
Indah termenung seorang diri.
“Panggilan apa yang tepat, mengapa dia memintaku memikirkannya. Kalau ku pikir-pikir kata “Pak” sudah tepat dengan sifatnya. Dia itu berwibawa, disiplin, keras, dingin dan acuh. Atau aku panggil sama seperti sekretaris Iqbal, ya benar, aku sudah menemukan. “Tuan” panggilan itu sangat tepat.” Senyum lebar menggaris di bibir Indah setelah terpilih satu kata yang tepat untuk Denny.
“Krekk,” terdengar suara perut Indah.
“Ih, ini perut kok gampang lapar. Oh iya, tadi pagi aku hanya makan sedikit, makanya sekarang terasa lapar. Untung aku membawa pulang semua makanan. Jadi aku tidak kelaparan seperti kemarin malam, menunggu tuan Denny pulang baru perutku terisi. Hi..hi..hi.., aku mulai terbiasa memanggilnya “tuan.” Indah merasa lucu sendiri dengan tingkahnya.
Indah sudah menata berbagai jenis makanan di dalam piring dengan rapi dan meletakkan di atas meja.
“Hemm harum, sabar Indah. Semua pasti akan masuk ke perut.”
Matanya perlahan mengamati dan tangan mulai mengambil beberapa makanan.
“Sudah lama aku ingin makan ini, rasanya pasti mantap,”
Wajah Indah berseri-seri melihat makanan yang ada di hadapannya. Dia pun mulai beraksi memakan sesuai keinginannya.
“Bismillahirrohmanirrohim, Hemm enak.” Indah perlahan menelan makanan di dalam mulut dan menikmatinya.
“Aku harus banyak makan, tenagaku terkuras karena peristiwa mengerikan itu. Ke luar dari tempat ini nanti, aku harus terlihat sehat dan kuat.” Gumam Indah disela-sela makannya.
Setelah makan dan membersihkan piring kotor, Indah ke ruang tamu. Karena merasa bosan, tangannya meraih remote tv dan menyalakannya.
“Tidak ada ponsel, paling tidak aku bisa mengetahui kabar di luar sana dengan menonotn tv,” Ujar Indah seorang diri.
“Apa, hari ini hari Minggu? Seingatku, terakhir berada di kantor hari senin,”
Indah menghitung-hitung jarinya, dia baru menyadari kalau sudah enam hari dia berada di apartemen Denny.
“Oh Tuhan, izinkan aku ke luar dari apartemen ini.” Ucap Indah menyapu muka dengan kedua tangannya.
Kembali Indah berbaring di tempat tidur. Dia merasa bosan tidak bisa melakukan apa-apa. Dia sangat rindu dengan suasana kantor, sahabatnya Yanti dan gurauan Hendrik. Sekelebat bayangan kakaknya Dino muncul. Tanpa diundang air bening mengalir di pipinya.
“Kak, bagaimana keadaanmu di luar sana, semoga kau selamat.” Isak Indah mengingat kenangan wajah kakaknya yang penuh memar dan lebam.
Tak terasa waktu terus berjalan, hari sudah malam. Indah memandang ke luar jendela. Lampu-lampu terlihat indah dari apartemen. Indah menarik nafas dalam.
“Sampai kapan harus di sini, mengapa Pak Denny tidak mengijinkan aku pulang?”
Indah berpikir mencari cara agar Denny mengijinkannya pulang. Dirinya tidak enak berlama-lama di apartemen ini.
“Bagaimana jadinya nanti, kalau sampai tersebar berita, Direktur Denny Prasetyo pemilik perusahaan televisi terkenal menyimpan seorang gadia di apartemen pribadinya.”
Kalimat itu membatin di dalam hati. Dia tidak bisa membayangkan rasa malu yang akan dialami Denny dan dirinya sendiri. Masyarakat tidak tahu kalau mereka tidak melakukan apa-apa dan juga tidak memiliki hubungan spesial.
“Aku harus bisa ke luar dari apartemen ini, bagaimana pun cara dan resikonya,” bisik Indah.
Setelah lelah berpikir, Indah duduk di sofa menunggu Denny belum juga pulang. Indah membaringkan tubuh dan memejamkan mata hingga dia tertidur.
Malam terus berjalan, Denny telah sampai di apartemen bersama Iqbal. Membuka pintu dan bersama mereka melangkah masuk. Mata Denny memandang tubuh Indah tertidur di sofa. Perlahan dia mendekat dan berjongkok melihat wajah Indah. Lembut dia menyibak, rambut panjang hitam Indah, menutupi wajahnya, ke belakang telinga.
“Hatiku berdegup kencang menatap wajahnya. Pikiranku juga menjadi tidak tenang. Apa yang sudah terjadi dengan diriku Bal?” Lirih Denny merasakan hatinya tidak tenang saat bersama Indah.
“Kau sudah jatuh cinta kepadanya,” Balas Iqbal santai menjawab pertanyaan Denny.
__ADS_1
Iqbal tersenyum menatap Denny. Baru kali ini Denny jujur akan perasaannya di depan orang lain. Iqbal pernah melihat Denny jatuh cinta sebelumnya. Tapi karena tersakiti, Denny selalu menutup diri kalau ada wanita yang mendekat. Dia menilai wanita hanya tertarik dengan uang dan tidak tulus menyukainya. Penilaian itu bukan tanpa alasan. Karena dia pernah mencintai seorang gadis, lalu ditinggal pergi setelah mendapatkan sejumlah uang dari mamanya.
Denny menggendong Indah masuk ke kamar dan meletakkannya perlahan di tempat tidur. Menutupi tubuh Indah dengan selimut hingga ke dadanya.
Saat melangkah ke luar, Denny mendengar sesuatu dan menghentikan langkahnya.
“Pak, ijinkan saya pulang. Saya janji akan jaga diri saya.” Gumam Indah di dalam tidur.
Denny hanya menatap datar wajah Indah. Perlahan rambut Indah dielus Denny, lalu melangkah ke luar kamar. Iqbal memperhatikan sikap Denny hingga duduk di sofa.
“Sampai kapan Indah di sini?” tanya Iqbal mengkhawatirkan akibat menahan seorang gadis bukan statis istri.
“Sampai dia benar-benar aman,” Denny menjawab seadanya. Rasa khawatir menghantuinya melepas Indah pergi.
“Tidak baik terlalu lama dia di sini, orang kita melaporkan, kalau suruhan Pak Jung beberapa kali muncul,”
“Mama selalu mencampuri urusanku, sampai kapan mama begitu?" Keluh Denny mengeluarkan suara beratnya.
“Nyonya hanya berjaga-jaga, karena kamu satu-satunya putra ahli waris Tuan Prasetyo,"
“Yah, aku juga manusia, ingin bebas memilih dan menyukai. Selama ini aku selalu menahan karena menjaga perasaan mama,”
“Mau gimana lagi, nama Hanna sudah mengalir di darah nyonya,”
“Aku tidak bisa mencintainya, dia sudah kuanggap sebagai adikku. Mama sudah tahu itu dari dulu,”
“Satu-satunya jalan, Hanna yang harus kau yakinkan,”
“Bagaimana caranya?”
“Ahk…kepalaku pusing Bal, aku mau mandi. Kau boleh pulang sekarang,”
Denny beranjak dari sofa dan melanggkah ke kamarnya. Melihat Denny yang sudah putus asa, Iqbal pun beranjak pulang.
Indah terbangun dari tidurnya, dia merasa ada yang aneh.
“Aku tadi berbaring di sofa, kenapa bisa ada di sini sekarang?” bisik Indah mengamati ruangan.
Pikiran Indah seketika terbayang sesuatu yang menakutkan. Dia melirik jam menggantung di dinding. Waktu menunjukkan tengah malam.
“Pak Denny belum juga pulang, apa apartemen ini ada hantunya?” gumam Indah.
“Bagaimana ini, aku sendiri. Apa yang harus ku lakukan? Apa itu?” Indah melihat sesosok bayangan melintas di depan pintu kamarnya.
Tubuh Indah gemetar, dia sangat ketakutan. Indah menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh hingga ke kepalanya.
“Krekk,” terdengar suara pintu terbuka lebar.
“Ya Tuhan, tolong aku. Jangan sakiti aku lagi,”
Indah semakin ketakutan, dia menutup mulutnya takut mengeluarkan suara.
Sesuatu terasa memegang tubuhnya.
“Ahhhhh, tolongggg,” teriak Indah.
__ADS_1
“Hei, tenang. Ini aku,” ucap Denny.
“Tolong, jangan tinggalkan saya sendiri, saya takut.” Indah langsung memeluk Denny.
“Hei, kamu aman, tidak ada yang mengganggumu. Aku akan selalu menjagamu.” Denny mengelus lembut rambut Indah berusaha menenangkan.
Beberapa saat kemudian, Indah tersadar dalam pelukan Denny.
“Maaf, maafkan saya,” Indah mendorong tubuhnya melepaskan diri dari pelukan Denny.
“Kamu sudah baikkan sekarang?” Denny menatap wajah Indah dalam.
“Iya Pak, saya sudah tidak apa-apa,” jawab Indah.
“Sepertinya, kamu tidak melakukan apa yang aku pinta, malah kamu memikirkan yang bukan-bukan,”
“Apa yang telah saya lakukan?” tanya Indah tidak mengerti.
“Aku meminta kamu istirahat dan memikirkan panggilan yang tepat. Tapi ternyata tidak. Kamu memikirkan yang aneh-aneh dan masih memanggil dengan kata yang tidak aku sukai.” Jelas Denny menatap wajah Indah.
“Tidak, saya sudah menemukan kata yang tepat,” balas Indah penuh keyakinan kalau dia sudah memilih pangilan yang tepat.
“Baik, kalau begitu sebutkan,” Denny menunggi jawaban Indah tidak sabar.
“Tuan,” Jawab Indah singkat.
“Aku tidak suka, pilihan kamu masih salah,” Jawab Indah tidak seperti keinginannya.
“Saya sudah memikirkan, kata itu yang paling tepat,” Indah tetap bersikeras dengan pilihannyam
“Aku tidak menyukai panggilan itu,”
“Tapi sekretaris Iqbal…”
“Apakah kamu Iqbal?”
Indah hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan Denny.
“Pikirkan, Aku menunggunya sekarang,” Denny menatap mata Indah.
“Saya tidak tahu,” Jawab Indah ragu.
“Panggil “Mas”, aku suka kata itu,”
Indah bengong mendengar ucapan Denny. Dia tidak menyangka seorang Direktur pimpinannya meminta dirinya dipanggil sebutan "Mas".
"Apa tidak salah? Akukan bawahannya, "Mas" itu cocok kalau dia ini pacarku bukan bosku, batin Indah berdebat dan kepalanya ikut menggeleng.
"Sudah, jangan banyak pikir, lakukan yang aku pinta," Denny tersenyum melihat reaksi Indah.
“Baik Pak, maksud saya Mas,” Indah masih canggung mengucapkannya.
“Oke, kamu harus membiasakan memanggil dengan “Mas”, istirahatlah.”
Denny beranjak dan melangkah ke luar kamar. Senyum masih menghiasi wajahnya. Indah terdiam dan terpaku memandang tubuh belakang Denny.
__ADS_1