
Malam itu Denny menemani Indah. Dia memilih tidur di sofa kamar dan membiarkan Indah beristirahat dengan tenang. Sesekali dia terbangun dan melirik Indah yang tertidur lelap.
“Kak Dino, jangan pergi tinggalkan Indah.” Kata-kata Indah terucap dalam tidurnya.
Denny terbangun mendengar suara Indah seperti memanggil seseorang. Dia mendekat dan menatap Indah.
“Kak, kak Dino tolong Indah, jangan pergi. Bawa Indah Kak.” Indah terus berucap lemah dan menangis Indah dalam tidur.
“ Aku di sini, tidak akan meninggalkanmu Indah.” Denny mengelus kepala Indah pelan dan menenangkan dirinya. Indah meraba-raba seperti ingin memegang sesuatu. Denny pun mengulurkan tangannya. Indah memegang erat tangan itu dan memeluk di dada. Denny tersenyum melihat ketenagan di wajah Indah.
“Siapa Dino? Kakak ,dan di mana dia?” Denny berpikir siapa Dino yang disebut-sebut Indah dalam tidurnya.
Hari pun perlahan menjemput pagi, merayap sinar matahari masuk menerangi kamar. Terlihat Indah masih tertidur. Sedangkan Denny sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Memasak semangkuk bubur untuk Indah. Telah tersedia segelas susu hangat di atas meja makan.
“Nah sudah siap,” Denny tersenyum menatap hasil masakannya.
Denny meletakkan semanguk bubur dan segelas susu di dalam nampan. Berjalan menuju kamar tempat Indah terbaring.
Perlahan Indah membuka mata dan memandang sekeliling. Dia mencoba bangun, tapi terlihat infus melekat di tangannya. Badan Indah terasa sakit semua. Dia berusaha untuk duduk. Denny telah sampai di depan pintu. Melihat Indah ingin duduk, dengan cepat meletakkan nampan dan menghampiri Indah.
“Sini aku bantu,” ucap Denny.
Indah terkejut melihat sosok lelaki ada di dekatnya. Wajah itu tidak asing baginya dan dia berusaha untuk mengingat.
“Kenapa Bapak ada di sini dan saya di mana?” Tanya Indah heran setelah mengenal wajah Denny dan merasakan tubuh yang masih sangat lemah.
“Kamu di apartemenku.” Denny tersenyum menatap Indah.
“Mengapa bisa di sini?” Batin Indah.
Indah memegang kepalanya dan mencoba mengingat apa yang sudah terjadi. Sedikit-sedikit potongan ingatan Indah mulai kembali. Tangannya menarik ujung selimut dan bergeser berusaha menjauhi Denny.
__ADS_1
“Tolong lepaskan saya, Pak. Jangan pukul, saya janji akan melunasi semua hutang kakak saya.” Indah kembali menangis dan tubuhnya gemetar ketakutan melihat Denny.
Denny tidak sanggup melihat ketakutan di mata Indah. Dia mendekat dan memeluk Indah erat.
“Tolong jangan sakiti saya, Pak. Saya akan kerja keras dan melunasi semua hutang kakak saya.” Tubuh Indah gemetar dalam pelukan Denny.
“Indah aku tidak akan menyakiti, aku yang telah menyelamatkan kamu. Jangan takut, aku akan melindungimu.” Mata Denny berkaca-kaca.
Suara Indah tidak terdengar lagi, Denny melepaskan pelukannya dan melihat wajah Indah.
“Indah, Indah kamu kenapa?” Indah tidak sadarkan diri. Denny menjadi khawatir.
Perlahan tangan Denny merebahkan tubuh Indah, dan berjalan meraih ponsel di atas meja. Jarinya sibuk mencari sesuatu, Denny menghubungi Harun kembali.
Denny sangat khawatir, tidak meninggalkan Indah sedetik pun. Suara bel pintu terdengar dan Denny bergegas membuka. Terlihat Harun dan Iqbal telah berdiri di balik pintu, mereka berdua melangkah masuk.
Harun langsung ke kamar dan memeriksa Indah. Denny tak mau ketinggalan turut serta bersamanya.
“Sudah kau bereskan?” tanya Denny kepada Iqbal.
“Beres Den, tempatnya sudah rata dengan tanah,” jelas Iqbal penuh keyakinan menatap wajah Denny.
Iqbal mengambil remote tv dan menyalakan. Denny melihat dan mendengarkan berita kebakaran disebuah diskotik yang terjadi pada dini hari. Kebakaran disebabkan arus pendek listrik. Lalu Iqbal mematikan tv kembali.
Harun menggeleng-gelengkan kepala, melihat dua sahabat di hadapannya.
“Kalian belum berubah, masih tetap gila seperti dulu,” celetuk Harun.
“Hei, kami gila kalau ada yang mengganggu ketenangan.” Iqbal melempar senyum ke arah Harun.
“Hati-hati, jangan ceroboh. Siapa tahu, ulah kalian dicium seseorang,” nasehat Harun memandang Denny dan Iqbal.
__ADS_1
“Tenang, semua sudah teratasi,” senyum Iqbal menatap Denny.
Bertiga mereka duduk di sofa.
“Ternyata, Dino, kakak Indah. Tapi di mana dia, mengapa Indah harus menderita karenanya?” tanya batin Denny.
“Apa yang kau pikirkan Den?” Tanya Harun menatap Denny dengan tatapan datar.
“Di mana dia? Mengapa membiarkan Indah untuk membayar kejahatannya.” Denny menatap jauh.
Harun dan Iqbal saling berpandangan melihat sikap Denny.
“Haus,” ucap Indah.
Denny mendengar suara Indah dan cepat mengambil air yang terletak di atas meja. Lalu mendudukkan Indah dan perlahan memberikannya air minum. Harun memicingkan mata ke arah Iqbal.
“Lihat, tuan muda mulai jatuh cinta,” Ucap Harun.
“Dan, masalah akan segera muncul kembali,” balas Iqbal.
“Kita lihat, apa dia dapat bertahan.” Harun menatap Denny.
“Cinta yang tidak dapat bertahan, sedangkan dia selalu mencintai dan tersakiti,” Ujar Iqbal.
“Kalau begitu, bukan dia yang mencintai tapi harus dicintai seseorang,” Jelas Harun.
“Hanna, wanita yang selalu mencintainya. Tapi dia tidak tertarik,” balas Iqbal menghembuskan nafas berat.
“Ya, kita tahu itu, Denny cinta pertama Hanna dan selamanya. Tapi Denny hanya menganggapnya sebagai adik. Perasaan yang melelahkan.” Harun menyandarkan tubuh di sofa.
“Kita hanya bisa melihat, bagaimana akhir kisah cinta ini, apakah bahagia atau tidak,” balas Iqbal.
__ADS_1
Keduanya seketika terdiam, mereka larut dalam pikiran masing-masing.