Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 29 Kejutan 2


__ADS_3

Di kantor, Denny ditemani Mamanya dan Hanna.


“Denny, kami menemuimu karena mau mengajak makan malam di luar bersama. Mama hari ini sangat senang sekali. Hanna sudah menemani dari pagi hingga sore. Bisakan minta waktumu menemani Mama malam ini?” Ucap Mama penuh harap menatap Denny.


Denny duduk di kursi kerjanya, tidak terdengar jawaban, pikirannya terbayang wajah Indah.


“Kenapa Dia sedih, sebelumnya, jelas sekali aku lihat wajahnya terus tersenyum. Apa dia cemburu, melihat Hanna bersamaku?” Bisik batin Denny menduga-duga hati Indah.


“Denny, apa kamu bisa?” Tanya Mamanya lagi.


“Di mana tempatnya?” Tanya Denny balik.


“Mama sudah memesan tempat di restoran. Kamu pasti suka.”


“Batalkan, Aku yang menentukan tempatnya,”


Denny tidak ingin mamanya mengatur sesuatu yang tidak disukainya. Apalagi berhubungan dengan Hanna. Kedua wanita dihadapannya tidak menyerah membujuknya sampai sekarang.


“Baiklah tidak masalah, yang penting kamu bisa makan bersama kami malam ini,” balas Mama Denny tersenyum ke arah Hanna.


“Iya, Hanna senang Mas Denny bisa meluangkan waktunya yang sangat sibuk,” Ucap Hanna tersenyum menatap Denny.


“Apa kau benar cemburu?” Senyum menggaris di wajah Denny, membayangkan wajah Indah.


Hanna menatap wajah Denny tersenyum, Dia merasa kalau Denny juga senang, sama dengan perasaannya saat ini.


“Oke, kalau gitu, Mama dan Hanna kembali ke rumah. Kami menunggu kabar dari mu sayang,” Mama Denny beranjak dari sofa, diikuti Hanna dan melangkah pergi.


Di kantin Indah dan Yanti sedang menikmati secangkir kopi.


“Yan, kamu pernah kepikiran ingin menikah?” tanya Indah dengan tatapan kosong.


“Ada.” Yanti menjawab sambil menyerupit kopinnya.


“Pria seperti apa yang akan menjadi suamimu?” Pikiran Indah kosong, dia tidak tahu mengapa hatinya sedih tanpa alasan memikirkan Denny.


“Hem, Aku memimpikan seorang pria tinggi, berkulit putih, tampan, kaya, pengertian dan baik hati,” jawab Yanti dengan mata menerawang ke atas.


“Banyak sekali kriteriamu,” ucap Indah datar menatap cangkir kopinya.


“Jelas dong, bagiku menikah cuma sekali, jadi aku harus membuat target,” balas Yanti tersenyum.


“Hem, begitu,” Indah menyeruput gelas kopinya.


“Kalau kamu sendiri bagaimana?” Tanya Yanti balik menatap Indah.


“Aku tidak berharap terlalu banyak seperti kamu Yan, cukup Dia mencintaiku dengan tulus dan aku juga mencintainya,” jawab Indah datar dengan melepaskan nafas beratnya.


“Ha…Ha…Ha...,Indah, pikiranmu sesederhana itu. Jaman sekarang kita tidak bisa hanya mengandalkan cinta aja. Hidup harus berjalan tidak bisa hanya cinta.” Yanti memandang jauh ke depan dengan tersenyum.


“Mungkin aku sesederhana yang kamu bilang, tapi memang itulah diriku. Pengagum cinta,” ucap Indah dengan mata menerawang.


“Pengagum Cinta?” tatap Yanti dalam ke wajah Indah.


Bayangan Denny terlintas di pikiran Indah. Hatinya bertambah sedih mengenang ada seorang wanita cantik bersamanya.


“Ya benar, pengagum cinta. Aku akan menunggu pria yang tulus mencintaiku datang,” ucap Indah senyum menggaris di bibir.


“Kita tidak bisa menunggu Indah, tapi harus mendapatkan,” ucap Yanti menatap cangkir kopinya.


“Mendapatkan, bagaimana caranya? Kau sendiri sampai sekarang belum pernah ku lihat jalan dengan pria. Kapan bisa mendapatkannya?” tanya Indah menatap Yanti dalam.

__ADS_1


“Betul In, kita berdua jarang ke luar rumah selain bekerja, bagaimana mendapatkan seorang pria tajir?” Yanti menopang dagunya.


“Kita hanya memikirkan kerja dan kerja, sekarang usia kita dua puluh lima. Masa-masa indah dan menyenangkan memiliki kekasih sebagai calon pendamping hidup.” Ucap Indah dengan wajah sedih.


“Aku punya ide,” Ucap Yanti penuh keyakinan.


“Apa?” tanya Indah penasaran.


“Bagaimana kalau kita mendaftar di situs mencari jodoh?” Ide yang mumcul tiba-tiba di kepala Yanti


“Jangan konyol kamu, apa situs itu dijamin kebenarannya, jangan-jangan semua sudah dimanipulasi,” Indah tidak terpikirkan ide konyol Yanti, dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Tenang, kita bisa nilai dari komentar penggemarnya, kalau banyak yang negatif kita jangan ikutan dong,” jelas Yanti, terlihat serius dan ingin mencobanya.


“Kamu aja duluan, kalau berhasil aku beri hadiah ucapan selamat, oke?” wajah Indah tersenyum menatap Yanti.


“Ngak adil, berarti aku jadi kelinci percobaan dong?” wajah Yanti cemberut.


“Bukan kelinci tapi tikus imut, Ha…Ha…Ha…, udah ah, ayo kita kembali kerja.” Indah beranjak dari kursi.


“In, tunggu. Kamu ngejek aku ya?” Yanti ikut beranjak menuruti langkah Indah.


Indah dan Yanti tertawa bersama-sama kembali ke ruang kerja mereka.


Sore hari merangkak malam.


“Den, kita berangkat sekarang? Nanti Nyonya dan Hanna lama menunggu.” Sapa Iqbal di depan pintu menatap Denny sibuk di balik laptopnya.


“Iya, kita berangkat sekarang.”


Denny langsung begerak dan meninggalkan pekerjaannya.


Mama Denny dan Hanna telah tiba di restoran yang dijanjikan Denny. Duduk bersama dengan saling melempar senyum. Tak beberapa lama menunggu, Denny dan Iqbal pun tiba lalu duduk bersama.


“Denny, malam ini pulang ke rumah ya? Hanna bermalam di rumah kita juga.” Mama Denny membuka pembicaraan disela-sela makan.


“Tidak, selesai ini kami kembali ke kantor, masih banyak pekerjaan dan pulang ke tempat Denny,” jawab datar sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


“Denny malam ini saja, Hanna ingin lebih lama bercerita dengan kamu. Sejak Dia di sini, kalian belum pernah lama bersamakan?” Ucap Mama Denny penuh harap sambil memegang tangan.


“Baiklah,” menatap wajah Mamanya.


Selesai makan Denny membawa mobilnya bersama Mama dan Hanna pulang ke rumah. Denny memutuskan memenuhi keinginan Mamanya karena rasa sayangnya.


Iqbal kembali ke kantor perusahaan mengambil pekerjaan Denny yang tertinggal. Terburu-buru berjalan tidak memerhatikan orang lain hingga akhirnya menabrak seseorang.


“Maaf, kamu tidak apa-apa?” tanya Iqbal dengan wanita terjatuh di hadapannya.


“Iiya, ngak apa kok,”


Terdengar jawaban, Iqbal membereskan berkas yang terjatuh, begitu juga wanita di hadapannya memunggut lembaran kertas yang berserakan.


“Yanti, kamu ngak apa?” tanya Indah turut membantunya.


“Kalian saling kenal?” tanya Iqbal menatap kedua wanita yang berdiri di hadapannya.


“Iya, sekretaris Iqbal, kita satu tim,” Jawab Indah tersenyum menatap Iqbal.


“Maaf, saya ceroboh sudah merepotkan Pak Iqbal,” jelas Yanti gugup menatap wajah pria yang tampan di hadapannya.


“Ngak masalah, yang penting kamu ngak apa-apa. Saya duluan,” Iqbal melangkah pergi.

__ADS_1


Yanti menatap kepergian Iqbal, seperti ada bintang yang berkelap-kelip di wajahnya.


“Hei, kok bengong, ayo.” Indah menarik tangan Yanti melangkah pergi bersama.


Denny berada di kamarnya, terdengar pintu diketuk.


“Siapa?” Denny melirik pintu kamarnya.


“Saya Mas, Hanna.” Dalam pikiran Hanna dia tidak ingin melepaskan kesempatan berdua dengan Denny malam ini.


“Tunggu sebentar,” melangkah membuka pintu dengan melipat keningnya. Inilah yang tidak diinginkan Denny. Berbicara dengan Hanna yang arahnya tak lain mengenai perasaan yang menyukainya.


“Mas, boleh aku masuk?” Hanna berdiri di depan pintu.


“Ada perlu apa?” Denny gerah dengan sikap Hanna yang tidak mengerti perasaamnya


“Ada yang ingin ku bicarakan,” Hanna ingin meyakinkan Denny kalau dia sangat mencintainya.


“Lebih baik bicara di luar saja,” Denny melangkah ke luar.


Hanna melihat Denny dan perasaannya sedih, karena dia tahu Denny berusaha menghindarinya.


Denny duduk di sofa ruang keluarga dan Hanna memilih duduk berhadapan dengannya.


“Terima kasih Mas, sudah menemani makan malam dan mau bermalam di rumah inI,” ucap Hanna menatap wajah yang sangat ingin ingin diramgkul dan diciumnya. Tapi entah kapan itu bisa terwujud. Karena Denny tidak menaruh perasaan sedikit pun padanya.


“An, kamu tidak perlu berterima kasih. Aku tidak perlu alasan makan malam bersama Mama dan juga datang ke rumahku sendiri.” Ucap Denny menatap Hanna dalam.


“Aku tahu itu, tapi aku tetap ingin mengucapkan terima kasih.” Balas Hanna.


“Hanya ini yang ingin dibicarakan?” tanya Denny.


“Tidak, aku ingin mengatakan, kalau aku benar-benar mencintaimu Mas,” Dengan penuh keyakinan Hanna mengutarakan kembali perasaannya. Berharap pria di hadapannya bersedia memberi kesempatan mendekatinya.


“An, maafkan aku. Aku tidak bisa mencintaimu sebagai seorang wanita dewasa. Itu kamu tahu sejak dulu. Tapi kenapa kamu tetap memaksakan diri?”


Denny semakin jengah dengan sikap keras kepala Hanna.


“Mas juga tahu, kalau aku keras kepalakan?” Mata Hanna berkaca-kaca.


“Hanna, kamu bukan anak kecil lagi yang semua keinginan harus dipenuhi. Aku sayang sama kamu. Tapi tidak seperti ini,” Jelas Denny dengan suara mulai meninggi.


“Mas, bisakah memberiku kesempatan?” Hanna benar- benar berharap Denny bisa membuka hati untuk dirinya.


“An, aku tidak bisa, jangan sakiti dirimu lebih dalam lagi. Cintamu akan sia-sia, aku berharap kamu bisa menemukan pria yang tulus mencintaimu,” Denny kasihan dengan Hanna yang merengek ingin dicintai.


“Denny, jangan seperti itu, Hanna benar-benar mencintaimu. Mama juga sangat menyukainya, beri dia kesempatan dan tolong cobalah menerimanya,” Mama Denny datang duduk di sampingnya.


“Ma, inikah maksudnya mengajakku pulang ke rumah?” Denny menatap Mamanya tajam. Mamanya lagi-lagi berusaha mencampuri urusan pribadinya dan memihak Hanna.


“Denny, tidak bisakah kamu membahagiakan diusia Mama yang sudah tua ini?”Mama Denny berusaha membujuk dengan menggenggam erat tangannya.


“Aku telah mencintai Indah, hatiku hanya untuknya.” Bisik batin Denny menatap dalam wajah mamanya.


“Sudah malam, Mama tidurlah. Aku kembali ke kamar,” Denny beranjak meninggalkan Mamanya dan Hanna.


Mama Denny mendekati Hanna dan memeluknya.


“Sabarlah Hanna, Denny akan berusaha mencintaimu. Tante yakin itu,” mengelus punggung belakang Hanna.


“Terima kasih Tante,” Suara Hanna bergetar menahan tangis.

__ADS_1


Denny di kamar menghempaskan tubuh di ranjang super sizenya. Mata menatap langit-langit kamar.


“Bagaimana aku bisa meyakinkan Mama dan Hanna? Kenapa mereka berdua tidak juga bisa mengerti?! Keluh batin Denny.


__ADS_2