Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 12 Pusing Memilih Panggilan


__ADS_3

Tubuh Indah terlempar keras, terdengar ramai suara lelaki mentertawainya. Indah hanya dapat meringis sakit dan ketakutan. Dia tidak tahu berada di mana karena matanya tertutup diikat sehelai kain. Suara tertawa itu makin keras , tubuh indah kembali ditarik paksa dan dilempar. Indah menangis, tubuhnya gemetar, dia berusaha teriak meminta tolong sekeras-kerasnya. Tapi suaranya tidak ada yang mendengar. Indah berusaha berdiri dan lari, tapi seseorang mencengkeram tangannya kuat. Indah meronta berusaha melepaskan diri dan dia terjatuh. Matanya secara perlahan terbuka dan memperhatikan sekitar.


Indah mengusap pipinya. Tanpa disadari air mata mengalir ke luar.


“Ahk, ternyata itu hanya mimpi, Aku masih di kamar ini.” Bisik Indah. Pikirannya masih teringat akan mimpi yang menakutkan itu.


Tiba-tiba Indah merasakan perih di sekitar perutnya. Bergegas dia ke kamar mandi.


“Aduh gawat, mengapa datang pada saat tidak tepat begini,” gumam Indah.


“Aduh, perutku sakit. Obat, aku harus minum obat.”Sambil mengusap-usap perutnya, Indah melangkah ke dapur. Tangannya membuka pintu lemari.


Denny melangkah ke luar dari kamar. Matanya memerhatikan Indah yang sibuk mencari sesuatu di dapur.


“Apa dia kelaparan lagi? Sepagi ini?” Bisik batin Denny melirik jam melingkar di tangamnya dan melihat Indah mengusap-usap perutnya.


Tanpa disadari Indah, Denny telah berdiri di belakangnya.


“Aduh, ngak ada,” keluh Indah tidak menemukan yang diinginkannya.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Denny mengamati dari belakang.


Indah terkejut, dan membalikkan tubuh.


“Saya mencari obat,” Indah menatap wajah Denny.


“Kamu sakit, aku panggilkan dokter?” tanya Denny khawatir, meraba dahi Indah.


“Jangan, jangan panggil dokter, sudah biasa sakit perut begini. Saya akan baikkan kalau minum obat,” Indah sibuk menggoyang tangannya, dia akan malu kalau sampai dokter datang dan mengtahui kalai dia tidak sakit tapi datang bulan.


“Kamu sering sakit perut, kenapa? Apa karena cara makan kamu yang…” Kata-kata Denny terhenti, membayang peristiwa tadi malam melihat Indah makan dengan lahapm


“Bukan, bukan begitu. Ini sakit perut… Bagaimana menjelaskannya,” Gumam Indah bingung dan malu menatap wajah Denny.


“Kenapa, apa yang ingin kamu jelaskan?’ Denny semakin heran dengan sikap Indah.


“Pak, saya minta tolong, bisa bawakan saya ke supermarket terdekat. Saya ingin membeli obat.” Indah mengalihkan pembicaraan.


“Kamu yakin, tidak perlu dokter?” Denny tetap berusaha meyakinkan Indah supaya dia diperiksa dokter.


“Iya, tolong bawa saja saya,” Indah memasang wajah memelas.


Denny tidak tahan melihat raut wajah sedih Indah.


“Baiklah, ayo,” Denny menarik tangan Indah dan bersama melangkah.


“Mengapa pria ini suka menarik tangan sih, aku kan, bisa berjalan sendiri,” Indah berkata-kata di dalam hati dengan tatapan memandang wajah Denny di sampingnya.


Di dalam supermarket, Indah berjalan mencari obat dan pembalut. Denny berdiri menunggu di depan kasir.


Indah telah mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia berjalan menuju kasir dan menyerahkan barang bawaannya. Denny memerhatikan, senyum tipis menggaris di bibirnya.


“Ternyata dia butuh ini, mengapa sulit sekali mengatakannya kepadaku?” bisik batin Denny melihat barang belanjaan Indah.


“Pak, tolong bayarkan. Nanti saya ganti,” Ucap Indah menatap wajah Denny. Dia tidak punya uang sepeserpun. Terpaksa meminta kepada Denny dan berniat menggantinya setelah dia kemnali bekerja.


Denny pun merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Menyerahkan kepada kasir.


“Terima kasih,” Ucap Indah kepada Denny dan melangkah ke luar.

__ADS_1


Denny mengikuti langkah Indah dari belakang, matanya menatap sesuatu. Dia pun merapatkan tubuhnya ke belakang punggung Indah.


“Ada apa?” Indah melirik Denny tepat di belakangnya.


“Kita masuk lagi ke dalam, Denny mememang kedua bahu Indah dan mendorongnya balik ke dalam supermarket.


“Tapi Pak kenapa?” sambil berjalan Indah bertanya, dia bingung dengan sikap Denny yang mendorong memaksanya kembali masuk.


Denny tidak menjawab, matanya terus memerhatikan sekitar dan mencari toilet dan menemukannya.


“Masuk ke toilet sekarang dan tunggu aku memanggil mu,” Denny mendorong Indah masuk.


Indah masih memasang wajah bingung sambil menunggu di depan pintu.


“Ini ambil, ganti pakaianmu,” ucap Denny.


Indah mengambil bungkusan dari tangan Denny.


“Memangnya pakaianku kenapa, ada yang salah?" Bisik batin Indah mengamati pakaian yang di pakainya.


Perlahan dia berputar di depan cermin.


“Waduh, pantas Pak Denny menyuruhku mengganti pakaian,” Indah melihat bercak merah di bagian belakangnya.


Denny tersenyum melihat Indah berjalan ke luar menghampirinya. Pakaian yang dipilihnya sangat cocok, dan kelihatan cantik.


“Ayo kita cari makanan, aku sudah lapar menunggumu dari tadi,” Denny masuk ke dalam mobil.


Indah turut masuk mematuhi ucapan Denny.


Denny dan Indah berada di sebuah restoran. Denny sengaja mengajak Indah makan, karena persediaan makanan di apartemennya masih belum ada. Hari ini dia meminta Iqbal berbelanja dan dia memilih mengajak Indah makan di luar.


“Pak, mengapa memesan makanan segini banyak?” tanya Indah heran.


“Aku memesannya semua khusus untuk kamu,” wajah tersenyum penuh percaya diri mengenang cara makan Indah tadi malam.


“Tapi, saya tidak lapar Pak. Perut saya sakit, jadi ngak nafsu makan,” Indah malu, tapi memang dia tidak ingin makan


“Tidak, kamu harus makan. Dan setelah itu, cepat minum obatnya,” Denny menatap Indah tajam.


“Baiklah,” Indah tertunduk menjawab lesu.


Denny tersenyum memandang gadis dihadapannya. Makan penuh dengan beban, berbeda dengan sikap Indah tadi malam, makan dengan lahapnya.


Terdengar suara ponsel berbunyi, berasal dari saku Denny. Dia meraihnya dan menjawab panggilan. Indah memandang wajah Denny.


“Dimana ponselku?” Batinnya berbisik dan menghembus nafas berat. Indah teringat akan ponselnya, dia tidak ingat telah meninggalkan di mana. Tanpa ponsel, dia tidak bisa menghubungi Yanti. Dia sangat ingin bercerita dengan sahabatnya itu dan menanyakan pekerjaan di kantor.


Denny melirik wajah sedih Indah disela-sela percakapannya.


“Ada apa, kamu masih merasa sakit?” tanya Denny cemas menatap lesu wajah Indah.


“Iya,” Indah menganggukkan kepala, walaupun bukan itu alasan dia bersedih.


“Baiklah, ayo kita pulang,” Denny beranjak dari tempat duduknya.


“Tapi Pak, bagaimana makanan ini?” mengarahkan wajahnya ke makanan yang masih banyak di hadapannya.


“Biarkan saja,” jawab Denny enteng.

__ADS_1


“Apa? Tidak boleh, tunggu sebentar,”


Indah beranjak dari kursinya melangkah menuju pelayan dan berbicara sesuatu. Denny menatap tingkah Indah dengan mengerutkan dahinya. Indah kembali duduk di kursinya.


“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Denny heran melihat sikap Indah.


“Tunggu sebentar, Pak?” Indah menatap Denny.


Seorang pelayan datang, dan mengambil hidangan yang ada di atas meja. Lalu datang kembali dengan membawa beberapa kantong makanan.


“Ini bu, semoga menikmati sajian kami dan kembali lagi kemari bersama suami,” pelayan melempar senyum kepada Indah dan Denny.


“Dia bukan…,”


“Iya, terima kasih, ayo kota pergi,”


Indah tidak sempat menyelesaikan ucapannya, Denny sudah menarik tangan dan membawanya berjalan ke luar.


Mobil melaju membawa Indah dan Denny.


“Mengapa dia tidak mengijinkan aku pulang?” Keluh batin Indah menatap wajah Denny.


“Apa yang kamu lihat?” tanya Denny meliril Indah dari sudut matanya.


“Ti..tidak, saya hanya berpikir,” Indah memalingkan wajahnya.


“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Denny lagi.


“Mengapa saya tidak pulang ke rumah saja? Bapak bisa menurunkan saya di sini, itu sangat mudahkan?” Indah menatap ke jalanan dan berusaha memberanikan diri mengutarakan isi hatinya.


“Aku belum bisa melepaskanmu,” balas Denny enteng.


“Mengapa?” menatap Denny tidak percaya dengan ucapan yang di dengarnya.


“Jangan tanyakan lagi, dan jangan panggil aku Bapak karena kita tidak dalam suasana kerja. Aku risih, kamu memanggilku Bapak, seolah-olah aku ini ayahmu. Jawab Denny datar.


“Apa sih mau laki-laki ini?” Indah terdiam sesaat dan membatin mendengar perkataan Denny.


“Jadi, saya harus panggil apa?” tanya Indah heran dengan ucapan Denny.


“Terserah,” Jawab Denny asal.


Indah terdiam dan berpikir mencari panggilan yang tepat untuk atasannya itu.


“Ah, aku harus panggil apa laki-laki ini, jelas-jelas dia atasanku. Apa aku harus panggil “Om”, tidak-tidak dia masih muda. Usiaku saja 25 tahun, usianya pasti di atasku tiga atau empat tahun. "Mas", ihhh tidak-tidak, nanti dia pikir aku berusaha merayunya.” Indah menggeleng-gelengkan kepala berbicara sendiri. Kepalanya sibuk memilih panggilan yang cocok.


Denny tersenyum melihat tingkah Indah dari sudut matanya.


Mobil telah membawa Indah dan Denny sampai di apartemen. Berdua mereka melangkah masuk ke dalam. Sampai di depan pintu, Iqbal telah menunggu di sana.


“Tuan, semua telah menunggu. Bisa kita berangkat sekarang?” tanya Iqbal menatap kedatangan Denny bersama Indah. Hatinya menebak kalau perasaan Denny sedang senang saat ini. Terlukis jelas dari wajahnya.


“Baik, tunggu sebentar,” menatap Iqbal yang tersenyum-senyum memandanginya.


“Kamu masuk, dan istirahat. Jangan lupa pikirkan panggilan yang tepat untukku. Nanti pulang, aku sudah tahu jawabannya,” Denny membuka pintu. Dan mendorong Indah masuk.


Indah hanya diam dan melangkah masuk. Denny menutup pintu kembali sambil menatap wajah Indah dan tersenyum.


“Aku dikurung lagi,” keluh Indah menatap pintu yang berangsur tertutup.

__ADS_1


Perlahan dia melangkah gontai dengan membawa kantong makanan menuju ke dapur. Denny dan Iqbal melaju dengan mobil menuju ke tempat pertemuan. Mereka sudah ditunggu, hari ini walaupun hari libur pertemuan bisnis tetap dilakukan.


__ADS_2