Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 50 Rasa Terima Kasih


__ADS_3

Indah perlahan membuka kelopak matanya, tersadar dari tidur. Mengamati ranjang dan tubuh yang hanya berbalutkan selimut. Indah menarik kedua tangannya ke atas, merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal. Seketika senyum membingkai di wajahnya, membayang perlakuan lembut Denny. Matanya berusaha mencari-cari, tapi tidak di lihatnya Denny ada di dalam kamar. Indah beranjak bangun, dengan berbalut selimut. Melangkah perlahan ke kamar mandi.


Di dapur Denny sudah sibuk menyiapkan makanan. Senyumnya tak lepas dari wajah. Dia ingin menyenangkan Indah di sore ini. Tangannya terlihat terampil menggunakan peralatan dapur.


Indah telah rapi dan wangi, melangkah ke luar kamar. Kakinya terus membawa ke arah orang yang sangat ingin di jumpai. Perlahan Indah mendekat menghampiri Denny yang masih sibuk di dapur.


Ujung mata Denny mengetahui gerakan Indah yang datang mendekatinya. Saat telah sampai di belakangnya, Denny membalikkan tubuh dan memeluk Indah erat.


“Wah…, kamu sangat cantik In dan hemmm, “Denny menciumi leher, pipi dan mendarat di bibir Indah.


“Hem..Mas, kamu masak apa? Maaf aku telat bangun, aku bantu ya?” Indah melepaskan ciuman dan pelukan. Melihat apa yang sedang di kerjakan Denny.


“Hei, kamu ngak perlu repot-repot bantu aku. Sekarang kamu duduk aja di sini dan sebentar lagi semuanya akan selesai.” Indah duduk dan menunggu di meja makan. Matanya terus mengamati Denny.


“Dapur ini, menjadi saksi betapa aku gugup, takut, dan marah menghadapi dirinya saat-saat terkurung di tempat ini. Sekarang, dia telah menjadi suamiku, sikapnya sangat manis. Dibalik sikap dinginnya, dia orang yang lembut.” Indah berkata-kata dalam hatinya sendiri.


Denny menata makanan dengan manis meletakkannya di dalam nampan dan ditemani masing-masing segelas jus jeruk. Membawanya ke hadapan Indah.


“Hem spaghetti…aromanya sedap, aku jadi sangat lapar Mas,” Denny tersenyum melihat wajah Indah menatap makanan yang dihidangkannya.


“Ayo makan,” mata Denny tak lepas tersenyum menatap Indah.


“Hem…, kamu pinter masak juga Mas, rasanya benar-benar enak.” Indah dengan lahap menyuapi makanan ke mulutnya.


“Kamu memang tidak berubah, dari awal aku mengenalmu sampai sekarang, cara makanmu masih sama,” Denny menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Indah makan.


“Kenapa Mas, ada yang salah?” Indah heran melihat Denny yang menggelengkan kepala menatap dirinya.


“Aku suka melihat kamu makan,” Denny menyuapi makanan ke dalam mulutnya perlahan.

__ADS_1


“Cara aku makan, kenapa? Ada yang belepotan ya?” Wajah Indah bersemu dan ingin mengelap mulutnya dengan tangan. Tapi tangan Denny menahannya.


“Ngak ada yang belepotan kok, makanlah,” Denny tersenyum melihat wajah Indah bersemu merah.


Disela makannya, Indah teringat saat dia juga pernah memasak spaghetti, tapi makanan itu juga ikut di makan Hanna. Pikirannya melayang pada Hanna.


“Ngak baik nglamun saat makan. Apa yang kamu pikirkan, In?” Denny melihat perubahan wajah Indah yang tiba-tiba berhenti makan.


“Hem.., ngak ada Mas,” Indah melanjutkan makannya. Dia ingin Denny sendiri yang memberitahunya tentang Hanna. Dia merasa sebagai orang ketiga diantara hubungan Denny dan Hanna. Seingatnya Hanna sebagai kekasih Denny dan Mama Denny juga sangat menyukinya.


“In, kamu sudah menjadi istri Mas, kamu harus cerita masalah yang mengganjal di hatimu,” Denny memegang tangan Indah. Menatap dalam wajah gadis yang sangat dicintainya.


“Mas kamu jangan marah ya?” Indah membalas tatapan mata Denny.


“Ngak, ada apa?” Denny tersenyum.


“Hem… tidak, nanti malam kita masih ada acara. Mas ngak mau kamu kekenyangan sekarang, dan membuyarkan rencana Mas nanti malam.” Denny cepat-cepat melahap makanan yang ada di dalam piringnya.


“Ehh Mas…, kok gitu jangan dihabiskan dong. Indah minta, masih kurang.” Indah tersenyum melihat tingkah Denny. Dia sangat bahagia, walaupun kebahagiaan ini ia tidak tahu kapan akan berakhir. Dia harus siap untuk itu.


“Ahhhh, punya Mas habis. Ayo, cepat kamu habiskan, setelah itu kita ke kamar. Ada sesuatu yang ingin Mas tunjukkan.” Denny telah menyiapkan sebuah kejutan untuk Indah.


“Sekarang aja Mas kasih tahu,” Indah memohon dengan menyatukan kedua tangannya.


“Ngak bisa, setelah selesai, baru kita ke kamar.” Denny memainkan kedua alis matanya.


“Ihhh…, Indah curiga dengan kejutan Mas, jangan-jangan…” Indah berpikiran kalau Denny mau melakukan hubungan intim kembali dengannya.


“Ha…, Ha…, Ha…, pokoknya kamu pasti suka, cepat habiskan . Atau Mas suapi?” Denny mengambil sendok di tangan Indah. Dan perlahan menyuapkan makanan ke mulut Indah.

__ADS_1


Setelah selesai, Denny menarik tangan Indah menuju kamar miliknya. Kamar itu bukan kekutan lagi baginya, karena Indah pernah masuk ke dalam. Pertama tanpa sepengetahuan Denny, yang kedua merawatnya saat sakit dan kejadian ceroboh yang memalukan dirinya.


“Gimana ini, apa ini kejutannya? Aku kan sudah pernah.” Indah berusaha tersenyum. Hatinya tidak enak, kalau kamar itu bukan kejutan lagi baginya.


“Mari masuk,” Denny membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan mempersilahkan Indah melangkah masuk.


Perlahan Indah masuk ke dalam, dia berusaha kelihatan terkejut dan tertarik melihat kamar Denny.


“Wah… kamar Mas ba…”Indah tidak sempat menyelesaikan ucapannya. Tubuhnya sudah dalam dekapan gendongan Denny.


Denny menjatuhkan tubuh Indah di atas ranjang. Mengunci Indah di bawah tubuhnya. Menatap dalam wajah Indah. Jantungnya berpacu cepat. Hawa panas sudah naik ke kepalanya. Denny merapatkan wajahnya ke telinga Indah.


“In, kamu pandai berpura-pura, tapi Mas suka, sebenarnya kamu sudah pernah masuk ke kamar ini. Ngak masalah, karena kamar ini akan menjadi kamar kita berdua. Tapi sebelumnya, karena kamu mempermainkan Mas, maka sekarang Mas yang akan memberikan permainan yang akan kamu suka.” Denny mulai mencumbui Indah.


“Mas,,” Indah tak sanggup berkata-kata. Tubuhnya langsung tersengat menerima sentuhan, membawanya ke alam kenikmatan. Tubuh keduanya bersatu, merasakan bersama mencapai puncak. Denny terbaring lemah di samping Indah. Menarik perlahan selimut dan menutupi tubuh mereka yang polos. Indah memeluk erat tubuh Denny, kecupan mendarat di dahi Indah.


“In, masih ada kejutan yang lain dari Mas.” Denny memeluk tubuh Indah yang basah keringat mereka berdua.


“Jadi kejutannya lebih dari satu Mas?” Indah menatap wajah Denny, membayangkan kejutan apa lagi yang akan diterimanya.


“Hem…, kamu pasti suka,” Denny mendaratkan ciuman di pipi Indah.


“Baiklah, aku sudah siap dengan kejutan Mas kedua,” Indah memejamkan matanya di hadapan Denny.


“Hem…, dasar istri mesumku. Kamu pasti ketagihan sentuhan Maskan?” Denny menggelitik pinggang Indah.


“Ha..ha..ha.., Mas geli.” Tubuh Indah menggeliat menerima sentuhan Denny.


“Baiklah, ayo kita mandi, setelah itu Mas akan tunjukkan kejutan yang kedua.” Denny bangun dan menggendong tubuh Indah. Melangkah ke kamar mandi, berdua bersama mereka membersihkan diri.

__ADS_1


__ADS_2