
Denny dan Hanna di dalam mobil yang sama, menghantar mereka menuju arah pulang. Mama Denny memaksa mereka berdua pulang bersama-sama, tidak mengijinkan Denny kembali ke kantor. Kebisuan menerkam, tidak ada satupun diantara mereka membuka cerita. Pandangan Denny dan Hanna tertuju ke arah jalanan dengan larur dalam pikiran masing-masing.
Mobil pun telah menghantar Hanna dan Denny tiba di rumah. Bik Surtik dengan berlari-lari kecil membukakan pintu. Menatap kedua wajah majikannya yang dingin tanpa cahaya keceriaan. Denny dan Hanna melangkah masuk langsung menuju ke dalam kamar.
“Ada apa dengan mereka berdua? Bukannya baru pulang makan malam bersama, seharusnyakan bahagia, tapi kenapa keduanya lesu begitu,” Bik Surtik menatap heran dengan menggeleng-gelengkan kepala.
Denny telah lebih dulu selesai dari mandi, memakai baju kaos dan celana panjang jeans, melangkah ke luar kamar dengan mengambil kunci mobil dari atas meja nakas. Tanpa bicara sepatah kata pergi membawa mobil. Hanna hanya menatap sedih, tanpa diundang air mata menetes dari sudut matanya.
Bik Surtik lagi-lagi berlari kecil mendatangi kamar nyonya majikannya.
“Tok, Tok, Tok,” pintu kamar terdengar diketuk dari luar.
“Nyonya, ini Bik Surtik,” suara Bik Surtik memanggil Hanna yang masih menangis di tepi ranjang.
“Ada apa Bik? Masuk saja,” Hanna menjawab dengan suara yang tersekat.
“Nyonya, pesan tuan. Jangan menunggunya.” Bik Surtik menatap Hanna yang masih menangis, hatinya tersentuh melihat kesedihan Hanna. Dia tahu perjalanan pernikahan majikannya tidak bahagia. Dia juga tahu, Denny tidak mencintai Hanna dan Hanna selalu berusaha membuat Denny menyukainya. Terkadang Bik Surtik tidak sabar, melihat Hanna berpura-pura bahagia di depan Nyonya Besar. Tapi apa daya, dia hanya seorang pembantu tidak boleh mencampuri urusan majikannya.
“Iya Bik, terima kasih,” Hanna menyeka air matanya yang tidak mau berhenti mengalir.
“Mau bibik buatkan teh hangat, biar segar?” Bik Surtik berusaha menghibur Hanna.
“Ngak usah. Bik aku boleh tanya?” Hanna ingin mengalihkan perasaan sedihnya berbicara dengan Bik Surtik. Selama tinggal di rumah ini, Bik Surtiklah temannya bercerita. Hanna memang terlahir dari keluarga kaya dan besar di luar negeri, tapi dia tidak suka pergi jalan-jalan dan berfoya-foya.
“Nyonya muda, mau tanya apa?” Bik Surtik datang mendekat dan duduk bersimpuh di bawah menatap Hanna.
“Bibik sudah menikah dan mempunyai keluarga?” tanya Hanna dengan suara lemah.
“Ya sudah, Nyah. Saya sudah pernah menikah, bahkan sampai tiga kali, he, he, he,” Bik Surtik tertunduk malu menjawab pertanyaan Hanna.
“Wah, Bik Surtik hebat juga. Kok bisa sampai tiga kali?” Tanya Hanna penuh rasa ingin tahu.
“Suami pertama pergi merantau ke luar negeri. Katanya di sana kerja. Eh, tahu-tahunya menikah lagi, ya Bibik minta cerai. Suami kedua, katanya duda ditinggal mati. Begitu setahun nikah, ada perempuan datang ngaku-ngaku istrinya dan bawa anak tiga. Yah, bibik suruh pergi sama perempuan itu, dari pada ngasi makan anaknya tiga orang tambah dia juga ngak ada kerja. Suami ketiga, nah ini suami beneran bibik. Tapi sayang, dia pergi ninggalin bibik.” Bik Surtik tertunduk dalam, berhenti berbicara.
__ADS_1
“Pergi dengan perempuan lain Bik?” Tanya Hanna heran menatap Bik Surtik sedih.
“Ngak, dia meninggal karena kecelakaan kerja. Jatuh dari ketinggian, suami bibik pekerja bangunan. Padahal orangnya baik, rajin dan sayang sama bibik, tapi jodoh kami tidak lama.” Air mata Bik Surtik menetes di sudut matanya.
“Maaf Bik, sudah buat bibik sedih.” Hanna tidak menyangka pertanyaannya membuat Bik Surtik terkenang kembali suami tercintanya.
“Ngak apa, orang baik memang nyawanya pendek. Bibik sayang, tapi Tuhan lebih sayang dengan dia.” Bik Surtik menyeka air matanya dan berusaha tersenyum.
“Anak-anak bibik di mana?” Tanya Hanna kembali.
“Bibik, ngak punya anak Nyonya. Mungkin bibik perempuan mandul, dari tiga kali menikah tidak punya keturunan.” Bibik tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
“Maafkan saya, udah banyak tanya masalah pribadi bibik,” Hanna tertunduk dan menyesal menanyakan masalah pribadi Bik Surtik.
“Wah, nyonya jangan merasa bersalah. Bibik, ngak apa-apa, sudah ikhlas menerima nasib seperti ini. Kita hanya menjalankan hidup yang sudah di atur Yang Maha Kuasa,” Bik Surtik tersenyum menatap Hanna.
“Apa nasib baik juga tidak berpihak sama saya Bik?” Tanya Hanna dengan mata berkaca-kaca.
“Maaf, Nyonya jangan menyalahkan nasib. Kita menjalankan dan berusaha berbuat yang terbaik.”Bik Surtik berusaha membangkitkan percaya diri Hanna.
“Nyonya belum berusaha dengan sepenuhnya mendapatkan tuan Denny.” Bik Surtik menjawab penuh keyakinan.
“Belum berusaha penuh bagaimana?” Hanna masih tidak mengerti ucapan Bik Surtik.
“Nyonya cantik dan menarik, tapi tidak nyonya manfaatkan itu. Bibik perhatikan, baju nyonya semuanya serba tertutup. Kalau di luaran ya wajar, tapi kalau berdua di dalam kamar bersama tuan, pakai pakaian mencolok yang membangkitkan gairah gitu, masak nyonya ngak paham,” Bik Surtik mencoba memberi cara memikat Denny kepada Hanna.
“Ngak akan berhasil Bik, Mas Denny itu berhati sedingin es.” Hanna tertunduk mengingat tatapan dingin mata Denny.
“Nyonya ini bagaimana, belum dicoba udah nyerah duluan. Es aja kalau kepanasan cair jugakan?” Bik
Surtik memainkan mata genit menatap Hanna. Wajah Hanna tersenyum melihat tingkah Bik Surtik.
“Apa bisa berhasil Bik? Tapi, kalau tidak berhasil saya akan malu?” Tanya Hanna ragu.
__ADS_1
“Kalau ngak dicoba, bagaimana bisa tahu. Nyonya coba dulu, kalau ngak berhasil kenapa harus malu, tuan Denny suami nyonya bukan suami orang. Kalau ngak berhasil cara itu, masih banyak cara yang lain.” Bik Surtik berusaha menyemangati Hanna.
“Tapi dia tidak mencintai saya Bik, hatinya sudah milik orang lain.” Hanna benar-benar tidak bisa berpikir meluluhkan hati Denny walaupun hanyamengharap secuil cinta untuknya.
“Nyonya, cinta datangnya bisa belakangan. Yang penting tindakan awal harus berkesan dan membekas,” Bibik menjelaskan penuh keyakinan. Hanna menatap Bik Surtik, apa yang disampaikan mungkin patut dicoba pikir Hanna.
Denny telah sampai di apartemen miliknya. Dirinya memilih akan tidur di tempat itu malam ini. Sebelumnya, dia menelpon Iqbal meminta datang menemuinya. Tidak beberapa lama Iqbal pun telah sampai, terdengar suara bel berbunyi. Denny membukakan pintu dan Iqbal melangkah masuk dengan perasaan tidak enak.
“Ada apa, kenapa kamu ke sini? Sudah lama kamu tidak datang ke sini? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” Tanya Iqbal penuh selidik menatap wajah Denny yang murung.
“Mama mulai berulah lagi,” ucap Denny datar, duduk menyandarkan tubuh di sofa.
“Berulah bagaimana? Apa dia ingin memisahkan kamu dengan Hanna dan menjodohkan dengan wanita lain? Iqbal menghujani Denny dengan pertanyaan karena tidak mengerti masalah yang dihadapi Denny.
“Mama menginginkan anak dari aku dan Hanna,” Denny masih berbicara datar.
“Wah, itu bukan berulah namanya, itu hal yang wajar seorang ibu menginginkan cucu dari anaknya.” Iqbal lega mendengar perkataan Denny, dia menyangka Denny sedang dilanda masalah besar.
“Wajar bagi orang lain, tidak bagi kami,” Denny tidak bisa membayangkan melakukannya dengan Hanna.
“Denny, kamu tidak bisa memperlakukan Hanna seperti sekarang ini. Dia sudah sangat baik, memahami keadaan kamu dan memahami kedudukannya di hati kamu. Terimalah dia, sebagai suami kamu bertanggung jawab memenuhi nafkah lahir dan batinnya. Kamu juga bertanggung jawab kalau dia sampai melakukan hal-hal yang tidak benar.” Iqbal berusaha meyakinkan Denny.
“Hal yang tidak benar bagaimana?” Denny tidak mengerti maksud ucapan Iqbal.
“Kalau dia sampai selingkuh mencari kepuasan dengan pria lain. Tapi aku yakin dia tidak akan pernah melakukannya, karena cintanya hanya untuk kamu. Terbukti sampai saat ini dia bersabar dengan kamu.” Iqbal berbicara terus terang apa adanya.
“Aku belum sanggup melakukannya, hatiku belum bisa. Aku ingin dia menyerah dan pergi meninggalkan aku” Denny memejamkan kedua matanya.
“Denny, kamu harus berusaha menerimanya. Dia tidak bersalah, salah dirinya hanya terlalu mencintai kamu. Kalau dia menyerah, sudah lama dia lakukan. Tapi, dia tetap memilih bertahan menunggu kesempatan yang kamu berikan untuk cintanya. Pulanglah, jangan bermalam di sini, Hanna menunggumu, paling tidak jangan membuatnya khawatir,” Iqbal menatap kebisuan Denny.
Malam semakin larut, Denny mendengarkan ucapan Iqbal, dirinya melangkah masuk ke dalam kamar. Terlihat Hanna sudah terbaring di ranjang tertidur lelap. Mata Denny menatap Hanna, terlihat sembab melingkar di mata Hanna dan perasaan bersalah menyelimuti dirinya.
“An, tidak seharusnya kamu mencintai aku. Rasa cintamu hanya membuat aku semakin merasa bersalah. Aku tidak akan bisa mencintaimu, maafkan aku,” Lirih batin Denny menatap paras lembut Hanna.
__ADS_1
Denny membaringkan tubuh di samping Hanna, dan berusaha memejamkan mata. Pikirannya melayang-layang mengingat ucapan mama dan Iqbal. Sampai akhirnya, dia pun tertidur .
Hanna menyadari kepulangan Denny, dia berpura-pura tidur. Rasa khawatirnya membuat tidak bisa tidur. Mendengar Denny membuka pintu, Hanna pun memejamkan mata. Perlahan Hanna membuka kelopak mata, senyum di sudut bibirnya menatap Denny berada dekat. Kekhawatirannya hilang, menatap wajah teduh Denny yang telah tertidur.