Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 95 Kecemasan yang Menghujam


__ADS_3

Di kamar hotel, sepasang kaki kecil melangkah mendekati Iqbal yang tertidur lelap di sofa panjang.


“Pamaaannn, pamaaannn, pamaaann,” suara Dania membangunkan Iqbal dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya.


“Hemmm,” Iqbal terbangun mendengar suara memanggil dengan memicingkan mata karena sinar lampu yang menyilaukan mata kantuknya.


“Papa. Papa mana?” Tanya Dania yang tidak menemukan Denny di kamar tidur.


“Papa tidur di kamarnya, Nia.” jawab Iqbal sambil duduk dan menyapu kasar wayahnya dengan kedua tangan.


“Nia, udah ke kamar. Papa ngak ada. Di kamar mandi juga.” Jawab Dania berdiri di hadapan Iqbal dan menatapnya.


Iqbal memandangi wajah Dania sambil mencerna ucapan yang dia dengar. Lalu menyambar ponsel yang terletak di atas meja tepat di hadapannya.


Menatap layar ponsel yang menunjukkan pukul tiga lewat lima belas menit dini hari waktu Tokyo.


“Ya udah, kita telpon papa, oke?” Ucap Iqbal sambil mengusap lembut pipi Dania.


“Ini ponsel papa, paman. Dia ngak bawa ponsel. Dania tadi udah telpon papa dan ponselnya berbunyi di atas meja kamar.” Dania membalas ucapan Iqbal dengan menunjukkan ponsel Denny di tangannya.


“Ngak bawa ponsel, kemana dia?” Batin Iqbal berkata-kata memikirkan keberadaan Denny.


“Sini duduk dekat paman. Papa mungkin pergi ke luar mencari sesuatu. Tenang aja, papa ngak akan apa-apa.” Iqbal menarik tubuh Dania duduk di pangkuannya. Dia tahu Dania mencemaskan Denny mengingat peristiwa yang sudah terjadi hari ini.


“Paman, papa kemana, cepat cari. Dania mau papa.” Mata Dania mulai berkaca-kaca, takut terjadi sesuatu dengan Denny.


“Iya, paman akan cari. Tunggu ya?” Iqbal kembali menyentuh ponsel dan terlihat jarinya lincah menari-nari di layar kaca tipis.


Matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatian, lalu seketika jarinya membuat panggilan. Mendekatkan ponsel ke telinga menunggu jawaban.


“Hallo, saya Dokter Joshua. Ada yang bisa saya bantu tuan Iqbal?” Suara Joshua terdengar di seberang menjawab panggilan Iqbal.


“Terima kasih sebelumnya Dokter Joshua, sudah menjawab panggilan saya. Saya ingin menanyakan sesuatu?” Balas Iqbal dengan santun.


“Iya, silahkan. Saya juga ingin meminta maaf karena informasi yang tuan perlukan sudah saya beritahukan kepada Tuan Denny. Saya tidak bisa menunggu lama, karena situasinya tidak memungkinkan.” Jawab Joshua.


“Kenapa, apa terjadi sesuatu?” Tanya Iqbal penasaran.


“Begini tuan Iqbal, data medis pribadi tuan Denny Prasetyo yang tuan berikan kepada saya berdasarkan hasil pemeriksaan pasien Saka Bismantara sembilan puluh sembilan persen. Itu berarti secara garis genetika tuan Denny Prasetyo memiliki hubungan biologis dengan pasien Saka Bismantara. Data yang dihasilkan berdasarkan persentase statistik probabilitas dugaan kuat adalah seratuspersen akurat. Maka saya meyimpulkan berdasarkan hasil pemeriksaan…,” Joshua tidak sempat meneruskan penjelasannya.


“Tolong Dokter Joshua, berikan informasi singkat yang saya mudah memahaminya.” Potong Iqbal disela-sela Joshua masih menjelaskan data secara teori spesifikasi medis yang membuat perut mual untuk mencernanya. Dia lebih baik disuguhkan dengan tabel neraca, atau grafik statistik laporan keuangan perusahaan yang menjadi santapannya setiap hari.

__ADS_1


Joshua menarik senyum mendengar kalimat di seberang yang terkesan tertekan dengan penjelasannya.


“Iya, saya sudah sampai pada kesimpulannya kok.” Balas Joshua dengan mengulum senyum.


“Jadi, kesimpulannya?” Iqbal masih menungu kelanjutan kalimat penjelasan akhir Joshua.


“Saka Bismantara putra dari tuan Denny Prasetyo.” Jawab Joshua singkat.


“Yes, yes. Terima kasih dokter Joshua.” Tanpa sadar tangan Iqbal satunya lagi mengepal membuat gerakan menarik ke depan dan belakang di samping tubuh sebagai isyarat kebahagiaan yang menggambarkan suasana hatinya.


“Papa, paman. Nia mau papa.” Nia pun tidak ketinggalan mengingatkan Iqbal untuk menemukan Denny. Tangan Nia, menarik-narik baju kemeja Iqbal.


“Iya, tuan Iqbal. Saya senang mendengar tuan sangat gembira setelah mengetahui hasilnya. Tapi saya juga menaruh prihatin.” Kata-kata Joshua terhenti.


“Maaf, sebentar.” Suara Joshua terdengar tidak begitu jelas di telinga Iqbal, karena Dania masih merengek-rengek ingin segera mengetahui keadaan Denny.


“Nia, paman sedang berbicara dengan teman papa. Mungkin dia tahu di mana papa Nia sekarang. Jadi Nia harus tenang dulu, biarkan paman bicara ya?” Iqbal menatap sendu wajah Dania, berusaha membujuk untuk bersabar.


“Hem, tapi janji paman harus cepat menemukan papa,” Dania turun dari pangkuan Iqbal dan berdiri di hadapannya menatap dalam mata Iqbal.


“Iya, paman janji. Papa Nia akan segera ditemukan,” Iqbal mengangkat tangan dan menunjukkan telapak tangannya sebagai simbol perjanjian telah dibuat.


“Baiklah, Nia akan menjadi anak baik,” Dania menatap telapak tangan itu dan kegelisahannya sedikit mereda. Dia menaruh kepercayaan sepenuhnya pada laki-laki yang bersamanya untuk segera menemukan Denny. Kakinya melangkah dan mendaratkan tubuhn ke sofa, duduk dengan tenang.


“Hallo, maaf dokter anda harus menunggu. Bisakah anda menjelaskan kembali, maksud ucapan prihatin. Apa yang telah terjadi?” Sapa Iqbal, memulai kembali pembicaraan dengan Joshua yang sempat terhenti.


“Sebenarnya informasi ini tidak boleh saya bocorkan, karena menyangkut kerahasiaan data medis seorang pasien, terkecuali kepada pihak keluarga. Tapi dari awal, tuan sudah meminta saya bertanggung jawab menangani pasien, jadi tuan Iqbal berhak mengetahui.” Joshua berusaha menjelaskan posisinya sebagai dokter yang harus memegang teguh kode etik kerahasian seorang pasien. Dia tidak ingin informasi yang diberikan akan merugikan pasien, karena pihak-pihak tertentu akan mengambil keuntungan dan bermaksud tidak baik. Tapi dia yakin, Iqbal dapat dipercaya karena kedatangan Iqbal secara pribadi padanya, setelah Harun meminta memberikan bantuan.


“Iya, saya akan menjaga kepercayaan dokter. Sepertinya sesuatu yang serius telah terjadi? Saya harap itu hanya dugaan saja, dan semua baik-baik sajakan? Ayolah dokter, jangan membuat saya semakin cemas. Apalagi Tuan Denny tidak ada bersama saya, putrinya juga sangat cemas. Saya harus segera menemukannya.” Wajah Iqbal terlihat menegang mendengar ucapan Joshua yang terkesan sangat formal. Iqbal menjadi tidak sabar mendapatkan penjelasan, kalau dia memiliki ilmu menghilang tubuh seperti dalam film Jinny, pasti dia segera menghilang dan hadir di hadapan Joshua saat itu juga.


Mendengar ucapan Iqbal dari seberang, terlintas bayang Denny di kepala Joshua. Lelaki tampan yang datang menemuinya, terkesan buru-buru karena tidak sempat mengganti pakaian. Tubuhnya berbalut Jaket tipis dengan kaos dan celana piaya tidur. Sedangkan suhu di Tokyo saat ini dingin karena akan memasuki awal musim dingin.


“Dokter, apakah anda mendengarkan saya?” Iqbal semakin tidak sabar, menyadari lawan bicaranya tidak memberikan balasan.


“Hemm, iya.” Joshua tersadar dari lintas lamunannya.


“Katakan, bagaimana keadaan Saka Bismantara sekarang?” Iqbal tidak ingin berlama-lama dalam alur tutur kata kesopanan yang membuat tekanan darah sudah mulai perlahan naik menguasai emosinya.


Mata Dania membesar, saat telinganya menangkap nama seseorang yang tidak asing didengar. Perhatiannya terus terpusat menatap Iqbal yang sedang serius berbicara. Sesekali terlihat, Iqbal menyapu kasar wajah dan kepalanya. Dania bisa merasakan, seseorang dari seberang memberikan berita yang tidak baik tentang Saka yang telah menjadi temannya.


Di rumah sakit, terlihat seorang lelaki berdiri di atap gedung. Lantai gedung yang berlapis-lapis membuat bangunan itu menjulang tinggi, mensejajarkan dirinya bersanding dengan gedung-gedung pencakar langit lainnya. Suasana atap gedung yang tenang, tidak bisa menghibur hati seseorang yang datang padanya. Hembusan angin malam, tidak terasakan telah mengurung seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Sang pemilik hati sedang sedih bercampur kekecewaan dan penyesalan. Bersedih, karena gadis pujaan telah di depan mata, tapi tak dapat direngkuh melepaskan hasrat kerinduan yang merajai di jiwa. Kecewa, mengapa harus kecewa? Bagaimana tidak, hati lelaki itu terluka, lagi dan lagi. Ibarat belati, telah menusuknya berkali-kali di tempat yang sama. Gadis itu tetap menolak kehadirannya dan menyangkal kebenaran, walaupun dia sudah berusaha meyakinkan dengan segenap jiwa. Kata sesal merangkai di hati, dia terlambat menemui sang gadis pujaan yang telah memiliki tambatan hati saat ini.


“Akhhhhh,” suara jeritan termuntahkan berusaha menghilangkan himpitan di hati Denny.


“Tuhan, garis takdirku begitu rumit. Kau Sang Dalang pengatur dalam permainan ini, berbelas kasihlah padaku. Aku berusaha kuat dan sabar mengikuti alur takdir dariMu, tapi Tuhan, ku mohon jangan buat aku hilang keyakinan padaMu. Satukanlah aku kembali dengan gadis yang sangat ku cintai dan putra kecil yang Kau hadiahkan tanpa kehadiranku di sisinya selama ini. Ku mohon berilah belas kasihMu padaku,” Tubuh itu terduduk lemah di lantai dengan wajah basah berurai air mata, menengadah menatap langit hitam berhias kilauan cahaya bintang. Bibir bergetar sambil berucap seolah-olah berbicara pada Sang Maha Memiliki.


Di ruang perawatan, seakan kata-kata Saka menghentikan waktu yang berputar di ruangan itu. Jesika sangat terkejut dengan pertanyaan yang memojokkan dirinya. Pertanyaan yang berusaha dia hindari, walaupun suatu saat semua kebenaran akan terungkap. Tapi dia tidak menyangka akan secepat ini, sedang dirinya belum siap. Tubuhnya tidak dapat menolak bereaksi, hingga langsung lemas seketika. Untung Hendrik cepat memegang dan menahannya hingga tidak jatuh ke lantai.


“Saka, itu tidak benar, jangan berpikir yang bukan-bukan. Aku papamu,” Hendrik berusaha meyakinkan keraguan Saka akan kedudukan dirinya. Jesika berusaha berdiri kembali di atas kedua kakinya yang masih lemas.


“Kalau benar, kenapa papa tidak pernah tinggal bersama kami? Aku sering melihat mama menangis, walau dia berusaha menyembuyikannya. Apa papa tidak mencintai mama dan juga tidak menyayangiku? Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri, kalau hubungan kalian baik-baik saja. Tapi kenapa aku tidak seperti teman-teman yang lain, memiliki papa yang selalu ada bersama? Kehadiranmu hanya pada saat aku berulang tahun, mama atau Oma. Tapi kalian tidak pernah merayakan kebersamaan kalian seperti orang tua temanku. Merayakan hari pernikahan mereka bersama. Aku…,” Suara Saka terhenti, bibir kecil itu tertutup rapat dan matanya ikut turut terpejam.


“Saka, kamu kenapa sayang?” Jesika segera menyegerakan langkah mendekati Saka yang tiba-tiba terdiam tidak bergerak. Kedua tangannya memegang pipi Saka. Berusaha membangunkan putra tercintanya.


“Sakaaa, jangan buat mama takut. Bangun sayang, kamu lihat mama. Saka, tolong jangan seperti ini,” Jesika menarik tubuh Saka jatuh dalam pelukannya. Tubuh itu masih diam tidak menunjukkan reaksi apapun.


“Jes, tenang. Biar aku lihat.” Hendrik melerai pelukan Jesika dari tubuh Saka. Tangannya menahan tubuh tak berdaya Saka.


“Hen, apa yang sudahku lakukan. Kenapa dia diam?” Jesika tidak dapat mengendalikan kecemasan yang menghujam hatinya.


“Panggil dokter, cepat!” Kepanikan juga mencengkam hati Hendrik menatap Saka tidak bergerak sedikit pun.


Jesika berlari ke luar ruangan, matanya menyapu sekeliling mencari pertolongan. Langkahnya terus berlari hingga tanpa sengaja menubruk seseorang yang melintas di depannya.


“Kau, kenapa berlari?” Denny berusaha mereda amarah, setelah menyadari gadis yang di hadapannya Indah. Matanya menatap kecemasan yang tergambar jelas di wajah Indah. Tanpa menunggu jawaban, Denny sudah bisa menduga kalau terjadi sesuatu dengan putranya.


“Mari ikut aku,” tangannya meraih tangan Indah dan membawanya berlari.


Denny membawa langkah berlari bersama gadis pujaannya kesatu tujuan. Sampailah langkah keduanya di depan sebuah pintu yang tertutup. Tangan Denny meraih pegangan pintu tanpa menghiraukan kesopanan mendorong pintu itu hingga terbuka, seseorang di dalam terkejut menatap kehadiran keduanya.


“Cepat, kau harus segera menolongnya sekarang,” suara Denny menggema di ruangan.


Joshua memutuskan pembicaraan di seberang. Beranjak dari kursi dan menghayun langkah lebar meninggalkan ruangan. Denny beriringan dengan gadisnya menuruti Joshua dari belakang dan masih memegang tangan tanpa ingin melepaskan. Jesika bingung dengan sikap Denny dan dokter yang merawat Saka. Dia tanpa bisa menolak menerima perlakuan Denny dan mengenyampingkan keegoannya hanya demi keselamatan Saka saat ini.


************************************************


Assalamu'alaikum reader, mohon maaf aku ucapkan karena baru bisa up sekarang.


Harapanku, kalian masih setia membaca novel " Rasa Cinta Tak Pernah Hilang".


Dan terus memberikan dukungan.

__ADS_1


Salam cinta selalu untuk kalian semua.


__ADS_2