Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 46 Apa arti Rudi bagi dirimu?


__ADS_3

Setelah kedatangan Rudi, keluarga Pakde, dan Indah saling berbagi cerita. Denny menatap wajah Indah disela-sela pembicaraan. Terlihat jelas terpancar keceriaan di wajah Indah. Denny menyimpan perasaan tidak suka pemandangan keramahan yang diberikan Indah kepada Rudi.


“Apa arti Rudi bagi dirimu, mengapa kamu sangat bahagia? ” bisik batin Denny melihat Indah berbicara hangat dengan Rudi.


Indah tidak dapat menyembuyikan kebahagiaannya bertemu dengan Rudi. Mereka berdua sudah lama tidak bertemu, semenjak Indah dibawa pindah kedua orang tuanya. Dino, Rudi, dan Indah berteman dekat sejak kecil. Indah sudah menganggapnya seperti kakaknya sama seperti Dino.


“Drekk, Drekk, Drekk,” ponsel Denny berbunyi, segera tangannya meraih dari balik saku baju.


Terlihat nama Iqbal di layar kaca ponsel, Denny menjawab panggilan. Semua mata mengarah pada Denny. Indah mengamati wajah Denny yang berubah ketat mendengar berita dari seberang.


“Maaf, saya harus ke kota, ada pekerjaan yang harus dilakukan.” Ucap Denny setelah mengakhiri pembicaraan di ponsel.


“Ada apa Mas?” tanya Indah menatap Denny.


“Ngak pa-pa, kamu di sini aja.” Balas Denny.


“Kalau perlu tumpangan ke kota, biar Rudi mengantar nak Denny naik motor,” ucap Pakde.


“Ngak usah Pakde, saya udah ada yang jemput. Dan saya juga tidak bisa bermalam di sini,” balas Denny.


“Kenapa Nak Denny, apa pekerjaannya lama?” Tanya Bude.


“Saya belum bisa pastikan, pekerjaannya dapat selesai cepat. Dan kebetulan tuan yang punya kamar sudah datang.” Tersenyum menatap Rudi.


“Oh…, ngak masalah kalau kamar. Saya bisa tidur di luar.” Balas Rudi.


“Terima kasih, jangan dianggap serius. Saya benar-benar harus pergi, dan saya permisi ingin bersiap-siap,” Denny beranjak dari duduk dan melangkah ke kamar.


Indah menatap punggung belakang Denny, terbesit perasaan tidak enak di hatinya.


“Permisi, Indah ingin membantu Mas Denny,” Indah juga beranjak bangun dan melangkah menyusul Denny.


Pakde tersenyum melihat perubahan sikap keduanya. Rudi menatap Bapaknya seolah-olah menyimpan suatu rahasia.


“Tok, Tok, Tok. Mas ini saya,” Indah mengetuk pintu kamar.


Pintu kamar terbuka, Indah melihat Denny sedang merapikan baju ke dalam tas koper bawaannya. Dia pun melangkah masuk, berdiri di sisi ranjang menatap Denny.


“Perlu dibantu Mas?” Tanya Indah.


“Hem,” Denny menggelengkan kepala masih sibuk merapikan tas koper.


“Saya ikut Mas ke kota ya?” Menatap Denny.


“Tidak perlu, kamu di sini aja,” Ucap Denny pelan tanpa membalas tatapan Indah sedikit pun.


“Mas, kamu baik-baik aja?” Tanya Indah lagi.


“Hem,” jawab Denny singkat menganggukkan kepala.

__ADS_1


Indah diam melihat perubahan sikap Denny, dia tidak ingin bertanya lagi. Perasaannya mengatakan kalau Denny sekarang tidak ingin berbicara banyak. Permasalah berat mungkin sedang melandanya. Indah ingin membantu, tapi melihat sikap Denny dia tidak berani berucap lebih banyak lagi.


“Tin, Tin, Tin,” terdengar suara klakson mobil di luar.


“Mas, itu mungkin jemputanmu sudah datang,” ucap Indah.


“Iya,” Denny menutup koper dan menjinjingnya sambil tersenyum ke arah Indah.


“Mas, kamu bener ngak pa-pa?” bisik batin Indah membalas senyuman Denny.


“Ayo kita ke luar,” ajak Denny.


Berdua mereka melangkah ke luar kamar.


Sampai di luar, semua orang sudah berada di beranda rumah melihat mobil yang datang menjemput Denny.


“Sepertinya dia orang penting, terlihat dari mobil mewah yang menjemputnya,” bisik batin Rudi mengamati mobil terparkir di halaman rumah.


“Saya permisi Pakde, sebisa mungkin saya akan datang ke acara nanti malam,” Denny menatap kesemua orang dan melangkah pergi memasuki mobil.


Senyum melepas kepergian Denny, kecuali Indah tergambar kesedihan di wajahnya.


Di dalam mobil Denny.


“Aku harap kamu senang In, bisa melepas rindu dengan keluarga di sini. Setelah tiga hari, mungkin tidak tahu kapan lagi kamu bisa kembali.” Senyum menggaris di bibir Denny.


“Kamu ngak pa-pa In?” Melihat Indah duduk melamun.


“Eh, Mas. Iya aku ngak pa-pa?” Indah sedikit terkejut membuyarkan lamunannya.


“Mas lihat, kamu banyak melamun dari tadi. Apa yang kamu pikirkan In?”


“Ngak ada, aku hanya teringat masa-masa kecil saat di kampung ini. Dan Mas sendiri, sekarang kerjanya apa?” Indah berusaha mengalihkan perasaan sedihnya.


“Coba kamu tebak, Mas kerja apa?” tersenyum berusaha menghibur Indah.


“Nantang nih, kalau benar, aku minta hadiah ya?”


“Iya, Mas pasti kasih hadiah, dan kebalikannya kalau kamu salah Mas yang minta hadiah, gimana?”


“Hah, masak gitu sih,” wajah Indah cemberut.


“Loh, kan adil? Nah sekarang cepat tebak, Mas kerja apa coba?” Berdiri mengecak pinggang, membusungkan dada dan mengangkat wajah ke atas.


“Apa ya? Kalau dilihat-lihat dengan bentuk tubuh seperti ini, hemmmmm,” jari telunjuk Indah bermain-main di bibirnya mengamati Rudi yang berdiri di hadapannya.


“Koki” Indah menjawab asal sambil tertawa.


“Ha..Ha..Ha.., koki? Yang serius In? Masak tampang begini koki?” senyum mengembang di wajah mereka berdua.

__ADS_1


“Ih, jangan salah Mas. Di Jakarta, koki yang biasa dipanggil chef, orangnya keren dan gagah loh,” jelas Indah.


“Tapi kamukan tahu aku cuma suka makan,” duduk di samping Indah.


“Iya, Mas paling stress kalau di dapur.” menatap Rudi.


“Jadi, menurut kamu Mas kerjanya apa dong?” tanya Rudi tidak sabaran menunggu jawaban Indah.


“Kalau ini jawabanku mungkin benar, mengingat masa kecil Mas paling suka mainan pistol. Polisi?” tanya Indah menunggu pembenaran jawabannya.


“Hem, hampir benar, tapi belum sepenuhnya,” Rudi menggelengkan kepala.


“Hampir benar, jadi bukan polisi, apa dong? Aku nyerah deh?”


“Tepatnya Polisi Laut. Kenalkan Kapten Rudi Harsa,” mengulurkan tangan kanan.


“Wah, Mas hebat. Aku kagum sama Mas.” Meraih tangan Rudi.


“Dan siapa Denny?” seketika Rudi bertanya tentang Denny.


Indah terdiam, kembali wajahnya bersedih setelah mendengar nama Denny.


“Menurut Mas, dia bukan hanya sekedar teman biasa. Denny memiliki pengaruh yang besar bagimu. Apa dia menyukaimu?” tanya Rudi.


“Ihs, Mas Rudi apaan sih, Mas Denny itu tepatnya bos di tempat Indah bekerja.” Indah tidak berani menjelaskan lebih banyak tentang Denny.


“Baiklah In, kalau kamu tidak mau berterus terang.” Bisikk batin Rudi tersenyum menatap Indah.


“Udah, masuk yuk. Ngak bagus melamun sendiri di sini, nanti bisa kesambet,” ajak Rudi.


“Iya Mas,” Indah menurut ajakan Rudi dan berdua mereka melangkah masuk ke rumah.


Malam hari, tidak begitu ramai tetangga datang. Pakde mengundang hanya beberapa orang terdekat saja. Acara dimulai, Denny belum juga kelihatan. Pandangan Indah lekat menatap pintu, menunggu kehadiran Denny.


“Mas Denny, kamu kok belum datang?” Bisik batin Indah tertunduk lesu.


Acara pun berjalan hingga selesai, para tamu satu persatu berangsur pulang. Tak lama cahaya lampu mobil dari luar terang mengarah ke dalam rumah. Indah beranjak bangun dari duduk dan melangkah ke luar. Semua orang di dalam rumah melihat sikap Indah.


Mobil terparkir di halaman, pintu terbuka dan terlihat Denny ke luar lalu berjalan ke arah Indah.


“Kau menungguku?” tatapan Denny lekat menatap Indah di hadapannya.


“Hem, Mas baik-baik aja?” Menganggukkan kepala bertanya lembut.


“Iya, hanya sedikit capek. Ayo kita masuk, ngak enak orang pada ngeliatin kita.” Menarik tangan Indah masuk ke dalam.


Rudi melihat pemandangan di hadapannya, kegembiraan yang tidak dilihatnya dari siang kini terbit di wajah Indah.


“Dia yang membuat kamu gembira rupanya In,” bisik batin Rudi melihat keduanya masuk dan duduk bergabung bersama.

__ADS_1


__ADS_2