Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 70 Berkorban?


__ADS_3

Mobil tiba di rumah sakit. Hanna langsung dibawa ke ruang IGD. Terlihat dokter dan dibantu beberapa perawat memeriksa keadaan Hanna.


Bik Surtik meminta Pak Ipul menghubungi Denny. Panggilan telpon dilakukan berkali-kali, tapi Denny tetap tidak bisa dihubungi. Pak Ipul menduga Denny telah menaiki pesawat dan otomatis ponsel harus dimatikan. Akhirnya dia putuskan akan menelpon Denny kembali setelah dua jam kemudian.


Setelah Hanna mendapatkan pertolongan, dia dipindahkan ke ruang perawatan. Bik Surtik menemani Hanna yang masih belum sadar. Dirinya tidak ingin jauh-jauh dari Hanna, karena lelah Bik Surtik pun tertidur dengan kepala tersandar di tepi tempat tidur.


Di tempat yang berbeda dengan waktu yang sama, Denny menatap jam di pergelangan tangannya. Pesawat yang ditumpangi mengalami penundaan karena ada gangguan cuaca. Terlintas di pikirannya ingin menelpon Hanna.


Tangannya merogoh saku baju dan meraih ponsel.


Ponsel yang sedari tadi dimatikan, karena akan memasuki pesawat, akhirnya dinyalakan kembali.


Mata Denny membesar, saat melihat panggilan dari Pak Ipul sebanyak dua puluh kali. Tanpa pikir panjang Denny menelpon balik.


Di rumah sakit, perlahan mata Hanna terbuka, kepalanya masih terasa sangat sakit. Terlihat wajahnya meringis kesakitan dan tangan kanannya memijat kening agar meredakan rasa sakit. Dia tidak mengenal ruangan yang ditempati dipenuhi warna putih. Tangan kirinya terasa sakit digerakkan, Hanna menoleh dan sebuah jarum infus telah terpasang di pergelangan tangan. Hanna berusaha merajut kembali ingatannya. Dia pun dapat mengingat semua dengan jelas. Hanna menoleh ke kanan, terlihat bik Surtik masih tidur. Hanna berusaha untuk duduk dan bersandar di kepala tempat tidur.


“Bik, Bik,” Hanna coba membangunkan bik Surtik dengan lemah memanggil.


Bik Surtik terbangun, setelah mendengar seseorang memanggil namanya.


“Nyonya sudah sadar? Sebentar saya panggilkan dokter,” Bik Surtik buru-buru melangkah ke luar ruangan menjumpai dokter.


Tak lama, Harun masuk ke ruangan Hanna bersama bik Surtik.


“An, bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Harun sambil memeriksa keadaan Hanna.


“Kepalaku sakit,” jawab Hanna masih memijat keningnya.


“Apa Denny sudah tahu Hanna sekarang di rumah sakit?” Harun menatap bik Surtik menunggu jawaban.


“Tuan Denny sudah dihubungi, tapi belum ada jawaban. Mungkin tadi masih di pesawat, nanti akan dihubungi kembali, Pak Dokter.” Bik Surtik menjelaskan kepada Harun.


“Baiklah, bisa kita bicara berdua saja?” Harun menatap Hanna meminta keijinannya.


“Tentu,” Jawab Hanna singkat.


“ Bik, tunggulah di luar, ada yang ingin kami bicarakan”, Harun menganggukkan kepala memberi isyarat, Bik Surtik mengerti, dan melangkahkan kaki ke luar ruangan.


Harun duduk di tepi tempat tidur Hanna, dan menatapnya dalam. Melihat tatapan Harun, Hanna meneteskan air mata.


“An, apa Denny tahu penyakitmu?” Harun bertanya lemah, dirinya tidak sanggup melihat kesedihan Hanna.

__ADS_1


“Tidak,” suara Hanna terdengar serak menahan tangis.


“Sampai kapan kau akan merahasiakan dari semua orang? Denny berhak tahu kalau kau penderita leukemia. Aku sendiri tahu setelah melihat laporan dari hasil tes. Awalnya aku tidak yakin, aku lakukan kembali tes dan beberapa kali pemeriksaan hasilnya tetap sama. Sepertinya kau telah mengikuti proses pengobatan, tapi karena hamil terpaksa harus dihentikan.” Harun menarik nafas dalam dan melepaskan kasar.


Hanna masih diam seribu bahasa, dirinya tidak mampu berucap sepatah kata pun.


“An, aku turut prihatin dan tidak banyak yang bisa aku lakukan. Kau sudah tahu penyakitmu, tapi kenapa kau biarkan dirimu hamil. Keadaan ini, membuat tubuhmu semakin lemah dan penyakit mu akan semakin parah. Perkembangan janinmu juga terganggu. Dia membutuhkan asupan nutrisi dari ibunya. Sedangkan dirimu juga membutuhkan nutrisi yang lebih sebagai daya tahan dari penyakit ini. Jika terus seperti ini, salah satu diantara kalian akan terancam.” Harun memegang bahu Hanna yang semakin larut dalam kesedihan.


“Tidak, aku tidak ingin kehilangan bayiku. Aku ingin mempertahankan walaupun nyawaku jadi taruhannya.” Hanna berucap dalam tangis dan mengelus perutnya.


“Hanna, aku tahu, tidak ada seorang ibu yang bisa mengorbankan anaknya. Tapi….” Harun tidak sempat menyelesaikan kata-katanya.


“Harun, kau sahabatku kan?” Hanna menggenggam tangan Harun.


“An,” Harun menatap mata Hanna dalam.


“Berjanjilah sebagai sahabat bukan sebagai dokter. Kau harus merahasiakan penyakitku, aku ingin bayi ini lahir. Aku merasakan keadaanku memang semakin lemah. Denny sekarang tidak di sini, karena itu aku mau ke rumah sakit untuk mengetahui perkembangan penyakit ini.” Hanna menunggu jawaban Harun.


“An, bagaimana aku bisa merahasiakan ini dari Denny. Kau sahabatku, Denny juga. Aku tidak mungkin bisa melakukannya. Maafkan aku,” Harun menarik tangannya dari genggaman tangan Hanna.


Denny turun dari taksi sampai di rumah sakit, setelah mengetahui keadaan Hanna. Dia meminta Iqbal mengurus semua pekerjaan di negara Singapura. Dengan berlari Denny memasuki rumah sakit. Pak Ipul melihat Denny dan menghampiri.


“Nyonya sudah di ruangan tuan, dan belum sadar.” Jelas Pak Ipul.


“Ayo, antarkan saya,” Bersama mereka berdua melangkah ke ruangan Hanna.


Bik Surtik duduk di kursi yang terdapat di selasar ruangan. Dari kejauhan matanya menatap Denny dan Pak Ipul melangkah semakin mendekatinya.


“Bik, bagaimana Hanna dan kenapa tidak menemaninya?” Tanya Denny heran dengan tatapan tajam melihat Bik Surtik di luar ruangan.


“Nyonya lemas dan hidungnya mengeluarkan darah. Karena darahnya tidak berhenti kami bawa ke rumah sakit, dalam perjalanan nyonya pingsan. Sekarang nyonya sudah baikan dan juga sudah sadar. Nyonya di dalam bersama dokter Harun, saya diminta ke luar karena ada yang mau dibicarakan berdua saja,” Bik Surtik berusaha menjelaskan supaya majikannya itu mengerti dan tidak menduga yang tidak-tidak.


“Apa yang mereka bicarakan?” Pertanyaan menggantung di batin Denny.


Denny melangkahkan kaki mendekati ruangan dan berhenti di depan pintu yang masih tertutup.


Hanna dan Harun masih berbicara tanpa menyadari kehadiran Denny di balik pintu.


“Tolonglah aku Harun, kau harus bisa menjamin bayi ini selamat?” Hanna menatap Harun dengan putus asa.


“An, aku hanya seorang dokter bukan Tuhan. Kita hanya bisa berusaha, selebihnya kita serahkan kepada-Nya,” Harun tidak bisa menjanjikan apa-apa pada Hanna.

__ADS_1


“Harun, jika aku tidak ada harapan hidup. Lebih baik, aku berkorban asal bayiku selamat,” Hanna terisak sambil berujar.


“Siapa yang berkorban untuk siapa, apa yang kalian bicarakan?” Terdengar suara menggema di ruangan. Denny berdiri di depan pintu, dengan tubuh menegang mendengarkan pembicaraan.


“ Mas,”


“Denny,”


Hanna dan Harun bersamaan menatap wajah Denny yang memerah menahan marah bercampur sedih.


Melihat kehadiran Denny, Harun bertukar pandang dengan Hanna lalu berdiri dan melangkah di ujung kaki tempat tidur. Denny melangkahkan kaki menghampiri Hanna.


“Apa yang kau lakukan hah? Melakukan negosiasi tanpa seijinku? ” Denny menatap tajam Hanna. Bulir bening menetes dari sudut mata Denny.


Hanna tidak mampu menjawab, air mata semakin deras ke luar. Hanna menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Kenyataan pahit akan segera diketahui Denny, dia tidak ingin Denny menjadi sedih dan akan tertekan kembali.


Mengapa Hanna harus berkorban? Harun, jelaskan padaku,” Suara Denny semakin meninggi karena dikuasai amarah yang tidak terkendali. Harun harus berhadapan dengan Denny yang sudah dikuasai amarah.


Bik Surtik dan Pak Ipul mendengar suara Denny dari dalam ruangan.


“Denny tahan dulu emosimu, kita berada di rumah sakit tidak baik seperti ini.”Harun menatap Denny dengan tenang dan menepuk bahunya.


“Aku tidak perduli, katakan padaku ada apa dengan Hanna dan juga bayinya?” Denny mencengkram kuat kerah baju Harun.


“Hanna menderita leukemia,” Harun terpaksa mengatakan karena sudah terdesak dalam cengkraman tangan Denny.


“Apa leukemia? Tidak itu pasti salah. Hanna sehat, dia hanya kelelahan karena sekarang sedang mengandung bayi kami. Harun, kau bercandakan? Jangan membuatku kesal,” Denny melepaskan cengkraman tangannya, tubuhnya tertarik mundur kebelakang. Ucapan Harun sangat membuatnya terkejut.


“Den, ini kenyataan, kau harus bisa menerimanya dengan tabah ,” Harun mendekati Denny yang terlihat kebingungan karena terkejut.


“An, apa ini benar? Denny beralih menghampiri Hanna yang masih menangis, menyembuyikan wajahnya dengan kedua tangan.


“An, tolong tatap aku,” kedua tangan Denny memegang bahu Hanna dan menantikan jawaban.


Perlahan Hanna menurunkan tangan dan menatap wajah Denny di hadapannya.


“Mas, maafkan aku. Itu semua benar,” dengan kesedihan menyelimuti, Hanna terpaksa mengakui penyakit yang selama ini dia rahasiakan dari Denny.


Denny menarik Hanna dalam dekapannya. Dia sangat sedih menyadari yang dialami istri dan calon bayinya.


“Denny, aku tingggalkan kalian berdua, kalau sudah tenang datanglah ke kantorku,” Harun melangkah ke luar ruangan meninggakan Denny dan Hanna. Mereka berdua membutuhkan waktu bersama.

__ADS_1


__ADS_2