupanya. Ngak nyangka kamu punya calon yang begitu banyak?”


“Hus, kamu kira aku buka biro jodoh apa? Nanti pada banyak yang pasang iklan ke aku. Cukup kalian aja yang kerja, aku terima hasilnya.” Hanna tertawa mendengar perkataan Iqbal. Hati Hanna sangat terhibur berbicara dengan Iqbal karena dia memang teman yang enak diajak bicara.


“An, bicara masalah kerja, kamu ngak tertarik bekerja? Kamukan lulusan luar negeri, perusahaan papamu juga besar. Ngak bosan di rumah terus?” Iqbal berharap Hanna bisa mencari kesibukan menghusir rasa sepinya di rumah dan menghadapi sikap acuh Denny.

__ADS_1


“Akukan udah bilang, aku mau terima hasilnya aja. Sudah capek berpikir terus dari masa sekolah sampai kuliah. Sekarang aku ingin menikmati hidup, lagian harta papa ngak akan habis untuk aku sendiri. Kalau aku juga kerja, yang menikmatinya siapa coba?” Dengan gampang Hanna menjawab. Memang dia tidak mau terikat dengan pekerjaan. Dirinya lebih senang bebas dan bisa bersantai kapan pun dia inginkan.


“Benar juga, papa kamu hanya punya anak semata wayang. Apa ngak kepikiran mau nikah lagi?” Iqbal masih melanjutkan menyeruput kopinya.


“Sudah aku tawarkan sama Papa biar dia ngak kesepian. Tapi Papa ngak bersedia, dia masih cinta mati sama mama katanya,” Hanna menjawab dengan mata menatap ke depan dan pikirannya terbawa ke pada Denny.


“Papa sama dengan Mas Denny, cinta mati dengan satu wanita saja,” bisik batin Hanna.


“Hei An, kenapa bengong? Bukan alasan itu saja, papa kamu juga ngak mau terbagi kasih sayangnnya dengan wanita lain selain kamu.” Jawab Iqbal menghibur Hanna, dia tahu di balik diam Hanna memikirkan Denny.


“Mungkin juga,” Hanna tersenyum menatap Iqbal.


“Tapi untuk pria yang satu itu, kasih sayangnya juga belum terbagikan sepenuhnya, jadi kamu harus bisa mendapatkannya. Aku yakin kamu bisa.”Iqbal tersenyum membalas senyuman Hanna. Pria yang dia maksud adalah Denny. Iqbal memberikan semangat ke pada Hanna.


Di kamar, Denny telah selesai mandi, setelah terguyur air, tubuhnya terasa segar. Dirinya tidak menyadari kalau Iqbal belum pulang dan masih berbicara dengan Hanna. Denny memilih duduk di tempat tidur dengan menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur lalu menutup kedua matanya.


Hanna menghantar kepulangan Iqbal sampai di depan pintu. Perlahan mobil melaju meninggalkan rumah. Pintu ditutup, Hanna melangkah membawa cangkir kotor, belum sampai ke dapur, bertemu Bik Surtik.


“Kok Nyonya yang bawa, biar Bibik saja. Nah, sekarang Nyonya ke kamar,” Bik Surtik mengambil cangkir di tangan Hanna dan mendorong tubuh Hanna agar pergi ke kamar. Hanna tersenyum dan menuruti perkataan Bik Surtik.


Perlahan Hanna melangkah masuk ke dalam kamar. Terlihat olehnya Denny bersender di tempat tidur dengan mata tertutup. Hanna membuka lemari pakaian, mengambil pakaian tidur dan melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Hanna menatap lama pakaian tidur yang ada di tangan. Hatinya ragu untuk memakainya, setelah lama berpikir Hanna membulatkan tekad dan memakainya.


Perlahan Hanna ke luar dari kamar mandi dan menggantikan lampu kamar dengan lampu tidur. Pencahayaan kamar menjadi temaram, Hanna telah berdiri di sisi Denny.


Terasa hangat sentuhan di kening, Denny perlahan membuka kelopak matanya. Pandangan Denny menatap seorang wanita cantik berdiri di hadapnnya. Tersenyum, dengan menggunakan pakaian yang sangat seksi dan menggoda. Denny tersadar kalau wanita itu adalah Hanna. Tangan Denny meraih selimut, lalu berdiri dan membalutkan ke tubuh Hanna.


“Hentikan tindakan konyol ini,” Denny mengambil bantal dan melangkah pergi ke luar kamar.


Hanna terkejut mendengar ucapan dan menerima perlakukan Denny. Dirinya ditolak begitu saja. Hanna terduduk lemas di tepi tempat tidur, dan tubuhnya bergetar karena tangis yang tak dapat terbendung keluar dari matanya.


Denny kesal dengan sikap bodoh Hanna, menyangka Hanna telah termakan ucapan Mamanya.


Dia memilih tidur di sofa malam ini, karena tidak nyaman dengan sikap Hanna.

__ADS_1


Malam semakin sepi, sesepi perasaan yang melanda Hanna. Perlahan Hanna melangkah ke luar kamar dengan selimut di tangannya. Menghampiri Denny yang sudah tertidur lelap. Hanna menutupi tubuh Denny dengan selimut dan menatap lekat wajahnya. Cairan bening, kembali keluar dari sudut matanya. Hanna berbalik dan melangkah masuk ke kamar, menghabiskan sisa malam seorang diri.


__ADS_2