
“Fashback On”
Hanna kembali ke rumah papanya di negara Singapura, setelah mengetahui Denny menikahi Indah.
“An, kamu datang? Mana Mama Denny dan Denny, mereka tidak ikut bersamamu?” Tanya Pak Sudrajat papa Hanna melihat Hanna tiba di rumah sambil menyeret tas koper. Wajah sedih terlihat jelas, dengan tatapan sendu. Sebelumnya, Hanna sudah memberi kabar kepada papanya, kalau dia, mama Denny, dan Denny akan berencana pergi liburan bersama. Hanna juga akan mengajak mereka berkunjung ke rumahnya di Singapura.
“Hanna rindu Papa, rindu rumah,” Hanna memeluk erat dan menangis di bahu papanya.
“Kalau kamu rindu, kenapa ngak telpon kasih kabar, papa akan datang. Kamu ada masalah dengan Denny?” Lembut tangan Papa Hanna mengusap tubuh belakang putri kesayangannya.
Hanna tidak menjawab, wajahnya semakin tenggelam dalam pelukan.
“Semua permasalahan dapat diselesaikan dengan kepala dingin, jangan mengikuti perasaan.” Sudrajat berusaha memberikan pengertian kepada Hanna. Dia dapat merasakan kalau anak tersayangnya itu sedang dirundung masalah.
“Hanna hanya ingin sendiri saat ini, papa masih mau menerima Hanna di rumah inikan?” Tanya Hanna menatap wajah ayahnya. Hanna merasa seolah-olah seluruh dunia telah menolaknya. Denny yang dia cintai telah menikah dengan gadis lain. Hatinya sangat hancur.
“Ha..,Ha…,Ha…, Kenapa kamu bicara seperti itu? Rumah papa adalah rumah kamu dan selalu terbuka lebar untuk kamu sayang.“ Sudrajat mengelus pucuk kepala Hanna dan menatap penuh kasih sayang. Tapi terasa hawa panas menyengat tangannya saat menyentuh dahi Hanna.
“Terima kasih Pa,” Hanna sangat menyayangi Papanya yang selalu ada mendukungnya.
“Hem. An, kamu sakit, badanmu panas?” Sudrajat menyentuh pipi Hanna, terasa panas di punggung tangannya.
“Hanna hanya capek Pa. Hanna mau istirahat sekarang,” Hanna menarik tubuh Sudrajat berjalan menghantarnya ke kamar.
Setelah dua hari kepulangan Hanna, rasa panas di tubuhnya tidak juga mereda bahkan bertambah parah. Sudrajat membawa Hanna ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan. Hanna mendapatkan perawatan di rumah sakit.
“Maaf Pak, berdasarkan laporan hasil pemeriksaan, “Hanna Falisha Sudrajat,” menderita leukimia sadium dua.” Ujar Dokter Stiven Chou melihat lembar laporan hasil pemeriksaan laboratorium Hanna.
Wajah Papa Hanna menegang, rasa terkejut menyelimutinya. Dia tidak menyangka akan mendengar kata-kata itu setelah mama Hanna meninggal karena penyakit yang sama.
“Apa yang harus dilakukan? Pengobatan sekarang sudah maju, penderita leukimia juga banyak yang bisa sembuh.” Papa Hanna optimis, kalau putrinya bisa sembuh. Dia sangat berharap, dokter memiliki solusi akan penyakit putrinya.
“Ya, kalau nona Hanna mengikuti proses pengobatan yang kita rencanakan seperti terapi dan penggunaan obat. Semoga sel kankernya tidak menyebar dan mencegahnya berkembang di organ tubuh yang lain.” Dokter Stiven memberikan harapan kepada Papa Hanna, karena penyebaran sel kanker Hanna masih rendah dan kemungkinan bisa dicegah.
“Baik, lakukan. Hanna akan mengikuti semua prosedur pengobatan,” Papa Hanna menatap dokter Steven dalam, keinginannya sangat besar yaitu berharap Hanna sembuh.
Di ruang perawatan, Hanna duduk bersandar di kepala tempat tidur, Sudrajat melangkah datang mendekat. Hanna menatap papanya dengan langkah gontai. Lalu duduk di tepi tempat tidur.
“An, papa harap kamu sabar.” Sudrajat menatap sendu wajah Hanna. Dirinya tidak sanggup melihat Hanna sedih setelah mendengar kondisi kesehatannya.
“Ada apa Pa?” Hanna menatap lekat wajah Papanya. Perasaannya tidak enak, melihat tatapan yang tertuju padanya.
__ADS_1
“An, dokter mengatakan, kamu menderita leukimia.” Surajat menggenggam erat tangan putri kesayangannya dengan mata berkaca-kaca.
“Pa, Hanna sakit leukimia? Kenapa Pa, Hanna salah apa? Kenapa Tuhan memberikan cobaan yang semakin berat? Hanna akan mati Pa? Umur Hanna berapa lama lagi Pa?” Hanna terkejut dan menarik tangannya. Air mata tumpah meluahkan rasa sedih sambil kedua tangan memukul-mukul pahanya.
Sudrajat hancur melihat kesedihan Hanna, dengan lembut menarik Hanna dan memeluknya.
“An, kamu bisa sembuh, kita akan melakukan perobatan. Papa akan mengusahakan apa saja agar kamu sembuh.” Sudrajat meneteskan air mata melihat kesedihan dan kedukaan putri kesayangannya.
Hari berikutnya, Hanna bersedia melakukan perobatan. Bermacam obat disuntikkan ke tubuh Hanna. Rasa sakit tak terkira seperti terbakar dirasakan di seluruh tubuhnya. Hanna meringis kesakitan, mual dan muntah mengiringi hari-harinya. Hanna ingin menyerah tidak sanggup menahan sakit. Sudrajat tetap bersamanya memberi kekuatan, walau hatinya sangat sedih melihat penderitaan putrinya.
“Flashback Off”
Denny menarik Hanna dalam dekapannya. Dia sangat sedih menyadari kenyataan pahit yang dialami istri dan calon bayinya.
“Denny, aku tingggalkan kalian berdua, kalau sudah tenang datanglah ke kantorku,” Harun melangkah ke luar ruangan meninggakan Denny dan Hanna. Mereka berdua membutuhkan waktu bersama.
“An, kenapa kamu rahasiakan dariku? Aku sangat bersalah, kamu harus memikul penderitaan ini sendiri.” Denny melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Hanna.
“Mas, jangan berkata begitu, kamu tidak salah apa-apa. Aku yang menginginkan ini semua. Tolong biarkan bayi ini hidup walau apapun yang terjadi.” Hanna tidak ingin bayinya menjadi korban akibat penyakit yang dideritanya.
Denny merangkul Hanna kembali, dan berdua mereka menangis dalam kesedihan mendalam.
Di ruangan lain, Harun duduk di kursi kerja memperhatikan kertas di tangannya.
“Tok, Tok, Tok,” terdengar suara ketukan. Harun mengalihkan pandangan ke arah pintu.
“Masuk,” terdengar suara Harun memberi ijin seseorang untuk masuk ke ruangan.
Pintu terbuka, terlihat Denny berdiri di balik pintu dan melangkah masuk.
Di ruangan Hanna.
“Bik, lihat ponsel saya?” Hanna berusaha mengingat di mana dia menyimpan ponselnya. Dia ingin menghubungi seseorang.
“Oh, ini nyonya. Ponselnya ada di dalam saku baju nyonya. Jadi bibik ambil dan simpan, takut nanti tuan Denny menelpon ngak ketahuan.” Bik Surtik meyerahkan ponsel ke pada Hanna.
“Terima kasih Bik.” Hanna mengambil ponsel dari tangan Bik Surtik. Terlihat jarinya menari-nari di layar ponsel.
“Hallo,” suara Hanna bergetar menyapa orang di seberang.
“Mas Denny sudah mengetahui penyakitku, aku bingung harus bagaimana. Apa aku menyerah saja sekarang?” Air mata Hanna kembali menetes di ujung matanya.
__ADS_1
Lama Hanna terdiam, mendengar suara orang di seberang berbicara dengan air mata terus berurai.
Di ruangan Harun.
“Harun, aku tidak ingin bertanya berapa lama lagi kesempatan Hanna hidup, jadi tolong Hanna dan bayinya. Aku ingin keduanya selamat,” Denny menatap dalam wajah Harun di hadapanya.
“Denny, aku turut prihatin dengan keadaan ini, tapi aku tidak bisa menjanjikan apapun. Kita hanya bisa berusaha, selebihnya berserah diri kepada Tuhan, karena Dia yang telah menentukan segalanya.” Harun sedih mendapati sahabatnya harus menerima kenyataan berat ini.
“Apa yang harus dilakukan, lakukanlah, aku akan mendukung sepenuhnya,” Denny tahu sahabatnya itu akan berusaha menolongnya.
“Hanna harus melakukan operasi donor sumsum tulang belakang atau terapi kemoterapi, tapi karena kehamilannya itu tidak bisa dilakukan. Tindakan pertama yang bisa dilakukan adalah transfusi darah. Kita harus menaikkan sel darah merah yang terus berkurang. Semoga Hanna bisa bertahan sampai dia melahirkan,sehingga terapi akan bisa dilakukan secara bertahap.” Harun menjelaskan proses pengobatan yang harus di lakukan Hanna, mengingat dia sedang hamil.
“Lakukanlah, aku akan mencari darah sebanyak mungkin agar istri dan anakku bisa selamat,” Denny menatap jauh ke depan pikirannya hanya tertuju mengusahakan Hanna bisa sembuh.
Di ruangan Hanna.
“Terima kasih dan mohon maafkan untuk semua yang telah aku lakukan. Kebaikanmu akan aku bawa sampai aku mati,” Hanna mengakhiri pembicaraan, dengan tangis yang terus terisak dari bibirnya.
“Nyonya, tenang dan sabar. Ingat bayi di dalam, dia juga sedih kalau mamanya sedih,” Bik Surtik berusaha menghibur dan menenangkan Hanna.
Hanna hanya mampu menatap bik Surtik dengan kesedihan, karena Bik Surtik tidak paham apa yang sedang dialami Hanna saat ini. Bibirnya belum sanggup berujar untuk menjelaskan semua.
÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷
Hai reader, untuk yang muslim
aku mau ucapkan, Assalamua'alaikum Wr, Wb.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Shawal 1441 H.
Mohon maaf lahir dan bathin.
Kalau ada kata- kata aku tidak berkenan dalam cerita novel "RASA CINTA TAK PERNAH HILANG" aku dengan mengangkat sepuluh jari memohon maaf.
Dan harapan aku, reader semua setia membaca dan menantikan kelanjutan keseruan percintaan Denny dan Indah.
Jangan lupa juga saran yang membangun di kolom komentar, serta like dan vote yang banyak.
Terima kasih.
Wasaalamua'laikum Wr, Wb.
__ADS_1