Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 18 Perjanjian Kesepakatan


__ADS_3

Pagi hari di apartemen Denny.


“Ternyata dia wanita penurut juga,” batin Denny memikirkan kejadian tadi malam sambil merapikan dasi di depan cermin.


Indah duduk di kursi makan. Di atas meja sudah terhidang makanan. Dia menunggu Denny untuk sarapan bersama.


“Bagaimana caranya agar Pak Denny mengijinkanku pulang? Dan mengapa Yanti tidak sibuk mencariku. Seharusnya dia khawatir, aku sudah lama tidak datang ke kantor. Atau dia bisa datang ke rumah dan mencariku. Tapi kalau dia tidak menemukanku, mungkin saja dia sudah melaporkan ke kantor polisi. Maka aku mendapat status orang hilang, dong. Bukankah itu menjadi masalah nanti. Bagaimana dengan Pak Denny, kalau polisi menemukanku di apartemen ini?” Kepala Indah menggantung begitu banyak pertanyaan.


Denny melangkah ke luar kamar. Matanya memperhatikan Indah yang duduk termenung.


“Pasti dia masih berpikiran meminta pulang?” Batin Denny mengamati wajah Indah dengan tatapan datar.


“Ehemm,” Denny memecahkan lamunan Indah.


“Ehhh Pak,” Indah berdiri, terkejut dari lamunannya.


“Duduk,” Denny meminta Indah duduk.


Berdua mereka duduk saling berhadapan di meja makan.


“Bisa kita makan sekarang?” tanya Denny menatap Indah yang hanya berdiam diri.


“Iiiya Pak, silakan, “ sapa Indah.


“Kenapa pagi ini, kamu memanggilku dengan kata “Pak” lagi? Aku tidak suka mendengarnya,” tanya Denny.


“Maaf, karena anda atasan saya. Dan itu tidak boleh saya lupakan,” Indah mencoba memberanikan diri.


“Ini di rumahku, bukan di kantor,” balas Denny.


“Walaupun begitu, anda tetap atasan saya,” Indah menatap Denny.


“Kamu mau berdebat sepagi ini bersamaku?” Suara Denny mulai meninggi.


“Tidak ,saya hanya ingin mengingatkan diri saya. Jangan sampai lupa kalau anda atasan saya,” Jawab Indah lagi menatap Denny.


“Sudah, aku tidak selera makan. Kamu makan saja sendiri,” Denny beranjak dan melangkah pergi.


“Tunggu, jangan seperti ini. Kita belum selesai bicara,” Indah berusaha menahan Denny.


“Tidak, aku tidak ingin berbicara denganmu,” Denny berbicara tanpa membalikkan tubuhnya dan melanjutkan langkahnya menuju kamar.


“Sial, apa yang harus ku lakukan. Aku tidak bisa membiarkannya pergi,” di kamar Denny melepaskan amarahnya.


“Dia selalu begitu, menghindar kalau ku pancing berbicara serius. Sekarang dia tidak mau makan. Ya sudah, aku makan saja sendiri,” Indah merutuki Denny, dan duduk menikmati makanan.


Tak beberapa lama Denny ke luar kamar dan melangkah pergi tanpa melihat Indah sedikit pun.


“Lihat, jangankan berbicara, melihatku pun tidak.” Gerutu Indah menatap kepergian Indah.


Di mobil Denny memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya.


“Ada apa? Tanya Iqbal menatap Denny di balik kaca spion.


“Aku pusing, Indah ingin pulang. Berkali-kali dia meminta, tapi aku melarangnya.” Denny berujar dengan suara beratnya.

__ADS_1


“Apa ku bilang, dia gadis yang berbeda. Kalau gadislain, mungkin akan bertahan bersamamu selamanya.” Ucap Denny melirik Denny dari kaca spion.


“Mengapa, apa ada yang salah dengan diriku di matanya?” tanya Denny menyatukan alis matanya.


“Dia merasa kau mengurungnya, karena dia tidak bisa ke mana-mana. Selama ini, dia mempunyai kehidupannya sendiri. Seperti rumah, pekerjaan, keluarga dan sahabat-sahabatnya. Dan sekarang, itu tidak ada lagi bersamanya. Sampai kapan dia seperti itu?” Tanya Iqbal.


“Apa aku tidak bisa menggantikan itu semua baginya?” Balik Denny bertanya.


“Tidak, karena dia tidak tahu mengapa dia harus tinggal bersamamu,” Jelas Iqbal.


“Karena aku menginginkannya,” Balas Denny enteng.


“Baiklah, kalau bergitu, utarakan segera keinginanmu itu,”


“Aku akan segera mengutarakannya,” balas Denny penuh keyakinan.


Hanna telah sampai di kantor Denny lebih awal.


“Hari ini aku khusus datang membawa makanan ini, semoga mas Denny menyukainya,” Hanna menatap kantong makanan di tangannya.


Iqbal telah sampai, di depan kantor, sekretaris Denny menahan langkah mereka berdua.


“Maaf Pak, Nona Hanna sudah menunggu di dalam,” Terlihat kekhawatiran di wajahnya takut Denny Marah karena tidak bisa menahannya masuk.


“Sudah lama?” tanya Iqbal melirik jam di pergelangan tangannya.


“Sudah, sekitar 1 jam,” menjawab dengan wajah tertundukk.


“Baik, terima kasih,” balas Denny melangkah meninggalkan seketaris kantornya.


“Bagaimana, apa yang akan kau lakukan? Apa hari ini kau akan menghindarinya lagi?”tanya Iqbal menatap Denny.


“Hai Mas, maaf, aku sudah masuk duluan,” Hanna memasang wajah senyum menyambut Denny dan Iqbal.


“Hai An, bawa apa ini?” tanya Iqbal menghampiri Hanna.


Denny duduk di kursi kerjanya, pikirannya kembali kepada Indah.


“Baik, kalau dia ingin pulang, aku izinkan tetapi dengan syarat,” senyum menggaris di bibir Denny.


“Mas, kelihatannya senang sekali pagi ini, apa karena kedatanganku?,” Hanna bertanya, memelihat Denny tersenyum.


“Tentu, apalagi dibawakan makanan, benarkan Den?” Iqbal melirik Denny.


“Kamu makanlah temani Hanna, aku ada urusan,” Denny melangkah ke luar.


“Tapi Mas…, Hanna hanya dapat mengiringi kepergian Denny dengan tatapannya.


Iqbal tidak menghiraukan Denny, dia menikmati makanan pemberian Hanna.


Denny memilih pulang ke apartemen dengan mengendarai mobil sendirian.


Indah masih di dapur membersihkan piring.


“Siapa yang datang, atau Pak Denny? Kenapa dia kembali pulang, apa ada yang tertinggal? Terserah, aku tidak mau perduli,” Indah tetap melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


Denny membuka pintu dan melangkah masuk. Melihat Indah masih di dapur. Denny duduk di sofa dan menunggu Indah.


“Mengapa dia duduk di situ, apa dia menunggu ku?” bisik Indah, menatap Denny sibuk dengan ponselnya.


“Baiklah, mungkin dia menungguku,melanjutkan pembicaraan tadi,” Indah melangkah mendatangi Denny yang duduk di sofa.


Denny melirik, terlihat Indah berdiri sedang menanti dirinya.


“Pak, bisa kita berbicara. Ada yang mau saya sampaikan,”


“Baiklah, saya mendengarkan,” Denny menatap wajah Indah dalam.


“Pak, izinkan saya pulang, saya tidak ingin orang beranggapan tidak baik tentang Bapak dengan adanya saya di sini. Saya berterima kasih sudah sangat baik, selama tinggal di sini. Kebaikan itu tidak akan saya lupakan seumur hidup.”


“Kamu pikir kebaikan aku, cukup dengan ucapan terima kasih saja?”


“Maksud Bapak?”


Indah terkejut mendengar ucapan Denny. Melihat reaksi Indah, Denny menahan perasaannya. Dia belum mampu mengutarakan. Dia ingin Indah tetap tinggal bersamanya. Denny tahu Indah tidak menyadari kalau dia mulai menyukainya.


“Kamu bilang, kamu akan membayar semua hutang-hutang kakakmu, setelah saya datang menolong, bukan begitu?”


“Ii iya Pak,”


Sekali lagi Indah terkejut mendengar perkataan Denny. Jantungnya berpacu cepat, hawa dingin seketika menjalar ke seluruh tubuhnya.


“Dengan apa kamu mau membayarnya?”


Mata Indah membesar melihat ke arah Denny.


“Saya akan berusaha membayar dengan uang gaji saya,”


“Haa-haa-haa,”


Tawa Denny seketika pecah. Indah takut melihat sikap Denny. Denny menatap wajah Indah. Mata mereka saling berpandangan.


“Aku ingin kamu membayarnya dengan mencintaiku Indah,” bisik hati Denny.


Indah tidak sanggup menatap lama mata Denny. Indah memilih menundukkan wajahnya.


“Sampai berapa lama kamu bisa membayarnya, seumur hidup pun kamu tidak bisa membayanya. Selain hutang kakakmu, kamu juga berhutang lain dari saya. Kamu tahu utang apa itu? Nyawamu,”


Indah semakin gemetar mendengar penjelasan Denny.


“Jangan takut, saya tidak meminta uang dan nyawa kamu. Saya belum tahu dan masih memikirkannya. Kalau saya sudah tahu, kamu harus bersiap-siap dan tidak boleh menolaknya. Kalau kamu bersedia, saya akan mengijinkan kamu pulang, Bagaimana?”


“Iya Pak, saya akan berusaha semampu saya,”


“Ingat janjimu, Aku tidak suka orang yang tidak menepati janji. Aku bisa menolong kamu, tapi juga sebaliknya. Aku harap, kamu paham maksudku!”


“Iya, Pak. Saya tidak pernah lupa akan janji. Hidup saya menjadi jaminannya.


“Baiklah, kita sudah membuat kesepakatan. Besok kamu aku antar pulang.”


“Terima kasih, Pak.”

__ADS_1


“Eh-eh-eh, saya tidak ingin mendengar ucapan terima kasih, ingat itu!”


Denny beranjak bangun dan berjalan menuju pintu. Terdengar suara nafas panjang dilepaskan Indah saat Denny melangkah. Denny menyematkan senyuman di wajahnya dan pergi ke luar meninggalkan Indah.


__ADS_2