Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 72 Kepedihan Denny dan Ketertarikan Iqbal


__ADS_3

Hanna hanya mampu menatap bik Surtik dengan kesedihan, karena Bik Surtik tidak paham apa yang sedang dialami Hanna saat ini. Bibirnya belum sanggup berujar untuk menjelaskan semua.


Denny melangkah ke luar dari ruangan Harun, menghempaskan tubuh di kursi yang terdapat di selasar ruangan. Menggenggam ponsel, menempelkan ke telinga, berbicara dengan seseorang di seberang.


“Ma, Hanna sekarang di rumah sakit ******. Dia harus menjalani perawatan,” Denny mengusap kasar wajahnya, permasalahan berat sedang melanda dirinya.


“Hanna dirawat di rumah sakit? Denny, Apa yang terjadi?”Suara mama meninggi mendengar kabar dari Denny tentang Hanna. Mama Denny tahu kalau kondisi Hanna sangat lemah dalam masa kehamilannya. Dia sangat khawatir mendengar Hanna dirawat di rumah sakit.


“Hanna menderita leukemia Ma,” suara Denny terdengar bergetar, air mata tumpah dari sudut matanya.


“Apa?” Tubuh mama Denny terkulai lemah tersandar di sofa. Tanpa sadar, ponsel terlepas dari tangannya.


Pak Jung mendengar suara mama Denny, langsung berlari mendekatinya. Wajah mama Denny terlihat pucat. Seketika tangis pecah dari bibirnya. Suara Denny terdengar memanggil dari dalam ponsel. Pak Jung meraih ponsel.


“Tuan, nyonya besar tidak bisa bicara sekarang, saya akan menutup ponselnya. Setelah nyonya tenang, saya akan memintanya menghubungi tuan muda kembali,” Pak Jung masih melihat mama Denny terisak menangis. Dia tidak tahu permasalahan yang menyebabkan mama Denny sangat sedih.


“Baiklah Pak Jung, tolong kabari kembali setelah mama tenang,” Denny menutup ponsel memutuskan pembicaraan. Denny pun terlihat membuat panggilan kembali kepada seseorang.


Pak Jung meletakkan ponsel di samping mama Denny dan melangkah pergi menuju dapur. Kemudian kembali dengan membawa segelas air di tangannya.


“Nyonya minumlah,” Pak Jung mengulurkan segelas air ke hadapan mama Denny.


Mama Denny meraih gelas dan meminum air di dalamnya. Lalu menyerahkan kembali gelas ke tangan Pak Jung.


“Jung, Hanna menderita leukemia sama seperti mamanya ,Lisa,” Mama Denny menatap sendu wajah Pak Jung dengan berurai air mata.


“Nyonya harus kuat menerima semua ini. Tuan muda membutuhkan nyonya, dia juga pasti sangat terpukul mengetahuinya.” Pak Jung ikut terkejut tapi berusaha tenang dan menenangkan mama.


“Dia sedang hamil Jung, sama seperti Lisa sedang mengandung Hanna. Kenapa penyakit itu tidak mau menghilang bahkan seperi kutukan bagi keluarga Mas Raja ( Papa Hanna pak Sudrajat biasa dipanggil mama Deny dengan sapaan Raja).


“Kita tidak tahu rencana Tuhan di balik ini semua nyonya, jadi bersabarlah semua pasti ada hikmahnya.” Pak Jung menarik mundur kembali ingatannya ketika Lisa mamanya Hanna berjuang melawan penyakitnya. Sebagai sahabat, mama Denny selalu menemani dan di akhir hidupnya meminta mama Denny menjaga putrinya yaitu Hanna. Mama Denny pun berjanji akan merawat dan mempersatukan Hanna dengan Denny supaya dapat melindunginya seumur hidup.


Di rumah sakit Denny terlihat berbicara dengan seseorang di telpon.


“Bal, kau sudah sampai?” Tanya Denny di ujung ponselnya.

__ADS_1


“Iya, aku sudah di hotel dan sebentar lagi akan menghadiri pertemuan. Aku juga sudah menghubungi mereka, kalau kau tidak bisa hadir dan mereka tidak keberatan. Bagaimana dengan Hanna?” Iqbal berbicara sambil melangkah ke luar kamar. Kakinya terus berjalan menuju lift.


“Hanna baik-baik saja, tolong kau urus semuanya. Setelah selesai cepat kembali,” Denny tidak bisa menceritakan keadaan Hanna sebenarnya kepada Iqbal. Untuk sementara, dia tidak ingin Iqbal turut terbebani dengan penyakit Hanna. Iqbal harus fokus dengan pekerjaan.


“Baiklah, setelah semuanya beres aku akan segera kembali. Sampai nanti,” Iqbal memutuskan pembicaraan, dirinya akan memasuki lift.


Saat pintu lift terbuka, terlihat seorang gadis cantik berdiri di dalam. Iqbal melangkah masuk dan berdiri di sampingnya. Wajah gadis itu terlihat tidak asing, Iqbal memutar otak untuk mengingat.


“Apa kabar Pak Iqbal? Masih ingat dengan saya?” Suara gadis itu menoleh ke arah Iqbal dan memecahkan keheningan diantara mereka berdua.


“Maaf?” Iqbal pun melayangkan pandangan ke samping menatap wajah gadis itu dan masih berusaha terus mengingatnya.


“Saya Yanti, sahabat Indah. Maafkan saya karena terlalu percaya diri, menganggap Pak Iqbal mengingat saya.” Yanti sangat ingat wajah pria di hadapannya, sekretaris yang menjadi tangan kanan direktur tempat dia dulu bekerja.


Yanti sudah tidak bekerja di perusahaan Denny, dia memilih berhenti dan pindah bekerja ke perusahaan lain. Dia tidak sanggup menerima kenyataan Indah sudah tiada dan Hendrik pun berhenti bekerja. Kehilangan kedua sahabatnya sangat membuatnya terpukul. Kenangan dengan kedua sahabatnya selalu terbayang di tempat itu, tidak ingin larut dalam kesedihan Yanti pun memutuskan berhenti.


“Jangan seperti itu, saya yang harus minta maaf. Kamu sangat jauh berbeda dari Yanti yang saya ingat. Maksud saya lebih cantik,” Iqbal terhenyak dengan ucapannya. Dia tidak sadar dapat berbicara sepolos itu dengan gadis yang tidak begitu dekat dengannya.


“Terima kasih pujiannya. Saya tidak menyangka Pak Iqbal bisa juga bercanda.” Yanti tersenyum, terlihat gigi putih yang tersusun rapi menambah kecantikannya.


“Wah, jadi selama ini kamu menganggap saya sekaku kayu?” Entah mengapa Iqbal merasa nyaman dengan pembicaraan mereka.


“Iya, berarti kita sama. Urusan pekerjaan?” Tanya Iqbal penuh selidik.


“Iya, saya sudah dua hari di sini, besok akan kembali.” Yanti senang berbicara dengan Iqbal, pria yang


dikenalnya dingin selama ini seperti bosnya, ternyata bisa berbicara ramah.


Terdengar suara berdenting, pertanda pintu lift akan terbuka.


“Kita sudah sampai, senang bisa bertemu.” Yanti melangkahkan kaki ke luar dari lift.


Iqbal juga melangkah ke luar lift. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya saat akan berpisah dengan Yanti.


“Nona Yanti, tunggu,” Iqbal berusaha menahan langkah Yanti yang telah lebih dulu meninggalkannya di depan.

__ADS_1


Yanti menoleh ke belakang, dan iqbal datang menghampiri.


“Bisakah kita bertemu sebelum kamu pulang?” Entah dari mana keberanian Iqbal datang mengajak Yanti untuk bertemu kembali. Rasa ingin lebih mengenal Yanti terbit di benaknya.


“Hem,” Yanti melipat keningnya berusaha mencerna ucapan yang baru didengarnya.


“Mana ponselmu?” Iqbal mengulurkan tangan ke arah Yanti.


Tanpa pikir panjang, Yanti seperti terhipnotis menyerahkan ponselnya ke tangan Iqbal.


“Trek, Trek, Trek,” terdengar irama ponsel. Iqbal mengambil dari balik saku jasnya.


Yanti melihat Iqbal memainkan jarinya di layar ponsel.


“Ini, aku sudah menyimpan nomormu dan nomorku juga di ponselmu. Aku akan menghubungimu,” Iqbal menyerahkan kembali ponsel Yanti.


“Baiklah, saya akan menunggu panggilan Pak Iqbal, sampai bertemu nanti,” Yanti meraih ponselnya dan membalikkan tubuh melanjutkan langkah.


Iqbal tersenyum mengiringi kepergian Yanti. Langkah kaki pun membawanya ke tempat pertemuan.


Di rumah sakit, terlihat Denny duduk di samping Hanna menggenggam tangannya. Hanna meringis kesakitan merasakan sakit di kepala.


“Bik, panggil dokter sekarang,” suara Denny meninggi tidak sanggup melihat Hanna kesakitan.


“Baik, tuan.” Bik Surtik bergegas ke luar ruangan.


“Hanna, kamu kenapa?” Denny panik melihat Hanna meronta kesakitan.


“Mas, kepalaku sakit sekali,” Hanna menarik rambutnya, menahan rasa sakit di kepalanya.


Denny menggenggam kuat kedua tangan Hanna, agar tidak menyakiti dirinya. Tak lama Harun datang memeriksa keadaan Hanna. Memberikan suntikan, terlihat Hanna tertidur tenang.


“Sementara ini dia akan tenang, rasa sakitnya hilang tidak untuk waktu yang lama. Suntikan hanya bisa diberikan satu kali saja sehari, karena akan sangat berpengaruh dengan bayinya.” Harun menatap dalam Denny.


“Apa yang akan terjadi dengannya,” Denny menatap Hanna dengan pandangan berkaca-kaca.

__ADS_1


“Keadaan yang paling fatal, komplikasi yang dihadapi pendarahan di otak. Aku harap tidak akan terjadi. Kita hanya bisa berdoa,” Harun menepuk bahu Denny.


Denny menyapu kasar wajahnya dengan kedua tangan. Hatinya bertambah perih mendengar kenyataan yang mungkin akan dialami Hanna. Dia kesal tidak dapat menolong, hanya dapat menyaksikan penderitaan Hanna.


__ADS_2