
Di rumah sakit, waktu berjalan terasa sangat lambat. Jesika menatap lekat putranya yang masih tertidur lelap.
“Sayang, bangunlah mama sangat rindu. Buka matamu, lihat mama di sini.” Tangan Jesika mengusap dinding kaca pembatas ruang. Dia hanya mampu berbicara lirih tanpa bisa mendekati Saka.
“Jes, istirahatlah, kamu juga harus jaga kesehatan. Aku tidak ingin kamu sakit, biar aku yang menunggu.” Hendrik melihat Jesika sangat lelah, khawatir dia akan jatuh sakit.
“Tidak Hen, aku tetap di sini. Aku ingin saat terbangun, dia melihatku. Tapi, apa dia akan bangun? Aku sangat takut, dia tidak akan melihatku,” Jesika terisak kembali, dadanya sesak tak sanggup membayangkan kehilangan putra tercinta.
“Jangan bilang begitu, dia akan sadar. Kau harus kuat.” Hendrik memeluk tubuh lemah Jesika.
Dari arah belakang, Denny kembali melihat pemandangan yang menyayat hati. Kakinya perlahan melangkah dekat, tatapan lurus ke depan berusaha tidak menghiraukan drama romantis yang terpampang di hadapan.
Kepala masih melintas ucapan sang mama, keinginan memiliki Saka semula terbit tapi juga membawa gadis pujaan. Kenyataan sang gadis sudah memiliki pasangan hidup, membuat harapan pupus. Seketika, tangan Denny mengepal kuat, memasang mata tajam.
“Baiklah, kita lihat sampai di mana kau bisa bertahan,” bisik batin Denny.
Hentakan sepatu menghempas di lantai dengan ritme tak beraturan. Pandangan pun menoleh mereka yang mendengarnya. Dokter Joshua di temani beberapa lelaki berseragam putih, melangkah mendekat ruang perawatan Saka.
“Dokter, bagaimana putraku? Biarkan aku masuk menemaninya. Tolonglah Dokter,” Ucap Jesika menerobos barisan seragam putih yang melintas. Sepuluh jari tangan bersatu memohon di hadapan Dokter Joshua.
“Nyonya, tenanglah, kami akan melakukan pemeriksaaan. Hasilnya segera kami beritahu Jadi, nyonya harus menunggu di luar, biarkan kami melakukan tugas.” Dokter Joshua berbicara perlahan agar lawan bicara bisa memahami situasi.
“Ayo Jes, biarkan dokter memeriksa Saka.” Hendrik menarik tubuh Jesika dan membawanya duduk di bangku selasar ruangan.
Denny hanya memberikan anggukan kepala saat pandangannya bersatu dengan Dokter Joshua. Maka langkah kaki mereka membawa masuk ke ruang perawatan. Manik hitam Denny, menangkap setiap gerakan yang dilakukan para dokter.
Di apartemen.
__ADS_1
Yanti dan Deliana duduk santai di ruang tamu, malam ini Deliana tidur di apartemen Yanti. Dia biasa melakukannya kalau Iqbal melakukan tugas ke luar dan harus meninggalkan Yanti sendiri.
“Yan, kau masih ingat dengan sahabatmu “Indah”?” Tanya Deli disela-sela obrolan mereka.
“Indah? Tentu, dia teman terbaikku sama seperti mu,” Jawab Yanti singkat.
“Bisa ku pastikan Denny sangat terpukul, kehilangan gadis itu. Saat menikah dengan Hanna pun, Denny masih menyebut-nyebut namanya.” Balas Deli teringat saat dia merawat Hanna sakit.
“Aku sendiri tidak tahu bagaimana hubungan Indah dan tuan Denny bisa terjalin bahkan pernikahan. Indah sangat pandai menutupi perasaannya. Seperti kau tahu, kabar terakhir aku dapat dia sudah tiada.” Manik hitam Yanti sudah menggenang cairan bening yang siap tumpah.
“Kau masih simpan fotonya? Boleh aku lihat?” Deli bertanya kepada poin penting, dari tadi dia hanya berusaha berputar-putar supaya Yanti tidak terlalu curiga dengan tujuannya.
“Foto Indah? Aku tidak punya, kalau di perusahaan juga tidak ada, mama tuan Denny memerintahkan menghapus semua data Indah. Dia tidak ingin, kenangan Indah mempengaruhi kehidupan tuan Denny. Karena setelah dia tiada, tuan Denny sangat berubah dan seolah tidak memperdulikan apapun di dunia ini. Sampai akhirnya, Hanna masuk dalam kehidupannya dan perlahan mengembalikan semangat hidup tuan Denny. Kenapa kita bicara tentang Indah?” Tanya Yanti melipat kening menatap Deliana.
“Tidak ada, hanya ingin tahu saja.” Kilah Deli dengan cepat.
“Ya, maafkan aku. Kita sedang melakukannya.” Deli tak sempat melanjutkan kata-kata.
“Del, sejak kapan, kenapa kamu ngak cerita?” Yanti terkejut dengan jawaban yang didengar.
“Aku tidak ingat kapan jelasnya, terjadi begitu saja. Kita tidak ingin hubungan ini diketahui, karena waktunya belum tepat. Kita masih fokus dengan kesembuhan Dania. Hanya kau yang tahu masalah ini. Jadi tolong simpan dulu, aku tidak mau Denny marah karena aku tidak pegang janji. ” Jawab Deli terkesan meyakinkan.
“Oke, aku akan mengunci mulutku,” Yanti membuat gerakan garis lurus di mulut dengan tangannya.
“Dan kau juga harus janji, agar mendukung hubunganku,” Deli menggenggam tangan Yanti.
“Aku akan selalu mendukungmu, hanya kau sahabat terbaikku,” Yanti membalas genggaman tangan Deli.
__ADS_1
“Maafkan aku Yanti, aku sudah berbohong. Aku sangat menyukai Denny, pada akhirnya nanti kau harus mendukungku.” Bisik Deli di dalam hati.
Di rumah sakit.
Dokter Joshua menghayun langkah menghampiri Denny. Pandangan Jesika jatuh kepada mereka berdua. Jesika pun beranjak dan sedikit berlari menghampiri Denny dan Dokter Joshua. Melihat itu, Hendrik pun menyusul Jesika.
“Tuan-tuan dan nyonya, Putra kalian masih belum memberikan reaksi. Kami akan melakukan MRI, untuk menentukan tindakan selanjutnya.” Ucap Dokter Joshua menatap bergantian Denny, Hendrik dan Jesika. MRI dilakukan untuk membantu dokter mendeteksi beberapa kerusakan yang terjadi di otak.
“Dokter, apakah aman dilakukan dengan kondisi sekarang?” Tanya Jesika dengan wajah prustasi.
“Kita sudah menunggu delapan jam pasca operasi, saat ini jantung dan pernafasan normal. Tindakan ini bisa dilakukan.”
“Baiklah dokter, tolong lakukan yang terbaik.” Denny menundukkan kepala sambil ucapan memohon.
“Tentu, kami akan berusaha sebaik mungkin,” Dokter Joshua menepuk bahu Denny dan melangkah pergi meninggalkan Denny, Hendrik dan Jesika.
Brankar didorong ke luar di bawa menuju suatu ruangan. Jesika langsung menghampiri, langkahnya terhenti saat seorang perawat menghalanginya. Hedrik pun merangkul Jesika.
“Biarkan aku sebentar melihatnya,” Jesika terisak memohon dalam pelukan Hendrik.
“Bisakah kau bersikap tenang, saat ini menangis tidak ada gunanya, buat dia mengerti.” Suara Denny menguap, hatinya juga sedih berbalut luka. Orang-orang yang dia cintai, tidak pernah bertahan lama dan akan pergi satu persatu.
“Bagaimana aku bisa tenang, dia putraku. Kalau terjadi sesuatu dengannya aku akan mengakhiri hidupku,” Ucap Jesika Histeris.
“Ya, kau ibunya, kalau kau lemah dia juga akan lemah. Apa kau tidak tahu itu. Kalau kau mau mengakhiri hidupmu harus kau lakukan di hadapanku. Jangan bicara omomg kosong denganku.” Denny menatap dalam sepasang manik hitam diselimuti kabut merah menumpahkan cairan bening.
Denny sangat sakit mendengar kata-kata ingin mengakhiri hidup. Wajah yang hilang cukup lama, baru tampak kembali kini dirundung kesedihan tidak dapat dirangkul memberikan dukungan dan perlindungan. Walaupun dia di depan mata, hanya dapat menatap. Hatinya tersayat, tidak sanggup kehilangan kedua kali.
__ADS_1