
“Den, Denny. Kau mau kemana?” Harun tidak mendapatkan jawaban, menatap punggung Denny pergi.
“Den, sebaiknya kau mendengarkan saranku. Aku tidak akan membahayakan kehidupan kedua putramu,” lirih Harun dalam batin menatap Dania terbaring lemah.
Denny berjalan menelusuri koridor rumah sakit, dengan tangan menempel di telinga, bibir berbicara dengan seseorang di seberang layar tipis. Tatapan tajam mengiringi setiap langkahnya, bibir masih betah menyapa tepatnya terdengar kalimat negosiasi.
“Cih, kau sangat tepat memilih waktu membuat kesepakatan denganku. Apa yang kau inginkan?”
“Hanya itu? Baiklah, aku lakukan setelah Dania selamat.
“Tut, Tut, Tut,” pembicaraan terputus.
Denny menggigit kuat gerahamnya hingga terlihat rahangnya mengeras. Langkahnya ingin membawa ke kamar Saka, tapi sepertinya dia tidak tahu di mana. Terlihat beberapa pengawal berkumpul diujung koridor, sepertinya mereka tidak sedang bertugas, posisi santai dan mengombrol satu sama lain. Denny terus melangkah menghampiri.
“Bruk, Bruk, Bruk, aakh” suara pukulan dan terjangan menyasar ke tubuh, wajah dan terkaparlah para tubuh-tubuh kekar di lantai dengan wajah meringis menahan sakit.
Tangan Denny menarik paksa kerah baju jas salah seorang pengawal dan dengan terhuyung-huyung masih dalam keterkejutan pria tak berdosa itu mendapat tatapan tajam sang putra nyonya besar.
Nasib menjadi pengawal sang nyonya besar tidak bisa memberikan balasan pada sang putra hanya bisa menerima dan bertahan dengan kesakitan.
“Dimana kamar putraku? Kalau kau masih mau hidup bawa aku ke sana?” Suara berat penuh amarah dengan nafas panas terpapar di wajah pengawal.
“Tapi tuan,”
“Bruk,” pukulan telak mengarah ke perut.
“Akhhh, ba-baik tuan, aku akan membawamu ke sana,” tak sanggup menahan sakit, dalam keterpaksaan dan tertekan sang pengawal tertatih-tatih berjalan diikuti Denny dari belakang.
Di sisi lain, Iqbal telah sampai di rumah Denny, keadaan rumah sepi hanya security berjaga di depan sedang yang lain di dalam alam mimpi.
“Bagaimana aku membangunkannya? Apa yang harus aku lakukan?” Langkah kaki Iqbal sudah membawanya di depan kamar Jesika. Tangannya ingin mengetuk pintu, tapi masih tertahan di atas angin.
“Aku harus melakukan, kalau tidak aku akan dalam masalah dengan nyonya besar,” lirih Iqbal di dalam hati.
“Tok, Tok, Tok,… tangan Iqbal mendarat di dinding pintu.
Suara dari dalam tidak terdengar, Iqbal bersabar dengan perasaaan yang tidak menentu. Melirik jam melingkar di pergelangan tangan.
“Pukul tiga pagi. Aku rasa dia sudah cukup beristirahat dibandingkan diriku. Jadi tidak masalah membangunkannya.” Iqbal menutupi keresahan dengan pembelaan diri sendiri.
__ADS_1
‘Tok, Tok, Tok,”… tangan Iqbal kembali mendarat di dinding pintu.
Di dalam kamar sebalik pintu, Jesika terbaring di tempat tidur, sayup-sayup terdengar di telinga suara seperti ketukan pintu. Kelopak manik hitam perlahan terbuka, dengan nyawa yang masih setengah terkumpul Jesika menegakkan tubuh. Manik hitamnya menatap daun pintu, memastikan suara yang didengar bukanlah sisa bunga mimpi.
“Tok
“Tok
“Tok,” suara ketukan kembali terdengar.
“Benar suara itu dari arah pintu, dan siapa pula yang mengetuk pintu di jam semalam ini,” Batin Jesika melirik jam menggantung di dinding kamar setelah mengalihkan perhatiannya dari arah pintu, lalu membawa tubuh turun dari tempat tidur melangkah gontai.
“Cklek,” pintu terbuka.
“Sekretaris Iqbal,” Ucap Jesika pelan namun masih bisa di dengar orang yang berdiri tepat di hadapannya.
“Maaf sudah mengganggu tidur Anda Nona Muda, tapi Anda harus ikut dengan saya sekarang ke rumah sakit.” Ucap Iqbal tidak mau berlama-lama mengulur waktu.
“Ke rumah sakit? Ada apa?” Tanya Jesika dengan tatapan bingung.
“Nanti akan saya jelaskan di jalan Nona. Saya mohon, kita harus segera berangkat.” Ucap Iqbal dengan wajah datarnya berusaha menutupi rasa tidak enak karena sedikit memaksa Jesika ikut bersama.
“Waduh, wanita ini tidak memberi aba-aba kalau mau masuk untung hidung mancungku ini masih bisa diselamatkan.” Lirih Iqbal sambil mengusap-usap ujung hidungnya.
Di dalam kamar, Jesika berlari kecil ke kamar mandi, mencuci wajah di washtafel dengan cepat. Lalu menuju closetroom mengganti baju yang menempel ditubuh dengan pakaian yang lebih nyaman dan tak lupa membalut dengan jaket karena di luar masih gelap.
Jesika sedikit terlihat merapikan tampilan wajah, lalu hanya mengikat tinggi rambut panjangnya. Kemudian menarik langkah menuju pintu sambil meraih tas selempang kecil yang tergelek di meja nakas.
“Cklek,” pintu terbuka.
Jesika tidak melihat Iqbal, lalu melanjutkan langkah berlari kecil menuju lantai bawah melalui anak-anak tangga dengan manik hitam mengedarkan pandangan mencari sosok Iqbal berada.
Mendengar langkah kaki mendekat, Iqbal menarik tatapannya menoleh ke sumber suara.
“Mari Nona, kita berangkat.” Ucap Iqbal setelah Jesika datang mendekat.
Berdua mereka berjalan ke luar rumah, segera memasuki mobil yang telah menunggu di halaman.
“Bussss,” mobil melaju meninggalkan rumah Denny.
__ADS_1
Di rumah sakit, Denny memasuki sebuah ruangan setelah seorang pengawal mengantarkan. Tatapan manik hitamnya lekat ke arah wajah Saka yang sedang tertidur pulas. Tak terasa kedua manik hitamnya berembun. Langkah kaki di hayunkan mendekati tempat tidur Saka. Perlahan, Denny mendaratkan tubuh duduk di kursi yang ada di sisi tepi tempat tidur.
“Berapa banyak lagi penderitaan yang akan ku lalui untuk bisa hidup bahagia bersama kalian,” lirih batin Denny mengelus lembut pucuk kepala Saka. Berkali-kali tangan itu mengusap dengan tatapan yang tidak berpindah dari wajah Saka.
Saka merasakan kepalanya disentuh, perlahan membuka kelopak manik hitam yang terasa berat. Kabur menyelimuti pandangan menampakkan kabut putih membayangi wajah seseorang di hadapan hingga perlahan kabut putih itu hilang dan menampakkan rauh wajah sedih membalas tatapannya.
“Papa,” suara Saka memanggil Denny yang masih menatapnya lekat.
“Ya,” balas Denny pelan masih mengusap kepala putra tersayangnya.
“Papa tidak akan meninggalkan mama dan akukan?” Tanya Saka menatap manik hitam Denny yang membingkai merah. Hatinya menebak kalau papanya saat ini sedang sedih dan dalam keadaan permasalahan yang berat.
“Hemm, tidak sayang. Kamu jangan berpikir seperti itu. Papa tidak akan berpisah dari kamu dan mama walau apapun yang terjadi.” Denny menggenggam erat tangan kecil Saka dengan kedua tangannya.
Sedangkan di luar kamar, sekelompok orang bertopeng menyerbu dan menghajar para pengawal yang berjaga di depan pintu hingga terkapar tidak sadarkan diri.
“Brakkkk”, suara pintu terbuka dengan keras.
Denny mengalihkan tatapan ke arah sumber suara. Terlihat beberapa pria berjas hitam dan menyembuyikan wajah berbalutkan topeng menerobos masuk langsung melangkah menghampirinya.
“Siapa kalian?” Tanya Denny dengan tatapan menusuk.
“Tidak ada waktu menjelaskan jawaban Anda!”
Seorang menyerang menusukkan dengan cepat ke tubuh Denny alat kejut listrik.
“Akhh”, Denny menyeringai kesakitan hingga akhirnya terjatuh ke lantai tidak sadarkan diri.
**************************************************
Assalamualaikum,
Hai Raiders,
Maaf ya, baru bisa up lagi, ngak bisa dijelasin bagaimana sibuknya aku. Tapi, aku akan tetap menyiapkan cerita ini.
Dan aku masih mengharapkan kesetiaan kalian dan dukungannya.
Terima kasih dan wassalamu'alaikum.
__ADS_1