Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 45 Denny Vs Rudi


__ADS_3

Di kamar lain, Indah juga belum bisa tidur. Dia masih memikirkan ucapannya ke pada Denny.


“Mengapa aku bisa mengatakan itu? Issh…, bagaimana mamanya dan Hanna? Apa mereka bisa menerima? Yah, mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur mengucapkannya. Tuhan, semoga ini yang terbaik Kau rencanakan untukku.” Bisik batin Indah.


Indah menutup matanya, berusaha tidur. Perlahan keheningan malam menghanyutkan perasaan Indah, dia pun tertidur lelap.


Fajar mengendap-endap ke luar dari persembunyiannya. Di sambut suara kokok ayam jantan bersahut-sahutan. Alunan suara azan shubuh ikut mengiringi memecah keheningan, terlihat satu demi satu orang ke luar dari rumah menuju masjid.


Di rumah Pakde, dapur sudah mengepul asap. Bude menyeduh air panas membuat kopi, telah terhidang pisang goreng. Indah juga ikut membantu menyiapkan sarapan. Dia takut Denny tidak terbiasa makan makanan di kampungnya. Nasi goreng ditemani telur ceplok pilihan sarapan yang bisa dibuatnya.


“Selesai In?” tanya Bude.


“Iya, sudah.” Jawab Indah melihat makanan yang tertata di atas meja.


“Wah, kelihatan sedap, semoga nak Denny suka ya?” Ucap Bude.


“Hem, dia akan suka. Siapa dulu dong yang masak,” bisik batin Indah dengan tersenyum menatap bude.


“Sebentar lagi mungkin mereka akan pulang,” ucap Bude.


“Siapa Bude?” Indah melipat kening.


“Pakdemu dan nak Denny, siapa lagi? Tadi waktu Pakde mau pergi, nak Denny nanyak Pakde mau kemana, Pakde bilang mau sholat ke masjid. Lah, nak Denny mau ikut juga.” Jelas Bude.


“Oh…Indah kok ngak tahu Bude?” Ucap Indah pelan.


“Kamu masih di kamar, In. Nak Denny bangun cepat, sebelum Bude dan Pakde. Mungkin dia ngak bisa tidur, maklum di kampung apalagi rumahnya jelek.” Ucap Bude tersenyum.


“Ngak Bude, Mas Denny sudah terbiasa bangun cepat?” Jawab Indah.


“Lah, kamu kok tahu In, nak Denny bangunnya cepat?” tanya Bude penuh selidik dan tersenyum.


“I.., ituloh Bude. Kalau di Jakarta para pekerja kantoran harus bangun cepat, karena mereka harus pergi kerja cepat juga. Kalau tidak terjebak macet, bisa-bisa terlambat masuk kerja.” Jelas Indah dengan gugup.

__ADS_1


“Oh… begitu?” Balas Bude tersenyum.


“Assalamualaikum,” terdengar suara dari pintu depan.


“Waalaikumussalam, itu mungkin mereka In. Bude bukakan pintu dulu,” ucap Bude meninggalkan Indah.


“Aduh, aku kok gugup gini menjawab pertanyaan Bude.” Gumam Indah, dia pun melangkah menyusul Bude.


Di ruang tamu terlihat keluarga Pakde, Indah dan Denny menikmati sarapan. Karena rumahnya kecil, ruang tamu merangkap menjadi ruang kelurga juga. Indah tidak berani menatap wajah Denny. Ada rasa malu menyelimuti dirinya mengingat kejadian tadi malam. Dia tidak menyangka bisa senekad itu meminta Denny melamar dirinya. Denny sendiri heran melihat perubahan sikap Indah. Sedikit pun tidak menatapnya, dari pulang bersama Pakde sampai selesai sarapan.


“Kamu kenapa In, dari tadi tidak melihatku?” Bisik batin Denny menatap Indah.


“Indah, Pakde mau bicara,” Ucap Pakde, mengejutkan Indah.


“I,iya, Pakde. Ada apa?” tanya Indah.


“Begini, Pakde nanti malam akan mengundang tetangga, bersama-sama kirim doa buat Kakakmu Dino. Rencana Pakde, sesuai tradisi di kampung, kita membuatnya tiga malam berturut-turut. Pakde ketua RT di sini, dan ngak baik kalau tidak dibuat. Dan tetangga juga banyak yang kenal dengan keluarga kamu. Hanya ini yang bisa pakde lakukan untuk almarhum kakakmu. Bagaimana, apakah bisa kamu hadir dan Nak Denny juga? Kalau tidak, ngak apa-apa. Pakde tahu, kalian ngak bisa libur terlalu lama karena harus bekerja.” Ucap Pakde menatap Indah dan Denny bergantian.


Indah sedih mendengar ucapan Pakdenya. Dia menatap Denny, meminta jawaban darinya. Denny pun membalas tatapan Indah, dia menyadari keputusan ada di tangannya.


“Alhamdulillah, terima kasih Nak Denny. Pakde sangat senang mendengarnya. Kalian masih bisa berlama di rumah kecil dan jelek ini. Indah sudah lama tidak ke mari, semenjak dibawa pindah ayahnya hampir lima belas tahun.” Ucap Pakde dengan mata berkaca-kaca.


Denny tersenyum menatap Pakde dan menatap Indah.


“Aku tahu In, kamu menunggu persetujuan dariku,” ucap batin Denny.


“Assalamualaikum,” terdengar suara dari balik pintu.


“Waalaikumussalam, biar Indah yang buka,” Ucap Indah beranjak dari duduk melangkah membuka pintu.


“Indah,” Ucap orang di hadapannya.


“Mas Rudikan?” balas Indah terkejut.

__ADS_1


“Iya, ini aku.” Balasnya.


“Kak Dino, Mas. Dia udah ninggalin aku selama-lamanya. Dan kamu juga Mas, ngak pernah kasih kabar ke aku. Kamu jahat,” Tangis Indah pecah di pelukan Rudi.


“Syukur kamu belum pergi. Aku buru-buru pulang begitu mendengar kabar dari Bapak. Maafin aku In, aku udah berusaha menghubungi kamu. Aku ke rumah, tapi kata orang-orang kalian udah pindah. Dino juga, ngak pernah menghubungiku. Udah sabar ya, ini jalan dari Tuhan. Mungkin yang terbaik untuk Dino.” Rudi meluahkan kerinduannya.


Denny terkejut melihat pemandangan di hadapannya. Indah memeluk seorang lelaki, sontak wajahnya memerah menahan amarah. Pakde memerhatikan perubahan Denny, dan melirik Bude seolah-olah memberi isyarat. Langsung Bukde beranjak mendekati Indah dan Rudi.


“Ayo masuk Rudi, jangan lama-lama di depan pintu. Kamu tentu capekkan?” Bude berusaha menyadarkan kedua orang yang sedang melepas rindu.


“Ibu, iya aku capek. Tapi semua hilang setelah berjumpa Indah. Apalagi Indah, jadi cantik gini bu,” Rudi memeluk Bude dan Indah tanpa sadar sepasang mata mengamati mereka terus.


“Mas, kamu belum berubah. Selalu suka menggoda aku. Nanti kakak ipar cemburu sama aku, mana kok ngak ikut? Kamu pulang sendirian?” Indah melihat kebelakang Rudi dan tidak didapatinya seorang pun di sana.


“Aku belum menikah In?” balas Rudi.


“Lah, kok belum? Masku tampan dan segagah ini, ngak laku-laku juga? Banyak milih sih, nanti jadi bujang tua loh,” usik Indah menatap Rudi.


“Ngak milih sih kak, tapi nunggu kak Indah katanya,” ucap Riri adik Rudi yang tiba-tiba muncul dari belakang mereka bertiga.


“Ish,” Bude memicingkan mata ke arah Riri.


Denny semakin geram mendengarnya, dengan wajah menunduk dan tanpa sadar tangannya mengepal kuat.


“Bu, udah jangan lama-lama di sana. Ayo semua ke sini.” Ucap Pakde menyadari kemarahan Denny di hadapannya.


Mendengar ucapan Pakde, mereka pun melangkah masuk. Rudi menatap heran, melihat seorang laki-laki duduk bersama ayahnya. Mereka pun duduk bergabung bersama Denny dan Pakde. Denny menatap lekat wajah Indah.


“Kelihatannya kamu sangat gembira In, tidak menghiraukan perasaanku sekarang ini.” Bisik batin Denny kesal.


“Rudi, kenalkan nak Denny, teman Indah dari Jakarta.” Ucap Pakde.


“Rudi Harsa,” mengulurkan tangan ke arah Denny,”

__ADS_1


“Denny Prasetyo,” meraih tangan Rudi dan tersenyum


Rudi merasakan genggaman hangat tangan Denny. Berdua mereka saling berpandangan dan melempar senyum. Denny sangat kesal, entah mengapa lelaki di hadapannya telah mengusik ketenangannya.


__ADS_2