Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 76 Kehadiran Sang Pengagum


__ADS_3

Siang hari, Hanna sudah berada di rumah. Sebuah kamar disulap menjadi ruang perawatan layaknya di rumah sakit dilengkapi peralatan medis. Seorang perawat ditugaskan mengawasi kesehatan Hanna. Nama perawat itu Deliana di sapa Deli. Seorang gadis cantik, berkepribadian pekerja keras, bahkan tak segan berlaku curang untuk mendapatkan tujuannya. Sikapnya yang manis dapat menutupi prilaku buruknya itu, sehingga orang-orang di sekitarnya tidak menyadari.


Terlihat Denny sedang menemani Hanna di kamar perawatan.


“Mas, aku tidak butuh semua ini.” Hanna memperhatikan ke seliling ruang. Perasaannya seperti masih berada di rumah sakit.


“Baiklah, kalau kamu tidak nyaman, aku akan membawamu ke kamar kita.” Denny menggendong Hanna mmbawanya ke kamar.


Sepasang mata memperhatikan sikap Denny yang penuh kasih sayang dan perhatian.


Sampai di kamar, perlahan tubuh Hanna dibaringkan di tempat tidur.


“Terima kasih Mas,” Hanna menatap Denny dalam.


“An istirahatlah, aku akan menemanimu,” Denny duduk di samping pembaringan Hanna, mengelus lembut pucuk kepalanya


Hanna menatap Denny, tidak terasa air mata menetes di sudut matanya.


“Mas, terima kasih telah menerimaku.” Hanna berujar dengan berurai air mata.


“An, kamu jangan berpikir macam-macam. Aku akan tetap bersamamu, kau akan sembuh. Tidurlah” Denny menggenggam tangan Hanna dengan hangat.


“Mas, Apakah kau akan memaafkan aku?’”Hanna merasakan kehangatan sentuhan Denny, dirinya sangat bersyukur. Kesempatan yang dirasakannya saat ini didapat karena sebuah pengorbanan.


“Kamu tidak melakukan kesalahan. Malah, mas yang meminta maaf sudah pernah mengabaikan perasaan kamu.” Terlintas kembali di kepala Denny, sikap dingin dan acuh menghiasi saat-saat kebersamaan mereka berdua.


Hanna memiringkan tubuh dan melingkarkan tangan ditubuh Denny, tangisnya tumpah.


“Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku tidak ingin melihat air mata di wajah ini. Aku akan membuat hari-harimu penuh dengan senyuman.” Denny mengusap air mata Hanna, dan mengecup keningnya.


Di waktu yang bersamaan di ruang terpisah. Deli melangkah ke dapur, mendapati Bik Surtik dengan sibuk menyiapkan makanan.


“Permisi,” terdengar suara ramah keluar dari bibir Deli yang dibingkai sebuah senyuman.


“Ya, nona ngapain ke sini? Nyonya panggil bibik?” Bik Surtik menoleh menatap gadis berseragam putih. Berdiri menatapnya seolah-olah ingin memberitahu sesuatu. Dia tahu gadis itu seorang perawat, karena kedatangannya bersamaan dengan kepulangan Hanna dari rumah sakit.


“Ngak kok Bik, nyonya bersama tuan. Saya tidak ingin menggangu mereka, makanya saya ke sini ingin kenalan dengan orang-orang di rumah ini,” ucap Deli mencairkan ketegangan di wajah Bik Surtik.

__ADS_1


“Ohhhh, Nona perawat ingin tahu siapa saja yang tinggal di rumah ini, begitu?” Tanya Bik Surtik berusaha memahami ucapan lawan bicaranya.


“Hem, iya Bik. Panggil saja saya Deli, jangan nona perawat, kedengarannya sangat aneh di telinga saya,” Deli tersenyum, dalam pikirannya membuat simpulan bahwa dirinya akan betah bekerja di rumah itu, apalagi wanita paruh baya di hadapannya terlihat baik.


“Selain tuan, nyonya dan saya. Ada Pak Ipul, dan juga Jali jaga di depan.” Jawab Bik Surtik dengan senyum sumringah.


“Semua tinggal di rumah ini?” Tanya Deli lagi.


“Ya, kami tinggal di rumah bagian belakang. Deli juga tinggal bersama kami. Tuan sudah kasih tahu kamarnya?” Bik Surtik ingin memastikan kalau Deli tinggal juga bersama mereka di rumah ini.


“Belum ada bicara dengan tuan, Bik. Deli nunggu apa kata tuan aja,” Rasa gembira terbit di hati Deli, kesempatannya tinggal di rumah besar itu terbuka lebar. Rumah yang diidam-idamnya sejak lama, besar, mewah dan dilengkapi perabotan berkelas.


Pesawat yang ditumpangi Iqbal dan Yanti tiba sore hari di Jakarta. Terlihat mereka berjalan bersama ke keluar dari bandara.


“Aku tidak bisa mengantarmu, tapi aku akan menghubungi secepatnya,” Iqbal menatap Yanti, walau status kekasih belum mendapat pengakuan, baginya itu tidak masalah. Dia yakin, Yanti juga memiliki perasaan yang sama dengannya.


“Tidak apa, saya bisa naik taksi.” Yanti tahu, Iqbal akan menemui Denny sang pemimpin perusahaan.


Iqbal berjalan menuju sebuah taksi dan membukakan pintu.


“Terima kasih,” Yanti menarik sudut bibirnya menatap Iqbal.


Iqbal pun menjawab dengan sebuah senyuman juga. Setelah sopir taksi memasukkan koper ke dalam bagasi. Sang sopir pun duduk di belakang stir dan menyalakan mesin. Lalu berjalan perlahan dan menghilang dari pandangan Iqbal.


Sedangkan, sebuah mobil sedan hitam telah menunggu Iqbal dan akan membawanya.


Iqbal melangkah memasuki mobil dan duduk di kursi belakang.


“Bawa saya ke tempat Denny,” ucap Iqbal memberi komando.


Mobil melaju membawa ketempat tujuan. Setelah berpacu dilandasan hitam, mobil pun memperlambat kecepatannya memasuki pekarangan rumah Denny. Iqbal keluar dari mobil dan menghayunkan langkah memasuki rumah, melalui pintu yang dibiarkan terbuka.


“Bik, Bik,” Suara Iqbal memanggil, setelah memutar mata tidak mendapati penghuni rumah.


Terdengar langkah kaki tergesa-gesa datang menghampiri. Iqbal pun menoleh ke arah sumber suara.


“Tuan Iqbal, kapan tuan pulang?” Bik Surtik dengan nafas tersengal-sengal mendapati Iqbal berdiri menatapnya.

__ADS_1


“Baru saja Bik, Denny mana?” Tanya Iqbal.


“Tuan di kamar, sebentar saya panggilkan.” Ucap Bik Surtik dan berlalu menuju kamar Denny.


Iqbal memilih duduk di sofa, menunggu kedatangan Denny. Seketika matanya tertangkap sosok yang tidak dikenal berjalan dan mendekat ke arahnya.


“Sore tuan?” Deli berusaha menyapa lelaki yang baru dilihatnya di rumah ini. Tapi sayang, lelaki itu tidak menjawab keramahannya dan hanya menatapnya datar.


“Saya Deli, perawat nyonya Hanna,” Melihat lelaki dihadapannya hanya diam. Deli pun memperkenalkan diri tanpa di minta.


“Perawat, Hanna sakit?” Gumam Iqbal terkejut dengan kata-kata yang baru didengarnya.


“Bal, tunggu aku di ruang kerja.” Denny baru tahu kepulangan Iqbal, seharusnya dia menghabiskan waktu tiga hari mengikuti pertemuan. Tapi hari kedua Iqbal sudah ada di hadapannya.


Mendengar ucapan Denny, Iqbal beranjak dari duduk dan melangkahkan kaki ke ruang kerja.


“Bisa kita bicara sebentar?” ucap Denny mengawali percakapan dengan perawat yang akan menjaga Hanna.


“Baik tuan,” Deli mejawab singkat dan menerima permintaan Denny.


“Duduklah,” Denny melangkah dan mendaratkan tubuhnya di sofa.


Deli menuruti perintah Denny dan duduk berhadapan dengan menatap wajah Denny.


Denny menjelaskan semua keadaa Hanna dan juga tugas yang harus dilakukan Deli. Sayang orang yang diajak berbicara sedang sibuk dengan hati dan pikirannya.


“Wah, laki-laki ini sangat tampan dan juga kaya. Kasihan dia harus menderita memiliki istri yang sedang sekarat,” bisik batin Deli dengan senyum licik terukir di hatinya.


“Apakah kau paham dan bisa melakukan semua dengan baik? Kalau terjadi sesuatu dengan Hanna diluar kemampuanmu, cepat kasih tahu aku,” ucap Denny dengan menatap gadis dihadapannya yang terus tersenyum larut dalam pikirannya.


“Suster Deli, apa ada yang mengganggumu?” Tanya Denny penuh selidik.


“Oh, tidak tuan, saya mengerti dan akan melakukan semua dengan baik.” Ucap Deli tersadar dari lamunan liarnya.


“Baiklah kau begitu, jumpai Bik Surtik dan tanyakan kamar yang sudah dirapikan untuk kamu,” Denny beranjak dan melangkah meninggalkan Deli.


Senyum Deli menatap tubuh belakang Denny dan dia sungguh mengaguminya.

__ADS_1


__ADS_2