Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 44 Duka dibalas kegembiraan


__ADS_3

Perjalanan ke kampung Indah daerah Pekalongan dari Jakarta memakan waktu 6 jam melalui jalan tol trans Jawa. Mobil yang membawa Indah dan Denny tiba pada malam hari di tanah pekuburan umum. Setelah menunjukkan surat-surat kepolisian kepada kepala Desa, penguburan pun dilakukan. Di bantu beberapa warga, penguburan berjalan lancar. Keluarga Pakde Indah juga turut hadir, mereka juga sangat terkejut. Tapi Denny dapat menjelaskan semua, mereka dapat menerimanya di sambut dengan derai airmata. Bersama-sama mereka semua memanjatkan doa dihujung proses penguburan. Pakde Indah, meminta mereka tinggal beberapa hari. Atas izin Denny, Indah menyetujui. Mereka berdua memutuskan tinggal, sedangkan Iqbal kembali ke Jakarta mengawasi pekerjaan.


Di rumah Pakde Indah.


Lingkungan kampung rasa kekeluargaan masih sangat kuat, ramai tetangga datang berkunjung. Mereka menghibur dan memberi semangat. Karena mereka mengenal baik kedua orang tua Indah. Masa-masa kecil Indah banyak dihabiskan di kampung. Disela-sela pembicaraaan Denny mencuri-curi pandang ke arah Indah. Perasaannya senang melihat Indah berada di tengah orang-orang yang peduli dengannya.


Semakin malam para tamu pun berangsur pulang, mereka tahu tuan rumah juga ingin beristirahat.


Namun Pakde Indah dan Denny masih terus berbicara, mereka berdua terlihat akrab. Indah melihat pemandangan menjalin kedekatan antara Denny dengan Pakdenya.


“Mas, kamu memang pria yang baik, aku sangat berterima kasih dan tidak bisa membalas semua kebaikanmu,” bisik batin Indah memandang wajah Denny.


Seperti ada keterikatan batin, Denny merasakan Indah berbicara dengan dirinya. Dia pun menoleh, pandangan mereka pun bersatu. Denny melemparkan senyuman kepada Indah. Tidak tahan melihat senyuman Denny, Indah mengalihkan pandanganya ke arah lain. Denny menyadari kekakuan di wajah Indah, diapun memaklumi.


“Pak sudah dulu bicaranya, biarkan nak Denny beristirahat, kasihan dia capek. Besok masih bisa disambung lagi ngobrolnya,” Ucap Bude Indah datang menghampiri.


“Oh iya, Bapak lupa keasikan ngobrol. Indah mana?” tanya Pakde.


“Dia sedang mandi, ngak enak kalau tidur tidak mandi dulu katanya,” jelas Bude Indah.


“Nak Denny mungkin ingin bersih-bersih juga, kamar mandi di dapur sana. Maaf kami hanya punya satu kamar mandi. Jadi harus gantian, maklum di kampung rumahnya kecil-kecil. “ Jelas Pakde Indah merendah.


“Tidak masalah Pak, saya senang di sini.” Balas Denny ramah.


“Nak Denny, bisa beristirahat di kamat itu, Indah akan sekamar bersama Riri,” ucap Bude Indah.


Denny mengamati ruangan rumah, terdapat tiga kamar.


“Iya, maaf saya sudah merepotkan dan mengganggu pemilik kamar.” Balas Denny.


“Oh, tidak masalah, itu kamarnya Rudi, putra sulunng kami dan dia belum pulang. Dan dia tidak akan keberatan.” Ucap Pakde.


Denny melirik Indah berjalan mendekat. Terlihat dia sudah segar sehabis dari mandi.


“Indah, tunjukkan kamar buat nak Denny. Pasti dia ingin cepat beristirahat. Pakde dan bude juga akan beristirahat.” Ucap Pakde dan beranjak bersama bude Indah.

__ADS_1


“Iya Pakde. Mari Mas, saya antar ke kamar,” ucap Indah menatap Denny.


Indah berjalan mendahului, dan Denny mengikutinya dari belakang. Indah membuka pintu dan melangkah masuk. Denny juga masuk bersamanya.


“Mas, maaf kamarnya kecil dan sempit tidak seluas kamar apartemen.” Ucap Indah tertunduk malu.


Denny mendekat, menarik Indah dan merangkul kedua tangannya ke tubuh Indah.


“Mas, apa yang kamu lakukan?” Indah terkejut dan berusaha meronta.


“Husss, tolong diamlah sebentar saja,” Ucap Denny memeluk Indah erat.


Indah memejamkan mata dan merasakan hangat dekapan tubuh Denny. Ada ketenangan di hati Indah, bersamanya.


“Mas, terima kasih untuk semuanya. Saya banyak berhutang budi, dan hutang itu tidak akan dapat saya tebus sampai saya mati,” ucap Indah berurai air mata.


Denny melemahkan pelukannya, menatap wajah Indah. Pandangan mereka bersatu, air mata mengalir di pipi Indah. Perlahan Denny mencium mata kanan dan beralih ke mata kiri. Indah diam dan memejamkan mata menerima perlakuan Denny.


“In, bolehkah aku mencium bibirmu?” tanya Denny lembut.


“Aku ingin mandi, tolong tunjukkan di mana kamar mandinya,” ucap Denny menatap Indah.


Indah membuka matanya, semu merah terlukis di wajahnya seketika. Denny tahu Indah menahan malu saat ini.


“Tidak masalah, aku tidak akan memaksa kalau kau juga tidak menginginkannya.” Ucap Denny menatap Indah.


Perlahan kedua tangan Indah memegang pipi Denny.


“Aku akan memberikan semuanya, tidak hanya bibirku, setelah kita sah menikah. Apakah lamarannya masih berlaku?” Tanya Indah lekat menatap mata Denny.


Denny terdiam mendengar ucapan Indah. Terasa waktu berhenti untuk mereka berdua.


“Ya, lamaran itu tidak ada batasan waktunya hanya untukmu,” Ucap Denny dan memeluk Indah erat kembali.


“Aku akan membicarakan ini kepada Pakdemu. Aku tidak ingin menundanya lebih lama lagi.”

__ADS_1


Seketika Denny melepas pelukannya dan berbalik menghayunkan langkah. Tapi dengan cepat Indah menarik tangan dan menahan langkahnya.


“Mas, ini sudah malam, besok saja ya. Pakde juga mungkin sudah tidur sekarang.” Ucap Indah panik.


“Oh iya sudah malam, aku lupa karena terlalu senang.” Ucap Denny dengan wajah tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.


“Lebih baik Mas mandi sebelum tidur, ayo aku tunjukkan kamar mandinya,” ucap Indah geli melihat tingkah Denny.


Mereka melangkah ke luar kamar menuju kamar mandi. Senyum menggaris di wajah mereka berdua.


Setelah selesai, Denny kembali ke kamarnya. Indah pun juga kembali ke kamarnya dan beristirahat.


“Denny, demi wanita yang kau cintai harus bermalam di tempat sempit ini,” mata Denny mengamati isi kamar.


Denny merenggangkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya susah tidur, pikirannya teringat terus ucapan Indah. Sesekali matanya melirik jam menggantung di dinding. Terasa waktu sangat lambat berjalan baginya. Karena tidak bisa tidur akhirnya dia putuskan menelpon Iqbal.


“Hallo Bal, apakah kau sudah sampai?” tanya Denny di ujung ponselnya.


“Iya, aku baru akan tidur. Tubuhku sakit semua, aku butuh istirahat,” Balas Iqbal.


“Apakah kau masih bisa mendengar ucapanku?”Tanya Denny.


“Hem, kau tidak bisa tidur di sana? Apa kamarnya kecil atau ranjangnya kurang nyaman?” tanya Iqbal dengan lemah.


“Memang kamarnya kecil dan ranjangnya kurang nyaman, tapi bukan karena itu semua,” ucap Denny menatap langit-langit kamar.


“Kalau bukan, karena apa? Ada masalah yang menganggu pikiranmu?” Tanya Iqbal dengan suara semakin lemah.


“Aku melamar Indah, dan dia menerimanya. Besok aku akan membicarakan pernikahan kami bersama Pakdenya. Aku gugup, tidak pernah aku merasakan ini sebelumnya. Kau tahu, aku biasa menangani proyek besar dalam pekerjaan. Tapi tidak pernah segugup ini. Aku tidak tahu, harus memulainya dari mana? Perasaanku sungguh tidak tenang. Tapi aku juga tidak sabar untuk membicarakan ini ke keluarganya. Entahlah, bagaimana menurut mu Bal, apakah perasaan ini wajar untuk pria yang ingin menikah?” Tanya Denny menunggu jawaban Iqbal.


Tapi Denny tidak mendengar jawaban, malah nafas berat yang didengarnya dari seberang.


“Bal, Iqbal. Ish anak ini, dia malah tidur. Yah, tidurlah, besok juga hari yang melelahkan untukmu,” Denny memutuskan pembicaraan.


“Akhirnya kau mendapatkan cintamu,” bisik batin Iqbal dengan mata terpejam dan senyum menggaris di bibirnya.

__ADS_1


Cukup lama Denny memejamkan mata berusaha tidur dan akhirnya dia pun terlelap.


__ADS_2