
Mata Nia menatap ke depan, langkah kakinya terus mengikuti anak laki-laki yang menuntunnya.
Terlihat dari jauh, keramaian orang berkumpul. Langah keduanya semakin mendekati.
“Wah…, mereka masih bertanding.” Langkah Nia terhenti dan matanya berbinar-binar melihat layar monitor game puzzle ukuran super di hadapannya.
“Ayo, jangan lepaskan tanganmu.” Menoleh dan menarik tangan Nia melanjutkan langkah kembali.
Suasana ruangan ramai, irama musik mengalun keras memacu adrenalin. Nia melangkahkan kaki kecilnya berhati-hati disela keramaian.
“Saka, sini!” seorang perempuan memanggil dan tangannya melambai.
Tangan Nia ditarik kuat, langkah kakinya semakin cepat, mengikuti irama langkah kaki anak lelaki di depannya.
“Sekarang giliranmu sayang, ayo semangat.” Mengelus dengan lembut pucuk kepala.
Nia menatap lekat wajah perempuan itu.
“Ma, dia ingin lihat pertandingan, tolong jaga. Aku akan bertanding.” Melepaskan tangan Nia dan melangkah ke kursi perlombaan.
“Hah,? Perempuan itu menatap Nia heran dan melemparkan senyuman.
Nia hanya diam menatap wajah-wajah asing yang berusaha melindunginya.
“Sayang, siapa namamu?”Dengan berjongkok mensejajarkan tubuh pendek Nia, memegang kedua bahunya.
“Nia ,Tante,” jawab Nia penuh ramah.
“Orang tuamu di mana sayang?” Kembali pertanyaan terlontar padanya.
Nia diam, otaknya berpikir untuk memberikan jawaban.
“Kenapa? Jangan takut, tante hanya ingin telpon mereka supaya mereka tidak khawatir.” Sepasang mata itu menatap lekat tepat jatuh ke mata Nia.
“Papa di kamar, dia tidur. Aku ke sini mau lihat pertandingan. Kalau tante telpon papa, nanti dia kemari dan membawaku ke kamar lalu disuruh tidur. Tolong tante, aku ingin lihat sebentar saja.” Nia memasanga wajah memelas memohon keizinan melihat pertandingan. Papanya akan marah kalau mengetahui dia tidak tidur di kamar sekarang ini.
Sang perempuan terlihat sedang berpikir, lalu terdengar pengumuman melalui pengeras suara menandakan perlombaan dimulai. Para penonton bersorak, suasana di ruangan menjadi sangat ramai. Namun, seketika suara senyap.
“Tet,” bel perlombaan di mulai.
“Ayo, ikut bersama tante.” Memegang tangan Nia dan bersama melangkah.
Di kamar hotel, Denny terbangun dari tidur. Meraba perutnya yang terasa lapar.
“Nia masih tidur,” bisik Denny melihat dari jauh ke arah tempat tidur, Nia masih tertidur berbalutkan selimut.
Denny beranjak dari sofa, meraih telpon hotel dan terdengar memesan makanan.
Meletakkan kembali telpon setelah memesan makanan. Melangkah menuju kamar mandi. Denny berdiam diri di bawah guyuran shower. Air mengalir membasahi ke seluruh tubuhnya, menghilangkah rasa lelah. Terdengar di telingnya bel kamar berbunyi, Denny meraih handuk dan melingkarkan di pinggangnya.
“Itu pasti boyroom menghantar makanan,” Denny berkata-kata di dalam hati.
Melangkahkan kaki menuju pintu dan membukanya.
“Kau?” mata Denny membesar, orang di balik pintu tidak seperti dugaannya.
“Ya aku, kenapa, apa kau menunggu seseorang?” Deli menatap Denny, hatinya bergetar melihat tubuh Denny terbuka, bulir air mengalir di dada bidangnya dan tetesan air dari ujung-ujung rambut di kepala membasahi wajahnya.
__ADS_1
“Ada apa?” Denny tidak menjawab, dan bertanya balik.
“Aku kesepian di kamar yang besar itu, dan ingin mencari teman berbincang. Apa kau akan terus berdiri memamerkan tubuhmu?” Deli menolak tubuh Denny ke belakang dan menerobos masuk.
“Hei, kau tidak sopan,” Suara Denny meninggi dan menggelengkan kepala, lalu menutup pintu.
“Aku tidak sopan? Baiklah aku akan menunjukkan sifat tidak sopanku,” Deli melangkah mendekati Denny yang masih menatapnya lekat. Berdiri tepat di hadapan Denny dan jarinya mulai bermain-main di dada terbuka Denny.
“Jaga sikapmu Dokter Deliana,” Suara Denny menggeram, tatapan matanya tajam dan menepis jari Deli yang meliuk-liuk di dadanya. Kedua mata mereka saling beradu.
“Tet,” Bel pintu kamar terdengar berbunyi. Tarikan mata Deli mengarah ke pintu dan menatap lekat Denny.
“Ternyata kau memang menunggu seseorang, aku ingin lihat siapa dia,” Deli mengalihkan pandangan ke arah pintu kembali.
“Kalau kau ingin tahu, bukalah. Aku akan berpakaian sebelum kau melihat seluruh tubuhku,” Denny menghindari Deli, meraih koper pakaian dan melangkah ke kamar mandi.
“His, jangan sok bersikap dingin, aku tahu kau juga menginginkannya,” gumam Deli sambil melangkah ke arah pintu.
Denny mengeryitkan kening mendengar ucapan Deli, lalu berlalu ke kamar mandi.
Deli penasan siapa yang bertamu ke kamar Denny, dengan cepat tangannya meraih pegangan pintu dan membuka. Senyuman menggaris di bibir tipisnya melihat orang di balik pintu.
“Permisi Nona, saya menghantarkan pesanan makanan.” Sapa boyroom melempar senyum keramahan.
“Masuklah,” Deli bergeser ke samping, memberi jalan boyroom mendorong troli makanan.
Boyroom meninggalkan kamar, setelah menata makanan di atas meja.
Deli tersenyum melihat tatanan makanan dihiasi dengan lilin dan sebotol anggur, layaknya sepasang pengantin baru menikmati candle light dinner. Menarik kursi dan duduk manis menanti Denny.
“Wah, tuan Denny apa kau menunggu seorang perempuan pujaan? Aku tidak menyangka ternyata diam-diam kau memiliki seorang perempuan pujaan.” Menatap Denny yang telah rapi berbalutkan pakaian melangkah mendekatinya.
“Apa yang terjadi, aku tidak memesan perlakuan istimewa seperti ini,” bisik batin Denny menatap meja dan Deli bergantian.
“Sudahlah jangan menghindar, kau tertangkap basah,” Deli tersenyum licik mengejek Denny.
“Aku tidak selera makan, kau nikmati saja sendiri,” Denny membalikkan tubuh, mendaratkan tubuh di sofa dan meraih ponsel di atas meja.
“Wah… apa kau menghubunginya untuk tidak datang ke sini? Kau takut, aku melihat teman perempuanmu?” Cecar Deli semakin penasaran melihat sikap Denny.
“Terserah apa pendapatmu? Cepat makan dan kekuar dari kamarku,” Denny sudah mulai bosan dengan tuduhan Deli yang tidak masuk akal bagi dirinya.
“Kau mengusirku?” Deli semakin berang melihat Denny yang dingin.
“Dokter Deli, kau tidak berhak mencampuri urusan pribadiku. Aku tidak bermaksud kasar. Aku menghormatimu sebagai dokter pribadi putriku. Tolong jaga sikapmu dan jangan timbulkan ketidak nyamanan antara kita.” Denny berusaha menahan amarahnya yang mulai menguasai diri.
“Wah…., kau mengingatkan kedudukanku sekarang. Aku tau itu, tapi aku berhak tau karena berpengaruh kepada psikologi pasienku.” Deli sengaja membuat-buat alasan yang tidak ada hubungannya dengan kesehatan Nia.
“Aku berterima kasih atas perhatianmu, tapi kau jangan kelewat batas.” Denny berbicara menatap ponselnya tanpa menghiraukan Deli.
“Baiklah, aku tau batasanku dan akan mengingatnya. Kita hentikan perdebatan ini, seperti tujuan awalku kemari ingin mencari teman bercerita,” Deli mengambil botol anggur, dan menuangnya ke dalam gelas.
“Aku tidak ingin Nia terbangun dan melihat kita berdua di sini,” ucap Denny berusaha menolak Deli dengan halus.
“Aku tidak akan lama. Ambil, temani aku minum, sayangkan minuman ini tidak dinikmati.” Mengulurkan gelas berisi anggur.
“Aku tidak suka minuman mengandung Alkohol,” Ucap Denny mengatap Deli yang menyerahkan gelas anggur.
__ADS_1
“Alkohol dalam minuman ini hanya menghangatkan tubuhmu, tidak akan membuatmu mabuk.”Deli masih megulurkan gelas anggur ke hadapan Denny.
Tangan Denny terpaksa mengambil gelas, dan meneguknya perlahan.
Di ruang pertandingan, Nia menatap lekat layar monitor. Pertandingan puzzle menuntut kecepatan berlomba dengan waktu. Pemain dituntut menyelesaikan sebuah level sebelum batas waktu yang diberikan habis. Pemain hanya akan kalah apabila batas waktu habis.
“Ayo, ayo, sedikit lagi. Yey….. berhasil, “ Nia berteriak, tidak pernah seumur hidupnya sangat gembira seperti hari ini.
Nia tersenyum, menatap anak lelaki yang baru dikenalnya sangat hebat bermain puzzle.
“Ma, aku masuk babak final besok,” memeluk perempuan yang duduk di samping Nia.
“Anak mama memang hebat, besok kamu bertanding akan lebih baik lagi dari sekarang. Mama berdoa, kamu menang Saka,” merangkul erat tubuh putra tercintanya.
“Kamu tidak memberikan selamat untukku?” tanya Saka, menoleh kepada Nia.
“Iya, selamat kak Saka,” Ucap Nia bahagia.
“Hei, kamu tau namaku? Dan namamu siapa adik kecil?” Tanya Saka heran menatap Nia.
“Aku Dania, panggil saja Nia. Tante menyebut namamu, makanya aku tau,” ucap Nia enteng menoleh ke arah mama Saka.
“Nia, besok kamu juga harus melihat saka bertanding ya? Pertandingan final, penentuan bagi pemenang,” Mama Saka meminta Nia melihat bertanding final besok hari.
“Iya tante, aku akan menontonnya bersama Papa dan Tante Deli,” ucap Nia pernuh percaya diri dan bersemangat.
“Sekarang, kita antar Nia ke kamarnya, semoga papamu tidak khawatir sayang,” Mama Saka mengelus pucuk kepala Nia.
Bertiga mereka meninggalkan ruagan yang masih ramai pernonton menyaksikan beberapa pemain masih bertanding.
Di kamar Denny, bersama mereka berdua Denny dan Deli menikmati minuman anggur.
“Kenapa kau tidak menikah?” Tanya Denny yang sudah mulai kehilangan kesadarannya akibat pengaruh alkohol.
“Hem, jangan tanyakan itu tuan Denny, karena kau tau sendiri jawabannya.” Deli tersenyum melihat sikap Denny yang mulai tidak sadarkan diri.
“Aku? Aku tidak tau, kenapa aku harus tau? Itukan urusanmu,” ucap Denny dengan kepala pusingnya dan pandangan sudah pendar.
“Karena kau tidak tau, maka aku akan memberi taumu. Aku tidak menikah karena kau. Aku menyukaimu,” Ucap Deli merapatkan wajahnya ke wajah Denny. Terasa nafas saling menerpa di wajah
keduanya bersamaan.
“Kau jangan bilang seperti itu, kau jangan menyukaiku. Kau akan menyesal, karena semua orang yang aku sukai dan menyukaiku akan menderita dan pergi.” Terlintas nama Indah dan Hanna di kepala Denny.
“Tet,” Suara berl pintu berbunyi. Denny melihat ke aarah pintu.
“Biar aku yang buka,” ucap Deli melihat Denny yang sudah kepayahan.
“Jangan biar aku saja,” Denny berusaha beranjak dari sofa dan melangkah ke pintu.
“Aku saja, kau tidak bisa berjalan seperti ini, kau sedang mabuk,” ucap Deli memegang tubuh Denny.
“Tidak aku tidak mabuk, biarkan aku membukanya,” Denny kembali menghayunkan langkah menuju pintu. Saat tanganya meraih pegangan pintu kepalanya terasa pusing dan panganannya berputar. Tubuh Denny terhuyung jatuh, Deli dengan cepat menangkap dan memeluknya. Tangan Denny tidak sengaja membuka pintu.
Pandangan Denny melihat seorang perempuan dengan anak laki-laki dan Nia berdiri tepat di hadapannya,sedangkan dia bersandar di tubuh Deli.
“Pa,” Nia terkejut melihat Denny dalam pelukan Deli.
__ADS_1
“Kau?” Pandangan Denny tertuju pada wajah perempuan itu dan perlahan penglihatannya menghitam. Denny tidak sadarkan diri dan jatuh dalam rangkulan Deli.