
Ruang rapat telah hadir para karyawan dari masing-masing divisi dan tim kerja. Termasuk Indah, Yanti, dan Hendrik, mereka duduk bersama satu meja. Indah menatap pintu masuk, terlihat rombongan Denny, Iqbal dan pengawalnya berjalan ke dalam ruangan.
“Mengapa dia begitu dingin? Tatapannya sangat tidak ramah. Seperti orang yang tidakku kenal.” Keluh batin Indah mengiringi gerak langkah Denny memasuki ruang rapat.
Pertemuan dimulai, Sekretaris Iqbal pembuka diawal. Dilanjutkan Direktur memberikan arahan dan motivasi. Mata Denny sesekali memandang ke arah Indah. Terlihat wajah Indah lesu tidak bersemangat dan lebih banyak menundukkan kepala.
“Aku tahu perasaanmu saat ini. Sikap dinginku akan membuatmu lari kepadaku,” bisik batin Denny menatap wajah Indah.
Setelah Denny berbicara, masing-masing divisi dan tim kerja melaporkan perkembangan persiapan acara. Denny merasa senang, persiapan berjalan lancar.
“Saya belum bisa merasa puas karena acara kita belum terlaksana. Keberhasilan akan diketahui apabila acara telah berjalan dan terlaksana tanpa ada masalah. Saya menunggu hasil, dan tentu akan ada reward untuk setiap kerja keras yang terbaik. Semangatlah, saya juga tidak akan mengecewakan kalian, itu janji saya.” Denny berbicara dengan bijaksana penuh kharisma.
Seluruh karyawan di dalam ruangan bertepuk tangan mendengarkan arahan Denny. Wajah mereka semua berseri-seri. Indah terpana melihat Denny berbicara. Matanya lekat menatap.
“Tuhan, mengapa ada mahkluk seperti dia kau ciptakan. Selain tampan, dia juga sangat pintar dan keren,” Lirih batin Indah mengagumi Denny.
“In…Indah, mulutmu jangan bengong gitu dong,” Yanti menyenggol lengan Indah.
“Aaapa? Aku ngak bengong kok,” Indah tersipu malu.
“Idih, kok wajahmu merah In?’ Goda Yanti menatap wajah Indah yang merona merah.
“Merah? Oh, aku kepanasan, ACnya kenapa ya, kok aku merasa panas,” Indah mengipas-ngipas kertas ke wajahnya.
“Ha..ha..ha.., AC begini dingin, kok kamu kepanasan. Jangan bohong, aku tahu, kamu terkagum-kagumkan dengan Pak Direktur. Boleh saja, tapi jangan terlalu berharap. Nanti kamu patah hati.” Jelas Yanti memain-mainkan pena di jarinya.
“Patah hati, kenapa? Apa dia sudah punya wanita pilihan?” tanya Indah penuh selidik.
“Gosipnya sih Iya, dan sekarang ini dia berada di Jakarta. Beberapa hari yang lalu, ada yang melihat, dia datang ke kantor Pak Denny.”
Jelas Yanti merapatkan wajahnya berbicara serius.
“Kamu yakin, itu kekasihnya? Wanita seperti apa dia?” Ada rasa kecewa terbit di hati Indah mendengar penjelasan tentanh Denny dari Yanti.
“Tentu sekelas dengannya, cantik, anggun, dan kaya.” Balas Yanti membayagkan wamita pilihan Denny.
“Ohhh, seperti itu,” perasaan Indah bertambah sedih mendengar penjelasan Yanti yang ternyata Denny sudah ada kekasih.
Pertemuan telah selesai, Indah kembali ke ruang kerja dan duduk di kursinya.
“Kekasih, apa benar dia sudah punya kekasih? Kenapa aku sedih, dia menolongku karena suatu kebetulan dan beban tanggung jawab terhadap karyawannya.
Kalau terjadi sesuatu, dia akan disalahkan karena tidak bisa melindungi. Ahhh, perhatian dan kebaikannya mungkin juga diberikan kepada karyawan yang lain bila bernasib sama denganku.” Indah menghembuskan nafas beratnya menghibur kesedihan di hati.
“Kenapa In? Apa yang kamu pikirkan?” Yanti menghampiri Indah.
“Tidak, aku berpikir pekerjaan yang ditugaskan kepadaku seperti yang kau sampaikan, ternyata tidak ada. Kalau pun iya, pasti ada kesalahan karena tidak mungkin aku.” Indah mengalihkan pikirannya tentang Denny.
“Kita tunggu saja, karena tadi itu bukan pembagian kerja tahap dua. Dan rapatnya pun tidak melibatkan banyak divisi kok. Hanya tim program kerja saja yang akan hadir.” Jelas Yanti.
Indah hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kapan rapatnya?” tanya Indah.
“Mungkin hari ini, atau besok,” jawab Yanti singkat.
Di ruangan Denny, Hanna sudah menunggu. Denny dan Iqbal berjalan menuju kantor.
__ADS_1
“Maaf, Pak. Nona Hanna sudah menunggu di dalam,” Sekretaris wanita memberitahu Denny ketika dia tiba di depan pintu ruangannya.
“Baiklah, terima kasih.” Balas Denny melangkah ke dalam ruangan di ikuti Iqbal.
“Pagi Mas, maaf aku sudah menunggu di sini,” menyapa Denny.
“Pagi, ada apa An?” Denny duduk menghampiri Hanna.
Iqbal menjatuhkan pandangan ke Denny yang tidak biasanya ramah terhadap Hanna.
“Kalau Mas tidak sibuk, aku ingin mengajak makan di luar siang ini, ada yang inginku bicarakan,” ucap Hanna menatap Denny.
“Bal, bagaimana jadwalku siang ini?” tanya Denny mengalihkan pandangan kepada Iqbal.
“Kita masih ada rapat pembagian tugas tahap dua untuk tim program kerja,” jawab Iqbal.
“Bisa kau saja yang menghadirinya?” tanya Denny.
“Tentu, ini pembagian tugas yang sudah dirancang terlebih dahulu dari tim program kerja. Hanya menunggu persetujuan dan akan dibagikan saat rapat nanti,” Iqbal menyerahkan map dokumen yang ada di tangannya.
“Aku percayakan kepadamu. Mari An, kita berangkat sekarang,” Denny beranjak dari duduknya.
Iqbal menatap kepergian Denny dan Hanna dengan tatapan heran.
“Apa yang ada dipikirannya? Dia selalu menghindari Hanna, tapi hari ini dia menerima ajakan Hanna,” Iqbal hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala.
Hendrik datang mendekati Indah.
“In, kita dipanggil ke ruang rapat.” Ucap Hendrik.
“Sekarang?” tanya Indah.
“Baiklah, ayo.” Indah beranjak dari kursi.
Berdua Hendrik dan Indah berjalan ke luar ruangan, langkah mereka berhenti di depan pintu lift. Saat pintu terbuka, Indah terpaku melihat Denny dengan seorang wanita cantik. Denny menatap datar ke arah Indah, tidak menunjukkan reaksi apapun.
“Hendrik, kamu di sini?” sapa Hanna terkejut menatap Hendrik.
“Hai Hanna. Maaf Pak, boleh kami bergabung,” Hendrik menatap Denny.
Denny menjawab dengan anggukan kepala. Hendrik spontan menarik lengan Indah membawanya masuk ke dalam lift. Tubuh Indah tertarik mengikuti Hendrik.
Denny melihat dan hawa panas menjalar seketika di tubuhnya.
“Brengsek, berani dia memegang Indah.” Bisik batin Denny.
Hendrik dan Indah berdiri di belakang Denny dan Hanna.
“Hendrik, kamu belum menjawab pertanyaanku,” Hanna membalikkan tubuhnya.
“Aku bekerja di perusahaan ini An, jawab Hendrik tersenyum.
"Aduh Hanna jangan sekarang, aku tidak ingin kau bertanya banyak tentangku." Hendrik menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan, wajahnya cemas.
“Apa, kamukan?”
“Kapan kamu datang An dan lama di sini?” Hanna tidak dapat melanjutkan ucapannya, Hendrik langsung balik bertanya, berusaha mengalihkan rasa penasaran Hanna.
__ADS_1
“Sudah seminggu, kemungkinan aku akan lama. Dan siapa wanita ini Hen, tidak mau mengenalkannya kepadaku?” tanya Hanna ramah menatap Indah yang berdiri di sampingnya.
“Oh iya kenalkan, Indah, dia teman sekantorku,” jawab Hendrik menatap wajah Indah dan tersenyum kelegaan diwajahnya.
“Hanna,” mengulurkan tangan kepada Indah.
“Indah,” memegang uluran tangan Hanna.
“Senang berkenalan denganmu,” sapa Hanna ramah dengan senyum di wajah.
“Terima kasih,” Indah berusaha tersenyum membalas keramahan Hanna.
Pintu lift pun terbuka.
“Maaf An, kami sudah sampai,” ucap Hendrik.
“Baiklah, lain waktu kita ngobrol bareng lagi,” balas Hanna.
Hendrik dan Indah melangkah ke luar. Indah hanya menatap tubuh belakang Denny mengiringi langkahnya.
Pintu lift kembali tertutup membawa Denny dan Hanna. Dalam langkahnya, Indah tenggelam dengan pikiran sendiri mengingat kembali wajah Hanna.
“Apa dia yang dimaksud Yanti, kekasih Pak Direktur. Wanita itu memang cocok dan serasi dengan Pak Direktur. Wajahnya cantik, ramah dan penampilannya sangat elegan,” batin Indah.
Hendrik menatap kebisuan Indah. Tanpa berbicara, berdua mereka melangkah memasuki ruangan rapat.
Indah dan Hendrik telah kembali ke ruangan setelah selesai mengikuti rapat.
“Huh, benar ucapan mu Yan, daftar tamu VIP sudah ada di tanganku sekarang,” Indah berujar duduk di kursi kerja.
“Yap, betul sekali, dan mitranya “Hen-drik,” membusungkan dada dengan bangga menatap Yanti.
“Aku sedih, tidak ikut bersama kalian,” Yanti menundukkan wajahnya ke meja.
“Kamu harus bersyukur Yan, karena tidak akan memandang pemandangan yang itu-itu sajakan?” Ejek Hendrik mengangkat wajahnya kepada Yanti.
“Dasar kamu Hen,” Yanti membalas perkataan Hendrik dengan melemparkan sebuah pulpen ke arahnya.
“Aduh Yan sakit,” Hendrik mengusap-usap kepalanya karena sebuah pulpen berhasil mendarat di sana.
“Rasakan, sebagai ganti kekecewaanku,” Ucap Yanti menajamkan mata ke arah Hendrik yang meringis kesakitan.
“Sudah Yan, bagaimana kalau aku minta Ketua Program Acara, kamu menggantikan aku?” Indah berusaha menghibur sahabatnya yang kelihatan sedih.
“Eh..Jangan In, nanti mereka menyangka kamu tidak mampu dan sengaja menolak,” Yanti berjalan menghampiri Indah.
“Benar In, dan itu tidak baik loh,” Hendrik menambahkan dan menatap Yanti dengan menggeleng-gelengkan kepala.
“Okelah kalau begitu, aku akan bantu kamu Yan, menuliskan beberapa teks untuk tamu VIP kita nanti, oke?” menunjukkan jari jempol ke arah Yanti.
“Baiklah kalau kamu memaksa, aku terima bantuan mu,” Senyum hadir di wajah Yanti.
“Memang maunya tuh,” Ejek Hendrik menatap kedua gadis di hadapannya.
“Yah, aku ngak mintak, mubajir dong rejeki ditolak, iya kan?” Mengangkat kedua tangannya, memainkan alis membalas Hendrik.
“Terserah, kamu memang pinter buat alasan,” balas Hendrik.
__ADS_1
Yanti tersenyum-senyum memandang Hendrik. Indah senang melihat Yanti dapat tersenyum kembali.