Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 104 Saka Menghilang?


__ADS_3

Denny melirik jam melingkar di tangan. Sudah hampir tiga jam sejak putranya dibawa ke luar ruangan. Kepalanya beberapa kali menoleh menantikan kedatangan kembali rombongan perawat mendorong Brankar. Sesuatu hadir seketika di dalam hati membuat tidak tenang. Waktu yang perlukan sudah cukup lama menurutnya, tapi belum juga kembali. Denny menggerakkan tangan mengambil ponsel dari saku baju, terlihat jarinya menggeser layar tipis, dan membuat panggilan.


“Hallo, tuan Denny.” Seseorang menyapa panggilan.


“Dokter, apakah sudah selesai?” Tanya Denny langsung ke tujuan.


“Ya, sudah di bawa ke ruangan kira-kira satu jam yang lalu.” Jawabnya diujung ponsel.


“Satu jam yang lalu? Keruang perawatan ICU?” Tanya Denny dengan wajah menegang.


“Benar, saya ke kantor memeriksa hasil MRI sebelum menjelaskan kepada keluarga pasien, dan para perawat membawa ke ruang perawatan,” Jelas Dokter Joshua dengan wajah keheranan.


“Tapi, dia tidak ada di sini. Kemana mereka membawanya?” Suara Denny menguap di ruangan hati bertambah tidak tenang.


Jesika sedang duduk bersandar di kursi terkejut dan menarik tubuh tegak menatap Denny berusaha mencerna maksud ucapannya.


“Tenang tuan, saya akan ke sana sekarang. Tut…tut…tut,” Ponsel terputus.


“Tuhan jangan terjadi,” Gumam Denny menyapu kasar rambutnya ke belakang.


Melihat kegusaran yang tergambar jelas pada sikap Denny, Jesika beranjak dan sedikit berlari mendekati Denny.


“Kenapa? Apa yang terjadi dengan Saka? Cepat katakan!” Kedua tangan Jesika menarik baju Denny.


“Tenanglah, mereka sebentar lagi ke sini.” Jawab Denny berusaha terlihat tenang menangkap wajah gadis di hadapannya. Di kepala sudah terlintas bayang wajah sang mama dan ucapan ancaman mengiang di telinga.


Hendrik baru kembali dari toilet, terlihat melipat kening menyaksikan pemandangan dua insan begitu dekat. Langkah menarik tubuh menghampiri segera terbit rasa ingin tahu.


“Jes, apa yang terjadi?” Tanya Hendrik menatap keduanya bergantian.


“Itu yang kutanyakan padanya, apa yang terjadi dengan Saka, tapi dia tetap menyuruhku tenang.” Ucap Jesika tanpa mengalihkan pandangan masih menatap lekat Denny dan menunggu jawaban.


“Hei, katakan ada apa?” Hendrik menggeram dan mengambil alih dengan menggenggam erat kerah baju Denny.


“Lepaskan tanganmu, kalau aku tahu, untuk apa aku masih di sini?” Denny berucap penuh tekanan dengan wajah memerah.


Beberapa lelaki berseragam keamanan berlari melintas di ruangan. Seseorang berseragam datang menghampiri.

__ADS_1


Tuan-tuan dan nyonya, silakan ikut saya,” ucapnya singkat dan jelas dengan wajah ketat. Langkahnya kembali terhayun dalam hitungan detik.


Pandangan ketiganya teralihkan menatap sumber suara. Cengkraman tangan Hendrik mengendor dan terlepas.


Segera langkah kaki ketiganya membawa mengikuti lelaki berseragam ke suatu ruangan. Ketegangan menyelimuti wajah mereka, ketiganya menyimpan pertanyaan di dalam hati.


Sampailah di depan pintu bertuliskan Security Control Room, pintu terdorong ke dalam.


Terlihat Dokter Joshua sudah berada di sana dengan beberapa lelaki berseragam menatap barisan monitor di depannya.


“Silakan,” meminta dengan sopan masuk ke dalam ruang.


Ketiga saling bertukar pandang dengan heran, menurutkan langkah masuk ke ruangan.


“Tuan sebelumnya minta maaf. Pengawasan kami terkecoh dengan kelihaian para penyusup. Kami menerima laporan dari Dokter Joshua, seorang pasien tidak dibawa kembali ke ruang perawatan. Rekaman CCTV menangkap gerakan penyusup menyamar sebagai perawat, pasien dibawa setelah keluar dari ruang MRI. Selanjutnya mereka bergerak sangat cepat dan terlatih hingga tidak meninggalkan jejak. CCTV hanya menangkap pergerakan mereka saat keluar ruang MRI.” Jelas lelaki berseragam dengan sedikit berbeda dari seragam lainnya menunjukan memiliki kedudukan lebih di atas.


“Maksudnya putra saya hilang?” Sergah Jesika seketika.


“Bagaimana mungkin, siapa dan kenapa?” Tanya Hendrik menimpali.


“Kami masih berusaha mencari, saat ini kami minta kerjasamanya untuk tidak melaporkan kepolisi sebelum benar-benar pasti.” Jelasnya lagi.


Denny terlihat sedang berpikir keras, mamanya sudah bertindak cepat diluar dugaannya.


“Dokter bagaimana hasil pemeriksaannya?” Tanya Denny ditengah ketegangan.


“Tuan, hasil pemeriksaannya bagus. Tidak ada masalah, pembengkakan yang dikhawatirkan tidak terjadi. Hanya saja dalam tubuh putra anda terdapat obat tidur. Seseorang sengaja menyuntikan supaya dia tidak sadar untuk beberapa jam.” Jelas Dokter Joshua.


“Apa? Obat tidur? Jadi selama ini hanya karena pengaruh obat tidur?” Tanya Denny kembali dengan tatapan Jesika dan Hendrik tertuju padanya.


“Saya tidak bisa pastikan apapun, sebelum dia sadar.” Jawab Joshua singkat.


“Apa yang kalian bicarakan, obat tidur apa, di mana putraku?” Tanya Jesika putus asa berbalut kesedihan dan kepanikan.


“Drekk…Drekk…Drekk,” suara ponsel berbunyi.


Semua tatapan tertuju pada Hendrik.

__ADS_1


Hendrik merinding menangkap tatapan tajam di dekatnya, jantung berpacu cepat. Pikiran terlintas bayangan penculik menghubungi.


Tangannya bergetar mengambil ponsel yang masih berbunyi di balik saku baju.


Manik hitamnya melihat layar tipis, spontan nafas kasar terlontar penuh kelegaan. Tertulis nama Tante Ira sedang memanggil. Sedangkan orang-orang masih tegang menunggu.


“Hallo,” Sepatah katanya yang sempat mengalir keluar, tapi Jesika langsung memotong.


“Siapa Hen? Apa dari penculik Saka?” Tanya Jesika menunggu kepastian.


Tanpa disadari, Tante Ira diseberang, mendengar dengan jelas ucapannya.


Jantungnya seketika berpacu cepat, kecemasan mengalir membawa hawa panas ke kepala.


“Penculik, Saka diculik? Cucuku diculik, kenapa? Hen… Hendriiiik.” Suara Tante Ira terdengar lemah dan menghilang sedang ponselnya masih menyala.


“Tante... Tante masih di sana? Tante kenapa? Tante…” Hendrik berusaha memanggil tapi tidak menerima jawaban.


“Jadi itu Tante Ira? Dia kenapa?” Jesika terkejut menyadari lawan bicara Hendrik adalah Tante Ira dan bukan sang penculik.


“Ya, ini Tante Ira, dia tidak menjawab panggilanku, atau mungkin dia jatuh pingsan karena ponselnya masih nyambung.” Jelas Hendrik dengan kepanikan bertambah memikirkan keadaan Tante Ira.


“Kamu hubungi Ines saja. Minta dia melihat keadaan Tante Ira.” Jesika teringat pembantu yang tinggal di rumah Tante Ira.


“Apa lagi ini, masalah satu belum selesai bertambah lagi masalah baru,”Gerutu Denny tidak senang melihat tingkah dua orang di sampingnya.


“Cepat Hen, jangan banyak pikir.” Sekak Jesika melihat Hendrik sedikit kebingungan.


“I..Iya, aku hubungi sekarang,” Hendrik sibuk menggeser jarinya di atas layar tipis.


Melihat keduanya tidak fokus terhadap masalah, Denny meminta petugas memutar mundur rekaman CCTV. Terlihat dalam rekaman, para perawat memakai masker menutupi wajah mereka. Jadi tidak bisa mengenali para penculik.


Hendrik sudah meminta pembantu Ines melihat Tante Ira, dan ternyata benar dia jatuh pingsan.


Saran Jesika segera minta bantuan menghubungi ambulance. Ponsel pun terputus, Hendrik meminta pembantu Ines tetap menghubunginya memberitahukan perkembangan keadaan Tante Ira. Pikiran Hendrik menjadi bercabang antara keberadaan Saka dan kesehatan Tante Ira.


Perhatian keduanya kembali kepada Denny sedang membicarakan sesuatu dengan Dokter Joshua yang terkesan rahasia karena keduanya memberi jarak seolah-olah tidak ingin didengar orang lain.

__ADS_1


“Apa yang mereka bicarakan?” Bisik Hendrik kepada Jesika yang masih memperhatikan keduanya.


“Ayo, kita cari tahu, seperti sudah terjadi sesuatu,” Duga Jesika menatap wajah Denny sambil melangkah mendekatinya. Hendrik pun menuruti ucapan Jesika menarik langkah bersama-sama.


__ADS_2