Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 77 Cinta itu Hilang?


__ADS_3

Mama Denny duduk termenung, mengingat pembicaraannya dengan Hanna. Pak Jung memperhatikan dari sudut matanya, menebak masalah yang menjadi beban pikiran. Pak Jung datang menghampiri.


“Nyonya, apa yang terjadi? Ada yang harus saya lakukan?” Tanya lelaki separuh baya itu melihat mama Denny masih dirundung lamunan.


“Jung, di mana dia sekarang? Bagaimana keadaannya?” Pertanyaan yang menggantung di kepala mama Denny.


“Nyonya, saya sudah berusaha mencarinya, tapi belum berhasil. Kemungkinan dia mengganti identitas, jadi jejaknya sulit dilacak.” Jelas Pak Jung, mengerti arah pembicaraan mama Denny.


“Mungkin Hanna mengetahui keberadaannya?” Mama Denny menduga, kalau Hanna masih menyimpan rahasia.


“Baiklah, saya akan mencoba melacak dari nomor telpon Nona Hanna. Kalau mereka berhubungan, kemungkinan besar kita bisa menemukannya.” Pak Jung meraih ponsel dari saku baju, dan terdengar berbicara dengan seeorang di seberang.


Di ruang kerja, Iqbal menyandarkan tubuh di sofa menunggu kedatangan Denny.


“Cklek,” terdengar pintu terbuka, Denny melangkah masuk dan senyum menggaris di bibirnya menatap Iqbal.


“Bagaimana keadaan Hanna?” Iqbal mengkhawatirkan keadaan Hanna, melihat seorang perawat harus menjaganya.


“Dia menderita leukemia, selama ini merahasiakan dari kita. Aku sangat bersalah, tidak menyadari sedikit pun.” Denny mendaratkan tubuh di sofa dengan melepaskan nafas kasar.


“Apa? Tapi dia sedang hamil, bagaimana mungkin penderita leukemia bisa mengandung, itu akan memperburuk keadaannya.” Mata Iqbal membesar, dia tidak percaya perkataan yang baru saja didengarnya.


“Itu kenyataan. Semakin besar usia kehamilannya, kondisi Hanna akan terancam dan juga bayinya. Keadaan itu bisa terjadi kapan saja, dalam waktu yang tidak terduga. Aku akan berusaha menyelamatkan keduanya.” Denny menatap jauh ke depan.


“Bukan lebih baik, dia di rumah sakit, dokter bisa mengawasinya setiap saat,” Iqbal lebih memilih, Hanna dirawat di rumah sakit.


“Aku ingin memberikan kenyamanan. Dia tertekan berada di rumah sakit. Harun mengirim perawat itu untuk menjaga dan melaporkan keadaannya.” Jelas Denny.


“Aku yakin kau sudah mempertimbangkan semua.” Ungkap Iqbal.


“Kita sudah membahas masalah Hanna. Bagaimana pekerjaanmu, bukankah kau harus kembali besok?” Denny mengalihkan pandangan ke wajah Iqbal.


“Semua sudah beres, kita hanya menunggu kunjungan sebagai balasan persetujuan. Aku sudah mengirimkan file perjanjian ke emailmu.” Iqbal berhasil meyakinkan investor asing bekerjasama membuka cabang perusahaan.


Denny meraih ponsel dan pandangannya terfokus ke layar.


“Bagus,” terdengar ucapan Denny merasa puas setelah melihat hasil kerja sahabatnya.


“Terima kasih,” balas Iqbal, mendapatkan pujian Denny.


“Ada lagi yang ingin kau sampaikan?” Tanya Denny, pandangannya masih belum beralih dari layar ponsel.


“Tidak ada, semua sudah ada dilaporan itu,” ucap Iqbal menyenderkan tubuh dan memejamkan kedua mata.

__ADS_1


“Apa kau yakin?” Tanya Denny, melirik Iqbal dari sudut matanya.


“Kenapa, apa ada yang terlewatkan dilaporan itu?” Iqbal menatap langit-langit ruangan, memutar otak mengingat kembali laporan yang sudah dikirimkan.


“Cling, Cling, Cling,” terdengar irama pesan masuk di ponsel Iqbal.


Iqbal meraih ponsel dari dalam saku baju dan jarinya menyentuh layar. Seketika matanya membesar dan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


“Kau memata-mataiku?” Senyum kecut Iqbal menatap Denny.


“Tidak perlu melakukannya aku mempercayaimu. Seseorang mengirimkan foto-foto itu. Keterlaluan kau, apa harus di muka umum menciumnya?” Denny mengalihkan pandangan menatap Iqbal.


“Gadis itu, membuat kesabaranku hilang. Entah setan apa yang sudah menguasaiku,” Iqbal berusaha membuat alasan membenarkan tindakannya.


“Setan katamu? Alasan kuno. Kau tertarik padanya, hingga kau kehilangan akal sehatmu. Aku juga pernah mengalami itu, saat bersama Indah. Bagiku dunia hanya milik kami berdua. Saat itu, aku ingin melakukan apa saja , agar dapat bersamanya.” Bayangan kenangan bersama Indah terlintas di pikiran


Denny.


“Iya, aku tertarik pada gadis itu. Aku sudah mengatakan kalau dia akan menjadi milikku.” Ucap Iqbal.


“Ha…,Ha…, Ha…., jangan sesumbar sobat.” Denny tertawa dan terdiam dalam waktu bersamaan.


“Apa maksudmu?” Iqbal tidak mengerti maksud ucapan Denny.


“Aku juga pernah mengatakan itu pada Indah, dia akan menjadi milikku. Tapi, kenyataannya kau bisa lihat sendiri. Tuhan berkendak lain.” Denny menatap Iqbal dalam.


“Tidak apa-apa sobat, kepercayaan diri itu perlu. Aku mendukungmu dan kau pantas bahagia.” Denny menepuk bahu Iqbal. Dia juga gembira, sahabatnya mulai membuka diri terhadap wanita.


“Indah, siapa dia bagi tuan Denny? Di mana dia sekarang? Apa nyonya Hanna tahu kalau tuan Denny memiliki perempuan lain di hatinya? Sungguh kasihan kau nyonya, ternyata suamimu tidak setia seperti yang kau bayangkan. Hem, laki-laki seperti itu mudah berpindah hati, aku akan mencoba merebut hatinya,” Deli berbicara sendiri di dalam hati. Dia menguping kedua lelaki yang sedang asik berbicara tanpa menyadari kehadirannya di balik pintu.


Deli berbalik, menghayunkan langkah cepat menghindar dari ruangan. Dia tidak ingin keberadaannya diketahui orang. Bik Surtik melihat Deli berjalan dari arah ruang kerja Denny. Tapi, dia tidak menaruh curiga. Pikirannya menganggap kalau Deli baru berbicara dengan Denny membicarakan masalah kesehatan Hanna.


“Boleh aku menemui Hanna?” Iqbal ingin berjumpa Hanna, dia menaruh empati kepada istri sahabatnya itu.


“Jangan sekarang, dia sedang istirahat. Kau juga istirahatlah.” Denny beranjak dari sofa dan melangkah ke luar ruangan diikuti langkah kaki Iqbal di belakangnya.


Langkah kaki membawa mereka berdua sampai di teras luar rumah.


“Aku pulang, dan sampaikan salamku untuk Hanna,” ucap Iqbal mohon diri untuk kembali ke apartemennya.


“Ya, akanku sampaikan. Hati-hati.” Balas Denny.


Iqbal melangkah masuk ke mobil. Perlahan mobil berjalan ke luar dari pekarangan rumah dan menghilang dari pandangan. Denny kembali masuk dan melangkahkan kaki menuju kamar.

__ADS_1


Di dalam kamar, Hanna terlihat sedang berbicara dengan seseorang diujung ponselnya. Air bening mengalir membasahi pipi.


“Aku tidak tahu, apakah aku bisa bertahan. Tubuh ini terasa semakin lemah.” Ucap Hanna.


“Jangan bicara seperti itu, kau bisa bertahan. Semangatlah, aku berdoa untuk kesehatanmu.” Balas seorang wanita membangkitkan percaya diri Hanna.


“Kau, terlalu baik padaku. Aku tidak bisa membalas apa yang sudah kau lakukan. Maukah kau kembali setelah aku …. Hanna tidak sempat menyelesaikan ucapannya.


“An, kamu sudah bangun? Bicara dengan siapa, Mama?” Suara Denny menghentikan pembicaraan Hanna dengan ponsel masih menyala di tangannya.


“Tolong jangan ditutup, aku ingin mendengar suaranya,” terdengar suara memohon dari orang di seberang.


“Mas, kau dari mana? Aku terjaga, karena kau tidak ada di sini,” Ucap Hanna mencoba mengalihkan pertanyaan Denny.


“Iqbal telah kembali, aku menemuinya dan dia titip salam untukmu. Tadinya dia ingin menemuimu, tapi aku melarangnya karena kau sedang tidur. Ternyata kau sudah bangun dan dia baru saja pulang.” Denny melempar senyum menatap wajah lesu Hanna.


“Dia pasti khawatir mengetahui keadaanku saat ini,” Hanna menatap jauh ke depan.


“Jangan dipikirkan, kau akan sembuh karena banyak orang yang mendoakan kesehatanmu,” ucap Denny menghibur kesedihan Hanna.


“Mas, aku ingin tanya sesuatu?” Hanna menatap Denny dalam.


“Hem, tanyakanlah istriku, aku akan menjawabnya,” ucap Denny menggenggam tangan kiri Hanna, sedangkan tangan satunya lagi masih memegang ponsel.


“Kalau Indah masih hidup, apakah kau akan menerimanya?” Hanna berusaha memberanikan diri mengutarakan isi hatinya.


“An, Indah sudah tiada, jangan kita bicara masalah itu. Aku hanya memikirkan dirimu dan bayi kita,” ucap Denny ingin meyakinkan perasaannya terhadap Hanna.


“Mas, aku ingin dengar jawabanmu,” Hanna masih menunggu jawaban yang ke luar dari mulut Denny.


Denny terdiam sejenak dan menatap mata Hanna dalam.


“Aku tidak akan menerimanya,” jawab Denny seketika.


“Kenapa Mas, bukannya kau sangat mencintanya?” Tanya Hanna dengan perasaan sedih dan bersalah.


“Dia tidak mempercayai cintaku, aku membencinya. Walaupun dia masih hidup, aku tidak ingin melihat, apa lagi menerimanya dalam hidupku.” Ucap Denny dengan mata berkaca-kaca.


Hanna merasakan getaran ponsel ditutup. Perasaannya semakin sedih, mendengar ucapan Denny.


“An, sudahlah jangan bicarakan masalah Indah lagi oke? Jangan pikirkan yang macam-macam. Pertanyaanmu itu tidak akan terjadi, Indah tidak akan kembali. Jadi, kau harus hapus nama Indah dari ingatanmu.” Denny mengusap kepala Hanna lembut.


“Mas, apa secepat itu, rasa cinta dihatimu hilang untuknya?” tanya Hanna dengan berurai air mata.

__ADS_1


“An, jangan sakiti diriku semakin dalam,” Bisik batin Denny menatap Hanna dengan berusaha tersenyum.


“Hati dan piikiranku sekarang adalah kesembuhanmu,” Denny mengecup lembut kening Hanna.


__ADS_2