Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 19 Pria Aneh


__ADS_3

Denny kembali ke perusahaan.


“Bal, temui aku di kantor sekarang,” Denny berbicara di ponsel.


Iqbal melangkah cepat memasuki ruangan kantor Denny.


“Bagaimana, apa yang dikatakan Indah?” tanya Iqbal.


“Mari kita pergi?” Denny melangkah ke luar kantornya.


Iqbal menatap heran dan terpaksa mengikuti langkah Denny.


Berdua mereka di dalam mobil.


“Kita mau kemana?” tanya Iqbal.


“Bawa aku ke rumah kontrakan Indah.”


“Baik,” tanpa banyak tanya Iqbal mengarahkan mobilnya menuju tempat yang diminta.


Di depan kontrakan rumah Indah.


“Kau tahu siapa pemilik rumah kontrakan ini?” menatap Denny.


“Ya, aku sudah mencari informasinya,” balas Iqbal.


“Baiklah, kita jumpai dia sekarang,”


Iqbal menunjuk rumah pemilik kontrakan kepada Denny. Berdua mereka menemui pemilik rumah dan membicarakan sesuatu yang serius.


Di apartemen Denny. Indah duduk di ranjang merenungi dirinya.


“Besok aku akan kembali ke kehidupanku sebenarnya. Apa yang akan ku jawab, apabila menanyakan ke mana aku pergi selama ini? Tentu semua ingin tahu apa yang sudah terjadi. Uhhh yang pasti, aku akan merahasiakan kalau tinggal bersama Pak Denny," Indah menghebus napas berat.


Hari merangkak pasti menjemput malam. Denny telah sampai di apartemen.


“Di mana dia, apakah sudah tidur?” bisik batin Denny tidak mendapati Indah.


Kakinya terus menghayun menuju kamar Indah.


“Tok, Tok, Tok,” Denny mengetuk pintu kamar Indah.


Mendengar suara ketukan, Indah bergegas dari ranjang dan berlari kecil menuju pintu.


“Mungkin dia sudah tidur,”guman Denny melihat pintu tidak terbuka berbalik melangkah.


“Krek,” pintu terbuka, Indah menatap punggung belakang Denny.


“Iya, Pak. Ada apa?” Indah berusaha menahan langkah Denny.


Mendengar suara Indah memanggil, Denny membalikkan tubuh.


“Aku kira sudah tidur,” ucap Denny menatap Indah berdiri di ujung pintu.

__ADS_1


“Belum, hanya berbaring.” balas Indah menjawab perkataan Dennt.


“Ini ambillah, dan jangan melewatkan panggilanku.” Denny memberikan bingkisan.


“Apa ini?” tanya Indah menerima pemberian Denny.


“Bukalah,”


Indah membuka dan memasang wajah tidak percaya.


“Ponsel?” Indah menatap wajah Denny.


“Iya, ponsel. Nomorku yang paling penting tersimpan di dalammya. Jangan pernah menghubungi laki-laki manapun selain aku.” Ucap Denny santai.


“Terima kasih,” ucap Indah membalas pemberian Denny.


“Eh..Eh..Eh, ingat, aku tidak ingin mendengar ucapan Terima Kasih. Aku masih memikirkan balasan yang setimpal,” senyum Denny menghias wajah dan menghayunkan langkah menuju kamarnya.


Besok paginya, Indah sudah menyiapkan diri.


Sarapan sudah tersedia di atas meja. Indah menunggu Denny, berdiri tidak beberapa jauh dari pintu kamar Denny.


Matanya melirik jam mengantungg di dinding. Jam menunjukkan pukul enam. Indah gelisah menunggu Denny. Berharap Denny segera ke luar dari kamarnya. Indah ingin bisa masuk kerja hari ini. Dia merasa sudah cukup lama tidak bekerja. Hidupnya sangat bergantung dengan pekerjaannya.


Terdengar suara pegangan pintu di tarik ke dalam.. “Ada apa dengannya?” Denny terkejut, Indah sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


“Selamat pagi, Pak, Sarapan sudah saya siapkan, Bapak mau makan sekarang?”Ucap Indah dengan senyum mengembang di wajah.“


Tanpa jawaban terdengar, Denny melangkah menuju dapur. Menarik kursi dan duduk. Dengan tatapan heran Indah mengiringi langkah Denny.


Denny menatap hidangan yang ada.


“Banyak sekali dia masak pagi ini. Apa karena dia mau pulang, terlalu senang, hingga memasak berbagai makanan untukku?” Aku jadi ingin menahannya lebih lama lagi di sini,” gumam Denny.


“Ada apa Pak, apa Bapak tidak menyukainya?” tanya Indah kecut.


Lagi-lagi Denny diam, matanya menatap meja. Tapi hanya satu piring kosong untuknya.


“Duduk,” Perintah Denny.


Indah pun duduk berhadapan dengan Denny.


“Dengarkan dan ingat baik-baik. Kalau kamu sedang bersama aku dan tidak ada orang lain jangan memanggil “Pak atau Bapak”. Panggil dengan sebutan yang aku suka, paham?” Denny menatap Indah tajam.


“Iiiya, saya paham,” Jawab Indah, takut melihat tatapan mata Denny.


“Makan bersamaku,” ucap Denny.


“Saya makan, setelah Mas saja,” Jawab Indah.


“Kalau kamu tidak mau, aku akan batalkan…., Denny tidak menyelesaikan ucapannya.


“Iya, saya akan makan. Sebentar, saya akan mengambil piring,”

__ADS_1


Dasar pria aneh, sudah membuat kesepakatan semaunya. Sekarang memaksaku makan bersamanya.


Terlihat Indah sibuk berlari kecil, mengambil sebuah piring dari lemari, dan segera kembali ke meja makan lalu duduk.


“Gadis ini, patuh hanya dengan ancaman,”


Hati Denny berkata dan terlihat senyum tersugging di bibinya.


“Sini piringnya,”


Denny mengulurkan tangannya ke arah Indah. Piring pun diberikan. Lalu mengisinya dengan berbagai makanan.


“Makan dan habiskan, kalau kau ingin cepat pulang,”


Meletakkan piring di hadapan Indah dan menatapnya dingin. Melihat tatapan itu Indah langsung meraih sendok dan menyuap makanan ke mulutnya.


“Gila, apa aku tong sampah harus menghabiskan makanan sebanyak ini?” Keluh batin Indah.


“Wanita ini suka makan, tapi mengapa tubuhnya bisa sekurus itu? Bagaimana nanti kalau dia sudah pulang, Apa dia bisa makan enak dan sebanyak itu?’” Pikiran Denny berkata-kata memandang Indah yang sedang makan dihadapannya.


Mungkin Indah kelihatan kurus karena tinggi tubuhnya 170 cm dan berat badan 50 kg. Denny sangat senang melihat Indah semangat melahap makanannya. Walaupun terlihat wajah Indah kesal dipaksa makan bersama.


“Mas, apa boleh saya masuk kerja hari ini?” Disela-sela makan Indah bertanya dengan gugup.


“Aku mengijinkan kamu pulang ke rumah bukan bekerja,”


“Tapi Mas, saya sudah sangat lama tidak masuk,” Keluh Indah.


“Tidak ada tapi-tapi, ayo berangkat,”


Denny beranjak dari tempat duduk.


“Sebentar Mas, saya akan membersihkan ini dulu,” pinta Indah.


“Sudah biarkan, nanti ada yang membersihkannya,”


“Apa?”


Indah tidak percaya apa yang diucapkan Denny. Selama tinggal di apartemennya Indah tidak pernah berjumpa dengan pekerja yang membersihkan rumah. Indah bahkan berusaha sebisanya membersihkan sebagai ungkapan terima kasih karena telah menolongnya.


“Ayo, kamu mau pulang atau tidak?” terdengar suara Denny keras menegur Indah.


“Ii iya Mas, saya datang,”


Indah berjalan dengan cepat mengikuti Denny dari belakang melangkah ke luar.


Denny berjalan di depan dengan senyum menyeringai di wajahnya. Terlihat di luar Iqbal telah menunggu dengan pintu mobil telah terbuka. Denny masuk terlebih dahulu dan memukul bangku meminta Indah duduk di sampingnya.


Indah dengan patuh menuruti perintah Denny. Lalu Iqbal menutup pintu dan masuk ke dalam mobil. Kemudian mobil melaju membawa mereka bertiga.


“Semua sudah beres?”


“Yap, sesuai perintah,”

__ADS_1


Indah mengamati kedua pria yang ada bersamanya, tidak mengerti maksud pembicaraan keduanya. Maka dia lebih memilih melemparkan pandangan ke luar jendela.


Sesekali Denny melirik Indah melalui sudut matanya. Indah sangat menikmati pemandangan di luar terlihat senyum tersungging di bibirnya, karena memang sudah lama dia terkurung di apartemen. Mobil terus melaju tanpa hambatan menuju tujuan.


__ADS_2