
Iqbal ke luar dari mobil yang sudah terpakir di basement Rumah Sakit XXX, tarikan manik hitam mengenal sebuah mobil terpakir. Mobil itu milik Denny, hanya orang tertentu yang boleh parkir di basement Rumah Sakit XXX. Sedangkan kendaraan karyawan, pasien atau pengunjung harus parkir di halaman rumah sakit yang cukup luas.
Langkah Iqbal membawa menuju lift. Terlihat seorang penjaga berpakaian seragam jas hitam menghampiri.
“Tuan, anda mau kemana?” kata yang ke luar menatap datar ke arah Iqbal.
Iqbal membalas tajam pandangan dari atas hingga ke kepala, lelaki bertubuh tinggi, tegap, wajah sangar dan berkulit hitam.
“Aku sekretaris pribadi tuan Denny Prasetyo dan akan menemuinya. Jadi jangan menghalangi langkahku. Kau mau cari mati?” Iqbal memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya, tangan mengeluarkan sebuah kartu gold terlihat seperti identitas kepemilikan agen tertentu.
Seketika wajah sangarnya berubah kecut setelah menilik kartu terpampang jelas di hadapannya. Ternyata kartu bisa membuat ciut lelaki itu, lalu menarik langkah mundur dan merelakan Iqbal melanjutkan langkahnya.
Iqbal pun menghilang dari pandangan penjaga setelah pintu lift tertutup rapat. Terdengar penjaga berbicara diujung ponsel, mengabarkan ke pada orang di seberang kedatangan Iqbal.
***********
Denny merangkul tubuh gemetar Saka, tangannya menekan tombol panggilan darurat menempel di dinding kepala tempat tidur.
Seketika pintu kamar terdorong membuka lebar, masuk seorang lelaki berpakaian seragam biru muda berbalut jas putih dan ditemani dua orang perempuan berseragam penuh biru muda. Langkah mereka yang tergesa-gesa mendatangi Denny membuat Pak Jung terjaga dari tidur. Perlahan mengumpulkan jiwa, hingga dia memastikan tatapan ke arah Denny terlihat sedih.
Denny melepaskan pelukan, dan membaringkan tubuh Saka untuk menerima pemeriksaan.
“Hai boy, nama aku Reza dan sebagai dokter memeriksa keadaan kamu. Nama kamu siapa?” Tanya Rafa memulai perkenalan sekaligus mendeteksi daya ingat Saka. Seorang lelaki muda berumur kurang lebih 28 tahun, tersenyum ramah.
“A..aku , Saka Bismantara.” Ucap Saka dengan tangan menyeka air bening menetes di pipi.
“Nama yang bagus, pemimpin yang bersinar kalau tidak salah itu makna nama kamu. Usia kamu berapa sekarang?” Reza masih bertanya dengan ramah dengan seulas senyum di bibir.
“Sepuluh tahun,” jawab Saka singkat.
“Baiklah kaki kamu akan aku periksa.” Reza berdiri menghadap kaki Saka. Jari tangannya menyetuh telapakkan kaki Saka, membuat gerakan-gerakan kecil. Tatapannya jatuh ke wajah Saka, mengamati reaksi sentuhan yang dia berikan.
Saka hanya diam tidak berucap dengan wajah datar melihat Reza. Manik hitam Denny tak lekang memperhatikan antara sentuhan Reza dan wajah Saka. Tangannya seketika menyapu wajah dengan kasar, jantungnya berpacu dua kali lipat dari biasa. Kecemasan semakin memenjara Denny melihat tidak ada reaksi dari sentuhan yang diberikan Reza. Begitu juga Pak Jung, berdiri di samping Denny dengan wajah dibalut cemas.
__ADS_1
“Aww sakit,” Saka meringis, saat Reza menekan syaraf pada bagian tengah telapak kaki.
Denny terkejut mendengar teriakan Saka, menatap Reza dengan menarik segaris senyum di bibir setelah lama memberikan sentuhan.
“Oke, good boy. Kakak perawat akan membawa kamu ke suatu ruangan untuk melakukan pemeriksaan.” Reza memberikan anggukan kepada kedua perawat mengisyaratkan segera membawa Saka.
Kedua perawat mendorong brankar membawa ke luar kamar perawatan.
“Papaaa, Saka mau mama. Mama mana, kenapa tidak ada?” Saka menatap Denny, walau pun dia berusaha kuat, hatinya tetap tidak tenang karena Jesika tidak ada.
“Iya sayang, mama akan datang sebentar lagi. Kamu jangan takut ya, papa ada bersama kamu,” Denny mengikuti dari belakang, memastikan Saka percaya bahwa dia ada bersamanya. Pak Jung juga ikut menghantar.
Iqbal ke luar dari lift, menarik langkah mengamati ruangan yang luas dan terlihat para penjaga mengawasi gerakannya. Pandangan berpindah menatap Saka ke luar dari sebuah kamar didorong oleh perawat dengan diiringi Denny, Pak Jung dan seorang lelaki. Tarikan langkah kaki Iqbal semakin dipercepat menyusul.
Langkah Denny bersama Pak Jung terpaksa tertahan di depan sebuah kamar, hanya menghantar pandangan membawa Saka masuk dan berhenti terhalang pintu menutup rapat.
“Denny, apa yang terjadi?” Iqbal datang menghampiri dari belakang dan menepuk pundak Denny.
“Bal, bawa Indah ke sini?” Denny tidak menjawab pertanyaan Iqbal, dikepala hanya terlintas bayangan Saka meminta bertemu Indah. Iqbal menatap sendu wajah Denny berbalut kesedihan.
“Kenapa Pak Jung? Putraku membutuhkan mamanya, kau tidak lihat? Dia sangat ketakutan, dia butuh dukungan dari kedua orang tuanya.” Suara Denny meninggi, pikirannya kalut. Dia hanya mengkhawatirkan keadaan Saka.
“Maafkan saya tuan, bukankah membawa nyonya muda saat ini membuat keadaan tuan akan semakin dirugikan?” Pak Jung berbicara dengan tenang, sebagai orang yang mengenal dari kecil dia sangat paham sifat Denny.
“Apa maksudmu Pak Jung? Jangan bilang kau terpengaruh dengan cara mama.” Denny semakin tersulut emosi, menyimpulkan Pak Jung juga ingin memisahkan Indah dengan putranya.
“Tuan, putra anda dibawa dengan paksa oleh nyonya besar, kenyataan itu akan membuat anda jatuh di mata nyonya muda, sekarang putra anda dengan kondisi yang tidak baik. Nyonya muda bisa saja menyalahkan anda, bukankah itu membuat keadaan bertambah buruk?” Pak Jung berusaha membuat Denny mengerti resiko yang akan dia hadapi saat Indah mengetahui semua kenyataan.
Denny terdiam, mengendalikan perasaan dan berpikir tindakan yang harus dia ambil. Ucapan Pak Jung menyadarkan dirinya untuk tidak terbawa keadaan.
Iqbal mencerna setiap ucapan Pak Jung, dia pun memahami keadaan yang sedang dialami sahabatnya.
“Bawa saja dia ke sini, itu lebih baik. Mama mau lihat, apa yang bisa dia lakukan,” Suara mama Denny seketika terdengar mengalihkan perhatian ke padanya.
__ADS_1
Mendengar ucapan mama, Denny tersulut kembali emosi. Wajah bersemu merah dengan mengepalkan tangan.
“Cukup Ma, tolong jangan campuri lagi kehidupanku. Aku ingin berkumpul dengan istri dan anakku.” Suara Denny menguap dengan tatapan menajam.
“Hem…,Kamu bilang istri?” Mama Denny menyungging senyum di sudut bibirnya.
‘Iya, Indah istriku. Mama tidak bisa memisahkan dia dariku, dan juga dari putranya.” Balas Denny.
Iqbal dan Pak Jung hanya bisa mendengar perdebatan, berdua mereka diam dan menundukkan wajah.
“Kalau benar dia seorang istri, kenapa dia tidak ingin kembali? Dia tahu Hanna sudah lama meninggal, tapi dia lebih memilih tinggal bersama laki-laki lain. Apa dia benar-benar mencintai mu? Mama ragu, memikirkan kau saja tidak. Mama yakin, dia malah bersyukur bisa berpisah, jadi dia bisa menjalin hubungan dengan Hendrik karena dari dulu mereka sudah bersama. Kau hanya pengganggu, kau tidak sadar itu?” Mama Denny menekankan kata-kata disetiap ucapannya.
“Aaah…, hentikan omong kosong ini mama. Aku mencintainya, itu sudah cukup. Tolong, bisakah mama biarkan aku hidup bahagia. Sampai kapan mama seperti ini, mengatur hidupku.” Denny tidak bisa menahan amarahnya lagi. Sebuah pukulan kuat terlepas di dinding. Seketika cairan merah mengalir membekas di dinding.
“Denny,”
“Tuan muda,”
Iqbal dan Pak Jung terkejut dan serentak berujar menatap Denny.
“Denny, apa yang kau lakukan?” Mama Denny terkejut. Tubuhnya gemetar melihat cairan merah mengalir di tangan putra kesayangannya.
“Kalau mama tidak berubah, kita lihat siapa yang bisa bertahan. Tapi aku pastikan, aku tidak bisa bertahan lagi mama. Aku lebih memilih menyakiti diriku sendiri dari pada harus menyakiti mama.” Denny terduduk lemah di lantai, keputus asaan terpancar di wajah.
“Denny, kauu…,” suara mama Denny terputus, hatinya tercubit mendengar ucapan Denny.
*****************************"
Assalamu'alaikum, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan.
Terima kasih masih setia nunggui kelanjutan cerita aku.
Tetap semangat ya, dan jangan lupa beri dukungan yang banyak.
__ADS_1
Salam cinta selalu.