
Dibelahan malam pada tempat yang lain.
Seorang lelaki berbalut jaket hitam, berdiri di atas puncak gedung berselimut langit hitam bertabur titik cahaya bintang. Sepasang manik hitamnya menatap kejauhan penuh penantian.
Sesekali perhatiannya menarik ke arah pergelangan tangan melirik jam tangan. Waktu menunjukkan hampir pukul dua belas malam.
Seketika suasana sunyi terusik deru suara baling-baling menghempas udara malam. Sebuah helikopter perlahan mendekat dan mendarat dengan indah. Pintu terbuka, terlihat beberapa orang lelaki berseragam putih menutupi wajah turun dengan menarik sebuah brankar ikut bersama.
Salah seorang dari mereka datang dekat menghampiri, menganggukkan kepala kepada seseorang yang sedari tadi sudah menunggunya.
Tanpa ucapan kata-kata terlontar, bersama mereka menarik langkah. Brankar terdorong mengikuti langkah kedua orang yang telah lebih dulu berlalu. Mereka semua bergerak dengan cepat, langkah kaki berlari kecil seperti mengejar sesuatu.
Semuanya berkumpul masuk ke dalam ruangan lift , sebuah tangan menyentuh tombol angka lantai yang dituju. Lift pun berjalan sesuai perintah, masing-masing orang dalam mode hening. Mereka tak memerlukan kata, tindakan berjalan sesuai dengan rencana yang telah diatur.
Lift berhenti, terdengar suara berdenting dan pintu bergerak terbuka. Langkah mereka perlahan membawa ke luar dan beberapa manik hitam tertuju langsung datang menyambut.
Serah terima pun terjadi, brankar berpindah tangan melanjutkan ke suatu ruangan. Dua lelaki masih melanjutkan kepemimpinan melangkah di depan.
Beberapa lelaki yang tinggal, segera menanggalkan pakaian seragam putih dan masker di dalam sebuah ruang. Mengumpulkan semua dalam satu kantong besar, berganti setelan jas mendukung penampilan keren seperti geng entrepreneur tak ketinggalan earpiece menempel di telinga.
Brankar telah sampai di sebuah ruangan, terlihat seorang wanita tua berusia hampir kepala enam berdampingan dengan seorang lelaki yang seumuran.
Tatapan kedua yang tak lekang menangkap bayangan anak laki kecil terbaring lemah. Memindahkan tubuh lemah itu ke atas tempat tidur yang sudah disiapkan. Peralatan medis pun ikut menyambut kedatangannya, kembali menemani dalam tidur lelap. Beberapa perawat terlihat sibuk melaksanakan tugas.
Kedua lelaki datang mendekat.
“Pak, dia Dokter Erik, mendampingi saat operasi dan bertugas mengawasi setelah operasi.”Salah seorang bicara memperkenalkan teman di sebelah.
“Bagaimana keadaanya?”Suara berat terlontar tanpa mengalihkan pandangan.
“Saat ini pasien masih dibawah pengaruh obat tidur dan kondisinya stabil.
Di rumah sakit di negara Jepang.
__ADS_1
Jesika dan Hendrik menangkap keganjilan dari sikap Denny berbicara rahasia dari mereka berdua.
Keduanya melangkah dekat menghampiri Denny dan Dokter Joshua sedang berbicara. Bertepatan itu juga, tangan Denny mengulur dan berjabat tangan.
“Apa yang terjadi, kenapa kalian berjabatan tangan, putraku sudah ketemu? Di mana dia sekarang?” Suara Jesika mengalihkan pembicaraan antara Denny dan Dokter Joshua.
“Baiklah dokter, saya pamit.” Tanpa menjawab pertanyaan Jesika, Denny menarik langkah.
“Hei, kenapa kau pergi?” Hendrik tidak senang dengan sikap Denny.
“Kalau kalian berdua mau tinggal, terserah. Putraku sekarang sudah tidak di sini, menunggu tidak ada gunanya.” Denny melanjutkan langkah.
“Kalau kau pergi, apa masalahnya juga akan selesai?” Balas Hendrik dengan penuh amarah.
Denny tidak menghiraukan, langkah kaki membawanya ke luar ruang Security Control Room.
Melihat itu, Jesika berlari mengejar Denny. Dengan cepat, tubuhnya menghadang tepat berdiri di depan Denny.
“Katakan kalau ini tidak ada hubungannya dengan Mama mas?” Jesika menatap dalam kedua manik hitam di hadapannya mencari kebohongan di sana.
“Jawab dulu perkataanku!” Jesika semakin yakin dengan dugaannya, Denny menyembuyikan sesuatu.
“Kau jangan menguji kesabaranku, Indah atau siapapun namamu aku tidak perduli. Menyingkirlah,” Ucap Denny berat tepat di wajah Indah. Denny sedang meyakinkan diri kalau peristiwa kehilangan putranya tidak ada berkaitan dengan sang mama. Dia akan segera mencari kebenaran itu.
“Tidak, aku akan terus menempel padamu. Aku yakin, kau juga ikut bertanggung jawab.” Balas Jesika dengan tatapan tajam penuh kebencian.
“Hah, apa aku tidak salah dengar, kau mau mengikutiku. Kau nyonya Hendri Rahardja, mau kau kemanakan suamimu. Apa kau sudah lupa kalau kau memiliki suami?” Jawab Denny santai dengan senyum menyungging di bibir atas.
“Ini tentang putraku, tidak ada kaitannya dengan Hendrik,” Jesika tersulut emosi mendengar ucapan Denny. Perasaannya tidak bisa menguasai pikiran saat ini. Dia tidak tahu, Denny sedang mencari kebenaran terhadap dirinya.
“Pergilah dengan suamimu, kita cari dengan cara kita masing-masing.” Ucap Denny sambil mendorong tubuh Indah melangkah berlalu dari hadapannya.
“Dia bukan…” ucapan Jesika terputus.
__ADS_1
“Jes, Denny benar kita cari dengan cara kita, makin banyak yang mencari semakin besar peluang menemukannya.” Hendrik berhasil menghentikan ucapan Jesika, karena dia tahu Denny sengaja memancingnya.
Langkah Denny terhenti, mendengar ucapan Indah yang terpenggal. Tapi hatinya seketika menguap ada hawa panas mengalir menjalar keseluruh tubuhnya. Dia bisa mengetahui kelanjutan kata-kata yang ingin didengar. Air bening memenuhi kelopak manik hitamnya.
“Kau, sangat bodoh sama seperti dulu. Aku akan membuatmu kembali kepadaku beserta putra kita,”Ucapnya lirih di dalam hati.
Hendik menarik lengan Jesika dan membawa melangkah pergi. Berdua meninggalkan Denny yang masih berusaha menata hati. Denny menatap sayu tubuh belakang mereka.
“Tolong lihatlah ke belakang, kalau kau ingin bersamaku mencarinya bersama. Aku akan mengajakmu bersama,” Denny berbisk di dalam hati menatap jauh gadisnya.
Tubuh Jesika menuruti langkah kaki Hendrik. Perlahan kepalanya menoleh ke belakang, menatap Denny masih diam berdiri di tempat. Wajah sayu yang terpancar seketika berubah senyum menggaris di bibir Denny. Jesika tidak dapat mengartikan senyuman itu, tatapannya sama dengan kepala, kosong tidak mampu berpikir.
Denny menggerakkan tangan, meraih ponsel di saku baju.
Pandangannya menarik ke layar ponsel, jari telunjuk terlihat menari dan menyentuh dengan lembut.
“Tut…, Tut…, Tut…,” Suara panggilan di seberang terdengar.
Panggilan panjang berlalu tanpa sambutan, kembali jarinya menyentuh nama yang sama.
“Tut…, Tut…, Tut…,” Suara panggilan di seberang terdengar kembali.
“Hallo,” akhirnya pangilan panjang pun mendapat balasan.
“Pak Jung, apa dia baik-baik saja?” Tanya Denny langsung ketujuan.
“Tuan, nyonya besar baik-baik saja. Bagaimana liburan tuan dan nona muda, semoga menyenangkan. Kapan tuan dan nona kembali?” Jawaban terdengar ramah dan sopan dari seberang.
“Apa mama bersama Pak Jung?” Denny paham, kalau Pak Jung tidak bisa menjawab pertanyaannya.
“Baiklah tuan, selamat bersenang-senang. Selamat malam. Tut…, Tut…, Tut…,” Panggilan terputus sepihak.
“Hah, Pak Jung. Kau memang Pak Tua yang jenius. Kau bisa bermain dengan banyak peran. Aku sungguh salut denganmu,” Ucap Denny menatap layar tipis di tangannya. Lalu menyembuyikan kembali ke saku baju.
__ADS_1
Ada ketenangan di hati Denny, putranya baik-baik saja. Tapi, kemarahan juga menyertai tidak menerima perbuatan sang Mama. Langkah kaki terhayun membawanya meninggalkan gedung rumah sakit.