
“Selamat,” suaranya mengalihkan perhatian Jesika dan Saka.
“Pa…, papa di sini? Saka menang Pa.” Saka menghambur pelukan ke arah lelaki yang baru dilihatnya datang menghampiri. Mata Jesika ikut melirik dan menatapnya tersenyum.
Jesika ikut menghampiri, hatinya gembira dan khawatir melihat kehadiranya secara tiba-tiba.
“Hendrik, kapan kau datang? Jangan bilang, aku menelponmu tadi kau sudah ada di sini.” Jesika mengelus tubuh belakang Saka yang masih menempel memeluk Hendrik.
“Iya, aku sudah di kamar hotel saat kau telpon. Ini salahmu, kau tidak menghubungiku setelah sampai di sini. Aku cemas setengah mati memikirkan kalian berdua,” Hendrik mengusap kepala Saka dan menatap Jesika lalu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Saka. “ Kau hebat, papa akan memberimu hadiah. Kau boleh minta apa saja,” memegang kedua bahu Saka dan menatap dengan penuh kasih sayang.
“Hemmmm, aku belum tahu sekarang mau hadiah apa. Papa sudah datang itu hadiah yang sangat luar biasa untukku,” Saka memeluk Hendrik dan langsung mendapat pelukan balasan.
Kehangatan keluarga yang ditunjukkan di depan mata Denny membuat darahnya mendidih. Tangannya mengepal kuat, matanya memerah dan hawa panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Tatapan tajam bak panah telah terlepas tepat ke arah Hendrik dan Jesika.
“Pa, Nia boleh menemui kak Saka? Dia telah menang, dan Nia mau memberinya ucapan selamat.” Dania menggoyang lengan Denny dan menatap wajah dingin yang duduk terpaku di sampingnya.
Denny berdiri dan meraih tangan Dania, membawanya melangkah menuju sebuah keluarga yang bahagia merayakan kemenangan putranya. Semakin dekat, ayunan langkah kakinya melambat. Di kepalanya berpikir keras, menyibak kenangan wajah lelaki tidak asing di matanya.
Deli sedang sibuk menerima panggilan telpon dari rumah sakit tempatnya bekerja. Perhatiannya teralihkan karena membicarakan operasi Dania yang gagal lagi dilaksanakan. Pendonor belum bersedia melakukan operasi dan meminta mengatur ulang jadwal operasi.
“Deg,” jantung Denny memukul kuat, terasa sakit dan menusuk di dada. Perlahan samar terdengar terucap kata papa dari bibir anak laki-laki dengan tatapan gembira pada lelaki di hadapannya.
Dania melepaskan pegangan tangan Denny dan berlari ke arah Saka. Denny terlambat menahan langkah Dania yang sudah bergabung dengan keluaga itu.
“Kak Saka selamat ya,” ucap Dania dengan mata berbinar melihat Saka dan mengulurkan tangannya memberi ucapan selamat.
“Hei adik kecil, kamu juga di sini? Terima kasih, sudah memberiku selamat. Aku senang kau juga semangat melihatku bertanding.” Saka menyambut uluran tangan Dania dan tersenyum menampakkan barisan gigi putih yang tersusun rapi.
“Ternyata kau punya seorang penggemar Saka,” ucap Hendrik melirik Jesika dan Saka bergantian.
“Dia putrinya,” ucap Jesika pelan memalingkan wajah ke arah lain sambil menarik tangan Hendrik mendekat.
“Apa dia akan mengenalimu dan aku?” Tangan Hendrik berpindah merangkul bahu Jesika dan berbisik ke telinganya.
“Aku tidak tahu, bersikap wajar seolah tidak mengenalinya,” ekor mata Jesika bisa melihat Denny semakin dekat melangkah.
“Dania, papa boleh kenalan dengan temanmu?” Denny menatap Saka dalam dan tersenyum.
Dania menarik tangan Saka dan berdiri tepat di hadapan Denny.
“Kak Saka, kenalkan dia papaku,” ucap Nia mengangkat tangan menunjuk jari telunjuk dengan bangga ke arah Denny.
“Saka. Om sudah baikkan?Om suka minuman beralkohol, itu tidak baik untuk kesehatan,” Saka menatap Denny dingin, pertemuannya pertama kali melihat Denny tidak sadarkan diri karena pengaruh minuman alkohol.
“Ya, om sudah baikan. Terima kasih nasehatnya, lain kali Om akan lebih berhati-hati dan tidak minum minuman beralkohol,” Di pandangan Denny, tatapan Saka mengartikan sikap tidak suka padanya.
“Maaf mengganggu,” Denny beralih dengan pasangan suami istri yang sibuk berbicara memunggungi dan tidak menghiraukan kedatangannya.
Berdua Jesika dan Hendrik saling melempar pandangan, mendengar seseorang menyapa mereka dari belakang.
“Apa ini saaatnya aku menampakkan diri? Bagaimana kalau dia mengenalku dan marah-marah? Tapi dia akan benci dan tidak ingin melihatku. Ah….aku ingin menghilang saja dari sini. Hendrik bawa aku kemanapun kau pergi secepatnya.” Jesika tidak mengeluarkan suara, kata-katanya tersembunyi di dalam hati, tarikan matanya beradu dengan tatapan mata Hendrik. Jesika dihadiahi sebuah senyuman dari lengkung bibir Hendrik dan tubuhnya pun berbalik ke belakang tepat berhadapan dengan Denny.
“Oh…, tidak masalah. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Jesika berusaha ramah dan mengendalikan gemuruh di dalam dadanya.
__ADS_1
“Tidak, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih telah mengantar putriku malam itu kembali ke kamar. Dan maaf telah merepotkanmu,” Ucap Denny memasang wajah tersenyum.
Mendengar ucapan Denny yang tidak mengenali Jesika, Hendrik membalikkan tubuh dan bersiap menampakkan wajahnya ke hadapan Denny.
“Perkenalkan saya papa dari anak laki-laki yang hebat ini,” Hendrik mengelus kepala Saka yang tersenyum kepadanya.
“Selamat denganmu tuan, dan maaf kami harus segera kembali ke kamar sekarang,” Denny tersenyum dan mengulurkan tangannya ke pada Nia.
“Sampai ketemu lagi kak Saka,” Dania melambaikan tangannya sebelum melangkah meninggalkan Saka.
Jesika menatap tubuh belakang Denny berlalu melangkah pergi. Dadanya sesak bak tertimpa batu besar. Rasa sedih, kesal, kecewa dan marah bersatu memenuhi hati. Denny benar-benar tidak mengenali dan sudah melupakannya. Memang itu yang dia harapkan, tapi tetap saja kesakitan tidak bisa dia cegah membungkus dirinya.
Hendrik menggenggam tangan Jesika, dia tahu gadis di sampingnya berusaha melawan rasa sakit yang luar biasa menusuk-nusuk dirinya saat ini. Tatapan Jesika sendu mengiringi kepergian Denny menghilang dalam keramaian orang.
Seremonial kemenangan di gelar bagi para pemenang. Saka menerima bertabur ucapan selamat atas kemenangannya. Senyuman tak lepas membingkai di wajah, apalagi orang-orang tersayang selalu ada dan memberinya semangat. Hendrik sangat bangga memiliki Saka hadir dalam hidupnya. Kebahagiaan Saka menghibur kesedihan Jesika dan menatap Hendrik yang selalu ada menemaninya.
Di kamar Denny, hatinya sedih bertambah kecewa mendapat berita dari Deli kalau operasi Dania ditangguhkan. Deli memutuskan kembali ke Jakarta dan menjadwal ulang prosedur operasi secepatnya.
Denny memeluk erat tubuh kecil putri kesayangannya.
“Maafkan papa Nia,” bisik Denny di telinga Dania.
“Pa, jangan sedih, Nia ngak pa-pa kok. Papa lihatkan Nia sehat,” Dania merenggangkan pelukan dan menatap dengan memegang kedua pipi Denny menghadiahkan senyuman.
“Nia, papa belum bisa membuat kamu bahagia.” Denny mencium kening Dania, menggendongnnya dalam pelukan.
“Dania sayang papa, jadi jangan sedih. Bagaimana kalau kita makan es krim?” Nia ingin menghibur kesedihan Denny. Dia tahu Denny sangat ingin melihatnya sembuh melebihi dirinya sendiri.
“Baik, papa akan belikan es krim rasa apa saja yang kamu mau. Kalau perlu papa akan bangun pabrik es krim buat kamu,” Denny melangkah ke luar kamar membawa Dania. Hari ini dia ingin membuat Dania bahagia.
Hari berjalan menjemput malam, Denny baru kembali ke kamar setelah Dania lelah dan mengantuk dalam gendongannya. Tubuh Dania perlahan dibaringkan di atas tempat tidur.
“Selamat tidur sayang,” Denny mengecup kening Dania hangat. Menarik selimut menutupi sampai kedadanya. Denny berbalik dan melangkah, tapi tangannya tertarik seketika menghentikan langkahnya.
“Pa, jangan sedih, Nia sayang papa,” bibir mungil itu menatap sendu.
“Sayang, papa ngak akan sedih, asal kamu bahagia," Denny menggenggam tangan Dania dan mengelus pucuk kepalanya.
“Tidur ya, besok pertualangan kita lanjutkan, oke?” Tatapan Denny berusaha gembira menutupi kesedihannya.
“Oke, selamat malam pa,” ucap Dania sembari memejamkan kedua matanya. Denny menatap Dania dengan hati pilu. Usahanya mencari pendonor belum berhasil membawanya ke atas meja operasi. Kesabarannya sangat diuji menunggu kesembuhan Dania.
Denny melangkah dan mendaratkan tubuhnya ke sofa. Tangannya meraih ponsel di atas meja, yang tertinggal saat dia membawa Dania ke luar kamar siang tadi. Pandangannya mendarat di layar ponsel, panggilan tak terjawab sebanyak dua puluh kali dari Deli menghiasi ponselnya. Denny menggeser jarinya membuat panggilan.
“Hal….lo,” Denny terkejut mendengar seseorang berujar kencang di seberang, hingga menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Jam brapa penerbanganmu?” Tanpa penjelasan Denny bertanya mengabaikan ocehan yang masih mengalun dari seberang.
“Keluarlah ku tunggu di bawah, aku ingin menemuimu sebelum pergi,” Denny beranjak dari sofa dan melangkah menuju pintu.
Pembicaraan terhenti, Denny menyematkan ponsel di balik saku baju. Meraih pegangan pintu, membuka lebar dan melangkah ke luar. Pintu tertutup rapat kembali, langkah Denny berlanjut menyusuri lorong kamar hotel.
Pandangannya samar melhat kejauhan seseorang tersenyum ramah padanya. Semakin dekat wajahnya terlihat jelas, Deli mengenakan gaun Bodycon Dress warna pink neon tanpa lengan. Gaun yang ngepas memperlihatkan bentuk tubuhnya yang ideal dan panjang hanya sebatas paha memanjakan mata lelaki menatapnya. Rambut tergerai lepas, riasan wajah sederhana dengan pilihan polesan bibir warna orange yang terkesan natural. Deli tersenyum manja menatap Denny menghampirinya.
__ADS_1
“Apa ini, simpan penampilanmu untuk seseorang yang benar-benar mencintaimu,” Denny menatap tajam tidak senang sikap Deli yang terkesan terbuka ingin merayunya.
“Hei, santai. Jangan memperdulikanku jika kau tidak suka.” Deli menarik tangan Denny memaksanya berjalan. Denny menuruti langkah kakinya dengan berat.
Berdua mereka duduk di restoran yang tersedia di hotel. Tatapan Deli tak teralihkan dari wajah Denny yang tampan.
“Jangan banyak berpikir, cepat katakan. Aku harus segera kembali, Nia tidak tahu aku pergi ke luar.” Denny tidak ingin lama-lama bersama Deli. Suasana yang tercipta sangat membuatnya tidak nyaman. Alunan musik romantis memenuhi ruangan, hanya pas untuk sepasang kekasih.
“Bisakah kau lebih santai tuan Denny? Kapan kau bisa menikmati hidup, lebih tepatnya membuka hati menerima seorang gadis untuk dicintai dan mencintai.” Deli memain jarinya di bibir gelas.
“Sudahku peringatkan, jaga sikapmu. Aku ke sini hanya ingin membicarakan masalah operasi Dania. Jangan mengalihkan pembicaraan, aku tidak suka.” Denny memutar matanya sekeliling, menghindari tatapan ke wajah Deli.
“Hei, Jesika,” Deli melihat Jesika dan seorang lelaki berjalan bersamanya memasuki ruang restoran.
Tatapan Jesika mengarah kepada suara yang memanggil dirinya. Senyum terpaksa membalas keramahan yang menyapa.
“Siapa dia?” Hendrik berbisik menanyakan gadis yang masih melambai ke arah mereka.
“Dia tunangan Denny, pasti mereka sedang bersama. Kita jangan ke sana, aku tidak ingin melihatnya,” Jesika menarik Hendrik melangkah berbalik. Tapi tangannya kalah kuat dengan tarikan tangan Hendrik yang membawanya mendekati arah gadis yang masih menyapa mereka.
“Kita tidak bisa menghindar, itu malah akan terkesan mencurigakan. Kita harus menunjukkan sikap ramah pada mereka.” Hendrik berbisik dan merangkul pinggang Jesika membawanya terus melangkah.
Jesika dan Hendrik menghampiri meja Deli. Senyum Deli menyambut mereka berdua sedang Denny memasang tatapan acuh.
“Hai Jesika, mari bergabung dan dia pasti?” Deli menggantung kalimatnya menatap wajah Hendrik.
“Aku papa Saka, dan baru tiba siang ini. Senang bisa bergabung,” Hendrik menarik kursi mempersilakan Jesika duduk tepat bersebelahan dengan Deli. Dan Hendrik memilih duduk bersebelahan dengan Denny.
“Kalian sudah lama? Apa kami tidak mengganggu?” Tanya Hendrik membuka pembicaraan menoleh Denny yang menatap datar ke depan.
“Yah, beberapa menit lebih dulu dari kalian, aku senang bisa banyak teman bicara.” Deli menatap Hendrik yang tersenyum ramah padanya.
Terdengar pembicaraan akrab antara mereka berdua. Sedangkan ada kebisuan mencekam dengan dua manusia yang sibuk menata hati dan pikirannya masing-masing. Jesika menatap Denny dalam. Sudut mata Denny menangkap sepasang mata memperhatikannya. Mata Denny menarik pandanga menatap sepasang mata itu. Kedua mata mereka bertemu, mata yang saling memendam rindu.
“Kau benar-benar tidak mengenalku. Syukurlah, aku tenang sekarang kau sudah melupakan semuanya. Aku harap kau bahagia dengan kehidupanmu sekarang. Aku juga akan berusaha bahagia. Aku tidak sanggup berucap maaf karena telah pergi. Biarlah kau tetap dengan anggapan aku telah tiada, itu lebih baik. Kita jalani hidup masing-masing seperti sekarang,” mata Jesika berkaca-kaca dan menunduk tidak sanggup menyelami tatapan dua mata di hadapannya.
“Kau puas menatapku? Kau puas mengataiku? Kau puas dengan kepura-puraanku? Kau puas dengan keadaanku?” Denny menatap tajam dengan suara yang meninggi.
Perhatian Hendrik dan Deli teralihkan mendengar ucapan Denny.
“Ada apa?” Tanya Deli tidak mengerti melihat wajah Denny memerah menahan marah.
“Hah, dia mengenalnya. Kau tidak bisa bertahan dengan kepura-puraanmu tuan Denny,” Hendrik membatin menatap Denny.
Jesika mengangkat wajahnya menatap Denny, dan beranjak dari kursi melangkah pergi.
Denny ikut berdiri dan melangkah mengikuti Jesika dari belakang. Deli ikut berdiri, tapi tangan Hendrik menahan langkahnya menyusul Denny.
“Biarkan mereka berdua menyelesaikan masalahnya. Kita di sini saja, aku masih ingin minum. Maukah kau menemaniku Nona?” Tanya Hendrik dengan hati yang hancur sepeninggalan Indah.
“Kau, tidak menahan istrimu berbicara dengan lelaki lain?” tanya Deli heran dengan sikap Hendrik yang tenang.
“Hemmmm,” Hendrik menggelengkan kepala memberikan jawaban.
__ADS_1
“Kenapa?” Deli masih diselimuti dengan rasa ingin tahu.