Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 132 Keadaan Di luar Ruang Operasi


__ADS_3

Denny melangkahkan kaki dengan cepat, menyusuri koridor rumah sakit. Hingga Lari kecil mengiringi langkah jenjang kedua kaki mempercepat laju tubuhnya. Dia menyadari kalau tidak berada di dalam ruangan yang sama dengan Saka. Dia telah dibawa keruangan lain. Pantas saja tidak terlihat seorang pengawal pun berjaga-jaga.


Karena gedung rumah sakit yang luas dan juga tidak begitu mengenal area rumah sakit hingga memakan waktu untuk sampai ke tempat tujuannya. Tibalah dia dengan nafas tersengal-sengal di sebuah ruang perawatan yang diyakini sebagai ruang perawatan Dania.


Manik hitam menelisik begitu masuk ke dalam ruangan. Sepi, tempat tidur kosong tidak terlihat Dania terbaring di sana. Hatinya menjadi gelisah, mendapati tidak seorang pun berada di dalam maupun di luar ruangan.


“Apa yang telah terjadi, ke mana semua orang?” Geram Denny melangkah kembali ke luar ruangan.


Dia teringat benda pipih yang bersembunyi di balik saku baju dan meraih dengan tidak sabar.


Menyentuh layar tipis dan membuat panggilan. Nama Iqbal yang pertama sekali teringat di kepala saat ini.


“Di mana kau?” Ucap Denny saat panggilan terjawab dari seberang. Tanpa memperdulikan kesopan santunan langsung berujar keras dan kesal.


“A-Aku di jalan.” Jawaban gugup yang terdengar melemah.


“Kau belum sampai juga? Apa terjadi sesuatu? Indah bersamamukan?” Pertanyaan memberondong ke luar dari mulut Denny memastikan tidak terjadi hal buruk seperti dugaan yang terlintas di kepalanya. Dia mengingat kembali wajah yang baru menemuinya tapi belum tahu pasti siapa lelaki itu.


“Ahh, kenapa ditutup? Ada apa dengannya?” Kesal Denny panggilan terputus sepihak tanpa mendapatkan jawaban. Manik hitamnya menatap kesal layar tipis yang menghitam tanda benda pipih itu mode mati. Ternyata ponselnya mati daya. Dia lupa entah kapan terakhir mengisikan daya pada benda pipih itu.

__ADS_1


Denny semakin kesal, seolah keberuntungan tidak berpihak padanya. Saka yang entah di mana, begitu juga dengan Dania, dan sekarang benda pipih harapan terakhir yang bisa membantu juga sekongkol ikut menghilang. Denny menarik rambutnya kasar, hingga berantakan tidak beraturan. Pikiran saat ini sangat kusut.


“Ruang operasi,” Seolah ada yang membisikkan di telinga hingga bibirnya berucap. Dengan terburu Denny mengayunkan langkah menuju ruang operasi. Jantungnya semakin berpacu dua kali lebih cepat dari biasa mengingat kalau kedua sang anak sedang berada di dalam ruang operasi saat ini.


“Tuhan tolong, jangan sampai terjadi. Aku mohon dengarkan permintaanku. Aku akan melakukan apapun agar kedua anakku tidak melakukan operasi itu.” Rintih Denny di dalam hati sambil terus berlari mencari ruang operasi yang belum berhasil di temui.


“Tap


“Tap


“Tap


Langkah Denny semakin mendekat, pikirannya sangat berkecamuk. Mengamati lampu di ruang operasi yang menyala, berarti operasi sedang berlangsung di dalam. Kedua anaknya sedang melakukan operasi dugaannya. Seketika sepasang manik hitamnya berembun, cairan bening tampa diundang mengalir deras ke luar dari persembunyian membasahi ke dua pipi yang dihiasi bulu-bulu halus karena tak terawat.


“Ma, kenapa mama lakukan? Mereka anak-anakku, bagaimana mama tega melakukan ini padaku? Bagaimana bisa mama mengorbankan salah satu anakku? Aku ayah yang tidak berguna, tidak bisa menjaga kedua anakku karena mama. Lebih baik mama membunuhku, dari pada memberikan hukuman seperti ini. Aku tidak sanggup menghadapi ini semua lagi ma. Ambil saja nyawaku sekarang.” Denny menjatuhkan tubuhnya lemah terduduk di lantai berhadapan dengan sang mama


Pak Jung terkejut melihat sikap Denny tiba-tiba datang dan meracau dengan sesenggukan berhiaskan airmata yang terus mengalir di wajah tegasnya. Manik hitamnya menyipit menatap sepasang manik hitam lain yang tajam tertuju padanya. Dia tahu arti dari tatapan itu. Dia menarik langkah dan mendekat ke arah Denny.


“Tuan muda, ayo berdiri jangan seperti ini.” Pak Jung berucap sambil kedua tangan meraih tubuh Denny, menarik untuk segera berdiri. Tapi tubuh itu tidak mau bergerak, tetap dengan posisinya. Pak Jung tidak bisa berbuat dan menatap wajah nyonya besar sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


“Berdiri. Mama tidak butuh nyawamu. Hidupmu masih berarti untuk mama. Kau anak mama satu-satunya, harapan mama dan almarhum papa. Jadi jangan lemah, masih banyak yang bergantung kepadamu. Kau masih bisa memiliki keturunan, lupakan dia dan juga anak itu. Mereka berdua sudah mati. Kesempatan cukup banyak diberikan untuk kembali, tapi dia tidak melakukan. Kesalahan mama hanya satu, memisahkan darimu demi Hanna. Saat Hanna telah tiada, itu peluang bersama kembali denganmu. Dia tidak datang, dan bahkan memilih dengan lelaki lain. Apa perempuan seperti itu masih kau percaya dan mengharapkan cintanya?” Mama Denny mencurahkan isi kepala melihat begitu lemah dan prustasi Denny. Untuk kedua kali peristiwa seperti ini terjadi, pertama saat kematian Indah dan sekarang juga karena Indah.


Saat kematian Hanna, Denny tidak lemah. Mama Denny tidak sanggup melihat kesedihan di mata putranya, mulut dan hatinya sangat bertolak belakang.


“Author On,”


Sikap nyonya besar selama ini hanya untuk menepati janji kepada sahabatnya mama Hanna. Dia menemani mama Hanna melawan kanker yang dialami. Setiap hari harus bergantung dengan obat-obatan dan kemoterapi tanpa ada kepastian sembuh, hingga ajal menjemput. Dia pun berjanji akan membahagiakan Hanna bagaimana pun caranya, hingga mengorbankan kebahagiaan putra sendiri.


Indah hanya korban keegoisan untuk menepati janji itu. Namun, setelah Hanna tiada, dia meminta Pak Jung mencari keberadaan Indah. Lebih tepatnya, mengusahakan agar Indah kembali ke Jakarta. Tapi usaha itu tidak berjalan mulus, karena kehidupan Indah sudah jauh lebih baik dengan bantuan Hendrik dan tante Ira. Mama Denny, meminta Pak Jung berhenti dan memilih waktu yang menuntun untuk mereka berdua bersatu kembali.


Ternyata waktu juga masih enggan untuk menyatukan mereka berdua. Setelah kesempatan tak terduga berjumpa malah kecelakaan yang menimpa Saka, terlebih ada campur tangan Denny walaupun tidak disengaja. Juga, keadaaan kesehatan Dania yang semakin lemah. Pendonor yang diharapkan tak kunjung ada, menambah keputus asaan untuk kesembuhan Dania. Alih-alih menunggu pendonor, ternyata hasil pemeriksanaan tulang belakang karena kelumpuhan Saka tidak sengaja juga sumsum tulang belakang cocok sebagai pendonor untuk Dania.


Setelah berdiskusi dengan Harun sebagai dokter merawat Saka dan Dania. Operasi bisa dilakukan, karena resiko yang dihadapi tidak besar. Usia Saka masih muda, dan proses pemulihan pun akan berjalan baik dengan pengawasan. Semua sudah dipertimbangkan dengan matang. Mama Denny pun menyetujui operasi dilakukan, dibawah tanggung jawabnya kalau Denny tidak mengijinkan.


“Author Off”


“Aku tidak butuh cintanya, cukup aku yang mencintai. Aku tidak menginginkan perempuan lain. Aku bersyukur dia tidak mati. Aku akan mendapatkan Indah kembali karena dia masih istriku. Aku tidak akan membiarkan lelaki lain memilikinya apa lagi putraku mengakuinya sebagai papa” Balas Denny dengan penuh amarah mendengar ucapan mama untuk melupakan Indah dan putranya.


“Terserah, setelah ini mama tidak mau tau dengan kehidupan pribadimu. Tapi mama minta, bahagiakan Dania. Ingat janjimu pada Hanna, dia perempuan yang mencintaimu jangan lupakan itu.” Ucap mama Denny mengingatkan kembali akan Hanna yang telah memberikan Dania sebagai tanda cinta kepada Denny.

__ADS_1


“Aku akan mengingat ucapan Mama tidak mencampuri urusan pribadiku. Dan Mama tidak perlu memberitahu, Dania anakku dan Saka juga anakku. Aku tidak membedakan mereka berdua. Aku akan berusaha memberikan kebahagiaan untuk mereka. Jalan hidupku akan ku tentukan sendiri sekarang,” Denny berdiri dan mengusap cairan bening yang masih betah keluar dari kelopak manik hitamnya.


__ADS_2