Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 84 Indah?


__ADS_3

Deli kepayahan memegang tubuh Denny yang tidak sadarkan diri dalam rangkulannya.


“Kau, bisa bantu aku membawanya ke tempat tidur?” Tanya Deli kepada perempuan yang datang bersama Nia.


“Iya, mari aku bantu,” balasnya dan membantu Deli memapah Denny berjalan ke tempat tidur.


Nia gemetar melihat Denny tidak sadarkan diri, dia sangat khawatir melihat Denny tidak berdaya.


“Kak Saka, papa kenapa?” Nia memegang tangan Saka dan berurai air mata.


“Papamu tidak apa-apa, dia hanya kelelahan. Ayo kita masuk,” Menatap dan menarik tangan Nia membawanya ke dalam kamar.


Nia melangkah dengan takut, pikirannya menduga Denny jatuh sakit setelah mengetahui dirinya tidak ada di kamar.


Perlahan tubuh Denny dibaringkan ke tempat tidur.


“Dasar payah, minum tidak seberapa sudah seperti ini,” gumam Deli menatap Denny dengan menghembuskan nafas kasar.


“Baiklah kami akan pergi,” berbalik dan melangkahkan kaki.


“Tapi kau siapa? Kenapa Nia bersamamu, seharusnya sekarang dia tidur,”Deli menatap heran tubuh belakang perempuan yang datang bersama Nia.


“Aa.. aku Jesika, dan itu putraku Saka Bismanta. Nia sangat ingin melihat pertandingan puzzle, kebetulan bertemu dengan putraku setelah keluar dari kamar saat papanya tertidur.” Jesika menatap Nia yang menangis, dia harus berterus terang supaya orang dewasa mengerti keinginan Nia dan tidak ke luar diam-diam. Sikapnya bisa membahayakan dirinya.


“Nia, kemari sayang,” Deli tahu kedatangan mereka ke sini karena mewujudkan keinginannya melihat pertandingan puzzle. Perbuatan Nia tidak diketahui Denny.


“Tante Del, maafkan Nia.” Kaki kecil Nia melangkah dan menghampiri Deli.


“Nia, kamu tidak boleh begitu. Papa sangat sayang sama kamu, kalau kamu ingin pergi melihat pertandingan harus bilang jangan pergi diam-diam, itu tidak benar.” Deli mengelus pucuk kepala Nia yang masih berurai air mata.


“Nia salah, gara-gara Nia papa sakit. Tante Del, obati papa, Nia tidak mau papa sakit. Cukup Nia aja yang sakit, kalau papa juga sakit siapa yang akan jaga Nia?” Tangis Nia semakin jadi menatap Denny terbaring di tempat tidur tidak sadarkan diri.


“Papa tidak apa-apa, Nia jangan takut. Tente akan jaga Nia dan papa,” Deli memeluk Nia dan berusaha menenangkannya.


Jesika menatap perlakuan Deli terhadap Nia, layaknya sikap kasih seorang ibu kepada putrinya. Jesika menarik pandangan ke wajah Denny dan melirik ke arah Saka. Matanya berkaca-kaca, putranya menatap Denny dengan tatapan dingin.


Jesika menghampiri Saka dan menepuk bahunya.


“Ayo kita pergi, kamu besok masih ada pertandingan, jadi harus segera istirahat,” Langkah kaki Jesika membawa ke luar kamar, dengan memberikan anggukan kepala ke arah Deli mengisyaratkan kalau dia harus pergi. Deli pun membalas anggukan dengan senyuman.


Jesika menggenggam tangan Saka kuat, melangkah menyusuri lorong kamar hotel. Pikiran dan hatinya tidak berada di dalam dirinya saat ini. Pandangan kosong menatap ke depan dengan kaki terus melangkah. Berdua mereka berhenti di depan pintu lift. Melangkah masuk saat pintu terbuka. Saka melirik wajah Jesika yang tampak sedih.


“Ma, maa..?!” Saka menggoyang tangan Jesika yang berdiri terpaku tanpa bicara sepatah kata.

__ADS_1


“Hem,,,” Jesika tersadar dari lamunannya dan menarik pandangan ke arah Saka yang sedang menatapnya dalam.


“Mama kenapa?” Tanya Saka khawatir menatap wajah Jesika sedih. Wajah yang selama ini selalu bersedih yang dia sendiri tidak tahu alasannya.


“Mama ngak pa-pa sayang,” Jesika berjongkok mensejajarkan tinggi tubuhnya menjatuhkan tatapan tepat kedua mata Saka.


“Ma, aku ngak mau lihat mama sedih, aku akan memenangkan pertandingan itu dan mama pasti bahagiakan?” Tanya Saka berusaha menghibur kesedihan Jesika.


“Iya sayang, kamu adalah kebahagian mama, kemenangan bukan segala-galanya bagi mama. Kamulah kebahagian terbesar mama.” Jesika menarik Saka dalam pelukannya dan air mengalir dari kedua sudut matanya.


Di kamar Denny, terlihat Nia berbaring di samping Deli. Malam ini, Deli memutuskan tidur di kamar Denny karena permintaan Nia. Deli khawatir dan menenangkan Nia. Dia takut dimarahi telah pergi diam-diam ke luar kamar.


“Indahhh,” Denny terjaga dari tidur dengan bayangan mengingat Indah.


“Aku melihatnya, dia ada di sini.” Denny beranjak dari tempat tidur, dan melangkah ke luar kamar.


“Di mana kau? Aku harus menemukanmu.” Denny berbicara sendiri dan terus melangkah menyusuri lorong kamar. Pintu lift terbuka, terlihat seseorang ke luar dan Denny menyegerakan langkah masuk ke dalam sebelum lift tertutup.


Denny mengarahan lift menuju lantai dasar.


“Itu pasti kau. Aku tidak salah walaupun aku mabuk, aku bisa mengenalimu.” Denny berbicara sendiri memastikan penglihatannya tidak salah telah melihat Indah.


“Ting tong,” Lift terbuka, langkah kaki Denny langsung membawanya ke luar dan menuju resepsionis hotel.


“Ada yang bisa saya bantu tuan?” Tanya pegawai hotel melihat Denny berdiri di hadapannya.


“Sebentar tuan, akan saya cek terlebih dahulu,” balas pegawai hotel dengan ramah.


Denny menatap dalam pegawai hotel yang sedang tekun mengamati layar komputer.


“Maaf tuan, tidak ada nama tamu yang seperti tuan sebutkan,” Pegawai hotel telah memeriksa dan tidak ada nama tamu yang sesuai dengan Denny cari.


“Kau yakin tidak ada?” Tanya Denny lagi, memastikan pegawai itu tidak melakukan kesalahan.


“Iya, tuan. Saya sudah memeriksanya beberapa kali,” Jawab pegawai hotel dengan ramah.


“Terima kasih, maaf sudah merepotkan.” Denny kecewa tidak bisa menemukan perempuan yang dia yakin adalah Indah.


“Tidak masalah tuan, senang bisa membantu,” balas pegawai hotel melihat Denny meninggalkan dirinya dengan wajah kecewa.


“Dia mengganti namanya. Aku pasti bisa menemukanmu,” bisik batin Denny terus melangkahkan kaki kembali menuju kamarnya.


Di kamar Jesika, tubuhnya terbaring di atas tempat tidur dan pandangannya menatap langit-langit kamar.

__ADS_1


“Dia mabuk dan akan melupakan semuanya setelah dia sadar. Tuhan, mohon bantu aku sekali ini lagi, jangan pertemukan kami. Aku tidak punya kekuatan berhadapan dengannya.” Bisik batin Jesika.


"Nia, putri kecilnya?" Wajah Nia membayang di kepalanya. Jesika berusaha memejamkan kedua mata dan menenangkan batinnya.


Denny melangkah gotai memasuki kamar hotel.


“Kau dari mana?” Tanya Deli menatap Denny yang berjalan tanpa menghiraukan dirinya.


“Nia mana?” Tidak menjawab, Denny malah melontarkan pertanyaan.


“Dia sangat mengkhawatirkanmu dan sekarang sudah tidur,” Deli mengikuti langkah Denny dari belakang dan berhenti saat tubuh Denny mendarat di atas sofa.


“Terima kasih, sekarang baliklah ke kamarmu. Aku ingin sendiri.” Denny memejamkan matanya, mencoba menenangkan diri.


“Kau mencari Indah? Bukankah dia telah lama meninggal?” Tanya Deli menatap tajam wajah Denny yang terlihat kusut.


“Itu bukan urusanmu. Aku tidak ingin berbuat kasar, tolong pergilah.” Denny benar-benar ingin sendiri tidak ingin seorang pun mengganggu dirinya.


“Baiklah, aku akan pergi. Tapi aku harap kau tidak lupa ucapanku. Aku benar-benar menyukaimu, dan selama ini, tidak pernah gagal mendapatkan apa yang aku inginkan. Nia membutuhkanku, pertimbangkan itu,” Deli membalikkan tubuh dan berlalu dari hadapan Denny.


“Sial, dia mengancamku dengan menggunakan Nia? Jangan coba-coba menguji kesabaranku.” Denny merutuki sikap Deli, selama ini dia cukup bersabar demi kesembuhan Nia.


Di kamar Deli, duduk menghadap cermin menatap wajahnya.


“Mengapa kau tidak bisa melupakan Indah? Dia telah lama tiada dan aku berusaha baik selama ini. Aku menyayangi Dania seperti putriku sendiri. Kenapa kau tidak bisa melihat kebaikan dan ketulusanku tuan Denny? Kenapa? Apa kekurangan diriku?” Deli menangis menahan beban sesak di dada karena dirinya telah menyukai Denny selama ini. Perasaan itu tidak sanggup lagi disembuyikan, dia kecewa karena Denny tidak mau menerima cintanya.


Masih di kamar Denny, terlihat Denny berbicara dengan seseorang di ponsel.


“Kenapa menelponku, kau seharusnya sedang tidur sekarang?” Terdengar suara Iqbal berat bertanya dari seberang menjawab panggilan Denny. Dia melirik jam yang menggantung di dinding menunjukkan pukul dua belas malam sedangkan selisih waktu Jakarta dan Tokyo dua jam.


“Aku tidak bisa tidur. Aku melihatnya, aku yakin itu Indah.” Mata Denny berkaca-kaca mengingat orang yang sangat dia cintai.


“Siapa?” Tanya Iqbal terkejut, tidak percaya apa yang sedang didengarnya.


“Ya, aku melihatnya walaupun aku sedang mabuk,” jawab Denny dengan suara bergetar.


‘Apa, kau mabuk? Bagaimana bisa kau mabuk? Kau tidak pernah minum sebelumnya, ada apa denganmu?” Iqbal semakin terkejut mendengar pengakuan Denny. Seumur hidupnya bersama Denny, dia tidak pernah melihatnya meminum minuman keras walaupun tamu penting memintanya dia bisa menolak dengan halus.


“Entahlah, aku juga tidak tahu. Ini semua gara-gara perempuan itu,” Denny menyesali perbuatnnya dan merutuki rayuan Deli.


“Deli maksudmu? Apa kau sudah…” Iqbal tidak sempat menyelesaikan kata-katanya.


“Tidak, aku tidak melakukan apapun. Hilangkan pikiran kotor itu dari kepalamu,” Denny menggeram mendengar pertanyaan Iqbal.

__ADS_1


“Kau bilang melihat Indah tapi kau mabuk? Mungkin hanya halusinasimu saja karena kau sangat merindukannya.” Iqbal tidak ingin membuat Denny terlalu berharap, karena sampai sekarang dia juga belum berhasil mewujudkan janjinya terhadap Hanna.


“Kau tidak percaya denganku! Tut, tut, tut…,” Denny marah karena Iqbal tidak mempercayai ucapannya dan memutuskan percakapan sepihak. Ponsel pun mendarat dengan kasar di atas tempat tidur.


__ADS_2