
Iqbal hanya dapat berdiam diri dan menatap Denny. Waktu berbalik ke belakang, saat Iqbal mendapatkan Rudy tiba-tiba hadir di kantor Denny. Rudy seperti tertarik kehidupan Denny dengan mengajukan beberapa pertanyaan sebelum Denny datang. Tapi Iqbal tidak memberikan jawaban dengan alasan kerahasiaan kehidupan pribadi bosnya. Iqbal merasakan sesuatu yang aneh dari sikap Rudy. Dia pun tanpa sepengetahuan Denny mencari informasi pribadi Rudy. Sayangnya tidak bisa menemukan info berarti tentang Rudy, karena selama ini dia banyak bertugas di perairan dalam negeri maupun luar negeri.
“Bal, ada yang inginku katakan,” Denny teringat kalau dia akan memberitahukan kabar kehamilan Hanna. Iqbal menoleh ke arah Denny.
“Hanna hamil, aku akan menjadi seorang ayah,” seru Denny dengan wajah tersenyum. Rasa bahagia membuatnya melupakan pertemuan tak terduga dengan Rudy.
“Wah selamat, aku senang mendengarnya. Aku akan mempunyai keponakan,” jawab Iqbal tak kalah gembira mendengar kabar kehamilan Hanna.
“Dan kau, kapan menyusul? Apa kau mau membujang seumur hidup?” Tanya Denny seketika mengingatkan Iqbal untuk juga berumah tangga.
“Kau ini, bagaimana aku bisa memikirkan masalah pribadiku. Masalah kerjaan dan dirimu, sudah menyita masa-masa emas keremajaanku,” Iqbal memasang wajah kesal mendengar ucapan Denny. Karena sahabatnya itu tahu betul kalau dia tidak ada waktu untuk memikirkan seorang gadis apalagi memiliki.
“Wah, aku tidak pernah memintanya, jadi kau menyesal menolongku selama ini?” Balas Denny dengan tersenyum menggoda Iqbal yang masih memasang wajah kecewa.
“Yah, aku menyesal tidak memiliki seorang gadis karena aku terlalu mencintaimu,” jawab Iqbal memeluk tubuh Denny, karena terus membuatnya kesal.
“Hei, jauhkan tubuhmu. Ha..ha…ha…,” tawa mereka berdua pecah di dalam ruangan. Akhirnya setelah lelah tertawa, keduanya saling menyandarkan tubuh di sofa. Pandangan menatap langit-langit ruangan dan suasana terasa hening.
“Bal, aku serius dengan ucapanku. Carilah gadis dan nikahi dia. Aku akan membantu semua urusan pernikahanmu,” Suara Denny memecahkan keheningan keduanya.
“Tenanglah, jangan terlalu dipikirkan.” Iqbal beranjak dari sofa, dirinya tidak ingin membahas terlalu lama masalah pribadinya. Dia ingin menghindar dari Denny.
“Kau mau ke mana?” tanya Denny melihat Iqbal melangkahkan kaki.
“Mencari gadis untukku nikahi, seperti perintahmu,” jawab Iqbal menarik senyuman di bibir sambil mengerlingkan matanya kepada Denny.
“Dasar kau,” Denny melemparkan bantal sofa ke arah Iqbal yang dengan sigap mengelak dan bantal terjatuh ke lantai. Iqbal mengambil dan melempar balik bantal disambut tangkapan Denny sambil berlalu meningalkan ruangan.
Kehamilan Hanna pun sudah berjalan tiga bulan. Dirinya menikmati masa-masa kehamilan seperti ibu hamil pada umumnya. Tapi rasa pusing dan mual masih menderanya, bahkan semakin hari semakin berat. Denny memanjakan Hanna dengan perhatian yang lebih mengingat kondisi Hanna yang lemah. Siang hari Denny selalu pulang makan di rumah dan malam hari cepat pulang agar banyak menghabiskan waktu bersama Hanna.
“An, kamu pingin makan apa? Seingat Mas, ibu hamil kepinginnya banyak, tapi tidak dengan kamu.” Denny membelai rambut panjang Hanna yang berbaring di sisinya.
“Ada,” Hanna tersenyum dan tangannya membelai dada bidang Denny.
“Apa, bilang saja, Mas akan belikan,” Denny memegang tangan Hanna yang sudah mengganggu ketenangannya dari tadi. Denny bisa merasakan gerakan tangan Hanna mengisyaratkan menginginkan sesuatu yang lebih malam ini. Maklum selama awal kehamilan dengan kondisi Hanna yang lemah, Denny tidak berani menuntut haknya.
__ADS_1
“Aku ingin Mas selalu dekat, itu sudah cukup.” Hanna membenamkan wajahnya ke dada bidang Denny.
“Itu saja?” Denny melingkarkan kedua tangannya memeluk erat tubuh Hanna.
“Hem, Hanna menganguk pelan.
“An, besok Mas akan ke Singapura, ada pekerjaan yang harus dilakukan. Mas sudah lama menahan, boleh kita lakukan malam ini?” Denny ingin menyampaikan hasrat yang lama tertahan. Akan menjadi beban berat kalau tidak tersalurkan malam ini karena dia akan melakukan perjalan ke luar negeri.
“Berapa hari Mas di Singapura,” Hanna tidak menjawab keinginan Denny dengan bibirnya. Tapi tangannya semakin liar menari-nari di tubuh Denny dan mencumbuinya.
“Tiga hari,” Merasakan sentuhan Hanna, dia pun memahami. Perlahan tangannya menarik dagu Hanna ke atas. Mulai mencium lembut bibir Hanna. Sentuhan jari Hanna semakin membangkitkan gairah Denny yang tertahan. Denny membalik tubuh Hanna, dan menguncinya di bawah.
“An, Mas akan melakukannya perlahan,” Denny menatap Hanna dengan tatapan yang tidak dapat diartikan lagi.
“Iya Mas,” lembut suara Hanna terdengar. Malam ini tubuhnya akan dikuasi penuh, dirinya pasrah menerima setiap perlakuan Denny.
Malam panjang dihabiskan mereka berdua dengan pencapaian puncak kenikmatan bersama. Keduanya pun terlelap setelah lelah memadu kasih.
Ke esokan hari, Denny telah bersiap-siap akan pergi melakukan perjalanan ke Singapura. Hanna sudah merapikan beberapa pakaian yang akan dibawa ke dalam koper. Iqbal ikut bersama menemani perjalanan. Sebenarnya Denny ingin mengajak Hanna bersama, tapi dia khawatir kesehatan Hanna akan terganggu.
“Mas berangkat. Kamu harus banyak istirahat, jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat. Mas akan sering telpon,” Denny memeluk Hanna, dan mencium bibirnya. Tidak perduli dengan keberadaan Iqbal di dekat mereka berdua.
Mendengar ucapan Iqbal, Hanna melepaskan ciumannya. Wajahnya merona merah, menahan rasa malu. Denny tersenyum menatap wajah Hanna dan mencium keningnya, lalu melepaskan pelukan berbalik menatap Iqbal.
“Tutup matamu,” Denny melangkah masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang.
“Dasar tidak berperasaan,” Iqbal berlari kecil, memutar, mendatangi pintu mobil di sisi lainnya dan melangkah masuk.
Hanna hanya tertawa kecil, melihat tingkah kedua lelaki yang sudah lama bersahabat itu.
“Dah,” lambaian tangan Hanna mengiringi laju mobil yang secara perlahan menghilang dari pandangannya.
Seketika pandangan Hanna memudar, kepalanya terasa sangat sakit. Tangannya berusaha meraih pintu dan memegangnya kuat.
“Nyonya, kenapa?” Bik Surtik lari mendekat dan merangkul tubuh Hanna yang lemah. Membawanya duduk di sofa.
__ADS_1
“Kepalaku sakit sekali Bik,” Hanna mengurut keningnya yang terasa sakit.
“Nyonya,hidung nyonya berdarah. Tunggu, bibik ambilkan kain,” Bik Surtik terkejut melihat cairan merah mengucur dari hidung Hanna. Lalu berlari menuju dapur.
“Darah, aku mimisan?” Hanna melihat darah segar di telapak tangannya. Lalu kedua tangannya menutup hidung, agar darah tidak menetes ke mana-mana.
“Nyonya, bersihkan dengan sapu tangan ini.” Bik Surtik melihat wajah Hanna pucat. Rasa khawatir menyelimuti dirinya.
“Terima kasih Bik,” Hanna mengambil sehelai sapu tangan pemberian bik Surtik. Lalu menempelkan ke hidung, agar darah tidak menetes.
“Bagaimana nyonya, apa sudah berhenti?” Bik Surtik lekat menatap wajah Hanna.
“Belum,” Hanna menatap warna sapu tangan berubah warna menjadi merah.
“Ke dokter saja nyonya, bibik temani,” Bik Surtik bertambah panik, melihat darah masih mengalir di hidung Hanna.
“Hem,” Hanna menganggukkan kepala mengiyakan ajakan Bik Surtik.
Mendapat persetujuan dari majikannya, Bik Surtik langsung beranjak lari ke luar memanggil Pak Ipul.
“Ipul, Ipul, cepat ke sini,” Suara Bik Surtik terdengar keras. Pak Ipul berlari cepat mendekati Bik Surtik.
“Ada apa Surtik, kenapa suaramu kencang sekali?” Tanya Pak Ipul heran menatap wajah panik Bik Surtik.
“Jangan banyak tanya, cepat siapkan mobil, kita bawa nyonya ke dokter sekarang,” Bik Surtik tak menunggu lama lalu berbalik masuk ke rumah menghampiri Hanna.
“Nyonya, ayo kita pergi sekarang, mobilnya sudah siap,” Bik Surtik merangkul kuat Hanna membantunya berjalan ke luar.
Di dalam mobil, Hanna tak kuat menahan tubuhnya. Menyandarkan kepala ke bahu Bik Surtik pandangannya semakin memudar dan menghitam. Perlahan kesadaran Hanna menghilang, dan tidak sadarkan diri.
“Nyonya, nyonya, bangun. Nyonya kenapa?” Bik Surtik panik, menangis menyadari Hanna terkulai lemah tidak sadarkan diri di pangkuannya.
“Surtik, nyonya kenapa?” Pak Ipul mengintip di balik kaca spion mendengar Bik Surtik ribut di belakangnnya.
“Ipul, cepat nyonya pingsan,” Bik Surtik mengusap lembut kepala Hanna sambil terisak menangis.
__ADS_1
Pak Ipul berusaha melajukan mobil secepat yang dia mampu, karena jalanan di pagi hari ramai.
Mobil pun tiba di rumah sakit. Hanna langsung dibawa ke ruang IGD. Terlihat dokter dan dibantu beberapa perawat memeriksa keadaan Hanna.