
Ke esokan hari di kantor, Indah terlihat lemah tidak bersemangat. Yanti memandanginya.
“Kamu sehat In?” tanya Yanti.
“Tubuhku sakit Yan, aku perlu istirahat ni,” jawab Indah lemas.
“Iya, sepertinya kamu demam In,” punggung tangan Yanti mendarat di dahi Indah.
“Tapi, hari ini aku masih harus ke luar sama Hendrik, ada beberapa tamu VIP belum kami jumpai. Hari deadlinenya sudah dekat.” Keluh Indah.
Hendrik melangkah mendekat, matanya menatap Yanti dan Indah membicarakan sesuatu.
“Kalian kenapa?” tanya Hendrik menghampiri.
“Indah sakit Hen,” jawab Yanti.
“Sakit. Sakit apa?” Tanya Hendrik, wajah tidak percaya.
“Aku tidak apa-apa Hen, hanya sedikit capek aja?” jelas Indah.
“Dia demam Hen,” Potong Yanti.
“Iya, kamu demam, In,” Hendrik meraba dahi Indah.
“Kamu pulang sana, istirahat aja di rumah,” ucap Yanti.
“Ngak ah, nanti minum obat juga sembuh. Ayo Hen, kita berangkat sekarang. Di jalan, kita cari obat.” Berjalan mendahului Hendrik.
Berdua berjalan memasuki lift. Di dalam lift, beberapa pegawai membahas berita yang sedang hangat.
“Hati-hati, kita sedang dilanda wabah virus corona.” Seseorang berujar.
“Iya, virus ini sangat mudah menular, jadi kita harus tetap waspada dan yang terpenting jaga kebersihan,” yang lainnya menjawab.
Hendrik dan Indah hanya diam mendengarkan.
“Betul, kalau tubuh terasa seperti demam, tenggorokan sakit dan batuk-batuk, lebih baik cepat memeriksakan diri,”
“Huk,Huk,Huk,” Indah menutup mulutnya.
Semua mata tertuju kepada Indah.
“Kamu, baik-baik ajakan In?” Tanya Hendrik.
“Aku ngak apa-apa,”
“Lebih baik memeriksakan diri, sebelum terlambat,” ucap seseorang menatap Indah.
“Iya, betul itu,” sambung seseorang.
Lift terus bergerak membawa mereka ke lantai dasar.
Denny dan Iqbal tiba di perusahaan, melangkah menuju pintu masuk. Para pengawal menyambut dan mengiringi langkah Denny dan Iqbal. Mereka berdua baru menghadiri pertemuan para pemimpin perusahaan khusus daerah Jakarata Pusat. Pertemuan berlangsung bersama Bapak Gubernur membahas tanggap darurat virus corona. Wajah Denny tampak serius.
“Kita harus mengatur ulang semua jadwal. Termasuk acara besar perusahaan kita.” Ucap Denny.
“Baik, aku akan mengadakan rapat kepala divisi dan tim.” Balas Iqbal.
__ADS_1
“Atur juga, jadwal kehadiran pegawai. Kita tidak bisa meliburkan semua pegawai. Kita perusahaan penyiaran.Masyarakat membutuhkan informasi, kita harus tetap bergerak. Tapi keselamatan karyawan tetap utama. Lengkapi semua kebutuhan pencegahan bagi karyawan di dalam perusahaan dan bertugas di lapangan juga.” Jelas Denny.
“Baik,” Balas Iqbal.
Langkah kaki mereka terus berjalan menuju lift.
Lift berdenting, lantas terbuka otomatis. Denny dan Iqbal telah menunggu di depan pintu lift. Indah menatap wajah Denny.
“Siang Pak, Hendrik menyapa Denny dan Iqbal.
Denny tidak bergeming, matanya lekat menatap wajah Indah. Iqbal menganggukkan kepala membalas sapaan Hendrik.
“Ayo In,” Hendrik mendahului Indah melangkah ke luar lift.
Indah melintas di depan Denny dengan menunduk wajah. Denny menatap datar kepergian Indah.
Melangkah bersama Iqbal masuk ke dalam lift melanjutkan perjalanan.
Mobil Hendrik berhenti di depan sebuah toko obat tidak jauh dari perusahaan. Indah minta berhenti karena ingin membeli obat, takut sakitnya semakin menjadi. Tapi tubuhnya tak sanggup bergerak, dan semakin lemah. Hendrik menatap dalam wajah Indah.
“In, kamu benar-benar sakit. Kita harus ke rumah sakit sekarang,” Hendrik kembali menghidupkan mesin mobil, lalu melajukannya membawa mereka berdua pergi.
Di perusahaan, Denny mengadakan rapat mendadak. Setelah selesai, kembali ke kantor dan merebahkan tubuh di sofa dan memejamkan mata. Lelah menerjang tubuhnya. Matahari perlahan merangkak menuju peraduan.
“Denny, makananlah, kau belum makan satu hari ini,” Iqbal meletakkan makanan di atas meja.
“Aku tidak lapar, mataku mengantuk. Bangunkan aku sepuluh menit lagi.” Balas Denny.
Iqbal melirik jam di pergelangan tangannya, menatap Denny dan membiarkan beristirahan tidak ingin mengganggunya.
“Pak Hendrik, temannya sudah di ruangan. Belum bisa pulang, menunggu hasil pemeriksaan dari dokter. Lebih baik, Bapak pulang saja. Temannya sudah mendapatkan perawatan.” Seorang perawat menjelaskan dan memberikan sebuah masker.
“Baik, Sus. Terima kasih.” Ucap Hendrik, mengambil masker dan memakainya.
Perawat itu pun pergi meninggalkan Hendrik. Perlahan Hendrik melangkah mendatangi ruang perawatan Indah. Langkah kakinya terhenti, karena ruangan tidak boleh dikunjungi. Hendrik hanya dapat menatap Indah dari balik kaca pintu. Terlihat Indah terbaring lemah.
“In, semoga kamu ngak apa-apa,” Bisik batin Hendrik.
Hendrik melirik jam di tangannya. Tak terasa hari menjemput malam.
“Kasihan kamu In, ngak ada keluarga yang menjagamu saat ini,” lirih Hendrik.
Di kantor Denny. Perlahan kelopak mata Denny terbuka.
“Jam berapa ini, dan di mana Iqbal?” Melirik jam melingkar di tangannya.
“Aku di sini, kau sudah bangun?” Ucap Iqbal melangkah menghampiri Denny.
“Kenapa tidak membangunkan aku,” Denny duduk dan menyapu wajah dengan kedua tangannya.
“Aku baru akan membangunkanmu untuk sholat mahgrib,” balas Iqbal.
“Iya, aku akan sholat,” beranjak dan melangkah meninggalkan Iqbal.
Iqbal duduk dan memandang tubuh belakang Denny.
Di rumah sakit, Hendrik masih menunggu di luar ruangan. Dirinya berat meninggalkan Indah sendirian.
__ADS_1
Di kantor, Denny telah siap melaksanakan sholat. Ingatannya membayang wajah Indah. Berjalan menghampiri Iqbal.
“Aku akan pulang, kalau ada sesuatu yang penting kau bisa menghubungi aku,” ucap Denny menatap Iqbal.
“Baiklah, aku kira kita akan pergi makan bersama sebelum kau pulang,” balas Iqbal.
“Tidak, aku tidak lapar. Kalau lapar kau pergi sendiri saja.” Denny mengambil jas dan melangkah ke luar meninggalkan Iqbal.
“Indah harus menemuiku malam ini dan memberikan jawaban,” ucap batin Denny dengan senyum menggaris di bibir.
Masih di rumah sakit. Hendrik melihat seorang perawat ke luar dari ruang perawatan Indah. Dia bergegas menghampiri.
“Sus, boleh saya masuk menemui teman saya di dalam?” tanya Hendrik.
“Maaf Pak, untuk sementara belum bisa. Kita menunggu hasil pemeriksaan, dan pasien sangat lemah. Biarkan pasien beristirahat tanpa diganggu.” Jelas perawat dan melangkah pergi meninggalkan Hendrik.
Denny telah sampai di apartemen. Melangkah ke kamar mandi, membersihkan seluruh tubuhnya. Setelah selesai mandi, Denny mengenakan pakaian santai baju kaos dan celana jeans. Dirinya bersiap-siap menunggu kedatangan Indah. Duduk di sofa, menatap ponsel membaca berita di media sosial. Tanpa terasa waktu terus berjalan, Denny melirik jam mengantung di dinding. Jarinya terlihat menari di atas layar ponsel.
“Drekk.Drekk.Drekk,”…terdengar nada panggil dari ponsel.
Di rumah sakit.
“Drekk. Drekk. Drekk, “ terdengar suara ponsel.
“Siapa yang menelpon semalam ini,” Gumam Hendrik mencari-cari sumber suara.
“Drekk. Drekk. Drekk,” kembali suara ponsel berbunyi.
‘Suaranya dari dalam tas Indah,” Gumam Hendrik lagi dan meraih ponsel dari dalam tas Indah.
“Dapat, siapa “Pak D”? Apakah “Pak Direktur atau Pak Denny”?” Hendrik melihat sebuah nama di layar ponsel Indah.
“Drekk. Drekk. Drekk.” Ponsel Indah kembali berbunyi.
“Sial, ponsel ini terus berbunyi, masih dari nama orang yang sama. Apa mau pria ini, hah?” Hendrik mulai kesal.
Denny mulai khawatir, Indah tidak mengangkat panggilannya.
“Dimana dia, kenapa tidak mengangkat ponselnya?” gumam Denny.
“Drekk. Drekk. Drekk.”Kembali Denny membuat panggilan.
Di rumah sakit. Hendrik masih menatap ponsel di tangannya.
“Baiklah aku akan menjawabnya,” Batin Hendrik dan jarinya menggeser panggilan masuk.
“Hallo Indah, kamu di mana dan mengapa lama sekali mengangkat ponselmu?” Ujar seseorang dari seberang.
“Dia sekarang bersamaku,” Jawab Hendrik.
“Siapa ini, mana Indah?”
“Dia baik-baik saja, jangan khawatir dan jangan mengganggunya lagi,” Ucap Hendrik dan menutup panggilan.
Di apartemen Denny.
“Sial, siapa pria itu, mengapa dia bersamanya dan di mana mereka sekarang? Kamu sudah menyakiti hatiku Indah,” suara Denny penuh amarah.
__ADS_1