Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 74 Yanti Vs Iqbal


__ADS_3

“Apa yang kau bicarakan?” Suara Iqbal meninggi mendengar ucapan Yanti menghina wanita yang dicintai sahabatnya.


“Ya, dia telah pergi, tapi cerita tentang dirinya akan terus ada dalam ingatan karyawan ****TV. Wanita simpanan Direktur Denny Prasetyo diketahui mati setelah bermalam dengan sekumpulan pria.” Yanti semakin menangis histeris.


“Spash,” tamparan mendarat di pipi Yanti. Sekonyong-konyong tubuhnya lunglai ke tanah dan tidak sadarkan diri.


“Sial, apa yang sudah ku lakukan. Bodoh kau Iqbal, kenapa tidak bisa menahan dirimu,” Iqbal merutuki diri, dan menyapu kasar rambutnya ke belakang dengan kedua tangan.


Iqbal mengangkat tubuh Yanti meninggalkan kedua lelaki yang masih terkapar di tanah.


Di rumah sakit pada malam hari.


Perlahan Hanna terjaga dan menatap Denny di sampingnya.


“Kau sudah bangun, butuh sesuatu? Akanku ambilkan.” Ucap Denny dengan wajah tersenyum mengelus pucuk kepala Hanna.


“Mas, jam berapa sekarang?” Tanya Hanna menatap Denny lemah.


“Sudah malam, kenapa?” Denny menatap Hanna dalam.


“Aku ingin pulang, aku tidak ingin berada di sini lama-lama. Semakin lama aku di sini, kematianku seakan semakin dekat.” Ucap Hanna dengan mata berkaca-kaca.


“Jangan bicara begitu, kamu akan sembuh. Kalau kamu ingin pulang, besok akan aku bicarakan dengan Harun,” Denny menggenggam tangan Hanna.


“Hem, Mas aku haus, tolong ambilkan air.” Leher Hanna terasa kering dan panas. Dia ingin mendinginkan dengan segelas air.


Denny meraih minuman di atas meja, dan membantu Hanna duduk. Hanna meneguk perlahan air dari gelas di tangan Denny.


Setelah minum Denny membaringkan Hanna.


“An, Mas akan menemanimu, jadi istirahatlah,” Denny menaiki tempat tidur, lalu berbaring di sisi Hanna. Merangkul Hanna dalam dekapannya, rasa takut kehilangan menyelimuti. Hanna tersenyum menatap wajah Denny. Perlahan matanya tertidur kembali, Denny pun turut terpejam kerena lelah berpikir dan menahan sedih.


Ke esokan pagi, perlahan matahari meninggi membawa sinar membuat insan terjaga dari menghabiskan sisa malam.


Yanti terbangun dan memutar matanya melihat sekeliling. Kamar yang ditempatinya terasa asing. Dia berusaha duduk, dengan kepala masih berat karena sisa pengaruh alkohol dari munuman.

__ADS_1


“Dimana aku?” Yanti mengurut keningnya yang terasa sakit. Tanpa sengaja matanya beralih ke meja nakas. Terlihat alat kompres tergeletak di atas. Yanti berusaha merajut kembali ingatannya.


“Apa, aku harus pergi sekarang!” Yanti sudah dapat mengingat yang terjadi dan tamparan Iqbal. Dia berusaha bangun, berdiri dan melangkahkan kaki. Tapi kakinya terhenti saat melihat pakaian yang melekat di tubuhnya. Sebuah kemeja putih lengan panjang hanya menutupi separuh badan.


“Apa ini, bagaimana aku pergi dengan pakaian ini?” Gumam Yanti memegang ujung pakaiannya.


“Kau sudah sadar? Duduklah, isi dulu perutmu sebelum pergi, aku bawakan sarapan.” Iqbal berjalan dengan membawa makanan dalam nampan dan meletakkan di atas meja.


Yanti tertangkap basah ingin kabur dan hanya mampu berdiri mematung melihat sikap Iqbal. Pikirannya berkecamuk, tidak tahu harus berbuat apa.


Melihat Yanti masih berdiri diam di tempatnya, Iqbal melangkah mendekat. Menarik tangan Yanti lalu membawanya duduk di sofa.


“Makanlah, jangan pergi seperti ini. Ada yang harus kita luruskan, agar kau tidak menyimpan dendam kepadaku dan sahabatku Denny suami Indah.” Iqbal menatap dalam wajah Yanti yang masih terdiam mengamati wajahnya.


“Aku tidak lapar. Pesawatku akan segera berangkat, aku harus segera kembali ke hotel.” Yanti beranjak dari sofa dan menghayunkan langkah.


“Aku tahu pesawatmu akan berangkat nanti sore, kita masih punya banyak waktu. Aku juga akan segera kembali ke Jakarta, kita bisa sama-sama berangkat.”Iqbal berusaha menahan kepergian Yanti. Dia ingin mengetahui masalah yang membuat gadis di hadapannya berubah seratus delapan puluh derajat.


“Hah, kalian memang bisa mengetahui dan mengatur semuanya. Bagi kalian yang punya kuasa semua itu gampang, tidak memperdulikan akibat di belakangnya.” Yanti menghentikan langkah, membalikkan tubuh dan berujar sinis menatap Iqbal.


“Tidak ada yang perlu diluruskan denganku Pak Iqbal, itu tidak ada gunanya. Kau hanya perlu membersihkan nama sahabatku di perusahaanmu.” Yanti semakin emosi mengingat orang-orang di perusahaan menjelek-jelekkan Indah.


“Apa sebenarnya terjadi, tolong ceritakan yang aku tidak tahu,” Iqbal berusaha menyelidiki maksud ucapan Yanti.


“Hah, jangan membuatku tertawa. Kau sungguh tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu?” Ucapan Yanti semakin ketus di telinga Iqbal.


“Ya, jujur aku katakan aku tidak tahu. Semuanya berjalan dengan sangat cepat, kecelakaan, kematian Indah, dan perayaan perusahaan. Peristiwa yang terjadi dalam satu hari harus aku tangani. Saat itu Denny sangat terpukul kehilangan Indah. Sebagai seketaris sekaligus sahabatnya, aku harus melakukan semua.” Iqbal menatap jauh ke depan, seperti potongan film peristiwa tersebut kembali terlintas di kepalanya.


“Apakah aku harus bertepuk tangan dan mengucapkan selamat untuk keberhasilanmu? Tanya Yanti dengan tatapan dingin. Ucapan Iqbal tidak membuatnya terkesan sedikitpun.


“Nona Yanti, aku tidak mengharapkan pujian atau sanjungan dari siapapun. Aku melakukan itu sebagai rasa tanggung jawab seorang sahabat dan sekaligus seketaris tuan Denny Prasetyo.” Iqbal menekan beberapa kata supaya Yanti memahami posisinya.


“Kenapa pernikahan dan kematian Indah dirahasiakan? Kau tidak tahu, orang-orang berbicara buruk tentang itu. Kau katakan bertanggung jawab sebagai seorang sahabat, dan tanggung jawabmu juga membersihkan nama Indah sebagai istri dari sahabatmu” Yanti tidak terima Indah sebagai sahabatnya mendapat celaan dan fitnah walaupun dia sudah tiada.


“Pernikahan Denny dan Indah tidak dirahasiakan, hanya saja mereka melakukannya tanpa persiapan di kampung kelahiran Indah. Pengumuman pernikahan mereka di depan semua orang direncanakan saat peringatan ulang tahun perusahaan. Persiapan telah dilakukan dengan baik dan sempurna. Tapi kenyataannya tidak berjalan sesuai rencana, kami mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju perusahaan. Nyawa Indah tidak tertolong. Sedangkan pemakamannya, kau berada di sana. Memang tidak banyak yang hadir, terkesan dirahasiakan dan terburu-buru. Karena pada hari itu,acara perusahaan harus tetap dilakukan walaupun diundur beberapa jam. Perusahaan tidak bisa membatalkan acara yang sudah menghabiskan dana banyak dan mengundang para tamu penting dalam negeri maupun luar. Kerjasama yang baik dibangun atas dasar kepercayaan. Aku akan bertindak kepada orang-orang yang sudah menebar cerita buruk,” Iqbal menjelaskan hati-hati kepada Yanti berharap dia bisa memahami. Dirinya juga tidak menyangka selama ini ada cerita tidak benar di belakangnya. Dia berniat menyelidiki dan menyelesaikan masalah ini hingga tuntas.

__ADS_1


“Baiklah, aku sudah mendengar semua . Aku harap kau memegang janjimu.” Yanti berbalik, menghayunkan langkah mengambil tas di atas meja nakas dan meninggalkan kamar. Dia tidak memperdulikan pakaiannya. Iqbal tidak menahan, kesendirian akan mampu membuatnya tenang dan berpikir jernih.


Pagi hari di rumah sakit , Harun melangkah menuju ruangan Hanna.


“Tok, Tok, Tok,” suara pintu diketuk.


“Masuk,” terdengar suara dari arah dalam ruangan mengijinkan masuk.


Harun mendorong pegangan pintu dan terbuka lalu melangkah masuk. Senyum dari Hanna dan Denny menyambut kehadiran Harun.


“Kalian berdua terlihat gembira, apakah bisa berbagi denganku?” Tanya Harun penuh selidik melihat perubahan sikap Hanna dan Denny.


“Ya, kami ada kabar gembira untukmu. Hanna sudah kuat dan ingin segera pulang hari ini.” Ucap Denny melempar senyum kembali kepada Harun.


“Oh begitu, baiklah aku periksa keadaanmu,” Harun menatap Hanna dan dia pun menjalankan tugasnya.


“Apa kau yakin ingin membawa Hanna pulang?” Tanya Harun kepada Denny ,sedangkan kondisi Hanna semakin lemah.


“Iya, aku akan membawanya pulang hari ini,” jawab Denny tanpa keraguan.


“Kau ke kantorku sekarang, kita atur kepulangannya,” Harun menepuk bahu Denny.


“Hem,” jawab Denny singkat.


Harun pun melempar senyuman kepada ke duanya dan berlalu pergi meninggalkan ruangan.


Di kamar hotel, Iqbal terlihat merapikan pakaian ke dalam koper.


“Drekk, Drekk, Drekk,” suara ponsel berbunyi. Iqbal melirik dari sudut matanya dan meraih dari atas meja nakas di samping tempat tidur.


Iqbal melihat nama Yanti di layar ponsel, lalu menjawab panggilan.


“Hallo,” suara Iqbal menyapa orang di seberang.


“Bisa kita bertemu? Aku menunggumu di lobi” Tanya Yanti di ujung ponselnya.

__ADS_1


“Ya, aku akan ke sana. Tut, Tut, Tut. “ Ponsel terputus secara sepihak, Iqbal hanya mampu mengernyitkan kening membayangkan sikap Yanti.


__ADS_2