Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 94 Mengharap Kejujuran


__ADS_3

Di ruang perawatan, Jesika duduk di samping tempat tidur dan mengusap-usap lembut kepala Saka. Tak tahan menahan lelah dan kantuk yang menggantung di mata, Jesika pun tertidur.


Saka masih terjaga dan memperhatikan wajah mamanya yang kelelahan. Perlahan dia mencoba mengangkat tangannya, tapi tangan itu tidak bisa bergerak. Seketika rasa takut merayap datang, matanya melirik tangan yang terletak tak berdaya. Dia berusaha bangun untuk duduk, tapi tubuhnya sangat berat untuk bergerak. Saka semakin cemas, merasakan perubahan yang terjadi dengan dirinya.


“Srekk,” suara pintu terdorong dari luar.


Mata Saka langsung beralih ke arah pintu, seorang lelaki berjalan masuk dan mendekatinya. Dia mengenalinya, lelaki itu menghamburkan senyum.


“Hai, kau tidak tidur?” Sapa Denny menatap Saka dan melirik Indah yang tertidur ditepi tempat tidur.


Saka hanya diam, kepalanya terbagi memikirkan dirinya dan lelaki yang ada dihadapannya.


“Aku akan mengurus mamamu sebentar, kasihan dia sangat kelelahan.” Denny berbisik tidak ingin Indah terjaga. Matanya mengitari ruangan, dia melihat sofa panjang di sudut ruangan. Perlahan tangannya merangkul tubuh Indah dan menggendongnya, berjalan membawa ke sofa.


“Kau sangat kelelahan, aku angkat pun kau tidak sadar. Aku mengenali harum tubuhmu, masih sama seperti dulu, dan mengapa kau masih bertahan menyangkal kebenaran dirimu? Apa yang kau takutkan sekarang ini, katakan padaku jangan seperti dulu menahannya seorang diri. Aku tidak akan merelakan dirimu dan putraku pergi lagi.” Denny terus berkata-kata di dalam hati, segudang kalimat terurai lepas di kepalanya. Mulutnya tertutup belum bisa mengungkapkan karena menyadari kekerasan hati gadis pujaannya.


Perlahan tangan Denny membaringkan tubuh Jesika di atas sofa. Saat menarik tangannya dari kepala Jesika, tangan itu tertahan saat tangan Jesika menarik dan membawanya dalam dekapan.


“Hem, jangan pergi temani aku,” ucap Jesika pelan dengan mata tertutup.


Denny hanya tersenyum menatap wajah yang sangat dirindukannya.


“Apa yang kau mimpikan? Apa kau memimpikanku? Kenapa kau hanya berani memujaku di dalam mimpi sedang aku sudah ada dihadapan dalam sadarmu?” Denny mengusap lembut pucuk rambut kepala Indah. Matanya tak ingin lepas memindai wajah Indah.


Saka memperhatikan tingkah lelaki yang baru dikenalnya dengan penuh kasih sayang memperlakukan mamanya. Perlahan lelaki itu beralih melangkah mendekatinya.


“Hai, boleh aku duduk menemanimu?” Ujar Denny pelan menatap Saka.


“Hem,” Saka menganggukkan kepala, dirinya ingin mengetahui apa yang diinginkan lelaki ini.


“Terima kasih,” Denny duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur.


Mata Denny menatap Saka dari kepala hingga ke ujung kaki. Tak terasa air bening menetes di ujung matanya.


Saka melihat dan merasa heran.

__ADS_1


“Kenapa menangis, ada yang salah dengan diriku?” Tanya Saka ingin jawaban.


“Apa aku boleh meminta maaf darimu?” Tanya Denny menatap sepasang mata kecil yang selama ini dia tidak mengetahui kalau mempunyai seorang anak laki-laki.


“Kenapa harus meminta maaf, apa karena melukaiku hingga aku dibawa ke rumah sakit?” Bukan jawaban yang diberikan Saka, namun pertanyaan yang dia lontarkan lagi.


“Hem, iya maafkan aku karena membuatmu berada di sini. Apa kau akan memaafkan aku?” Tanya Denny dengan suara tersekat karena air bening itu masih mengalir di pipinya.


“Iya, aku akan memaafkanmu dengan satu syarat,” balas Saka menatap lelaki yang tulus meminta maaf darinya.


“Baiklah, cukup satu syarat? Kau tidak ingin lebih?” Tanya Denny membalas ucapan Saka.


“Hem…, tidak,” Saka menggelengkan kepala.


“Katakan, apa syarat permintaan maafku,” ucap Denny.


“Katakan siapa dirimu sebenarnya? Aku sudah cukup besar mengetahui urusan orang dewasa yang selalu dirahasiakan mamaku. Tadi, kau mengatakan orang asing sebagai Papaku dan Mamaku melakukan kebohongan dengan anak kecil tentunya itu aku. Bisa kau jelaskan padaku, itu syarat yang ku mau darimu,” Bibir Saka berucap dengan pelan dan teratur, kalimat Denny masih terekam jelas di kepalanya. Walau perasaannya saat ini sangat cemas dengan keadaan dirinya yang masih belum bisa menggerakkan separuh tubuhnya.


“Ingatanmu sangat baik, kau mengingat ucapanku yang aku sendiri sudah melupakannya,” Denny tertegun mendengar perkataan Saka. Hatinya sedih bercampur bahagia, menatap anak lelakinya tumbuh dengan baik dan berpikiran cerdas.


“Kau yakin cukup besar untuk mengetahui rahasia orang dewasa, dan kau sanggup menerima sebuah kebenaran?” Tanya Denny ingin melihat kesungguhan Saka mengetahui kenyataan sebenarnya. Dia menyimpan rasa takut mengungkap kebenaran, dengan keadaan Saka. Mungkin saat ini yang tepat baginya memberitahu semua, mengingat hal terburuk yang bisa terjadi. Saka bisa mengalami kelumpuhan dan yang paling ringan amnesia. Dia belum bisa menjadi seorang papa bagi Saka paling tidak Saka mengetahui kalau dia adalah papa sesungguhnya.


“Apa yang kau lakukan di sini?” Tanya Hendrik dengan suara meninggi di depan pintu. Dia tidak suka melihat kedekatan Denny dengan Saka, walaupun Saka adalah putra Denny. Tapi hatinya sakit melihat keakraban yang terjadi.


Mata Saka tertuju ke arah Hendrik dan Denny juga memalingkan wajahnya.


Jesika seketika terbangun, mendengar suara yang menusuk telinganya. Perlahan Jesika melihat Hendrik berdiri dengan menjinjing tas di kedua tangannya. Lalu menarik pandangan ke arah Saka, samar matanya menatap Denny duduk di dekat Saka. Menyadari ada Denny di ruangan, dia pun segera beranjak dan melangkah mendekati Saka.


“Tuang, kenapa kau ada di sini? Bukankah kau sudah pergi?” Tanya Jesika penuh kecemasan tidak tahu apa yang sudah Denny ucapkan kepada putranya.


Denny berdiri menatap mata merah Indah yang masih mengantuk.


“Kau sangat kelelahan, jadi aku menggantikanmu menjaga anak…” kata-kata Denny terputus tidak sempat selesai.


“Tuan, sudahku katakan, tolong pergilah dan tinggalkan kami. Kau tidak ada kepentingan di sini.” Jesika berucap dengan suara memelas. Dia ingin Denny secepatnya meninggalkan ruangan dan tidak ingin terjadi keributan.

__ADS_1


“Baiklah, aku akan pergi.” Denny menatap Indah.


“Hai boleh aku memanggilmu teman?” tanya Denny mengalihkan pandangan kepada Saka.


“Hem..,” Saka menganggukkan kepala isyarat menyetujui keinginan Denny.


“Teman, aku pergi dulu. Tapi kita akan bertemu lagi dan aku masih berhutang, jangan khawatir secepatnya aku akan melunasi.” Denny menyapu kepala Saka dan menyeka sisa air mata yang mengering di pipinya.


Denny melangkah pergi melewati Jesika dan Hendrik yang masih berdiri di depan pintu.


Matanya tak ingin menatap keduanya. Hatinya masih berkecamuk menahan amarah dan berusaha menekannya dengan kesabaran.


“Kau tidak apa-apa sayang? Apa ada sesuatu yang terjadi antara kalian?” Jesika berusaha mencari tahu apa yang dilakukan Denny terhadap Saka. Dia khawatir Denny sudah berbicara yang selama ini dia rahasiakan dari Saka.


“Iya, dia berbicara banyak padaku,” Saka mencoba menarik perharian mamanya dengan jawaban yang bermakna ambigu.


“Dia berbicara banyak? Jangan percaya apa yang dia ucapkan, semuanya tidak benar kau harus percaya pada mamamu,” wajah Jesika menegang mendengar jawaban Saka.


“Juga, kata-kata kalau dia?” Saka menggantung kalimatnya, menunggu reaksi Jesika.


“Papamu? Dia mengatakan kalau dia Papamu? Sekali lagi jangan percaya apa yang dia ucapkan. Itu tidak benar.” Jesika menyambar perkataan Saka dan berusaha menangkis ucapan yang sudah dia ketahui dari Denny.


“Tidak, bukan itu yang dia katakana, dia hanya meminta maaf padaku karena membuatku berada di sini. Tapi mengapa mama mengatakan kalau dia Papaku? Apa benar dia Papaku? Karena itu alasan mengapa selama ini Papa Hendrik tidak pernah bersama-sama dengan kita, karena dia bukan papaku? Benarkan ma? Papa Hendrik bukan papaku, dan lelaki itulah papaKu?”Suara Saka menguap di ruangan, dia ingin kejujuran dari Jesika. Matanya menunggu jawaban dari mulut Jesika.


Jesika melangkah mundur mendengar suara Saka menanyakan siapa Hendrik dan Denny secara bersamaan.


Tas dalam genggaman kedua tangan Hendrik terlepas dan tergeletak di lantai. Cepat kakinya melangkah mendekati tubuh Jesika yang sempoyongan.


Denny masih berdiri di luar, di depan pintu yang belum tertutup rapat, dia mendengar suara dari arah dalam ruangan.


"Kau sangat pintar teman, ternyata kau dan aku sama mengharapkan kejujuran dari perempuan yang sama juga." Denny menarik senyum di sudut bibir dan melanjutkan langkah kakinya.


################################


Hai reader, selamat membaca kelanjutannya. Maaf kalau banyak teponya, aku berusaha yang terbaik. Terima kasih masih setia dan jangan lupa dukungannya. Salam cinta selalu untuk semua.😗😗😗

__ADS_1


__ADS_2