
Ke esokan harinya di kantor, para karyawan dikejutkan kedatangan nyonya besar. Mama Denny telah duduk di kantor Denny. Memanggil sekretaris kantor, meminta Indah menemuinya. Sekretaris menjelaskan kalau Indah, tidak berada di perusahaan sedang tugas ke luar. Mama Denny kecewa, kunjungannya hari ini tidak dapat bertemu Denny maupun Indah. Akhirnya dia memutuskan pulang.
Sekembalinya Denny ke kantor, laporan sampai kepadanya.
“Mengapa Mama mencari Indah?” Gumam Denny.
“Mungkin kedekatanmu dengan Indah sudah terbaca Nyonya Besar,” Balas Iqbal.
“Sial, apa Mama mau berulah lagi seperti dulu,” Ujar Denny marah.
“Sebaiknya sementara, kau menjaga jarak dengan Indah,”
“Itu tidak mungkin, aku tidak bisa membiarkan pria itu semakin dekat dengannya,” ucap Denny.
“Kau masih mencurigai Hendrik, sahabat Indah?” tanya Iqbal.
“Iya, aku tidak percaya dengan pria itu. Ucapan Gunawan sudah cukup menjadi bukti topeng persahabatannya.” Balas Denny.
“Jadi apa yang harus kau lakukan sekarang?” Tanya Iqbal.
“Suruh orang mengawasi Mama,”
“Baiklah, kalau itu maumu. Tapi kita akan menghadapi orang suruhan Pak Jung.”
“Tidak masalah, Pak Jung menjadi urusanku.”
Iqbal langsung menelpon orang kepercayaannya. Denny memutuskan menjumpai Mamanya di rumah.
Denny tiba di rumah, terlihat Pak Jung datang menyambut.
“Mama ada Pak Jung?” tanya Denny.
“Di ruang kerja tuan,” jawab Pak Jung.
“Baiklah, aku kesana menemui Mama,” melangkah menuju ruang kerja.
Di ruang kerja, Mama Denny berdiri menghadap jendela. Tatapan matanya ke luar jendela.
Terdengar langkah kaki semakin mendekat. Mama Denny menoleh dan terlihat Denny berdiri di hadapannya.
__ADS_1
“Denny, kamu datang sayang?” sapa Mama Denny.
“Iya Ma, kata sekretaris, Mama mencari Denny di kantor. Ada apa, kenapa ngak telpon aja?” Denny duduk di sofa.
“Ngak ada apa-apa, Mama hanya ingin mengunjungi kamu di kantor.” Menghampiri Denny dan duduk bersama di sofa.
“Mama tidak ingin pergi berlibur, mungkin Denny bisa atur,”
“Mama rindu juga jalan-jalan sama kamu, dan akan lebih menyenangkan Hanna ikut bersama. Bagaimana?” tanya Mama Denny.
“Tentu, Denny bisa atur semua untuk Mama,”senyum memandang Mamanya.
“Baiklah kalau begitu, Mama tanyakan kepada Hanna, supaya kita bisa pergi bersama,”
“Iya, Denny tunggu kabar dari Mama. Dan Denny kembali ke kantor sekarang,” mencium pipi mamanya.
“Mama akan segera kasih kabar, hati-hati ya,” senyum mengiringi kepergian Denny.
Denny melangkah menghampiri Pak Jung yang sibuk menata gelas kristal di Bar Mini dapur.
“Pak Jung tuangkan aku minuman,” Pinta Denny.
Pak Jung menyerahkan gelas ke tangan Denny.
“Ada yang bisa saya bantu Tuan Muda?” Tanya Pak Jung menatap wajah lesu Denny.
“Aku mencintai seorang wanita, bagaimana menurutmu Pak Jung?” menatap wajah Pak Jung dalam.
“Apakah wanita itu Nona Hanna?” Tanya Pak Jung balik.
“Salah. Pak Jung pasti sudah mengenal wanta itu. Bukankah Mama meminta Pak Jung mengawasiku?”
“Maafkan saya Tuan Muda, saya hanya melaksanakan tugas.” Jawab Pak Jung.
“Apakah tugas di atas segalanya bagimu? Kau mengasuhku dari kecil dan tahu bagaimana perasaanku terhadapmu. Bahkan kau lebih dekat dari kedua orang tuaku. Aku sangat menyukainya, wanita ini sangat berbeda. Dia tidak menyadari perasaanku terhadapnya. Aku pernah menolong nyawanya, karena itu dia merasa berhutang budi. Dia menilai, aku meminta imbalan dari semua kebaikanku untuknya. Wanita bodoh, dalam pikirannya hanya bekerja dan bekerja. Dia bekerja di perusahaan dan sangat takut aku pecat. Ha…Ha…Ha…, perhatianku bahkan dianggap, aku menginginkan tubuhnya. Dia salah, aku menginginkan lebih. Aku menginginkan cintanya.” Ucap Denny sambil meneguk minuman di tangannya.
Pak Jung menatap kesedihan di mata Denny dari setiap kata-katanya. Mencurahankan semua perasaannya. Dia tahu, Denny tidak percaya cinta setelah pernah sekali mengalami kekecewaan. Waktu lama berlalu, sekarang rasa itu lahir kembali. Dan juga akan mengalami kekecewaan yang sama karena Nyonya Besar akan berusaha sekuatnya menghalangi hubungan itu.
“Bagaimana kalau wanita itu tidak mencintai Tuan Muda?” Tanya Pak Jung meyakinkan.
__ADS_1
“Aku tidak menyerah semudah itu, dia akan mencintaiku. Kalau dia tidak mencintaiku juga, aku menyerah Pak Jung, dan akan menuruti keinginan Mama. Jadi, jangan campuri urusan kali ini,” ucap Denny menatap tajam.
“Baiklah, saya mengerti. Semoga Tuan Muda berhasil,” Balas Pak Jung dengan senyum menggaris di wajah, memahami ucapan Denny.
“Terima kasih Pak Jung, aku akan kembali ke kantor sekarang,” Denny beranjak dari duduk dan melangkah pergi.
“Hati-Hati Tuan Muda,” Pak Jung menatap punggung belakang Denny berlalu pergi.
Di mobil, Denny menelpon Iqbal dan menceritakan rencana kepergian Mamanya. Saat menyetir mobil, Denny mengenang kembali perjanjiannya dengan Indah. Besok hari ketiga. Dia tidak sabar menunggu jawaban Indah. Kedatangannya sangat dia nantikan. Denny berniat mengutarakan seluruh isi hatinya. Pikirannya terganggu dengan Hendrik. Menurutnya pria itu menyukai Indah. Dia tidak akan membiakan pria manapun mendekati Indah. Wajah Denny seketika berubah marah. Saat teringat tangan Hendrik merangkul bahu Indah.
Malam itu, Denny dan Iqbal menghabiskan waktu bersama di sebuah klub olahraga bela diri Taekwondo. Mereka berdua sudah lama tidak berkujung dan berlatih. Perasaan Denny sangat tidak senang. Untuk mengendalikan diri dan pelepasan amarahnya dia memilih berlatih di gym. Iqbal menjadi lawan latihan. Dia melayani setiap pukulan dan tendangan Denny. Kelihatan Denny sangat menikmati serangannya. Kemampuan Denny seimbang dengan Iqbal kedua memperoleh sabuk hitam. Senyum tak lepas dari bibir Denny setiap serangannya telak mendarat. Iqbal kewalahan menghadapi Denny penuh semangat, dia memilih menyerah.
“Ha..ha..ha.., Bal, kamu gampang menyerah. Kamu sudah tua Bal,” ejek Denny melihat Iqbal terduduk lemah.
“Plak, Plak, Plak, terdengar tepukan tangan.
Denny dan Iqbal melirik ke sumber suara. Terlihat Hendrik berdiri, dengan seragam putih. Kelihatan dirinya ingin bersenang-senang juga malam itu.
“Malam Pak, apakah saya boleh bergabung?” tanya Hendrik menatap Denny.
Iqbal berdiri ingin mendekati Hendrik. Wajahnya tidak senang melihat kehadiran Hendrik. Denny menahan langkah Iqbal.
“Baik, silakan,” Denny menatap tajam.
Hendrik melangkahkan kaki, berdiri menghadap Denny.
“Terima kasih Pak, dan jangan sungkan,” senyum sinis Hendrik.
“Oke, kamu juga. Malam ini kedudukan kita sama, tidak ada atasan dan bawahan. Saya tidak akan sungkan sedikit pun.” Ucap Denny penuh amarah.
Iqbal menjadi wasit pertarungan antara Denny dan Hendrik. Keduanya saling memberi hormat. Pertarungan dimulai, keduanya saling mengatur jarak. Sesekali kaki Hendrik memberikan tendangan.
Denny memperhatikan setiap gerakan Hendrik dengan cermat. Keduanya saling memberikan pukulan dan tendangan. Beberapa serangan Hendrik dapat terelakkan Denny. Sebaliknya pukulan dan tendangan Denny lebih banyak mendarat ke tubuh Hendrik. Titik-titik rawan serangan mengenai tubuh Hendrik. Pertarungan terlihat tidak seimbang. Tubuh Hendrik tidak dapat menahan serangan Denny. Senyum menggaris di bibir Denny. Sakit hatinya terbalaskan saat ini. Hendrik kesal tidak dapat mengalahkan Denny. Akhirnya Hendrik terduduk lemah, tubuhnya tidak kuat lagi dan dia menyerah. Denny mengulurkan tangannya ke arah Hendrik, dengan wajah tersenyum. Hendrik menyambut uluran tangan, dan Denny menariknya berdiri.
Denny melepaskan pegangan tangannya dan melangkah pergi meninggalkan Hendrik. Iqbal mengikutinya dari belakang. Hendrik terpaku memandang kepergian mereka. Seketika tubuhnya terjatuh lagi.
“Aduh, tubuhku sakit,” rintih Hendrik dengan tubuh meringkuk.
Hendrik kesakitan, seluruh tubuhnya remuk. Ditambah lagi, rasa sakit di hatinya tidak dapat terbalaskan.
__ADS_1
Di dalam mobil, Iqbal melirik dari balik kaca spion ke kursi belakang. Nampak Denny menyandarkan tubuh. Lelah juga melanda dirinya, malam ini hatinya sangat senang. Walaupun mata terpejam, senyum tak lepas dari bibirnya.