
Manik hitam Jesika menyapu ruangan, dirinya terasa berada dalam ruangan perawatan di rumah sakit. Peralatan medis menghiasi isi ruangan, kekaguman terbit di hati Jesika terhadap Denny untuk kasih sayang kepada putrinya.
Langkah kaki Jesika mendekati punggung belakang Harun berdiri membelakanginya di samping brankar memberikan perawatan ke pada Dania.
“Bagaimana keadaanya?” Jesika menatap Dania memejamkan mata dengan wajah lemah dan pucat.
Harun yang tidak menyadari kedatangan Jesika tidak mendengar suara seseorang berbicara di belakangnya.
Mendapati Harun tidak menjawab pertanyaannya, Jesika tersenyum kecut merutuki kebodohan sendiri bertanya kepada orang dengan kedua telinganya ditutupi sebuah alat.
“Haaiss, bagaimana dia biasa menjawab pertanyaanku alat itu menempel di telinganya.” Sebuah stetoskop terjuntai di kedua telinga Harun sedang tangannya menekan-nekan kantong cairan merah menggantung di tiang infus.
“Apa yang dia lakukan?” Jesika bergumam di dalam hati memperhatikan perbuatan Harun.
Beberapa saat ruangan sepi, Jesika masih tidak berpindah dari posisinya hanya berdiri di belakang Harun sambil sesekali melirik ke wajah Dania dan berpindah ke Harun.
“Huuuf,” terdengar Harun melepaskan nafas kasar. Jesika menautkan kedua alisnya melihat Harun melepaskan alat yang sedari tadi menyumbat di kedua telinga dan mengalunkan di leher.
“Bagaimana keadaanya?” kembali Jesika mengulangi pertanyaan sama yang sempat menguap ke udara.
Harun terkejut mendapati seseorang berbicara di belakangnya lalu membalikkan tubuh dengan tangan mengelus dada.
“Kau, sejak kapan kau berada di sini?” Harun tidak menjawab malah menghadiahi pertanyaan.”Wanita ini hampir membuatku mati muda,” keluh Harun di dalam hati menatap Jesika kesal.
Jesika mendengar pertanyaan pun tersenyum melihat berubahan sikap Harun. Dia telah membuat pria itu terkejut terlihat jelas di wajahnya.
“Maaf kalau telah membuatmu terkejut, aku sudah lama berdiri di belakangmu. Aku Jesika dan kau?” Jesika mengulurkan tangan ingin mengakrabkan diri.
Tatapan manik hitam Harun meneliti dari atas kepala hingga ke kaki dengan kepala berpikir keras mendiagnosa gejala yang tampakkan pada wanita di depannya.
“Jesika”, dia menyebut namanya Jesika? Bukankah dia Indah? Dia masih orang yang samakan atau dia amnesia?” Harun masih memperhatikan wajah Jesika dan tatapannya jatuh ke uluran tangan di hadapannya.
__ADS_1
“Harun, Dokter Harun,” Menyambut uluran tangan Jesika. “Kamu siapanya Denny? Dan kenapa bisa berada di rumahnya?” Harun mencoba mencari kebenaran dari ingatan Jesika
Jesika memasang wajah waspada dengan pria yang terlalu banyak bertanya ini. Dia belum menjawab pertanyaan darinya malah menghujani dengan pertanyaan.
“Saya hanya sekedar tamu, baru tiba tadi malam dan akan segera pergi setelah urusan saya selesai di sini.” Jesika menimbang-nimbang jawaban yang sudah dia berikan semoga pria itu mengerti dan tidak memberikan pertanyaan lagi.
“Urusan dengan Denny maksudnya dan akan segera pergi, kenapa?” Tanya Harun lagi semakin ingin tahu.
Jesika memutar manik hitamnya, ternyata harapannya tidak sesuai kenyataan, pria ini masih mengajukan pertanyaan.
“Anda benar seorang dokter?” Tanya Jesika kesal.
“Benar aku seorang dokter dan sudah bertugas selama delapan belas tahun, Apa kau meragukan keahlianku?” Harun melihat Jesika mulai kesal dengan rasa ingin tahunya, apalagi dengan menekankan kata "Anda".
Jesika tersenyum melihat kepercayaan diri Harun tanpa ada rasa ragu di wajahnya.
“Syukurlah anda menyadari kalau diri anda itu seorang dokter bukan seorang wartawan yang sedang memburu sebuah berita infotainment seorang Denny Prasetyo.” Kilah Jesika menyadarkan Harun identitas sejati dirinya.
Harum tersenyum samar mendengar ocehan Jesika masih menyapanya dengan "Anda" kata kunci yang tidak suka. Dia bisa menyimpulkan ada sesuatu yang berusaha di rahasiakan.
Jesika cemberut menatap kepergian Harun, tidak di sangka pria yang banyak bertanya itu cepat menyerah dan seolah-olah sedang merajuk. Tak mau di abaikan, Jesika ikut mendaratkan tubuh di sofa yang sama.
Telintas bayangan Denny di layat tv, walaupun tidak terlihat jelas wajahnya kelihatan sangat lelah. Jesika ingin menanyakan keberadaan Denny kepada Harun, tapi melihat pria itu sudah terpejam Jesika menjadi tidak enak hati.
“Apakah kau tidur? Gumam Jesika sedikit berbisik menatap wajah Harun.
“Tidak, aku bisa mendengar suaramu,” Jawab Harun dengan mata terpejam.
“Kau marah dengan ucapanku dokter Harun?” Jesika ingin bersikap ramah memperbaiki keadaan kurang bersahabat yang telah terjadi antara mereka berdua beberapa menit yang lalu.
Harun hanya tersenyum di dalam hati mendengar ucapan Jesika. Tidak disangka sikapnya cepat sekali berubah dari marah sekarang berusaha bersikap baik.
__ADS_1
“Tidak, aku hanya lelah, dan sebagai seorang dokter aku hanya boleh bertanya pada pasien yang memerlukan perawatan.” Jelas Harun memberikan balasan atas ucapan Jesika pada dirinya.
“Kau juga dendam denganku, bukankah itu sikap tidak terpuji bagi seorang dokter seperti mu?”Mendengar ucapan Harun, Jesika menyipitkan kelopak manik hitam menatapnya.
“Ha…ha…ha…, aku suka berbicara denganmu nona Jesika. Jarang seseorang begitu jujur memuji diriku.” Ucapan Jesika mengundang tawa Harun, ada daya tarik tersendiri berbicara dengan Jesika bagi dirinya.
“Aku juga suka berbicara denganmu, bisakah kita berdamai?” Jesika mengulas senyum kelegaan melihat tawa Harun.
“Kita tidak sedang berselisih, hanya sedikit berdiskusi. Santai saja,” balas Harun menegakkan tubuhnya menatap Jesika.
“Drekk, Drekk, Drekk….”Suara ponsel Harun tiba-tiba berbunyi. Tangannya meraih ponsel di saku baju jas.
“Maaf sebentar, aku akan menjawab panggilan.” Ucapnya ke arah Jesika. Manik hitam Harun menangkap nama Iqbal di layar tipis ponsel.
Jesika memberikan jawaban dengan menganggukkan kepala. Manik hitamnya menatap lekat wajah Harun terbit rasa ingin tahu siapa yang sudah menghubunginya, dia menduga kalau Denny yang sedang berbicara.
“Hallo,” Terdengar Harun menyapa orang di ujung ponselnya.
“Harun, dengarkan aku baik-baik. Jangan beritahu Indah apapun tentang Denny saat ini. Biarkan itu menjadi urusan mereka berdua. Aku harap kau mengerti,” Ucap Iqbal penuh penekanan.
“Hem, baik. Tut..Tut…Tut…,” panggilan terputus sepihak dari Iqbal, manik hitam menatap kesal layar tipis ponsel dalam genggamannya.
“Apa lagi yang mereka rahasiakan? Aku juga menjadi ikut terlibat dalam permasalahan mereka. Dasar kalian, kapan aku bisa tenang dari gangguan ini?” Pekik Harun di dalam hati, hanya bisa memberikan seulas senyum menutupi rasa kesal dua sahabatnya dihadapan Jesika.
Melihat Harun sudah menyimpan ponsel, Jesika tanpa ragu bertanya tentang Denny.
“Kenapa dia tidak langsung pulang menemui Dania?” Tanya Jesika menatap lekat wajah Harun.
Mendapat pertanyaan secara tiba-taba, Harun menggaruk kepala yang tidak terasa gatal dan berusaha mencari penangkal jawaban yang tepat mengingat pesan atau bahkan dapat disebut sebagai ancaman dari Iqbal. Dia lagi-lagi merutuki kedua sahabatnya itu, tidak henti-henti ikut melibatkannya dalam situasi yang sulit.
“Dia ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggal, itu yang sempat aku dengar saat berbicara dengan Dania.” Jawab Harun sambil merebahkan kembali tubuhnya di sandaran sofa.
__ADS_1
“Pekerjaan apa yang lebih penting dibandingkan keselamatan putrinya?” Nada suara Jesika sedikit meninggi, dia tidak suka dengan jawaban Harun, menyimpulkan kalau Denny terlalu mementingkan pekerjaan dibandingkan dengan kesehatan putrinya. Belum lagi masalah Saka yang masih belum ada kabar, dia sendiri juga tidak bisa berbicara dengan Denny menanyakannya.
“Nona Jesika jangan terlalu cepat menilai, Dania juga tidak apa-apa hanya terlalu lelah dan penyebab dirinya seperti itu karena dia tidak patuh minum obat beberapa hari ini.” Harun berbohong dengan keadaan Dania yang sebenarnya. Dia harus segera berbicara dengan Denny tapi mengingat Jesika ada bersamanya itu tidak bisa dilakukan.