
Pemakaman telah selesai, Denny, mama, dan papa Hanna meninggalkan areal pekuburan bersama. Iqbal mengikuti langkah mereka dari belakang. Dia melihat Yanti dan Deli melangkah mendekatinya. Denny melirik dari sudut matanya.
“Bal, kamu pakai mobil itu, biar papa dan mama sama aku,” Ucap Denny menunjukkan mobil yang harus dibawa Iqbal. Dia tahu, Yanti adalah gadis yang disukai Iqbal. Anggukkan kepala Iqbal menuruti perintah Denny.
“Hai, apa kabar?” sapa Yanti menatap Iqbal. Semenjak kejadian lamaran tidak terduga itu, Iqbal tidak pernah menghubunginya.
“Baik,” jawab Iqbal singkat dengan tatapan datar.
Yanti mengumpulkan beranian mendekati dan menyapa Iqbal. Melihat reaksi Iqbal yang dingin, dia menarik kesimpulan kalau Iqbal telah berubah dan tidak tertarik lagi dengannya.
“Maaf telah mengganggu. Aku hanya sekedar menanyakan kabar, permisi.” Yanti tidak ingin berlama-lama melihat sikap Iqbal. Dia menarik tangan Deli dan melanjutkan langkah menghampiri mobilnya.
Seketika tangannya tertahan, saat membuka pintu mobil.
“Kau buru-buru?” Tanya Iqbal menatap Yanti dalam.
“Hem…,” Yanti menggelengkan kepala.
“Temanmu bisa membawa mobil?” Tanya Iqbal menatap Deli berdiri di seberang pintu mobil yang lain.
“Pergilah, luruskan masalah kalian,” Deli memutar menghampiri Yanti dan mengambil kunci mobil dari tangan Yanti.
“Ayo ikut denganku,” Iqbal berjalan menuju mobilnya.
Yanti menatap Deli yang mengangukkan kepala memberi isyarat agar menuruti Iqbal. Langkah kaki Yanti membawanya masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Iqbal. Deli melajukan mobil meninggalkan Yanti dan Iqbal di belakangnya.
Mobil Iqbal terparkir di depan sebuah restoran. Terlihat Iqbal dan Yanti duduk dalam satu meja.
“Masalah apa yang dimaksud temanmu?” Tanya Iqbal mengawali percakapan menatap wajah Yanti.
“A..aku, tidak tahu,” Yanti terdengar gugup menjawab.
“Kau memikirkanku?” Tanya Iqbal lagi menatap dalam.
“Tidak”, Jawab Yanti cepat dan membalas tatapan mata Iqbal.
“Kau merindukanku?” Tanya Iqbal semakin cepat.
“Tidak,” Yanti tidak mau kalah cepat menjawab pertanyaan.
“Kau menolakku?” Tanya Iqbal lagi.
“Tidak,” Jawab Yanti.
__ADS_1
“Kau mau menikah denganku?” Tanya Iqbal lagi.
“Ya, aku mau,” Jawab Yanti dengan meneteskan air mata.
“Tapi kenapa kau menangis?” Tanya Iqbal dengan menarik senyum di sudut bibirnya.
“Kau menyiksaku dengan perasaan ini. Ya, aku memikirkanmu, merindukanmu, membencimu dan ingin menolakmu, tapi hatiku tidak mau melakukannya. Aku kesal setengah mati, kau tidak menghubungiku,” Yanti menangis sejadinya meluahkan beban yang menghimpit dan menyesakkan hatinya.
“Dasar gadis bodoh, aku tidak ingin memaksamu. Aku sengaja melakukannya, memberimu waktu. Maaf sudah membuatmu sedih,” Iqbal mendekati dan memeluk Yanti, membiarkan tangis di dekapannya.
Mama Denny dan Papa Hanna berkumpul di rumah Denny.
“Denny, bagaimana kalau kamu kembali ke rumah mama? Kalau tinggal di sini, kenangan Hanna akan terus kamu ingat. Mama juga bisa bersama mengurus putri kamu. Bagaimana?” Tanya Mama Denny menatap Denny dan Sudrajat.
“Mama kamu benar, sebaiknya rumah ini dijual saja. Terlalu banyak menyimpan kenangan Hanna di rumah ini. Papa tidak ingin kamu larut dalam kesedihan. Putri kamu membutuhkan suasana baru. Buka lembaran hidup baru. Papa juga tidak masalah kalau kamu menikah lagi, agar putri kamu memperoleh kasih sayang seorang ibu.” Sudrajat ingin memberi kebebasan kepada Denny memilih jalan hidupnya. Dia tidak ingin Denny hidup sendiri tanpa seorang pendamping diusianya masih muda.
Mama Denny menatap Sudrajat dalam, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Dia ingin menanyakan yang selama ini menjadi rahasia antara dia dan putrinya.
“Terima kasih Ma, Pa. Denny akan memikirkannya. Untuk saat ini, Denny masih ingin berada di rumah ini. Kenangan Hanna tidak mungkin Denny lupakan, karena kami mempunyai seorang putri. Denny tidak ingin dia tidak tahu mamanya. Denny akan berusaha membesarkan putri kami sendiri.” Denny tahu kekhawatiran kedua orang tua, memikirkan kehidupan yang harus dijalaninya. Denny sudah mempersiapkan dirinya menjalani hidup ke depan.
“Baiklah mama tidak ingin memaksa. Lebih baik mama yang tinggal di sini, karena ingin bersama kalian menghabiskan masa tua mama.” Mama Denny ingin membalas kesalahannya, dengan hidup bersama putra dan cucu. Berharap suatu hari Denny memaafkan semua perbuatannya.
“Rumah mama sendiri bagaiman? Tidak mungkin meninggalkan begitu aja.” Denny tidak bisa membiarkan mama meninggalkan rumah peninggalan papanya hanya demi hidup bersamanya.
“Papa akan sering berkunjung menjenguk kalian semua. Papa juga berencana akan melimpahkan perusahaan yang papa miliki untuk kamu dan cucu papa. Usia papa semakin tua, tubuh ini sudah harus istirahat dan bersantai menikmati usia tua.” Ucap Sudrajat dengan wajah tersenyum. Dirinya sudah tidak ingin memikirkan beban berat.
Malam itu mereka telah membuat putusan bersama. Denny tidak dapat menolak dan mengecewakan keinginan kedua orangnya.
Denny memasuki kamar yang menjadi ruang perawatan Hanna. Air mata mengalir di pipi, dia sudah menahannya selama pemakaman. Kesunyian kamar membawa pikirannya mengenang Hanna kembali.
Denny terduduk lemah di lantai merangkul ke dua kaki dan menangis menyembuyikan wajahnya.
“Tuan, jangan seperti ini.” Terdengar suara wanita memecah kesedihan Denny.
“Kau sudah lama di situ?” Tanya Denny menatap Deli berdiri memerhatikannya.
“Maaf, aku membereskan peralatanku. Aku ingin pergi, tapi takut mengganggumu.” Ucap Deli menunjukkan bebarapa peralatan medis di tangannya.
“Tidak apa, kau boleh pergi dan tinggalkan aku sendiri,” ucap Denny berdiri dan melangkah duduk di sofa.
“Aku kagum dengan kesetiaanmu terhadap nyonya Hanna. Awalnya aku meragukanmu, dan berpikir sampai kapan kau bisa bertahan. Ternyata, dugaanku salah.” Deli duduk menatap Denny di hadapannya.
“Kau, teman dari gadis yang disukai sekeratis sekaligus sahabatku. Pekerja keras dan pemimpi. Aku juga awalnya meragukan pekerjaanmu. Menguping dan mengintip secara diam-diam di rumahku. Tapi kau mengurus dan menjaga Hanna dengan sungguh-sungguh? Kenapa?” Tanya Denny dengan mata tajam. Dia tahu perbuatan Deli dari kamera CCTV yang terpasang dan terhubung di laptop tanpa disadari Deli.
__ADS_1
“Karena aku juga perempuan, bisa merasakan penderitaannya. Kau, setia tapi tidak mencintainya. Bukan begitu? Karena dalam tidurpun kau bisa dengan jelas menyebut nama orang yang kau cintai. Aku mendengar bibirmu mengucap nama Indah dalam tidurmu. Bagaimana bisa kau sangat mencintainya sedang dia sudah tiada. Saat ini aku bingung mengartikan kesedihanmu tuan?" Ucap Deli membalas tatapan tajam mata Iqbal.
“Kau tahu apa dengan kesedihanku? Aku juga tidak perduli dengan pikiranmu. Aku menghargai kerja kerasmu, dan akan memberi bayaran sebelum kau pergi walau itu tidak sebanding yang sudah kau lakukan."
Ucap Denny mengalihkan pandangan dari wajah Deli.
“Sepertinya aku tidak bisa pergi darimu tuan,” ucap Deli dengan senyum licik.
“Maksudmu?” Tanya Denny melipat kening.
“Kau membutuhkanku, karena putrimu membutuhkan perawatan.” Jawab Deli.
“Ada apa dengan putriku, katakan,” suara Denny meninggi mendengar ucapan Deli.
“Tubuhnya juga terinfeksi penyakit ibunya. Dia harus menerima perawatan khusus. Selama ini aku merawat ibunya dan aku mengetahui riwayat penyakitnya.”Jelas Deli.
“Tapi kau bukan dokter, hanya seorang perawat. Bagaimana bisa kau mengetahuinya?” ucap Denny.
“Dokter Harun akan segera menjelaskan padamu. Aku menjalani pendidikan dokter spesialis kanker. Dokter Harun meminta merawat temannya sekaligus untuk mengetahui lebih dalam penyakit itu. Selama dalam kandungan putrimu sudah mendapat perawatan. Kita harus melakukan perawatan lanjutan setelah dia lahir.” Deli semakin menjelaskan tentang dirinya kepada Denny yang selama ini dia tidak ingin mengungkapkan.
“Jadi putriku juga memiliki penyakit yang sama dengan Hanna?” tanya Denny sendu.
“Aku harap tidak seratus persen,” Jawab Deli menatap jauh ke depan.
Denny menyapu kasar wajah dengan kedua tangannya. Dia tidak menyangka dan tidak sanggup membayangkan putri kecilnya akan menderita seperti mamanya.
Seorang wanita terlihat mengamati ponsel di genggaman tangannya. Lalu meletakkan ponsel di atas meja dan melemparkan pandangan pada hamparan rumput hijau berlatarkan puncak bukit berselimutkan awan putih.
“Dia telah tiada. Apa kau ingin kembali dengannya?” Tatap seorang lelaki pada foto-foto di dalam ponsel.
“Baginya aku juga telah tiada, lebih baik seperti itu. Aku telah memilih jalan ini, dan tidak mungkin kembali.” Jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
“Dia sangat mencintaimu.”Ucap lelaki menatap dalam wajah sang wanita.
“Cinta itu hanya untuk masa lalu kami. Dia akan membenciku setelah tahu aku meninggalkan dan tidak mempercayai cintanya.” Ucapnya dengan menghembus nafas kasar.
“Dia tidak tahu yang sudah terjadi. Kau bisa menjelaskan semua dan akan memaafkanmu.”Lelaki itu masih berusaha mengumpulkan percaya diri sang wanita.
“Aku meragukan itu. Kami akan bersama kalau garis takdir mempersatukan. Biarlah takdir yang menentukan, aku percayakan pada-Nya.” Sang wanita masih menatap jauh ke depan.
“Kau hanya akan menunggu, tapi sampai kapan?” Tanya lelaki itu lagi.
“Entahlah aku tidak tahu sampai kapan, aku tidak keberatan untuk itu. Bila pertemuan terjadi juga mungkin saat itulah aku tidak bisa menghindar karena takdir telah menarikku padanya.” Sang wanita menatap lekat lelaki yang menjadi lawan bicara dengan tetes air mata. Dirinya tidak sanggup mengejar laki-laki yang dicintainya karena takut penolakan dan kebencian yang akan didapat bukan sebuah cinta yang diimpikan.
__ADS_1