
Mobil Denny terus meluncur, hanya kesenyapan menemani dan suara hebusan angin dari laju mobil. Denny sesekali mencuri pandang ke arah Indah yang sedari tadi masih membuang wajah menatap ke jendela. “Apa lehernya tidak sakit melihat ke samping terus?” Ucap Denny di dalam hati.
Pandangan Denny masih tekun ke jalan, dia terpaksa memutar jalan lebih jauh menuju pulang karena aksi menghindar dari mobil pengikut. Syukur Iqbal cepat tanggap dan telah pun mengurus masalahnya dengan baik.
“Chitt,” mobil berhenti di depan pintu gerbang. Terlihat seorang satpam membuka pintu gerbang dan mobil perlahan masuk ke pekarangan rumah lalu berhenti.
Mesin mobil telah mati, seatbelt Denny pun sudah terlepas, kini wajahnya menatap perempuan yang duduk di samping tidak bergerak hendak turun. Denny mendorong tubuh mendekat hingga hidungnya bisa mencium aroma rambut Indah. Perlahan jarinya lembut menyibak rambut menutupi separuh wajah Indah menariknya ke belakang telinga. Senyum tertarik di bibir mendapati Indah tertidur pulas dan tidak menyadari kalau mereka sudah sampai.
“Kress,” tangan Denny membuka pintu dan menarik langkah ke luar mobil.
“Plass,” perlahan Denny menutup pintu mobil, takut Indah terjaga dari tidur.
Tarikan kakinya telah sampai di depan pintu rumah, mengulur tangan ke gagang pintu hendak membuka pintu.
“Cklek,” pintu tertarik dari dalam dan terbuka. Terlihat Bik Surtik dari balik pintu dengan wajah kuyu dengan mata mengantuk. Dia berjaga menunggu Denny pulang hingga sampai larut malam, berusaha tidak tidur dan menahan kantuk takut Denny pulang dia tidak bisa membukakan pintu.
“Bik, terima kasih menungguku.” Denny tersenyum sambil berucap tulus membalas perhatian Bik Surtik yang sudah dianggapnya seperti saudara.
“Tuan, jangan seperti itu sudah tugas saya menunggu tuan pulang dan membukakan pintu,” Balas Bik Surtik senang mendengar ucapan Denny hingga rasa kantuknya pun hilang seketika.
__ADS_1
“Ngak masalah Bik dan tolong siapkan kamar tamu ada seseorang yang akan tinggal bersama kita,”
“Iya tuan,” Tanpa bertanya Bik Surtik langsung membalikkan tubuh bergegas mematuhi perintah Denny.
Denny hanya tersenyum mengiringi tubuh belakang Bik Surtik berlalu dari hadapannya.
Langkah Denny membawanya kembali ke mobil. Tangannya perlahan membuka peganggan pintu mobil.
“Plass,” Pintu mobil ditarik terbuka lebar. Manik hitam Denny menangkap wajah Indah dengan mata tertutup rapat tertidur pulas. Denny menarik tubuh berjongkok di hadapanbtubuh Indah.
“Aku sangat merindukanmu. Wajahmu teduh dan cantik seperti ini, sangat berbeda saat kau terjaga. Kemarahan dan kebencian selalu kau tunjukkan. Kau membangun jarak walau aku sudah ada di hadapanmu. Aku tidak akan menyerah mendapatkan kepercayaan dan cintamu kembali. Tolong jangan lari lagi dariku.” Denny mendaratkan ciuman di kening Indah.
“Hemmm,” terdengar erangan perlahan suara Indah. Denny hanya tersenyum menatap wajah perempuan yang sangat dia cinta.
Bik Surtik tertegun melihat pemandangan yang tidak biasa dia lihat sekarang. Perasaannya seperti di dalam mimpi. Tangannya mengucek-ngucek ke dua mata, seolah penglihatannya salah, tetapi matanya menangkap kebenaran. Setelah kematian nyonya muda Hanna, dia tidak pernah melihat Denny dekat dengan perempuan dan apalagi sampai membawa pulang ke rumah. Perempuan yang bisa dekat dengan Denny hanya Deliana itupun karena sebagai Dokter yang bertugas merawat Dania.
Di hadapan Bik Surtik, seperti adegan romantis film Bollywood yang sering dia tonton di televisi saat menghibur diri setelah selesai bekerja dan bersantai di dalam kamar. Tanpa sadar, mulut Bik Surtik sampai melongoh terbuka lebar menatap Denny.
“Bik, Bik, Bik,” panggil Denny. Bik Surtik tanpa berkedip berdiri mematung di depan pintu tidak bergeser sedikit pun sedang dia hendak masuk ke kamar.
__ADS_1
“Eh..emh…eh..i..iya tuan,” Bik Surtik tergagap menyadari Denny sudah ada di depannya.
“Tolong bukakan pintu dan pelan-pelan jangan berisik,” ucap Denny berbisik takut Indah terbangun dari tidur.
“Baik, tuan,” Bik Surtik menganggukkan kepala dan menjawab dengan suara yang hampir tak terdengar. Membuka pintu dan cepat melangkah pergi meninggalkan Denny. Hawa panas naik ke wajah Bik Surtik hingga rona merah membias di wajah. Bik Surtik menepuk-nepuk ke dua pipinya sambil melangkah. Adegan romantis ala film Bollywood tertengger jelas di kepala, hingga dia malu dengan dirinya sendiri membayangkan Denny dengan perempuan dalam gendongannya.
Denny tersenyum melihat tingkah aneh Bik Surtik, langkah kaki pun menariknya masuk ke kamar. Perlahan tubuh Indah turun dari gendongan mendarat di atas tempat tidur. Denny menahan tubuh Indah dalam pelukannya. Menekuk tangan kanan Indah dan menarik tangan jaket hingga terlepas. Beralih ke tangan kiri, menekuk tangan kiri, lalu menarik tangan jaket dan terlepas. Jaket itu pun tidak menempel lagi di tubuh Indah telah berpindah di ujung tempat tidur.
Perlahan dia baringkan tubuh Indah. Perhatiannya beralih ke sepasang sepatu terpasang manis di kaki Indah. Kini sepatu itu sudah terlepas dan terletak rapi di lantai samping kaki tempat tidur. Denny menarik pandang ke wajah Indah.
“Kasihan, kau tentu sangat lelah. Hingga kau tidak sadar sedikpun apa yang sudah ku lakukan. Kau juga masih sama, walau berusaha kuat tapi kau lemah. Maafkan aku tidak ada bersamamu selama ini. Sekarang, aku membawamu pulang dan kita akan bersama untuk selamanya, juga bersama anak-anak kita hingga maut memisahkan, itu janjiku. Selamat datang kembali dalam hidupku dan selamat tidur cintaku,” Denny mengecup kening Indah dan menarik selimut menutupi tubuh hingga ke dada. Denny melangkah meninggalkan Indah tertidur dan menutup pintu kamar perlahan.
Perlahan Jesika menyapu pandangan, gelap menyelimuti dan sepi tidak ada seorang pun di dalam kamar. Hati terbit rasa cemas, takut dan kecewa terhadap Denny tidak membawanya bersama.
“Di mana ini, kenapa aku sendiri, di mana dia, kenapa dia meninggalkan aku di sini, dasar tidak bisa di percaya.” Gerutu Jesika, menarik tubuh beranjak dari tempat tidur. Kakinya melangkah menuju pintu.
“Kenapa aku ngak sampai-sampai ke pintu. Seberapa luas kamar ini, pintu itu sangat jauh aku kesulitan menggapainya. Denny…. di mana kau, aku takut di sini sendiri.” Jesika berusaha memanggil Denny, tapi suaranya tidak ada yang mendengarkan.
“Aku harus bisa ke luar dari sini. Seberapa jauh lagi aku melangkah, kakiku sudah pegal, aku capek. Kenapa aku tidak juga mendekat ke pintu?” Jesika menatap pintu, langkahnya tidak juga membawa sampai ke pintu. Dia lelah dan terduduk lemas, putus asa datang menyerang.
__ADS_1
“Denny, kau sugguh keterlaluan. Kau berjanji akan membawaku bersama, tapi kau pergi. Denny jangan tinggalkan aku, bawa aku bersamamu. Hiks…Hiks…Hiks…,” Jesika menangis, hatinya sangat sedih dan terluka Denny tidak ada bersamanya. Rasa sepi dan rindu seketika meraja dalam diri.
“Srekk,” pintu terbuka, cahaya seketika menyinari memenuhi kamar. Jesika memejamkan mata, tak sanggup menangkap silau. Rasa hangat menyentuh tangannya, seketika dia menoleh dan membuka mata.