Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 65 Kekacauan


__ADS_3

Saat Denny ingin tertidur, sinar matahari pun menjaganya menarik tubuh lemah dan wajah sayu Denny bersiap-siap pergi ke kantor. Denny berangkat ke kantor dengan tidak bersemangat, melewatkan sarapan yang telah disiap Bik Surtik.


Saat di kantor, terlihat seseorang kewalahan bolak-balik ke luar-masuk dari ruangan Denny. Iqbal menatap pemandangan yang tidak biasa terjadi. Sekretaris kantor ke luar dari ruangan Denny membawa cangkir kopi yang masih terisi penuh dengan wajah gusar.


“Ada apa?” tanya Iqbal menatap wanita yang berjalan melewatinya sambil tertunduk lesu.


“Saya tidak tahu, ada apa dengan Pak Denny, saya sudah membuat kopi cangkir yang ke sepuluh tapi tetap Pak Denny ingin meminta buat yang baru, katanya tidak pas. Pak Iqbal, apa mungkin Pak Denny sedang ada masalah dengan istrinya di rumah? Saya tidak akan bisa sama, membuat kopi seperti istrinya, sampai kapan pun tidak akan cocok dengan selera Pak Denny, karena yang tahu hanya isrtrinya,” keluh sekretaris Denny dengan melangkah ke pantry akan membuat kopi yang baru.


Iqbal tersenyum melihat perilaku Denny masih di pagi hari, entah apa yang akan terjadi menghabiskan satu hari ini dan hari-hari berikutnya. Dia tahu, Hanna meninggalkan rumah, karena telah menerima telpon darinya. Iqbal pun melangkah masuk ke dalam ruangan, melihat Denny dalam suasana yang tidak menyenangkan, memilih duduk di sofa berpura-pura tidak mengetahui masalah yang menerpanya.


Denny menyadari kehadiran Iqbal, dan beranjak dari kursi kerja menghampiri bergabung duduk bersama. Denny menghembuskan nafas kasar, menunjukkan kekacauan suasana hati. Iqbal mengamati dan berusaha terlihat tenang.


“Jam sembilan kita menghadiri pertemuan, ada yang harus ku lakukan?” Iqbal berusaha bersikap wajar di hadapan Denny.


“Tidak ada, semua persiapan sudah ku periksa.” Jawab Denny dengan suara berat.


“Kau, kelihatan kurang tidur, apa tadi malam kerja lembur?” Iqbal menahan tawanya melihat wajah Denny yang sayu. Dia tahu, Denny tanpa sadar merasa kehilangan kehadiran Hanna.


“Tidak, aku memang tidak bisa tidur. Entahlah aku tidak mengerti, sekarang aku baru merasa ngantuk. Kopi mungkin bisa menahan mataku sementara, tapi Dian, sekeratis itu tidak bisa membuatkan kopi. Aku minta menggantinya beberapa kali, tetap kopi itu tidak enak. Kalau nanti dia juga tidak berhasil membuat kopi yang ku inginkan, pecat dia dan carikan aku seketaris baru.” Ucap Denny dengan suara meninggi.

__ADS_1


“Hei, kau mau mencari seorang seketaris atau pembuat kopi?” Iqbal tersenyum geli melihat tingkah Denny.


Seketaris itu pun datang dengan membawa secangkir kopi dengan wajah gelisah. Meletakkan di atas meja, dan pergi meninggalkan ruangan berkat isyarat dari Iqbal.


“Ini kopinya, minumlah tapi dengan syarat, jangan mengingat siapa yang membuatnya,” Iqbal berkata ke arah Denny yang sudah kehilangan kesadarannya karena tertidur.


Iqbal melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, masih ada sekitar satu jam lagi waktu tersisa sebelum pertemuan dimulai. Dia pun membiarkan Denny tertidur dan tetap terjaga di sisinya.


Tepat jam sembilan, pertemuan pun dimulai, walau dengan keadaan yang tidak semangat, Denny dapat memimpin pertemuan para pemegang saham dengan lancar.


Sampai di rumah pada malam hari, Denny merasakan sepi tidak ada Hanna yang menunggunya pulang, menemaninya makan, duduk di ruang keluarga walau hanya sekedar melihat ponsel dan menatap wajah teduh Hanna sebelum dia tidur. Kegelisahan melanda dirinya.


Beberapa hari berlalu, keadaan Denny tetap sama, tidak bisa makan dan tidur dengan nyaman. Awalnya dia merasa senang karena Hanna telah menyerah dengan dirinya dan memilih pergi. Tapi hatinya merasakan kehilangan seseorang yang tanpa dia sadari dengan sabar menemaninya melalui masa-masa kesedihan kehilangan Indah.


Denny pun pasrah, tidak mengharapkan Hanna kembali ke sisinya, menyadari kesalahannya telah mengacuhkan sikap peduli Hanna kepada dirinya. Dia merasa sangat egois, terlalu memikirkan kesedihannya kehilangan orang yang dia cintai. Sementara ada seseorang yang rela berbagi kesedihan walaupun dia tidak mencintainya.


Untuk menenangkan pikirannya, Denny menziarahi kuburan Indah. Terlihat seikat bunga tulip putih segar terletak di atas kuburan Indah. Denny sendiri membawa bunga mawar putih sebagai bunga kesukaan Indah. Beberapa kali Denny menziarahi kuburan Indah, bunga itu telah lebih dulu hadir. Sepertinya ada seseorang yang telah rutin datang mengziarahi kuburan Indah tanpa sepengetahuan Denny. Hal itu tidak menjadi masalah baginya, mungkin teman Indah yang telah datang.


Selama kepergian Hanna, Denny menjadi ketergantungan obat penenang. Dirinya akan bisa tenang dan tidur kalau sudah meminum obat tidur. Harun berusaha membantu, tapi tidak berhasil. Sebagai dokter pribadinya, Denny meminta merahasiakan keadaannya dari siapapun.

__ADS_1


Sampai akhirnya, suatu malam Denny merasa sangat gelisah dan meminum obat tidur yang melebihi dosis. Bik Surtik menemukan Denny tidak sadarkan diri di pagi hari. Denny dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan koma.


Berita cepat menyebar di seluruh media, hingga akhirnya sampai ke telinga Hanna. Mama Denny sangat sedih dan meminta Papa Hanna membujuk Hanna pulang ke Jakarta menemui Denny. Tanpa pikir panjang Hanna langsung pulang ke Jakarta menemui Denny.


“Ma, bagaimana keadaan Mas Denny? Maafkan Hanna Ma, ini semua salah Hanna, seharusnya Hanna tidak pergi dan tetap bersama Mas Denny,” Hanna berurai air mata merangkul tubuh Mama Denny. Dirinya merasa bersalah menyebabkan Denny dalam bahaya.


“Hanna, jangan menyalahkan diri sendiri ini bukan salah kamu. Kita berdoa, semoga Denny melalui masa-masa krisisnya,” Mama Denny tahu kesalahan terbesar ada pada dirinya, menyebabkan Denny terbaring lemah bertarung dengan maut. Kalau terjadi sesuatu dengan anak tunggalnya, dia akan sangat berdosa terhadap apa yang sudah diperbuatnya.


Denny berada di dalam ruang ICU, tubuhnya dipenuhi banyak kabel medis dan alat-alat pembantu bertahan hidup lainnya. Hanna tidak sanggup melihat keadaan Denny. Dirinya sangat terpukul dan ingin menjerit meminta maaf karena telah meninggalkannya. Dia sangat menyesal, memohon ke pada Tuhan memberikan kesempatan hidup lebih lama bagi Denny. Dia akan tetap bersama Denny bersedia menerima segala perlakuannya, dan hidup bersama walau tanpa saling mencintai.


Iqbal memandang nanar menyesali dirinya, karena tidak berterus terang memberitahu keberadaan Hanna. Janji yang sudah diucapkan tidak dapat dilanggar. Hanna meminta merahasiakan keberadaannya apapun yang terjadi. Hanna menangis saat berbicara di ponsel, mengatakan dia pergi dan menyerah dengan sikap Denny yang sudah menolaknya. Hanna sangat sakit hati dengan perlakuan Denny, dia tidak dapat memaafkan. Iqbal tidak menyangka Denny dapat bertindak nekad. Ternyata perkiraannya salah, Denny tidak mampu melawan kesedihannya seorang diri.


Dalam keadaan koma, Denny berada berjalan disuatu lorong panjang. Sekelilingnya diselimuti kabut putih. Denny melangkah terus ke depan, dengan jarak pandang yang terbatas. Kakinya terhenti saat seseorang muncul dari kabut putih. Denny melihat papanya berdiri di hadapannya dan tersenyum.


“Papa, ini papakan? Denny sayang Papa dan sangat rindu pa, jangan tinggalkan Denny, Denny ikut papa,” Denny memeluk erat tidak ingin melepaskan tubuh papanya.


“Papa juga sangat sayang dan rindu Denny. Tapi Denny tidak bisa ikut Papa. Masih ada orang-orang yang menunggu Denny. Mereka sangat mencintai Denny, jangan lepaskan mereka dan jaga mereka.”


Perlahan tubuh Papanya menghilang, samar pandangan Denny melihat sosok wanita memeluk seorang anak di dadanya. Denny berusaha melihat, tapi wajahnya tidak dapat terlihat jelas. Wanita itu berjalan, semakin lama, semakin jauh. Denny gelisah dan sangat ingin menemuinya.

__ADS_1


“Tunggu, jangan pergi,” bayangan wanita itu tidak terlihat lagi, hingga perlahan kelopak mata


Denny terbuka, pandangannya kabur melihat sekitar ruangan.


__ADS_2