Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 26 Permainan Perasaan


__ADS_3

Tidak lama Indah melangkah masuk ke kamar Denny, terlihat membawa nampan berisikan makanan. Berjalan dengan tertunduk, tidak berani mengangkat wajah.


“Aku yang dilihat, mengapa dia yang merasa malu begitu?” Senyum mengembang di wajah Denny melihat sikap Indah.


Langkah Indah semakin mendekati Denny dan jantungnya berpacu sangat cepat.


“Bagaimana ini, kenapa aku tidak bisa tenang?” Indah kamu harus bisa tenang, itu bukan masalah besar. Kenapa juga dia tidak mengunci pintunya, itukan salah dia sendiri,” batin Indah terus berselisih dan mencoba menenangkan diri.


Langkahnya berhenti di samping ranjang Denny.


“Ini sarapan, makanlah,” Indah mengulurkan makanan.


“Duduk,” Denny memukulkan tangan di ranjang, meminta Indah duduk di sampingnya.


“Mengapa dia ingin aku duduk di sampingnya?” batin Indah berkata dengan menatap wajah Denny.


“Sudah jangan banyak pikir,” menarik tangan Indah.


“Awas,” Tubuh Indah tertarik dan langsung terduduk di samping Denny.


“Kenapa?” tanya Denny heran menatapn wajah Indah.


“Saya takut makanannya menumpahi Mas?” Indah menunjukkan semangkok bubur dan jus jeruk di dalam nampan bawaannya.


“Suapi aku,” Denny menatap mata Indah.


“Apa ini, mengapa dia minta disuapi?” Gerutu Indah menatap Denny dengan bola mata membesar.


“Kenapa lagi? Apa kau mau membiarkan orang sakit mati kelaparan?” Denny sengaja meminta Indah menyuapinya.


“Tidak, tapi bisakah makan sendiri, saya ingin pulang dan bersiap-siap untuk kerja,” Indah berusaha mencari alasan menghindari Denny.


“Tidak bisa, tubuhku masih lemah apalagi mengangkat tangan untuk makan,” jawab Denny menatap Indah, berusaha menahan Indah terap bersamanya.


“Bukankan tadi, Mas bisa pergi ke kamar mandi sendiri?” tanya Indah memastikan keadaaan Denny.


“Kalau aku memanggil, apakah kau mau menemaniku di kamar mandi? Tidak seperti yang kau lakukan tadi?” Denny menggoda Indah, mengingat tingkahnya lari menjauh saat kepergok di kamar mandi.


“Ah apa?” Indah berdiri dan terkejut. Seketika rona merah di wajah Indah.


“Duduklah, lakukan apa yangku katakan. Dan kita akan berangkat bersama-sama ke rumahmu.” Denny menarik Indah kembali duduk dengan senyum di wajahnya menyadari rasa malu Indah.

__ADS_1


“Baiklah, ini makan,” menyuapkan makanan ke mulut Denny.


Indah langsung menuruti dan tidak ingin Denny mengetahui betapa besar rasa galau di hatinya saat ini.


Sedangkan Denny sangat menikmati kebersamaannya bersama Indah.


Pagi hari di rumah Mama Denny. Berdua Hanna dan Mama Denny duduk di meja makan. Bersama menikmati sarapan pagi. Tidak ketinggalan Pak Jung ikut serta berdiri menemani mereka.


“Hanna, hari ini kamu ada rencana kemana?” tanya Mama Denny menatap Hanna dengan tersenyum.


“Belum ada, kenapa Tante?” Balas Hanna dengan hangat.


“Kalau begitu, bisa dong temani Tante siang ini?”


“Tentu, kita mau ke mana?”


“Nanti Tante beritahu, pasti kamu senang,”


“Kenapa Tante , Hanna jadi penasaran loh?”


“Ha…Ha…Ha…, memang itu tujuannya, buat kamu penasaran dengan kejutan Tante,”


“Tente memang bisa aja,” Hanna tersenyum lebar.


Di apartemen, Indah menunggu Denny ke luar dari kamarnya.


“Mengapa pria ini lama sekali, apa dia baik-baik saja, atau aku masuk saja melihat ke dalam?” Indah berjalan modar-mandir di depan kamar Denny.


Mata Indah berkali-kali melirik jam melingkar di tangan. Sedangkan Denny di dalam kamar sedang mencari-cari ponsel miliknya.


“Di mana dia? Kenapa aku bisa lupa di mana meletakkannya?” Gumam Denny.


“Aku harus masuk,” Ucap Indah khawatir Denny tidak kunjung ke luar kamar.


Langkah kaki dihayunkan Indah menuju kamar Denny. Saat tangannya meraih pegangan pintu, terlihat pintu tertarik ke dalam. Denny telah berdiri di baliknya dan menatap Indah.


“Ada apa?” tanya Denny heran menatap Indah tepat di hadapannya.


“Tidak apa-apa, saya hanya khawatir,” jawab Indah gugup.


“Kau khawatir atau memang suka melihat ku di dalam kamar?” Goda Denny merapatkan wajahnya ke wajah Indah.

__ADS_1


“Saya benar-benar khawatir, tidak ada maksud apa-apa,” Indah menjawab gugup dan menarik tubuhnya ke belakang.


“Tapi aku tidak berpikir demikian. Apakah kau tertarik kepadaku?” tanya Denny dengan merapatkan tubuhnya kepada Indah.


Mulut Indah terkunci tak sanggup menjawab mendengar pertanyaan Denny, kakinya terdorong melangkah ke belakang karena Denny terus berusaha mendekatinya. Aroma tubuh Denny tercium sangat menggoda hingga jantung Indah berpacu sangat cepat.


Lngkah kakinya berhenti tertahan sofa. Indah terduduk, tatapan mata Denny dalam menghujam matanya. Ada suatu perasaan aneh menjalar di hatinya.


“Ayo kita berangkat,” Denny membalikkan tubuhnya dan melangkah ke luar.


“Dasar pria aneh, apa maksud pertanyaannya? Kenapa juga denganku, jadi gugup gini?” Indah menghembuskan nafas beratnya.


Sambil berlari kecil, Indah mengejar Denny yang telah berjalan mendahuluinya.


“Aku akan membuatmu menyukaiku,” batin Denny dengan senyum membingkai wajahnya.


Di dalam mobil, Indah duduk di samping Denny sedang mengemudi. Pikirannya membayang saat Denny mendekatkan wajahnya dan peristiwa di kamar mandi.


“Hah, Tuhan, perasaan apa ini? Aku sungguh tidak tenang.” Indah merasakan sesuatu getaran yang tidak pernah dia alami sebelumnya.


Denny memperhatikan sikap diam Indah dari sudut matanya.


“Apa yang ada dalam pikirannya sekarang? Apa pun yang kau pikirkan, aku telah membuatmu tidak tenang Indah,” sudut bibir Denny tersenyum dia yakin telah membuat Indah gelisah.


Indah perlahan menoleh wajahnya melihat ke arah Denny.


“Pria ini wajahnya tampan, penampilannya menarik dan juga kaya. Tapi sikapnya sangat dingin dan tidak sopan. Apakah dia sengaja mempermainkan perasaanku, tapi untuk apa dan mengapa?” Pertanyaan menggantung di kepalanya.


Mendadak Denny menginjak rem dan mobil berhenti. Indah terkejut dan membenamkan wajahnya ke bahu Denny. Perlahan Indah mengangkat wajah dan menatap Denny.


“Maaf kalau kau terkejut, ada orang sembarangan menyeberang jalan,” Ucap Denny menatap wajah Indah yang sangat dekat dengannya.


“Iya…,” jawab Indah membalas tatapan mata Denny. Indah dapat kembali mencium aroma tubuh Denny yang membuat jantungnya berdetak kencang.


Wajah mereka berdua sangat dekat. Seketika tubuh keduanya bergejolak. Terasa nafas berhembus mengenai wajah mereka. Denny menatap bibir Indah, jantungnya berpacu cepat. Hasratnya meluap menatap bibir menarik Indah, ingin segera melumatnya.


Indah merasakan hasrat yang sama, irama nafas semakin cepat tidak sanggup menahan gejolak.Indah menutup mata, Denny mendekatkan bibirnya ke bibir Indah. Melihat semu merah di wajah Indah, Denny tersenyum dan tidak melanjutkan keinginannya.


“Kita harus cepat sampai ke rumahmu,” Ucap Denny menarik wajahnya menjauh dari Indah dan menjalankan kembali mobilnya.


Indah terkejut mendengar ucapan Denny. Secepat kilat membuka mata dan mendorong tubuhnya ke belakang dan memalingkan wajahnya ke samping membuang pandangannya ke luar jendela.

__ADS_1


“Bodoh, bodoh. Kenapa denganmu Indah? Apa yang ada di kepalamu, kenapa pikiranmu mesum begini?” Indah memejamkan mata dan merutuki dirinya.


Denny tersenyum melihat sikap Indah. Hatinya sangat gembira telah membuat Indah tergoda.


__ADS_2