
Di tempat lain, Denny dan Hanna masih di dalam mobil, berdua duduk di belakang sopir. Pikiran Denny membayang tangan Indah ditarik.
“Gadis ceroboh, mengapa dia gampang sekali membiarkan tangannnya dipegang laki-laki,” keluh batin Denny. Perasaan tidak suka menjalar di tubuhnya. Dia ingin membuat Indah memikirkannya dengan sikap dinginnya. Sekarang terbalik malah dia yang kepanasan.Tanpa disadari, tangannya mengepal keras menunjukkan kekesalannya.
“Mas, kamu baik-baik saja?” tanya Hanna memperhatikan perubahan sikap Denny.
“Hem,” Denny menjawab dingin.
“Kita ke hotelku ya? Lebih nyaman ngobrolnya ,” Hanna ingin berduaan lebih lama bersama Denny. Karena baginya ini kesempatan langka Denny mau pergi bersamanya.
“Tidak, kamu mengajakku makan siang. Jadi kita ke restoran, aku tidak suka kalau tidak sesuai rencana,” balas Denny datar.
“Iya Mas, maaf aku salah. Mungkin terlalu bahagia karena Mas mau pergi denganku.” Wajah Hanna terlihat sedih. Ternyata keinginannya tidak sesuai hayalannya.
“Jangan merasa bersalah, aku hanya mengingatkan,” balas Denny dengan tatapan dingin ke depan.
Suasana hening, Hanna tidak berani berbicara banyak.
“Mengapa dia marah, sewaktu di kantor, suasana hatinya sangat baik. Apa yang membuatnya berubah begini?” Keluh batin Hanna melihat perubahan drastis sikap Denny.
Sampai di restoran, Denny dan Hanna duduk bersama. Menunggu pelayan membawakan makanan yang sudah mereka pesan.
“Mas, boleh aku bertanya?” Hanna memulai pembicaraan.
“Ya,” Denny menatap Hanna.
“Bolehkah aku mendekati Mas?” dengan gugup Hanna mengutarakan keinginannya.
“An, kamu?” Denny tidak suka dengan pertanyaan Hanna.
“Mas, aku berusaha mendekatimu karena ingin menjadi wanita pendamping hidupmu. Kamu tahu Mas, tidak ada impianku yang lain selain hidup bersamamu. Aku tahu, aku wanita tidak tahu malu, merendahkan diri sendiri di hadapanmu. Tapi aku tidak menyesal, karena aku benar-benar mencintai Mas.” Hanna menatap Denny dalam.
Seketika darah Denny memanas, tidak menyangka Hanna senekat itu mengutarakan isi hatinya. Sebelumnya, dia menuruti ajakan makan siang bersama karena ingin meyakinkan Hanna untuk tidak terpengaruh ucapan mamanya yang menginginkan Hanna menjadi istrinya.
“An, aku tidak selera makan, kamu bisa pulang sendiri. Aku kembali ke kantor, masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan,” Denny beranjak dari duduk melangkahkan kaki.
“Tapi Mas, tunggu,” Hanna mencoba menghentikan tapi langkah kaki telah membawa Denny pergi.
“Mas, kenapa kamu tidak bisa menerimaku? Apa kekuranganku?” Isak Hanna disela tangisnya sepeninggalan Denny.
Indah di ruangannya, duduk di kursi kerja dan mengamati daftar nama tamu VIP yang akan diundang perusahaan menghadiri malam acara ulang tahun perusahaan.
“In, kamu tidak istirahat makan siang?” tanya Yanti menghampiri.
“Duluan aja Yan. Aku belum selesai,” Jawab Indah masih tekun melihat lembaran kertas di tangannya.
“Widih, yang baru liburan, udah kerja lembur ya?”ejek Yanti.
“Enggak kok, aku hanya membuat daftar, untuk mempermudah kerja aja,” Indah membalas dengan senyuman.
“Aku pergi dulu ya, jangan lama-lama, oke?”
Yanti menepuk bahu sahabatnya yang terlihat sangat bersemangat kembali bekerja setelah lama libur.
“Yap, begitu selesai aku langsung nyusul,” Indah tersenyum dan kembali melanjutkan kerja.
Denny telah sampai di perusahaan, suasana hatinya sungguh tidak enak. Karyawan menyambutnya dengan membukakan pintu mobil. Denny melangkah ke perusahaan dan menuju lift.
Pintu terbuka, dia pun melangkah masuk dan lift bergerak membawa Denny.
__ADS_1
Tak beberapa lama lift berhenti dan langkah kaki membawa Denny memasuki ruang kantornya.
Dengan perasaan kesal membaringkan tubuh di sofa.
“Apa yang ada dipikiran Hanna? Dia sudah tahu, dari dulu aku tidak bisa menganggapnya lebih dari seorang adik. Mengapa dia berani mengucapkan itu semua?” Keluh Denny menutup matanya dengan lengan.
Iqbal masuk ke ruangan, dan terkejut melihat Denny sudah terbaring di sofa. Melihat sikap Denny, dia bisa menebak kalau pertemuannya dengan Hanna tidak berjalan baik. Denny menyadari kehadiran Iqbal.
“Bal, aku pusing,” Suara Denny terdengar berat.
“Ada yang bisa aku bantu?” tanya Iqbal duduk di sofa menemani Denny.
“Entahlah. Aku harus bagaimana? Aku tidak ingin menyakiti Hanna, tapi dia tidak bisa memahami perasaanku. Sekalipun aku tidak pernah memberi harapan kepadanya, tapi sikap dinginku malah membuatnya semakin terobsesi kepadaku.” Keluh Denny.
“Kau harus menjelaskan perlahan. Hanna memiliki hati yang lembut. Aku yakin, dia akan berusaha memahami perasaanmu,” Iqbal prihatin dengan perasaan Denny dan Hanna.
“Aku sependapat denganmu, tapi mama selalu memberinya dukungan dan harapan. Bukan Hanna yang menjadi persoalan besar, tapi mama.”
“Bersabarlah, semua ada penyelesaiannya. Perlahan kedua wanita itu akan memahami keinginanmu.”
“Yah, kedua wanita yang sangat dekat dan mempengaruhi hidupku,” suara Denny terdengar pelan karena mulai tertidur lelap.
“Kasihan kau Den, karirmu sukses tapi tidak dipercintaan,” Iqbal membiarkan Denny tertidur dan meninggalkannya.
Hari terus berjalan mendekati malam, Indah telah selesai mengerjakan pekerjaannya.
“Selesai, besok aku sudah bisa memulai semua ini,” menatap kertas di tangannya.
Indah pun siap- siap bergerak pulang.
“Yan, kamu belum mau pulang?” mata Indah memperhatikan Yanti yang masih sibuk dengan komputernya.
“Belum In, besok pagi berita ini akan dibacakan,” wajah Yanti cemberut menatap Indah. Pekerjaannya tidak bisa ditunda sampai besok.
“Ya, hati-hati Non,” balas Yanti.
Indah pun melangkahkan kaki ke luar ruangan.
Denny terbangun dari tidurnya.
“Berapa lama aku tertidur,” Denny menatap jam melingkar di tangan. Tak terasa dia tertidur cukup lama.
“Kemana Iqbal, mengapa dia tidak membangunkanku?” keluh Denny beranjak dari sofa melangkah ke luar kantor masuk ke dalam lift.
Denny merasakan sakit di kepalanya.
“Kenapa kepalaku beneran pusing?” keluh Denny memijat dahinya.
Pintu lift terbuka, Denny menatap Indah telah berdiri di hadapannya.
"Pria ini, kenapa aku harus bertemu lagi?" Rasa kesal menyerang Indah melihat Denny sudah berada di dalam lift.
"Kenapa dia tidak masuk?" Bisik batin Denny menatap Indah berdiri kaku di hadapannya.
Bayangan wajah Hanna seketika hadir di kepala Indah.
"Labih baik, aku menuruni tangga saja," Indah membalik tubuhnya ingin menghindar.
“Masuk,” ucap Denny melihat Indah mencoba menghindar.
__ADS_1
Dengan berat hati Indah berbalik dan melangkah masuk. Pintu lift tertutup, berdua mereka bersama di dalam. Indah berdiri jauh dari Denny.
“Mendekat,” suara Denny terdengar berat.
Indah pura-pura tidak mendengar dan memalingkan wajahnya ke sana ke mari.
Tiba-tiba tangan Indah ditarik, serta merta tubuhnya mendekati Denny dan hawa panas seketika menjalar ke tubuhnya saat wajahnya hampir menyentuh wajah Denny.
“Apa kau ingin dipecat?” bisik Denny di telinga Indah.
“Ti..tidak,” Indah menjawab gugup mendengar ancaman Denny.
Terasa kepala Denny semakin sakit.
“Kau bisa membawa mobil?” tanya Denny.
“Bi..bisa,” jawab Indah.
“Bagus,”
Lift berhenti dan pintu terbuka.
“Ayo jalan,” ucap Denny menarik lengan Indah.
Lagi-lagi Indah tertarik mengikuti langkah Denny.
Sampai di depan pintu mobil, Denny dan Indah menghentikan langkah. Tubuh Denny bersender di sisi mobil.
“Di saku,” perintah Denny.
“Apa?” tanya Indah bingung.
“Kunci mobil,” Jawab Denny.
“Oh, iya,”
Dengan gugup Indah meraba saku baju Denny. Tergaris senyum di bibir Denny merasakan kegugupan Indah, dan semu merah terlihat jelas di wajah Indah.
“Di celana,” ucap Denny.
“Ahh,” Indah terkejut.
“Cepat,” Perintah Denny.
Indah bertambah gugup, tangannya merogoh saku celana Denny.
“Pria ini, Permainan apa yang sedang dilakukannya ke padaku,” Bisik batin Indah.
“Ketemu,” Senyum membingkai wajah Indah.
Tangan Indah menunjukkan kunci ke pada Denny. Kelegaan di rasakan Indah, karena sedari tadi dirinya diselimuti gugup dan perasaan tidak tenang.
“Buka pintunya, kamu yang bawa,” ucap Denny dengan tenang.
Kelegaan di wajah Indah seketika sirna dan terpaku mendengar ucapan Denny.
“Ayo,” ucap Denny memaksa.
“Iiya,” Indah tersadar.
__ADS_1
Denny memasuki mobil, Indah juga menuruti perintah masuk bersama.
Mobil perlahan laju di jalanann. Rasa gugup terus membingkai diri Indah. Berbeda dengan Denny, rasa bahagia menghujam hatinya.