Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 32 Tamu VIP Penggoda


__ADS_3

Indah telah sampai di lantai dasar. Matanya mencari sosok pria yang berjanji menunggunya.


"Di mana kamu, Hen?" Gerutu Indah tidak menjumpai Hendrik.


"Der," Henrik mengagetkan Indah dari belakang. Tersenyum menatap Indah, yang kelihatan kesal menantinya. Padahal Hendrik sudah melihatnya dari tadi.


"Aduh, kaget aku Hen. Untung jantungku ngak copot." Mata Indah membesar menatap Hendrik yanga membuatnya terkejut.


" Ha...Ha...Ha..., Maaf. Ini aku belikan makanan. Kamu pasti belum sarapankan?" Tanya Hendrik penuh perhatian.


"Sudah kok, minum segelas susu," Indah menjawab datar, perutnya memang hanya menerima segelas susu. Pagi ini dia tidak nafsu makan.


"Susu? Eahk, aku benci itu." Hendrik merasa mual mendengar kata susu. Dia tidak menyukai makanan atau pun minuman yang mengandung susu.


"Iss, kamu ini. Susu ada salah apa sama kamu sampai kamu segitu bencinya?" Indah menolak bahu Hendrik. Kesal melihat reaksi wajah Hendrik yang tidak enak dilihat.


"Udah ah, jangan dibahas. Ayo kita jalan."


Hendrik berjalan, meninggalkan Indah di belakangnya. Langkah kaki Indah turut mengikuti Hendrik. Berdua mereka memasuki mobil. Terdengar mesin mobil menyala dan perlahan berjalan meninggalkan perusahaan.


Hedrik menghentikan mobil di area parkir sebuah perusahaan. Matanya memandang tingkat bangunan yang ada di depannya.


“Ayo Hen, kita turun, kenapa bengong,” Indah memandang Hendrik sambil melepaskan seatbelt di pinggangnya.


‘Iya, kita turun,” Hendrik tersadar dari lamunannya mendengar ucapan Indah.


Berdua mereka ke luar mobil, melangkah masuk. Sampainya di dalam mereka bertemu dengan pegawai resepsionis.


“Selamat siang, ada yang bisa dibantu,” terdengar suara ramah menyapa menatap Hendrik dan Indah.


“Siang, kami dari stasiun tv**** ingin bertemu dengan Pak Gunawan. Kami sudah buat janji dengan beliau dan akan bertemu hari ini,” Indah menyambut keramahan gadis belia di hadapannya dan menjelaskan tujuan mereka datang.


“Sebentar,” mengangkat telepon dan berbicara.


Indah dan Hendrik saling berpandangan, Hendrik mengangkat bahu sambil tersenyum.


“Silakan ke lantai 23, Bapak sudah menunggu,” Pegawai resepsionis melemparkan senyuman.


“Terima kasih,” Indah membalas dan meninggalkannya.


Indah dan Hendrik melangkah menuju lift. Sesampai di depan lift pintu terbuka, mereka melangkah masuk. Menekan nomor 23 tempat tujuan mereka.


Tak beberapa lama lift berhenti dan pintu terbuka. Bersama mereka ke luar. Berjalan menyusuri ruangan, terlihat seorang wanita duduk di balik meja sibuk dengan kotak komputernya.


Pandangannya beralih ke depan menatap dua orang berjalan menuju ke arahnya.


Nila Rosita, Sekretaris, tertulis jelas di sebuah plat paling depan meja. Indah dan Hendrik tersenyum tiba di depannya.


“Selamat siang, Bapak sudah menunggu di ruangan, silahkan,”


Sekretaris itu melangkah menuju pintu ruangan di sampingnya, Indah dan Hendrik mengikuti.

__ADS_1


“Tok-Tok-Tok,” suara pintu diketuk.


Lalu pintu dibuka, kembali sekretaris melempar senyuman kepada Indah dan Hendrik mempersilahkan masuk ke ruangan.


Berdua mereka melangkah masuk. Lalu pintu tertutup. Mata Indah menatap seorang pria berdiri dibalut setelan jas hitam, membuatnya semakin keren dengan wajahnya yang tampan.


Pria itu tersenyum menyambut Indah dan Hendrik dengan mengulurkan tangannya.


“Gunawan,” terdengar kata dari bibirnya yang tersenyum.


“Indah,” Pandanngan Indah jatuh pada pria di hadapannya.


“Hendrik” Hendrik tidak mau ketinggalan ikut memperkenalkan diri.Ketiganya saling memperkenalkan diri.


“Silahkan duduk,” pria itu duduk di sofa dan meminta Indah dan Hendrik ikut duduk.


“Terima kasih,” balasan serentak Indah dan Hendrik.


“Nona Indah, masih sendiri?” Genawan bertanya dengan wajah tersenyum menatap Indah.


“Ma..maaf Pak,” Indah gugup mendengar pertanyaan Gunawan.


“Maksud saya, sudah punya pacar atau suami mungkin?” Gunawan menjelaskan pertanyaannya.


“Oh, kedua-duanya belum Pak,” Indah menjawab dengan wajah heran dengan petanyaan yang ditanyakan.


Hendrik menatap tajam pria yang ada dihadapannya.


Indah tidak bisa menyelesaikan ucapannya.


“Saya sudah tahu, setiap tahun saya menghadiri acara itu. Dan saya tidak pernah tahu, kalau di perusahaan Denny ada karyawan secantik kamu,”


Gunawan mulai mengoda Indah dengan kata-katanya.


“Terima kasih Pak, atas pujiannya,” Indah mencoba tenang menghadapi sikap Gunawan.


“Saya akan datang, dengan satu syarat,” menunjukkan jari telunjuk ke arah Indah.


Hendrik semakin geram melihat tingkah Gunawan, terlihat jelas dengan meremas kedua pahanya. Gunawan tersenyum menyadari sikap Hendrik dari sudut matanya.


Indah berpikir pria di hadapannya mulai bersikap aneh.


“Kenapa Bapak meminta syarat?” Indah bertanya tidak senang. Rasa kesal mulai menyerang Indah.


“Kalau saya tidak hadir pada acara itu, Denny Prasetio sang Direktur pasti akan marah. Karena saya adalah seorang tamu penting. Kemarahannya jelas akan ditujukan kepada kamu, karena tidak bisa bekerja dengan baik.” Memandang Indah dengan senyuman.


“Baiklah, apa syaratnya agar Bapak bersedia datang ke acara kami,” hati Indah semakin kesal melihat senyum licik di garis wajah Gunawan.


“Saya ingin kamu sebagai pendamping saya pada malam acara, bagaimana?” Gunawan bertanya dengan santainya.


“Sudah Kak, jangan menggodanya lagi,” tiba-tiba Hendrik berbicara. Dia sudah tidak tahan lagi dengan sikak Gunawan mempermainkan Indah.

__ADS_1


“Haa-Haa-Haa," tawa Gunawan pecah.


Indah dibuat bingung dalam sekejab. Matanya memandang Hendrik dan Gunawan bergantian.


“Akhirnya kamu bersuara juga Hen, ini wanita yang… Gunawan menatap lekat wajah Hendrik.


“Kakak, tolonglah, kami masih banyak pekerjaan. Kakak cukup terima undangan ini dan kami bisa pergi,” Hendrik langsung menunjukkan kartu undangan memotong ucapan Gunawan. Jantungnya berpacu cepat, Gunawan akan membuat dirinya gugup di hadapan Indah.


“Baiklah-baiklah, ternyata benar keputusanmu tidak ingin berbekerja bersamaku, disebabkan?” Gunawan melirik Indah yang masih memasang wajah bengong. Dia hanya tahu dari cerita Hendrik menyukai teman wanita ditempatnya bekerja. Sekarang dia bisa melihat Indah dan Hendrik memendam rasa suka tidak bisa mengungkapkannya.


Hendrik cepat berdiri dan melangkah mendekati Gunawan.


“Kakak, bisa kami pergi sekarang?” wajah Hendrik memohon, tidak ingin Gunawan semakin membuat Indah bingung dan mencurigai dirinya.


Gunawan pun ikut berdiri, lalu menepuk bahu Hendrik.


“Haa-Haa-Haa, oke pergilah, jaga dia baik-baik jangan sampai diambil orang,” berbisik di telinga Hendrik.


“Kakak, kau,” menolak bahu Gunawan.


Wajahnya memerah, candaan Gunawan membuat dirinya gugup.


“Mari In, kita pergi. Aku semakin kesal lama-lama di ruangan ini,” Hendrik memandang wajah Indah.


Indah pun langsung berdiri mendengar ucapan Hendrik.


“Permisi Pak, kami mohon diri,” ucap Indah sambil mengulurkan tangan.


“Baiklah, tolong jaga adik saya,” ucap Gunawan mengulurkan tangan sambil memainkan matanya.


Hendrik langsung meraih tangan Indah yang tidak sempat berjabatan dengan Gunawan. Menariknya berjalan ke luar meninggalkan Gunawan di ruangnya. Gunawan hanya menggeleng-gelengkan kepala dan tersenyum melihat tingkah Hendrik.


“Dasar, mencintai wanita tapi tidak punya nyali,” lirihnya pelan.


Di mobil, Hendrik sesekali melirik Indah yang hanya berdiam diri. Hendrik tidak senang melihat sikap Indah yang begitu tenang. Hatinya berkecamuk disebabkan ulah kakaknya Gunawan.


“Apa yang dipikirkan Indah tentangku,” bisik batin Denny.


“Hen, hari ini cukup, kita kembali ke kantor. Besok kita lanjutkan lagi,” tiba-tiba terdengar. Perjalanan hari ini cukup bagi Indah. Dia tahu perasaan Hendrik tidak tenang. Kalau dilanjutkan, Hendrik semakin gugup bersamanya setelah dia mengetahui siapa Hendrik sebenarnya.


“Indah, kamu baik-baik sajakan?” Hendrik menoleh ke arah Indah yang memandang tenang ke depan. Sikap Indah membuatnya gugup.


“Hemm,” jawab Indah singkat, dia tidak ingin mempersoalkan kejadian yang disembunyikan Hendrik.


“In, kamu ngak ingin bertanya sesuatu sama aku?” tanya Hendrik lagi. Perasaannya semakin merasa bersalah telah merahasiakan dari Indah.


“Ngak,” Indah masih menjawab singkat.


“Please In, jangan diam aja dong. Kalau kamu mau marah sama aku, marah aja sekarang. Aku lebih suka, dari pada kamu diamin aku gini, Hendrik tidak suka dengan sikap Indah, dia semakin gugup dan mereka seperti orang asing.


“Hen, aku ngak apa-apa, dan aku ngak perlu marah. Kamu tentu punya alasan merahasiakan identitasmu dari aku dan Yanti. Sudah, jangan khawatir, aku tidak akan membocorkan rahasiamu di kantor.” Indah menyandarkan kepalanya ke belakang dan memejamkan mata.

__ADS_1


Hendrik hanya bisa diam memerhatikan sikap Indah. Jauh di dalam hatinya Hendrik menyembunyikan perasaannya kepada Indah. Sejak lama dia telah menaruh rasa suka kepada Indah. Rasa suka itu tidak dapat diungkapkan karena kata sahabat telah melekat erat bagi Indah untuk dirinya. Hendrik takut ungkapan rasa cinta akan menghancurkan segalanya. Bukan cinta yang akan didapat, melainkan kebencian bahkan persahabatan pun akan musnah. Itu tidak diinginkannya, dia lebih memilih memendam rasa, agar bisa selalu dekat dengan Indah.


__ADS_2