
Beberapa orang mengenali Denny dan berusaha bersikap ramah dengan menyapa bahkan memberikan jabatan tangan. Siapa yang tidak mengenal, dan juga sebagian diantaranya pernah berusaha mengambil simpatik supaya bisa bekerja sama dengan perusahaan besar miliknya. Seorang pelayan pun datang melayani. Terlihat Denny berbicara sesuatu diiringi senyuman dan pelayan pun membungkuk memberi hormat lalu melangkah pergi.
“Bal, orang yang mengawasi tempat ini, suruh menghubungiku sekarang. Dan kau jangan masuk, cukup berjaga di luar. Tut…,Tut…, Tut…,” Denny memutus panggilan sepihak. Dia telah mengatur sebuah rencana, berharap berhasil memancing Indah.
“Drek, Drek, Drek,” telpon Denny berbunyi.
“Kau di mana?” Denny langsung memburu dengan pertanyaan orang di seberang.
“Saya bersama tuan sekarang. Apa harus saya lakukan?” Jawab orang di seberang.
“Kau melihatnya? Apa dia melihatku?” Tanya Denny, karena dia sengaja bersikap tenang untuk tidak menarik perhatian Indah.
“Ya, di arah jam tiga dari tempat duduk tuan. Pandangannya mengamati tuan saat ini.”
“Bagus, terus awasi dia, jangan lakukan apapun. Kalau terjadi sesuatu, cepat hubungi aku. Tut.., Tut…,Tut…” Panggailan terputus. Sesuai keinginan Denny, Indah terpancing dengan kehadirannya. Senyum licih hadir di sudut bibir atas Denny.
Tidak ada yang tahu rencana di kepala Denny. Iqbal menunggu di dalam mobil bersama sopir sesuai perintah Denny. Mobilnya terparkir berdekatan dengan mobil Denny, agar dapat bergerak cepat saat mengikuti jejak Denny.
Jesika terus mengawasi Denny di sela perbincangannya dengan Elisa. Untungnya Elisa duduk membelakangi Denny, jadi dia bisa leluasa melihat tetapi tetap menjaga pandangannya supaya Elisa tidak curiga.
“Jes, aku mau ke toilet. Kau ikut?” Terasa ingin buang air kecil, Elisa beranjak dari duduk dan menatap Jesika mengajaknya bersama.
“Hem, ngak. Kamu aja,” Tolak Jesika, dia tidak ingin beranjak, pandangan masih ingin mengawasi Denny.
“Baiklah,” Elisa menarik langkah meninggalkan Jesika menuju ke toilet.
Jesika melempar senyum mengiringi kepergian Elisa. Manik hitamnya kembali beralih menatap Denny yang asik berbicara dengan layar tipisnya.
“Bos, dia sendiri sekarang. Temannya menuju ke toilet.” Kata dari seberang memberitahu Denny.
__ADS_1
“Kau berada di mana?” Balas Denny bertanya.
“Arah jam dua belas dari duduk tuan,” balasnya singkat. Dia seorang pengintai yang sudah berpengalaman. Penyamaran tidak dapat diketahui orang karena keahliannya.
“Dengarkan perintahku, setelah pembicaraan ini berhenti. Dalam hitungan kelima berjalanlah ke arah ku dan lambaikan tangan. Tut…, Tut…, Tut….,” Denny memutuskan panggilan tapi ponsel masih melekat di telinga seolah-olah masih berbicara dengan seseorang.
“Ternyata dia bukan memata-mataiku. Dia sangat sibuk berbicara dengan seseorang. Apa ada hubungannya dengan penculikan Saka. Mungkin dia mendapat informasi penting?” Kedua manik hitam Jesika masih terpaku menatap Denny tidak ingin terlewat sedetik pun. Takut Denny menyadari kehadirannya, buku menu telah menutup separuh wajah Jesika.
“Hai,” Denny berdiri melambaikan tangan, lelaki pengintai telah menampakkan diri.
“Siapa dia?” Batin Indah menatap laki-laki datang menghampiri Denny.
Kedua lelaki mengakrabkan diri dari pandangan Jesika, terlihat berjabatan tangan, saling merangkul dan melepas tawa kecil. Keduanya duduk dan Denny mengeluarkan sesuatu dari balik jas, Jesika tidak dapat melihat dengan jelas benda yang diberikan. Lalu, kedua lelaki itu berdiri, berjabatan tangan lagi, dan berjalan perlahan meninggalkan meja sambil berbicara.
“Mereka mau ke mana? Denny memberikan apa pada laki-laki itu? Apa yang mereka sepakati?” Jesika semakin penasaran melihat gelagat mencurigakan, kepalanya menduga telah terjadi suatu kesepakatan tidak baik antar Denny dan lelaki yang baru muncul.
“Mas permisi, bisa pinjam kertas dan pena?” Tanya Jesika pada pelayan.
“Iya Nona,” Pelayan pun mengambil selembar kertas dari kumpulan lembar catatan menu, meraih pena dari saku baju dan memberikan ke pada Jesika.
Jesika mulai menulis sesuatu di atas kertas putih.
“Maaf Elisa, aku meninggalkanmu. Aku ada keperluan, jangan khawatir, aku bisa menjaga diri. Sampaikan ucapan terima kasihku pada suamimu dan jangan cari aku. Aku ucapkan terima kasih dan sekali lagi maaf aku harus pergi seperti ini.” Kata-kata tertulis di lembar kertas putih. Sebuah pesan yang tertuju buat Elisa.
“Mas, bisa bantu saya sekali lagi?” pinta Jesika pada pelayan yang masih berdiri di depannya. Menunggu pengembalian pena yang dipakai Jesika. Pena itu penting baginya sebagai alat bantu mencatat pesanan menu dari para tamu pengunjung restoran.
“Ada yang bisa dibantu, Nona?” Jawabnya ramah, sebagai balasan mengiyakan pertanyaan perempuan yang meminta pertolongan dari dirinya.
“Begini, tolong berikan kertas ini sama teman saya yang duduk di sini. Dia sedang di toilet sekarang, saya ada urusan penting tidak bisa menunggunya lama. Dan ini untuk mas, terima kasih udah mau bantu saya.” Jesika memberikan kertas yang sudah berisi pesan dan tidak ketinggalan pena serta selembar uang bilangan besar sebagai balasan jasa kebaikan pelayan mau membantunya.
__ADS_1
Pelayan menatap dalam kedua manik hitam perempuan di hadapannya yang sedang meminta pertolongan. Di restoran tempat sekarang dia bekerja, dilarang menerima tips dari para tamu dengan tujuan agar tidak ada kecemburuan antar sesama pekerja dan juga menjaga nama baik restoran.
Tatapan yang tulus tidak ada kebohongan tersimpulkan pelayan menilai permintaan Jesika. Pelayan pun mau membantu dan tidak menerima pemberian Jesika setelah memberikan penjelasan.
Jesika mengerti dan sangat berterima kasih karena sudah mau membantu.
Tarikan langkah kaki Jesika tergesa-gesa menyusul kedua lelaki yang telah berjalan jauh ke luar dari pintu restoran. Nafas Jesika keluar kasar tidak beraturan dia terlihat terengah-engah, setelah berada di luar restoran.
Pandangan mengamati sekitar, sosok lelaki yang dicari pun nampak berdiri di arel parkir masih sedang berbicara.
“Sekarang bagaimana? Apa aku harus terus mengikutinya? Baiklah, demi menemukan Saka, apapun akan kulakukan. Walau harus mengemis padanya, akan ku lakukan,” Jesika berucap lirih di dalam hati. Langkah kaki dia hayun menuju Denny.
“Apa dia mengikuti kita?” Tanya Denny.
“Ya Boss, dia sudah di luar dan sedang berjalan ke arah kita,” Jawabnya mengamati dari sudut ekor mata, mendapati Jesika berjalan mengendap-endap mendekati mereka.
“Baiklah kau boleh pergi sekarang,” Ucap Denny tersenyum sambil mengulur tangan.
Sang pengintai pun membalas uluran tangan dengan melempar senyum, dan melangkah pergi meninggalkan Denny. Kepura-puraan keduanya pun berakhir. Denny meraih kunci mobil dari balik jas.
“Ting, Tong,” suara kunci alarm pintu mobil terbuka.
Denny membuka pintu, melangkahkan kaki masuk dan mendaratkan tubuh pada bangku sopir.”Bamm”, tangannya menutup pintu kembali.
“Cklek,” pintu sebelah bangku di sampingnya terbuka.
Denny menoleh ke samping, manik hitamnya menangkap tubuh Jesika telah mendarat di bangku. Memasang wajah terkejut, melihat Jesika tiba-tiba menerobos ke dalam mobil.
Jesika pun menatap tepat ke manik hitam Denny. Jantung Jesika berpacu cepat, hawa panas naik ke wajah hingga melahirkan rona merah. Perasaan malu dengan sikap nekadnya, dan takut akibat yang akan dia terima dari Denny.
__ADS_1