
Terasa tangan seseorang memegang bahu Indah, dia menoleh dan terlihat Hendrik telah berdiri di belakangnya.
“Hei Hen, kok kamu bisa di sini, kapan datang?” Indah terkejut, dia tidak menyadari keberadaan Hendrik. Dia langsung berdiri, mengusap air membasahi pipi, lalu berusaha tersenyum, menyembunyikan kesedihannya dari Hendrik.
“Aku baru saja datang, melihat pintu terbuka, aku masuk saja.” Hendrik telah mendengar semua yang terjadi. Dia memang bermaksud menemui Indah, karena tahu Indah tidak datang ke kantor. Tiba di area parkir, Hendrik melihat Mama Denny berjalan masuk ke gedung apartemen. Secara perlahan dan diam-diam Hendrik menyusul dari belakang. Ucapan mama Denny terdengar jelas dan dia sangat sedih Indah menerima perlakuan kasar.
“Duduk Hen, aku buatkan minuman sebentar,” Indah melangkahkan kaki, tapi terhenti saat Hendrik memegang tangannya.
“In, ngak usah repot, duduk aja, aku ingin bertemu kamu,” Hendrik menarik dan membuat Indah duduk di sofa bersamanya.
“Ada perlu apa Hen menemuiku, dan gak baik juga kamu dan aku berbicara berdua begini,apa lagi ngak ada Mas Denny. Aku ngak mau timbul salah paham tentang kita.” Indah tidak mau kedatangan Hendrik menimbulkan masalah. Hendrik memang temannya, tapi Denny tidak begitu mengenal Hendrik. Indah ingin menghindari rasa curiga Denny.
“Kamu baik-baik aja In?” Bagaimana pipimu, apa masih sakit?” Hendrik meraba wajah Indah, tidak mempedulikan ucapan Indah. Dia tidak tahan melihat bekas merah tergambar jelas di pipi Indah.
“Ya, dia akan baik-baik saja, karena ada aku suaminya sekarang,” Denny telah berdiri di depan pintu. Matanya tajam melihat Hendrik.
Indah dan Hendrik bersama-sama menoleh ke arah Denny.
“Mas, kamu pulang?” Indah beranjak dari duduk dan gugup menatap ketat wajah Denny, berjalan mendekati mereka berdua.
__ADS_1
“Hem, Mas langsung pulang, begitu tahu mama datang ke sini. Maafkan Mas, tidak bisa melindungi kamu.” Denny menarik Indah dalam pelukannya dan berujar pelan di telinga Indah.
“In, aku permisi, lain waktu kita bicara lagi,” Hendrik menarik diri, hatinya sedih melihat Indah dalam dekapan Denny. Dirinya sangat ingin berada di sisi Indah dan menghiburnya saat ini. Tapi, itu semua tidak mungkin dilakukan. Indah tidak akan pernah menjadi miliknya.
“Terima kasih Hen,” Indah menatap kepergian Hendrik. Entah mengapa hatinya sedih melihat Hendrik melangkah pergi dengan wajah yang lesu.
“Mari ikut Mas,” Denny menarik tangan Indah dan membawanya ke kamar. Indah hanya bisa menuruti. Matanya menatap wajah Denny, terlihat mata Denny berkaca-kaca. Indah menyadari Denny sangat sedih dan peduli padanya.
“In, kamu duduk di sini, Mas ke dapur sebentar,” Indah duduk di ranjang. Denny mengecup lembut dahi Indah dan mengelus lembut kepalanya.
“Hem, Iya Mas,” Indah tersenyum dan melihat Denny berjalan ke luar kamar. Dirinya sedih bercambur bahagia menerima perlakuan hangat Denny.
Tak lama, Denny kembali ke kamar dengan membawa mangkuk berisi air es dan sehelai handuk kecil.
“Mas, aku ngak apa-apa,” Indah melihat perlahan air mengalir dari sudut mata Denny. Tangan Indah membelai lembut wajah Denny.
“Sutt, tolong diam aja, biar Mas lakukan,” Denny menatap sendu wajah Indah. Dirinya sangat sedih dan kecewa pada mamanya yang sudah berbuat kasar. Sekilas matanya menatap lembaran sisa uang yang masih berserak di lantai saat melangkah masuk menghampiri Indah. Dia tidak menyangka mamanya bisa menghina Indah yang sudah menjadi istrinya.
Indak tak dapat menahan rasa lelah di tubuh dan pikirannya, perlahan matanya terpejam dan tertidur.
__ADS_1
“In, aku tidak akan membiarkan ini terulang kembali,” Denny berkata di dalam hati dan mengelus lembut rambut Indah.
Terdengar irama ponsel berbunyi, Denny meraih dari balik saku bajunya. Terlihat di layar ponsel mamanya memanggil.
“ Denny tidak menyangka Mama bisa berbuat kasar, Apa salah Indah, Ma? Mama boleh kirim orang pukul Denny tapi jangan sentuh Indah,”Denny menjawab panggilan mamanya dengan nada marah.
“Mama tidak sebodoh itu Denny, mengirim orang memukuli anak mama. Tamparan itu hanya hadiah kecil dari mama sebagai kado pernikahan kalian berdua. Kenapa itu kamu lakukan,hah? Kamu sudah menentang mama, pernikahan kalian tidak benar. Mama akan membatalkan, pernikahan itu tidak sah, kamu tidak sadar melakukannya, kamu di bawah tekanan Denny. Mama akan menuntut orang dan keluarga yang telah menikahkan kalian berdua. Mama tahu, pernikahan kalian tidak terdaftar di Jakarta, pernikahan kalian tidak diakui negara,” Mama Denny membalas dengan berucap marah dan merencanakan membatalkan pernikahan Denny.
“Ma, apa yang mama katakan? Menuntut dan pernikahan kami tidak sah? Kami sah menikah secara agama dan negara. Siapa pun tidak dapat membatalkan pernikahan kami. Mama harus menerima Indah sudah menjadi istri Denny.” Suara Denny semakin meninggi dan membuat Indah terbangun dari tidurnya. Tubuh Indah bergetar mengetahui, mama Denny benar-benar menentang pernikahan mereka dan berusaha memisahkan mereka berdua.
“Hah, kamu jangan berbohong Denny, mama sudah tahu semua. Tidak ada urusan pernikahan bisa dilakukan dalam waktu singkat, semua harus melalui proses. Baiklah, mama anggap kamu hanya ingin bersenang-senang dengan wanita itu. Setelah kamu bosan, cepat kamu tinggalkan dia dan beri dia uang yang banyak supaya tidak merepotkan di masa datang. Mama akan menikahkan kamu dengan Hanna,” Suara mama Denny semakin lantang terdengar dari ujung ponsel Denny. Amarah Denny semakin memuncak mendengar semua perkataaan mamanya.
“Ma, stop. Please Ma, Denny bersungguh-sungguh mencintai dan menikahi Indah, bukan untuk kesenangan sesaat. Jangan paksakan Denny menikahi Hanna. Mengapa Mama sampai sekarang tidak bisa terima, Denny tidak bisa menerimanya sebagai istri. Wanita bukan hanya dia di dunia ini. Denny tidak mencintainya. Sampai kapan Mama bersikap begini?” Denny benar-benar tidak mengerti dengan sikap Mamanya yang terus memaksakan Hanna sebagai istrinya. Seolah-olah ada yang dirahasiakan darinya, dan sepertinya Mama terikat harus menikahkannya sama Hanna.
“Mama sudah sampaikan semuanya. Waktu kamu sama wanita itu hanya satu bulan, setelah itu tinggalkan dia. Kalau tidak kamu akan menyesal dan kamu boleh pilih tidak melihat dia, atau Mama untuk selama-lamanya,” Mama Denny memutuskan pembicaraan.
“Ma, tunggu jangan ditutup dulu, Denny belum selesai,” Denny kesal, dan membanting ponselnya di lantai.
“Hah, sial. Kenapa Ma- kenapa Mama memaksaku?” Denny terduduk lemah di lantai, dia tidak menyangka mamanya memberi ancaman di luar dugaannya. Satu bulan waktu yang dia miliki bersama Indah, ancaman yang diberikan sangat tidak masuk akal. Mamanya tidak pernah berbuat senekat ini sebelumnya.
__ADS_1
“Mas, ada apa?” Indah ikut duduk di lantai memeluk Denny dan menenangkannya. Indah berusaha menguatkan diri di hadapan Denny. Wajah Denny terlihat sedih. Denny menatap Indah dan membalas pelukan dengan merangkulnya erat.
“Mas, maafkan membuat kamu mencintai dan menikahiku. Aku bersalah membuat kamu berselisih dengan Mama.” Indah berbicara sendiri di dalam hati. Dirinya sangat sedih telah membuat Denny sedih dan berselisih dengan Mamanya.