Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 118 Tingkah Bik Surtik


__ADS_3

Setelah tiba di rumah, Elisa menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan tamu. Garis kusut terukir di wajah, perasaannya kacau dengan kepala memikirkan Jesika pergi dengan orang tidak dikenal. Mobilnya dicegat dengan beberapa mobil asing dan dilepaskan setelah mobil yang membawa Jesika melesat jauh dan tidak tahu pergi ke mana.


“Sayang, kau sudah pulang, Di mana Jesika dari mana saja kalian, sudah pukul berapa ini?” Gunawan melirik jam menempel di dinding menunjukkan waktu hampir tengah malam, datang menghampiri dan duduk di samping Elisa, menangkap keganjilan yang tergambar jelas dari wajah sang istri. Matanya tidak melihat keberadaan Jesika bersama Elisa di ruangan itu.


“Eh, i..itu, anu, maaf aku lupa menghubungimu sayang, ada masalah. Jesika tidak ikut denganku, dia pergi bersama orang lain.” Ucap Jesika tergagap dari pikiran kusut tidak menyadari Gunawan sudah duduk menggenggam tangannya.


“Pergi bersama orang lain? Bagaimana bisa?” Jawaban Elisa membuat tekanan suara Gunawan meninggi. Dia sudah berjanji dengan Hendrik akan menjaganya selama dia belum kembali. Elisa mengetahui itu, lalu menawarkan diri membawa pulang karena Gunawan ada pertemuan yang tidak bisa ditinggal.


Elisa bertambah kacau dan ketakutan seketika merayap di tubuh. Dia membalas genggaman tangan Gunawan dengan menjelaskan peristiwa yang telah terjadi. Kata maaf dan menyesal mengalir keluar dari bibir Elisa karena tidak bisa menemukan Jesika. Selembar kertas pemberian Jesika dia berikan ke pada Gunawan, sebagai bukti kalau Jesika sendiri yang ingin pergi.


Gunawan hanya bisa menghempaskan nafas kasar, dia tahu yang bisa melakukan itu hanya seorang Denny Prasetyo.Gunawan juga sudah menasehati Hendrik agar tidak mencampuri urusan Denny apalagi sampai jatuh cinta dengan perempuannya.


**********


Keesokan hari, saat matahari telah terbit, sinar menembus kaca jendela berlapiskan gorden. Saat gorden tersingkap lebar, sinar masuk memenuhi kamar karena tidak ada menjadi penghalanng. Perlahan tangan mungil memegang tangan perempuan cantik masih tertidur. Manik hitam menatap perempuan sedang mengalami mimpi sedih terlihat mengalir cairan bening di sudut kelopak mata tertutup.


Kelopak itu terbuka perlahan, pandangan Jesika terkabur karena manik hitam yang berkabut sisa dari cairan bening masih betah bertahan. Menatap langit-langit kamar, mengumpulkan separuh nyawa yang masih terpisah dan menarik ingatan mundur sesaat kebelakang.


“Ah, ternyata cuma mimpi. Tapi aku di mana? Bukannya aku di dalam mobil?” Gumam Jesika masih membekas bayangan memilukan di dalam alam tidur. Memutar pandangan ke samping tubuh masih merasakan sentuhan hangat menempel di tangannya.


“Pagi Tante Jesi,” Suara lembut, kecil dan menggemaskan tertangkap di telinga Jesika. Dia kenal suara itu, manik hitamnya menatap wajah Dania tersenyum lebar hingga menampakkan barisan gigi putih yang rapi.

__ADS_1


“Dania, kamu di sini?” Tanya Jesika terkejut dengan kepala masih dipenuhi pertanyaan.


“Hem, inikan rumahku, Tante Jesi sekarang di rumahku. Apa tante ngak ingat, kalau tadi malam papa menggendong tante sampai ke kamar?” Pertanyaan polos Dania mengalir mengingatkan kepada Jesika apa yang telah dia lihat tadi malam. Dania ke luar dari kamar ingin mencari Denny, tapi belum sampai dikamar, langkahnya terhenti saat melihat sang papa menggendong seorang perempuan.


Dania mengikuti dan mengamati dari jauh Denny membawa masuk ke kamar tamu. Kemudian Denny masuk ke kamarnya dan tak lama Denny ke luar lalu pergi lagi entah kemana. Langkah kaki Dania pun kembali masuk ke kamar dengan membawa pikiran kalau Jesika lah perempuan dalam gendongan Denny, karena hanya Jesika yang ikut bersama mereka kembali dari negara J. Anak kecil seusia Dania hanya memiliki pemikiran sederhana dan tidak memahami perasaan dimiliki orang dewasa. Dania pun melanjutkan tidur dengan pulas.


“Ya, ampun bodohnya kamu Jesika, kenapa bisa ketiduran gini, digendong pun ngak terbangun ?” Jesika menepuk kening, mengutuk diri sendiri yang tertidur dan bisa-bisanya juga tidak terbangun saat Denny membawa ke rumah apalagi sampai ke dalam kamar. Rasa malu dan marah menjadi satu, entah apa yang akan dipikirkan Denny dan menyalahkan Denny tidak membangunkan malah mengambil kesempatan dalam ketidak berdayaannya.


“Tante, tante kenapa? Sakit kepala?” Dania mengamati tingkah Jesika masih menempelkan tangan di kening.


Manik hitam Jesika seketika melirik Dania, anak perempuan kecil di sampingnya sangat pintar bicara. Pagi hari dia sudah dikejutkan dengan berada di dalam kamar asing dan ditambah lagi hiburan pertanyaan polos Dania. Jesika menarik senyum menyadari kebodohannya di hadapan gadis kecil Dania.


“Sini, Tante ngak pa-pa. Dania lihat tante digendong papa ya?” Jesika menarik tubuh Dania dalam pangkuan.


“Terus, Dania lihat, papa ngapain?” Jesika berusaha mencari tahu apa yang Denny lakukan pada dirinya.


Tanpa Jesika sadari sepasang mata memperhatikan keakraban mereka berdua. Bik Surtik ikut menemani Dania masuk ke kamar Jesika, karena memenuhi keinginan Dania.


“Ngak lihat, Dania cuma lihat papa ke luar kamar tante, masuk ke kamar papa, dan pergi lagi.” Jawab Dania dengan pandangan menerawang ke depan mengkilas balik ingatanya.


“Denny pergi lagi, kemana dan kenapa?” Bisik batin Jesika dihujani rasa ingin tahu.

__ADS_1


“Apa papa Nia sekarang sudah pulang?” Jesika mengelus lembut pucuk kepala Dania, bertanya ingin mengetahui keberadaan Denny.


“Hemmmm,” Dania menggelengkan kepala sambil mengangkat kedua bahu.


“Belum pulang?” Tanya Jesika untuk lebih memastikan jawaban dari Dania.


“Iya nona, tuan Denny belum pulang dari tadi malam setelah membawa nona ke kamar tidur.” Ucap Bik Surtik menegaskan kebenaran jawaban Dania. Wajah Bik Surtik merona merah seketika, bayangan Denny menggendong Jesika terlintas di kepala dan pikiran menjadi liar membayangkan yang bukan-bukan. Cepat dia menggeleng-gelengkan kepala berusaha membuang pikiran kotor yang meracuni kepala.


Jesika terkejut mendengar kata-kata Bik Surtik, dia tidak tahu kalau ada orang selain mereka berdua di dalam kamar. Dia menoleh ke sumber suara, manik hitamnya menangkap seorang wanita paruh baya berdiri di samping meja nakas. Wajah merona merah dan terlihat tersipu malu saat beradu pandang dengan Jesika. Akibat terlalu fokus pada Dania mencari informasi tentang Denny, dia tidak melihat kehadiran Bik Surtik.


“Bibi pasti penjaga Dania? Kenalkan saya Jesika, teman tuan Denny.” Jesika mengulurkan tangan memperkenalkan diri.


“Panggil saya Bik Surtik, saya bekerja di rumah ini sekaligus merawat non Dania.” Balas Bik Surtik menyambut uluran tangan Jesika. Senyuman yang terlihat di bibir Jesika membuat Bik Surtik semakin gugup. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, mungkin karena baru kali ini dia melihat Denny memperlakukan perempuan dengan sangat istimewa.


Jesika merasakan tangan Bik Surtik gemetar saat menggenggam tangan. Perasaan itu seharusnya miliknya, gugup karena tertangkap basah digendong Denny, tapi kenapa Bik Surtik yang gugup. Jesika semakin ingin tahu apa yang sudah dilakukan Denny sehingga perempuan paruh baya itu sangat malu menatapnya.


**********************************


Hai readers yang setia baca cerita aku, terima kasih udah baca, beri komentar, vote, love dan like. Beri terus dukungan yang banyak ya….


Aku juga mau ucapkan bagi yang beragam Islam, Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1442 H.

__ADS_1


Semoga diberikan kesehatan, kemudahan dan kelancaran dalam menjalankan ibadah dan aktivitas sehari-hari.


Salam cinta selalu untuk semua.


__ADS_2