
“Apa yang akan terjadi dengannya,” Denny menatap Hanna dengan pandangan berkaca-kaca.
“Keadaan yang paling fatal, komplikasi yang dihadapi pendarahan di otak. Aku harap tidak akan terjadi. Kita hanya bisa berdoa,” Harun menepuk bahu Denny.
Denny menyapu kasar wajahnya dengan kedua tangan. Hatinya bertambah perih mendengar kenyataan yang mungkin akan dialami Hanna. Dia kesal tidak dapat menolong, hanya dapat menyaksikan penderitaan Hanna.
Harun meninggalkan ruangan, setelah melihat Hanna tenang. Denny menghantarnya sampai di depan pintu. Bik Surtik, Pak Ipul, masih setia duduk menunggu di kursi selasar ruangan dengan dibungkus letih. Denny merasa kasihan dan meminta mereka berdua pulang untuk istirahat.
Denny sendiri tidak bisa beristirahat, dia duduk di samping Hanna dengan pandangan memperhatikan wajah pucat Hanna.
“Drekk, Drekk, Drekk, suara ponsel berbunyi dari balik saku baju dan Denny meraihnya.
Terlihat nama Sudrajat papa Hanna memanggil. Jari Denny menggeser simbol warna hijau menjawab panggilan.
“Denny, bagaimana Hanna?” Sudrajat mengkhawatirkan putrinya, setelah mendapat kabar dari mama Denny.
“Pa, Hanna sedang tidur sekarang?” Denny masih menatap tubuh lemah yang sedang terbaring tenang di atas tempat tidur. Denny mengelus lembut pucuk kepala Hanna.
“Apa benar Hanna sedang Hamil?” Sudrajat bertanya dari seberang memastikan kebenaran kehamilan Hanna.
“Ya, apa papa baru tahu?” Denny heran mendengar pertanyaan Papa Hanna. Sebelumnya Hanna mengatakan sudah memberitahu kabar kehamilannya.
“Hem, anak itu merahasiakan kehamilannya dari papa. Karena dia takut, papa tidak akan senang mengetahuinya. Kamu sudah tahu kalau Hanna sakit?” Sudrajat bertanya kembali kepada Denny.
“Ya Pa, Denny baru tahu sekarang, Hanna juga merahasiakan penyakitnya. Kalau papa sudah tahu, mengapa tidak memberitahu Denny? Aku tidak akan membuatnya semakin menderita. Mungkin sekarang Hanna sudah sembuh karena menjalankan semua terapi.” Air mata Denny mengalir membasahi pipinya. Dia merasa sangat bersalah tidak mendukung kesembuhan Hanna.
“Jangan merasa bersalah, ini sudah pilihannya. Maaf merahasiakan dari kamu, karena Hanna memaksa papa untuk tidak memberitahu.” Sudrajat tahu putrinya sangat mencintai Denny, dia ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama Denny.
“Sekarang aku hanya bisa melihat dan menunggu keajaiban Hanna bersama bayinya selamat,” Denny menyapu airmata di pipinya. Dia berharap ada sebuah keajaiban yang dapat menolong istri dan calon anaknya.
“Papa berdoa semoga keajaiban itu ada. Kuatkan dirimu, saat ini hanya kamu yang menjadi penyemangat hidupnya.” Sudrajat berkata dengan mata berkaca-kaca membayangkan kesembuhan putrinya .
“Iya Pa, aku akan kuat dan tidak akan lemah di hadapannya. Ini semua untuk Hanna.” Denny menggenggam tangan Hanna. Dia bertekad di lubuk hati akan selalu berada di sisi Hanna.
Malam hari saat waktu di negera Singapura, Iqbal telah kembali ke kamar hotel. Rasa lelah mendera dirinya. Iqbal melangkah ke kamar mandi, ingin membersihkan tubuh. Guyuran air membuat dirinya segar kembali. Setelah selesai mandi , Iqbal mengenakan pakaian santai. Berbalut t-shirt berlengan pendek dengan celana jeans panjang. Rambut disisir ke belakang, dengan bantuan pomade menjadi berkesan klimis.
Dirinya tdak ingin membuang waktu untuk segera bertemu Yanti. Segera tangannya meraih ponsel dari atas meja nakas di samping tepat tidur.
__ADS_1
“Hallo Yanti,” Terdengar Iqbal menyapa dari ujung ponselnya.
“Ya, Pak Iqbal.” Yanti menjawab singkat. Terdengar suasana sangat ramai di belakang, membuat Yanti meninggikan suara menjawab panggilan Iqbal.
“Di mana kamu? Saya ingin bertemu,” Iqbal melipat kening mendengar irama hentakan musik melatari suara Yanti di seberang.
“Saya sekarang di diskotek *****, tidak jauh dari hotel. Ayo Pak, bergabung ke sini, saya tunggu. Tut, Tut, Tut.” Telpon pun terputus sepihak dari Yanti.
“Diskotek?!” Iqbal menatap layar ponsel yang sudah menghitam. Pikirannya kosong tidak ingin menyimpulkan apapun. Iqbal menghayunkan langkah ke luar kamar menuju tempat keberadaan Yanti.
Iqbal telah sampai di dalam diskotek, alunan musik hentakan hip pop memacu andernalin. Mata Iqbal liar mengamati sekeliling. Para pengunjung ramai di lantai dansa menari, terhipnotis irama musik yang di pandu seorang DJ. Aroma minuman alkohol menyengat hidung, menemani para pengunjung duduk bersantai menikmati malam.
Mata Iqbal terhenti pada sosok seseorang yang menjadi perhatiannya. Iqbal datang mendekat, mengamati seorang gadis duduk di meja bar.
“Hei Pak Iqbal sudah lama?” sapa gadis itu sambil menenggak minuman di tangannya. Iqbal melihat bola mata gadis di hadapannya memerah seperti habis menangis atau pengaruh minuman.
“Yanti, kamu?” Iqbal tidak sempat menyelesaikan kata-katanya.
“Beri kami Bir, temanku sudah datang,” suara Yanti meninggi mengimbangi alunan musik. Yanti mengoyang-goyangkan tubuhnya mengikuti irama musik yang mengalun.
“Tidak, soft drink saja.” Iqbal mengangkat tangannya memberi isyarat kepada bartender. Yanti menatap Iqbal dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
“Ada apa dengannya, dia sungguh berbeda dari yang aku kenal,” bisik batin Iqbal mengamati sikap Yanti.
“Hei cantik, mari temani aku menari,” seorang lelaki datang menghampiri Yanti dan merangkul pinggangnya.
“Hei, jangan sentuh aku brengsek. Pergi sana!!!” Yanti menolak kuat tubuh lelaki itu dan dia pun pergi dengan kesal.
“Tuan, mau menari denganku,” Yanti mendekati Iqbal, memain-mainkan jarinya di wajah Iqbal.
Tangan Iqbal memegang tangan Yanti, sontak Yanti menarik ke arahnya. Tubuh Iqbal tertarik, dan Yanti dalam pelukannya. Seketika mata mereka berdua saling menyatu. Iqbal hanya diam memperhatikan sikap Yanti. Wajah Yanti mendekat, semakin lama semakin mendekati wajah Iqbal.
“Huweek, huweek,” cairan keluar dari mulut Yanti mendarat di pakaian Iqbal.
“Sial, apa yang kau lakukan?” Iqbal terkejut mendapat perlakuan di luar dugaannya.
Yanti berlari meninggalkan Iqbal yang masih sibuk dengan pakaiannya. Iqbal tersadar, Yanti telah menghilang dari pandangannya. Dia pun bergegas pergi menyusul Yanti.
__ADS_1
Langkah Iqbal telah membawanya meninggalkan diskotek. Napas setengah memburu mengejar Yanti tapi belum dapat menemukannya.
“Kemana dia menghilang?” Iqbal kesal dengan sikapnya yang telah membentak Yanti. Matanya terus mengitari sekitar. Terlihat bayangan wanita berjalan dengan sempoyongan di seberang jalan.
“Bagaimana dia bisa di sana?” Gumam Iqbal melihat Yanti tepat di hadapannya di seberang jalan dengan meninting sepatu dan tas kecil di kedua tangannya.
Iqbal berlari dan menunggu di lampu penyeberangan jalan yang padat dengan kendaraan berlalu lalang. Matanya terus mengamati Yanti yang masih berjalan sempoyongan. Tubuh Iqbal menegang saat dua orang lelaki menghampiri Yanti dan berusaha menggodanya.
“Hei, jangan ganggu aku. Pergi, atau tidak…,” suara Yanti tidak terdengar, mulutnya sudah dibungkam dan tubuhnya dibawa paksa.
“Hei, mau apa kalian, lepaskan aku.” Yanti dibawa ke lorong jalan buntu yang sepi dan gelap.
“Nona, jangan sok suci. Berapa bayaran kamu, atau kamu tidak ingin uang? Kami berdua bisa memuaskan kamu nona,” Kedua lelaki itu berjalan mendekati Yanti dengan tatapan siap menelannya.
“Brengsek, pergi kalian,” suara Yanti meninggi dan bulir air mata mulai mengalir dari sudut matanya. Dirinya berusaha menghindar dan tubuhnya gemetar ketakutan.
Kedua lelaki itu semakin dekat, Yanti sudah tersudut. Dia tidak bisa menghindar lagi. Lalu tangan-tangan jail meraba dengan paksa tubuhnya.
“Hentikan, tolong…tolong,” Yanti berusaha berteriak sekuatnya. Tangan-tangan itu semakin liar menyentuh tubuhnya.
“Brakk, Brukk, Plash,” kedua lelaki asing tersungkur di tanah dengan tidak sadarkan diri. Iqbal menghajar kedua lelaki itu tanpa ampun. Darahnya mendidih melihat perilaku melecehkan wanita.
Yanti menangis terduduk lemas dengan kedua tangan mendekap tubuhnya yang setengah terbuka. Dia tak sanggup mengangkat wajah. Tubuhnya bergetar kuat diselimuti ketakutan.
Iqbal datang menghampiri, menekuk sebelah lututnya ke tanah dan menatap wajah Yanti.
“Ayo, sudah aman. Mari aku bantu.” Tangan Iqbal berusaha meraih tubuh Yanti membantunya berdiri.
“Jangan sentuh aku, tinggalkan aku sendiri,” Yanti menatap Iqbal tajam dengan penuh kebencian.
“Hei, ada apa denganmu? Aku berusaha menolong. Apa kau ingin lebih banyak laki-laki mendekat dengan keadaanmu ini, hah?” Iqbal kesal dengan sikap keras kepala Yanti.
“Menolong? Kau menolongku? Kalian semua laki-laki sama saja. Seperti Indah, setelah menolongnya lalu menjadikan wanita simpanan. Lalu mati, dikelilingi laki-laki di dekatnya?” Air mata Yanti deras mengalir keluar meluapkan kemarahan yang selama ini tertahan.
“Apa yang kau bicarakan?” Suara Iqbal meninggi mendengar ucapan Yanti menghina wanita yang dicintai sahabatnya.
“Ya, dia telah pergi, tapi cerita tentang dirinya akan terus ada dalam ingatan karyawan ****TV. Wanita simpanan Direktur Denny Prasetyo diketahui mati setelah bermalam dengan sekumpulan pria.” Yanti semakin menangis histeris.
__ADS_1
“Spash,” tamparan mendarat di pipi Yanti. Sekonyong-konyong tubuhnya lunglai ke tanah dan tidak sadarkan diri.
“Sial, apa yang sudah ku lakukan. Bodoh kau Iqbal, kenapa tidak bisa menahan dirimu,” Iqbal merutuki diri, dan menyapu kasar rambutnya ke belakang dengan kedua tangan.