Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 16 Kedekatan


__ADS_3

Berdua Denny dan Indah di dalam mobil perjalanan menuju pulang.


“Apakah Hanna melihat aku berjalan bersama Indah? Sial! Bagaimana kalau dia menanyakan kepada mama?” Keluh batin Denny, membayangkan kepanikan mamanya mendapati dia dekat dengan seorang gadis.


“Bagaimana ini, apakah Pak Direktur marah karena aku pergi?” Batin Indah. Dia tidak berani menatap wajah Denny yang dingin.


Selama perjalanan pulang Indah dan Denny hanya diam memandang ke jalanan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Sampai di apartemen, Indah menghempaskan tubuh di atas ranjang kamarnya.


“Aku belum puas menikmati suasana di tempat itu, kapan bisa ke sana lagi ya?” Ucap Indah membayang pemandangan yang baru dinikmatinya.


Pikiran Indah menerawang membayangkan dirinya berada kembali di pinggir pantai.


“Bal, aku pergi bersama Indah dan Hanna berada di tempat itu juga, aku khawatir dia akan menanyakan kepada mama.” Di kamar, Denny berbicara di dalam ponsel.


“Apakah dia mencurigai sesuatu?” tanya Iqbal dari seberang.


“Aku tidak tahu, aku meninggalkannya pergi.” Balas Denny.


“Dia melihat kalian berdua?” Tanya Iqbal balik.


“Aku langsung membawa Indah pulang. Apakah dia melihat wajah Indah,aku tidak tahu.”Jelas Denny.


“Kalau nyonya dan Hanna bertanya, kau jawab saja Indah sepupuku.”


“Sepupu kau bagaimana, bukannya menjadi lebih bermasalah nanti?” tanya Denny cemas.


“Kau serius menyukainya?” tanya Iqbal balik.


“Aku…, Denny tidak bisa menjawab.


“Aku harap kau bisa yakin dengan perasaanmu, dengan begitu Indah akan lebih aman. Tapi kalau tidak yakin, lebih baik tinggalkan dia. Itu lebih baik untuknya.” Jelas Iqbal.


“Sudah dulu, terima kasih membantuku,” Denny memutuskan pembicaraan.


Indah melangkah ke luar kamar, matanya melirik ke arah kamar Denny.


“Apakah dia sudah tidur? Padahal belum makan, mungkin dia tipe pria tidak gampang lapar. Sedangkan aku, belakangan ini perutku selalu sering minta diisi. Apakah pengaruh terlalu lama libur dari kegiatan kantor. Jadi pikiranku hanya makan dan tidur.”


Batin Indah berbicara sambil terus melangkah ke dapur.


“Aku masak apa ya?” lirih batin Indah.


Indah berdiri di depan lemari es, memikirkan dan memilih makanan yang akan di masaknya.

__ADS_1


“Ada daging kornet, keju, telur, dan kacang polong. Baik, aku akan membuat telur gulung isi saja. Bagus Indah, otakmu masih bekerja dengan baik untuk urusan makan.” Gumam Indah dengan tangannya penuh bahan makanan.


“Apa aku menyukainya? Bagaimana mama, apa yang akan dilakukannya kalau tahu aku menyukai Indah.” Denny memikirkan pertanyaan Iqbal.


Denny merasa sakit di perutnya.


“Aduh, lapar. Karena takut ketahuan Hanna, aku tidak sempat mengajak Indah makan. Pasti dia juga seperti aku bahkan mungkin lebih kelaparan.” Batin Denny membayangkan wajah Indah memelas kelaparan.


Denny beranjak dari ranjang dan melangah ke luar kamar. Matanya memperhatikan Indah sibuk di dapur.


“Hem, gadis ini memang hobi makan. Dia sudah sibuk di dapur.” Gumam Denny.


Langkah Denny terus menuju Indah.


“Apa yang kamu lakukan?” tanya Denny berdiri di belakang Indah.


“Ehhh, saya sedang masak, Mas mau ?” balas Indah sedikit terkejut.


“Hem, baiklah aku akan mencobanya.” Denny berbalik dan duduk di kursi.


“Kalau lapar bilang saja lapar.” Gerutu Indah.


“Apa, kamu bicara sesuatu?” Denny menatap punggung Indah yang membelakanginya.


“Tidak,” Indah membalas cepat membalikkan tubuh menatap Denny.


“Ya…,” balas Indah dengan menyunggingkan bibirnya.


“Kenapa kamu menghindar ketika melihatku?” Denny bertanya teringat saat dia bersama Hanna.


“Kapan?” Indah balas bertanya, pura-pura tidak mengingat apa yang dilihatnya.


“Aku mencarimu ke mana-mana, seorang teman bersamaku tadi dan kamu melihatku lalu melangkah pergi. Apa kamu mau kabur?” tanya Denny, ingin mengetahui alasan Indah yang berusaha menghindar.


“Tidak, saya hanya tidak ingin mengganggung, dan dia akan berpikir yang bukan-bukan tentang kita,” jelas Indah masih berdiri membelakangi Denny.


“Berpikir yang bagaimana maksud mu?” Denny ingin mengetahui perasaan Indah.


“Saya hanya menghindari orang bergosip tentang Pak Dirrektur. Kalau saya sendiri tidak masalah, karena bukan siapa-siapa hanya seorang karyawan di sebuah perusahaan. Dan status saya sebagai pekerja juga tidak tahu, apakah masih aktif atau dinonaktifkan. Karena sudah terlalu lama tidak masuk kerja.” Jelas Indah dengan nafas beratnya.


“Dia masih berpikir tentang pekerjaannya, dia tahu kalau sekarang sedang bersama Denny Prasetyo pemimpin sekaligus pemilik perusahaan tempatnya berkerja. Mengapa dia masih khawatir? Seharusya dia senang, karena mendapat perlakuan istimewa dariku. Dan dia tidak memiliki perasaan atas perhatian yang ku berikan? ” Batin Denny menjawab setelah mendengarkan penjelasan Indah.


“Kamu harus lebih mengkhawatirkan dirimu bukan aku,” jawab Denny.


“Benar, aku memang mengkhawatirkan diriku. Aku gadis yang sedang dekat dengan Denny Prasetyo dan tinggal bersamanya sekarang. Apa yang akan mereka gosipkan? Sedangkan aku tidak memiliki hubungan apapun dengan laki-laki ini. Tamatlah aku, siapa yang akan mau dengan gadis yang pernah tinggal bersama seorang laki-laki yang bukan suaminya. Pasti mereka berpikiran kalau aku sudah,”

__ADS_1


Indah tidak melanjutkan kata-kata yang berkecamuk di kepalanya. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala. Tanpa disadarnya Denny masih memperhatikan.


“Apa yang kamu pikirkan?” Selidik Denny ingin tahu melihat sikap Indah yang aneh di matanya.


“Oooh tidak ada, saya hanya terlupa sesuatu?” Indah berusaha menyembunyikan perasaannya.


“Apa?” tanya Denny ingin tahu.


“Saya lupa menambahkan sedikit lada di dalam masakan ini,” kilah Indah.


“Jangan taruh lada, aku alergi benda itu,” ucap Denny.


“Kenapa, aneh baru kali ini saya dengar ada orang yang alergi lada?” Tanya Indah berbalik menghadap Denny.


“Aku sendiri juga tidak tahu, tapi yang pasti kalau aku memakannya. Sesuatu yang fatal akan terjadi, dan itu sudah pernah ku alami. Aku hampir mati karenanya. Dan aku tidak mau, kamu bermasalah karena aku.” Ucap Denny serius.


“Ohhh seperti itu, baiklah” Indah seperti tidak percaya dan dia melanjutkan memasak.


Tidak beberapa lama, berdua mereka sudah satu meja.


“Silakan dimakan,” ucap Indah.


“Kamu masak ini juga?” tanya Denny menatap nasi rawon di hadapannya.


“Tidak, ini makanan yang dibawa oleh teman wanita Mas. Atau lebih tepatnya kekasih mungkin?” Indah menatap wajah Denny.


“Kalau kamu mau makanlah, dan dia bukan kekasihku,” Denny menyuapkan makanan masakan Indah ke dalam mulutnya.


Ada kebekuan di wajah Denny dalam tatapan Indah, dan dia tidak ingin membahas lebih banyak tentang gadis itu.


“Bagaimana rasanya, apakah masih asin?” tanya Indah menyindir Denny, mencoba mencairkan suasana.


“Ini makan, rasa sendiri,” Denny berusaha menyuapkan ke mulut Indah membalas sindirannya.


“Tidak, saya punya sendiri,” Indah memakan makanan di hadapannya dan merasa malu.


Denny hanya tersenyum melihat kekakuan Indah.


“Hemmm enak,” Ucap Indah.


“Cepat habiskan, setelah itu istirahatlah,” Balas Denny tersenyum melihat ekspresi Indah.


"Hem, tentu. Makanan ini seperti memanggil untuk segera di santap. Saya akan melahapnya." Balas Indah dengan mata berbinar menatap makanan di hadapannya.


"Dasar gadis ini, memang suka makan," batin Denny dengan wajah tersenyum menatap tingkah Indah.

__ADS_1


Berdua mereka menikmati makanan dengan santai. Sesekali terdengan tawa kecil di sela-sela perbincangan mereka saat makan. Denny sangat menikmati dan jantungnya berdegup kencang saat Indah tersenyum dan menatapnya.


__ADS_2