Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 110 Kenangan Elisa 1


__ADS_3

Tatapan lekat Elisa terlihat menyelidik, membuat Jesika berpikir kalau melakukan kesalahan. Nama Denny menjadi sesuatu sangat menarik perhatian perempuan itu.


Jesika membalas tatapan manik hitam Elisa seolah meminta penjelas, perempuan yang baru dikenal lima menitan itu haruskah dia menceritakan siapa Denny bagi dirinya. Saat ini hanya ingin segera menemukan Saka bagaimana pun caranya. Dia sudah terpisah dari Denny dengan menuruti Gunawan membawa pergi sampai ke tempat ini. Jesika mendesah gelisah dan kekecewaan di dalam hati, Hendrik tidak bicara tentang rencana Gunawan menjemputnya di bandara.


“Denny temanku, dia juga ingin membantu menemukan Saka.” Ucap Jesika tenang. Dia masih ragu berkata jujur dengan Elisa, Hendrik juga ternyata tidak berkata jujur tentang hubungan mereka. Malah mempertahankan kebohongan kalau mereka sudah menjadi suami istri. Hendrik tidak ingin Denny kembali dalam kehidupan Jesika.


Alis dan kening Elisa mengkerut, di kepala membayangkan wajah lelaki yang pernah mengisi hatinya. Walaupun kejadian itu sudah lama, tapi kenangan manis dan pahit tidak mudah luntur dalam sejarah hidupnya.


“Teman, kalau boleh tahu nama lengkap lelaki itu siapa?” Rasa penasaran Elisa seketika memuncak, ingin memastikan kalau dugaannya salah bukan Denny yang dia kenal.


Jesika semakin terpojok dengan pertanyaan Elisa. Di matanya rasa ingin tahu perempuan itu membuatnya tidak nyaman. Dia tidak ingin mengulang cerita masa lalu, tapi Elisa membuatnya menggiring kembali ke belakang.


“Denny Prasetyo,apa kau mengenalnya?” Jawaban dan pertanyaan terlontar bersamaan mengarah kepada Elisa.


Kedua bibir tipis Elisa tertutup rapat, manik hitamnya menatap datar ke depan. Dia tidak percaya, dugaannya benar. Dia sangat mengenal lelaki itu, cinta pertama dan terakhir baginya untuk bisa jatuh cinta kembali. Tapi apa arti Gunawan bagi dirinya, lelaki yang sudah setia menjadi suami memberikan kehidupan bermanja kemewahan.


Story Oof


Di suatu siang di dalam gedung apartemen tinggi lantai berlapis-lapis, di dalam sebuah ruangan dari salah satu lapisan lantai itu. Duduk terkulai lemas seorang perempuan berparas cantik. Manik hitamnya mendung mencairkan suatu yang beku mengalir deras tanpa henti. Wajah putih berbalut luka, menatap seorang wanita separuh baya duduk di sofa penuh keanggunan dan berwibawa. Sorot tajam tanpa kasih membalas tatapan berkabut bulir-bulir bening menderas.


“Hentikan tangismu. Aku tidak ingin terlihat sangat kejam. Kau akan paham, kalau kau sudah menjadi seorang ibu. Aku sudah menentukan calon istri Denny. Kau sudah cukup bermain-main dengannya. Wajahmu cukup cantik, kau mudah memikat laki-laki kaya di luar sana. Aku tahu apa keinginanmu. Kau bisa ambil berapa pun yang kau mau atau semua juga boleh. Terserah keinginanmu.” Suara dingin keluar dari bibir berpoles merah menambah ketegasan wajah wanita paroh baya sambil menunjuk dengan hidung tas hitam di atas meja terbuka lebar terlihat deratan uang kertas tebal berbaris rapi.


“Tante, aku tidak butuh uang. Aku tulus mencintai Denny, jangan pisahkan aku dengannya.” Rengek Elisa menghiba. Rasa takut kehilangan menusuk-nusuk hatinya sangat dalam.


“Cih…, aku tidak ingin mendengar apapun. Aku sudah berbaik hati memberikan penawaran ini. Jangan buat aku menjadi kesal. Kerier modelmu menjadi taruhan kalau kau masih berhubungan dengan Denny. Aku pastikan kau akan tidak terlihat lagi di mana pun. Bukan itu saja, kau juga tidak akan nyaman bernafas.” Suara wanita paroh baya meninggi, ucapannya penuh ancaman. Atmosfer di ruangan seolah tertarik ke dalam tubuhnya membuat dia tegak berdiri kuat menatap kejam.

__ADS_1


Tubuh Elisa semakin bergoncang hebat, kata-kata itu sangat membuatnya menggigil ketakutan. Perempuan paroh baya itu punya kuasa dengan mudah mewujudkan ucapannya. Apalagi yang bisa dia lakukan kalau kariernya hancur, dunia model tidaklah mudah diraih sampai bisa setenar ini. Berkat bantuan Denny, dia bisa sukses kalau tidak mungkin dia sudah menjual diri dengan agensi-agensi yang hanya ingin memperdayai kecantikan tubuhnya.


“Tante… tolong jangan lakukan itu, akan aku turuti keinginan tante.” Elisa terbata-bata mengatur kata. Melawan tidak berguna hanya akan menambah penderitaan. Waktu tidak berpihak untuk cinta yang dimilikinya.


“Bagus, telpon Denny. Minta dia datang,” Perintah wanita paroh baya penuh kemenangan.


Elisa bangkit dari duduk, dengan lemah melangkah meraih tas kecil di atas sofa. Membuka kancing tas dan mengambil ponsel dari dalam. Matanya berkabut mencari nama di layar tipis. Jari bergetar menggeser dan menekan nama “kekasihku”. Bibir bawah tergigit kuat, rasa sakit terasa tak sebanding dengan luka di kalbu.


“Drekk, Drekk, Drekk,” suara ponsel memanggil orang di seberang.


“Hallo, sayang,” Suara lembut terdengar menyambut panggilan.


Elisa, berusaha menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan. Ketenangan coba dia bangun kuat agar suaranya terdengar normal.


“Aku di kantor, ada apa? Kau rindu denganku?” Sapa lelaki lagi penuh cinta.


Kembali air bening mengalir dari manik hitam Elisa, suara itu membuatnya sangat pedih. Suara lelaki sangat dia puja dan cinta selalu membuat hangat keseluruh tubuh.


“Hem… bisa kau datang ke tempatku sekarang, aku menunggu mu. Tut…Tut…Tut…” Ponsel langsung terputus. Elisa tak sanggup menahan tangis, dengan tangan menutup mulut. Dia ingin berteriak menumpahkan semua, tapi harus dia tahan. Permainnya belum selesai, bahkan baru dia mulai.


Di hadapannya tergores senyum membingkai tergambar jelas dari wanita paruh baya. Melangkah mendekat dan mengangkat kedua tangan. Menangkup pipi wajah Elisa dan menatap dalam.


“Bersiaplah, bersikap sealami mungkin. Jangan buat aku kecewa. Aku mempercayaimu,” Berbicara penuh tekanan dengan jari-jari dari kedua tanganya mengusap perlahan kedua pipi Elisa.


Lalu tubuh wanita separuh baya bergerak meninggalkan ruangan. Atmosfer ruangan yang mencekam berubah sendu. Elisa terduduk lemah dengan wajah tertunduk.

__ADS_1


Waktu berjalan beberapa menit ke depan.


“Ting, Tong,” Suara bel pintu menjerit memanggil penghuni di dalam. Sudah berdiri seorang lelaki berbalut jas hitam menghantar ketampanannya dengan senyum tak putus dari bibir. Tangannya meraih gagang pintu karena tidak sabar menunggu.


“Ceklek,” pintu terbuka terdorong ke dalam. Sang lelaki menarik sudut bibir melengkung ke bawah heran mendapati pintu tidak terkunci. Langkah kakinya menyeret ke dalam, matanya menyapu ruangan.


“Ha.., ha…, ha…, tenang sayang. Udah ya, bentar lagi dia datang. Aku mau simpan uang ini dulu, nanti kelihatan sama dia bisa gawat. Pemberian mamanya ini ngak sebanding yang dia beri sama aku. Dia bodoh, dikiraain aku sangat mencintainya. Uang lebih aku suka dibandingkan apapun. Ha…Ha…Ha…,”


Manik hitam Denny membulat sempurna, wajah putihnya berbias merah. Tatapannya tajam melihat Elisa duduk di atas tempat tidur membelakanginya dengan tangan menimang-nimang satu ikat tebal uang dari sebuah tas berisi barisan tumpukan uang. Di telinganya terpasang sepasang headsead, karena itu dia tidak menyadari Denny masuk ke kamar.


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Asslamaalaikum,


Hai reader, salam cinta selalu buat kamu yang masih setia menunggu kelanjutan cerita aku. Maaf akunya ngak bisa teratur up date cerita karena kesibukan di kerjaan dan sebagai mommy single he… he… he… semangat untuk aku 💪😙😙😙


Aku up 2 Bab ya… di dua Bab ini aku cerita tentang karakter Elisa.


Mungkin ada yang bingung siapa Elisa? Perempuan cantik ini pernah tersebut diawal cerita pada Bab 34 Perasaan Terhina 1 dan Bab 57 Duka Mendalam.


Saatnya Elisa muncul, cerita akan semakin menarik dan menyayat.


Oke selamat membaca dan jangan lupa komentar, vote dan like. Terima kasih, salam cinta selalu.


Wassalamualaikum.

__ADS_1


__ADS_2