
Ke esokan paginya Indah terbangun dari tidur. Menatap jam menempel di dinding kamar, sudah pukul lima. Indah mengingat-ingat kejadian tadi malam.
“Ahk kenapa aku bodoh sampai memikirkan yang tidak-tidak. Aku pasti tertidur, lalu digendong Pak Direktur ke ranjang ini. Mengapa dia selau berbuat sesukanya, menarik tangan dan lalu sekarang menggendong. Pasti dia berpikir kalau aku belum sembuh benar. Bagaimana aku bisa minta pulang nanti?” Keluh Indah.
Indah pun bergegas bangun melangkah ke kamar mandi dan membersihkan diri.
“Pasti dia di kamarnya dan belum bangun,”
Gumam Indah melirik kamar Denny tertutup rapat. Suasana ruangan sepi tidak ada tanda-tanda pergerakan apapaun. Indah dengan pelan melangkah kakinya menuju dapur.
“Aku harus melakukan sesuatu supaya dia senang dan mengabulkan permintaanku.”
“Membuat sarapan, tidak ada persediaan. Tapi apa ini? Kok lemari es sudah penuh berisi.” Bola mata Indah membesar saat membuka lemari es.
“Baguslah kalau begitu, aku bisa melakukan rencanaku. Terima kasih Tuhan, Kau sungguh tahu isi hatiku. Aku akan membuatkan sarapan untuk Pak, ehh Mas, ihh aku merinding menyebutkan panggilan itu. Berusaha Indah, semoga berhasil meyakinkan kalau aku sudah sembuh. Jadi, dia bisa mengijnkan aku pulang hari ini.”
Indah membatin di hatinya sambil memasak untuk Denny. Menu sarapan pagi di pilih Indah spaghetti saus dan segelas jus jeruk.
Di sisi lain, Denny juga sudah bangun dan selesai mengerjakan sholat. Perlahan Denny kembali membaringkan tubuh di ranjang big sizenya. Memandang langit-langit kamar. Pikirannya sejenak teringat peristiwa tadi malam.
“Dasar penakut, tapi aku senang dia memelukku. Apa harus aku buat suasana menakutkan supaya dia terus dekat bersamaku,” Denny tersenyum-senyum membayang wajah Indah ketakutan dan memeluk dirinya.
“Akh, mengapa aku berpikiran mesum begini,” Denny menutup wajahnya dengan bantal.
Dalam diamnya Denny teringat ucapan Iqbal kalau dia harus meyakinkan Hanna. Tiba-tiba terpikirkan sebuah rencana.
Indah sudah siap menata sarapan pagi di atas meja makan. Senyum sumringah di wajahnya melihat pemandangan itu. Tiba-tiba Denny ke luar dari kamar. Melangkah mendekati dapur. Terlihat olehnya Indah sudah ada di sana.
“Apa yang dia lakukan di dapur. Hei, makanan itu apa dia memasaknya?”
Denny berkata-kata di dalam hati memandang hidangan telah tertata rapi di atas meja. Dia terus melangkah mendekat dan memasang wajah dingin.
Indah menyadari keberadaan Demny. Perasaan Indah tidak menentu melihat Denny semakin mendekat. Dia berdiri berdiam diri. Denny melangkah semakin dekat, menarik kursi dan duduk di hadapannya.
“Apa kau memasaknya?” tanya Denny melihat Indah berdiri dengan wajah tertunduk.
“Iya, saya buatkan untuk Bapak, maaf maksud saya Mas, semoga suka.”
Indah masih berdiri tertunduk takut melihat wajah Denny. Melihat sikap Indah, Denny tersenyum dan melangkah ke sisi meja menarik sebuah kursi.
“Duduk, mari makan bersamaku,”
Indah memberanikan diri untuk duduk. Denny kembali ke kursinya dan menatap wajah Indah yang masih tertunduk.
“Kau tidak menyediakan untukmu?” tanya Denny kembali, melihat hanya ada satu piring tersedia di atas meja.
“Saya akan makan setelah Mas selesai,” jawab Indah tetap menundukkan kepalanya.
Denny pun mulai makan. Menggerakkan sendok dan garpu mengambil spaghetti memasukkan ke mulutnya.
“Hemm, rasanya asin.” Ucap Denny.
“Apa, asin? Tadi saya sudah mencicipinya dan rasanya tidak asin.”
Indah mengangkat wajahnya hingga Denny dapat menatapnya.
“Ini makan, kalau tidak percaya,” mengulurkan garpu berisi makanan ke mulut Indah.
Indah pun memakannya dan merasakan kalau makannya tidak asin.
“Saya rasa tidak,” merapatkan kedua alisnya menatap Denny.
Indah melihat Denny kembali makan.
__ADS_1
“Emmm ini juga asin,” kembali Denny berucap.
“Coba rasa ini,”
Mengarahkan garpu ke mulut Indah. Kembali Indah memakan dari suapan Denny. Hati Denny sangat senang melihat ekspresi Indah. Dia hanya ingin mengerjain gadis yang ada di depannya. Indah merasa kalau dia dikerjain.
“Ini lagi, cobalah,” masih mengarahkan garpu ke mulut Indah.
Indah diam dan menatap Denny.
“Aku tidak suka saat makan, kau hanya diam dan memperhatikan aku makan, seperti seorang pelayan.” Denny menatap dalam wajah Indah.
“Makanlah, atau kau menaruh racun di dalamnya, itu sebabnya kau tidak mau aku suapi?” Sindir Denny.
Mendengar kata-kata Denny, Indah langsung memasukkan makanan dari suapan Denny.
“Bagus, Kalau pun ada racun, kita akan mati bersama. Aku senang ada yang mau mati bersama diriku,” Ucap Denny lagi.
“Sedikit pun tidak pernah memikirkan itu. Saya khusus memasaknya sebagai ucapan terima kasih, karena telah menolong saya. Sampai kapan pun semua kebaikan Mas, tidak dapat saya balas.” Menatap Denny dalam.
“Baik, makanlah lagi.” Bebapa kali suapan Denny masuk ke mulutnya tanpa Indah tolak. Meraka menjadi makan bersama dengan sepiring spaghetti.
Selesai makan Indah merapikan meja dan mencuci piring. Indah berdiri membelakangi Denny yang sibuk dengan ponselnya. Terdengar irama kunci sandi pintu. Denny melangkah mendekati pintu. Iqbal membuka pintu bergegas masuk dan menutupnya kembali.
“Ada apa?” tanya Denny heran.
“Hanna sedang menuju ke sini?”
“Apa?” Denny terkejut.
“Barusan dia telpon dan bertanya kau di mana, aku bilang masih di aparteman. Dia pun langsung menuju ke sini?” jawab Iqbal.
Denny berjalan mendekati Indah dan menarik tangannya. Indah terkejut dan tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya tertarik mengikuti langkah Denny membawa ke kamar.
Bel pintu berbunyi. Denny menutup pintu kamar Indah dan menatap Iqbal.
Denny berjalan menuju pintu dan membukanya. Terlihat Hanna berdiri dan tersenyum menatapnya.
“Hanna, kamu di sini? Tanya Denny.
“Maaf Mas, aku ngak bilang mau kemari sebelumnya. Tante memaksaku menemuimu,”
Hanna lesu memandang espresi Denny yang tidak senang melihat dirinya. Denny berusaha terlihat tenang di hadapan Hanna. Dia tidak ingin Hanna mencurigai sesuatu.
“Mari masuk,” ajak Denny.
“Terima kasih, Mas,” balas Hannna.
Saat melangkah masuk, pandangan Hanna melihat sekitar. Terlihat Iqbal duduk di meja makan dan menikmati sesuatu.
“Hai Iqbal, kamu juga sudah sampai, tadi waktu di telpon masih di jalankan?” tanya Hanna ramah.
“ Iya, sudah dekat sini kok.” Jawab Iqbal.
“Brengsek kau Bal, siapa mengijinkan kau makan masakan Indah. Dia sendiri aja masih sedikit makannya, berbagi sama aku. Kau tidak tahu, selera makan wanita itu besar. Tubuhnya saja yang kurus, tapi makannya banyak.” Guman Denny dalam hati merutuki Iqbal, makan dengan santai dan lahapnya.
“Mas, ini aku bawakan makanan kesukaan mu,” Hanna menyodorkan kantong makanan.
“Hanna, terima kasih. Ngak perlu repot-repot,” Denny menerima pemberian Hanna.
“Tapi kelihatannya mas sudah makan?” melirik kearah Iqbal.
“Iya, baru saja selesai. Kamu sendiri?” tanya Denny mencoba perhatian.
__ADS_1
“Aku belum Mas, tadi rencana mau sama-sama makan di sini. Tapi Masnya udah makan,” memasang wajah sedih.
“Ayo mari, kamu makan aja. Iqbal adakan menemani kamu makan?” berjalan mendekati Iqbal yang asik menikmati makanan.
"Iya An, sini makan, aku juga belum selesai kok," Iqbal dengan santai menawari Hanna makan bersamanya.
Hanna mengikuti langkah Denny menghampiri Iqbal.
“Ini Bal, Hanna membawakan makanan, kamu masih mau?” tanya Denny menepuk belakang Iqbal.
“Hukk, hukk, hukk,” Iqbal terbatuk.
“Kamu baik-baik aja Bal?” tanya Hanna heran melihat tingkah kedua pria dihadapannya.
“Iya, ngak apa-apa.” Meminum segelas air putih pemberian Denny.
“Pelan-pelan Bal, kamu seperti ngak makan sebulan aja.” Senyum sinis menatap Iqbal.
“Aku salah apa?” Batin Iqbal bingung mengartikan tatapan Denny.
“Kelihatannya enak, masih ada lagi Mas?” tanya Hanna melihat isi piring Iqbal.
“Ada, kamu mau An. Aku ambilkan ya?” Balas Iqbal.
“Boleh,” jawab Hanna tersenyum dan duduk di kursi makan.
“Siapa yang tuan rumah sekarang hah, berani-beraninya menawarkan masakan Indah. Dasar kau Bal, tunggu pembalasanku,” Denny menatap tajam Iqbal dan merutukinya di dalam hati.
Iqbal tidak sengaja membuat Denny geram, dia sendiri tidak tahu kalau itu masakan Indah.
“Hem, enak. Mas yang masak ya?” tanya Hanna menatap wajah dingin Denny.
“Iya, Denny yang masak. Aduh,” Iqbal merasakan sakit di tulang kering kakinya.
“Kenapa, Bal?” tanya Hanna heran melihat Iqbal kembali.
“Tidak, sepertinya semut menggigit kakiku,” jawab Iqbal menatap Denny yang duduk dengan santainya.
“Sudah, cepat habiskan makanan kalian. Kita segera berangkat,” ucap Denny beranjak dari kursinya.
“Mau ke mana, aku baru datang. Mas sudah mau pergi?” tanya Hanna sedih.
“Hari ini aku banyak pekerjaan di kantor. Aku bersiap-siap, setelah makan kita berangkat, bicaranya kita lanjutkan di mobil saja.” Denny sengaja melakukannya supaya Hanna cepat pergi bersamanya.
Hanna menatap sedih punggung belakang Denny. Dia masih ingin berlama-lama.
“Iya An, perusahaan sedang persiapan acara ulang tahun. Banyak pertemuan yang harus dihadiri.” Iqbal berusaha mencairkan suasana hati Hanna.
“Mas Denny memang selalu sibuk, aku juga datang disaat yang tidak tepat,” Hanna melanjutkan makannya.
Berdua mereka makan, Iqbal terlihat sesekali bercanda kepada Hanna. Senyum menggaris di bibir Hanna mendengar candaan Iqbal.
Indah di kamar membenamkan diri di ranjang. Dia tahu ada seorang gadis datang, setelah Indah mencuri dengar dengan merapatkan telinganya di pintu. Dan dia berpikir, Denny tidak ingin keberadaannya diketahui tamu wanitanya.
“Gadis itu siapa, apakah kekasihnya Pak Direktur? Kelihatan sekali dia takut kalau aku ada di sini.
Dasar semua pria sama, beraninya di belakang wanita. Tingkahnya seperti pahlawan tapi ternyata hidung belang,” Indah berbicara sendiri.
Tidak beberapa lama, Denny ke luar dari kamar. Berpenampilan rapi dan menarik dengan balutan setelan jas berwarna biru muda. Wajah berseri memancarkan ketampanannya. Hanna menatap takjub dan hatinya bergetar.
“Ayo kita berangkat,” Denny berjalan ke luar.
Iqbal langsung beranjak dari kursi diikuti Hanna. Berdua mereka menyusul langkah Denny. Sampai di dalam lift, bertiga mereka diam tanpa suara. Masing-masing dengan pikirannya.
__ADS_1