Rasa Cinta Tak Pernah Hilang

Rasa Cinta Tak Pernah Hilang
Bab 56 Rahasia di Balik Sebuah Rencana


__ADS_3

Di rumah sakit, perlahan kelopak mata Denny terbuka. Denny telah sadarkan diri, pandangannya menatap langit-langit kamar.


“Di mana aku, kenapa aku bisa di sini?” Denny mencoba untuk bangun, sentuhan lembut tangan menahan dirinya untuk bergerak.


“Mas, kamu di rumah sakit sekarang. Kamu istirahat saja, lebih baik berbaring dan jangan banyak memikirkan pekerjaan, biar kondisimu cepat baikan.” Indah mendengar suara Denny, dan melihatnya telah sadar. Hatinya sangat senang, dia ingin sebisa mungkin membuat Denny nyaman dan tenang.


“In, kamu di sini juga? Sudah berapa lama Mas di sini? Mas sudah baikan sekarang, lebih baik kita pergi. Mas akan bertambah sakit, kalau terlalu lama di sini.” Denny merajut kembali ingatannya dan tidak tahu sudah berapa lama tidak sadarkan diri. Pikirannya tertuju pada Mamanya, dia tidak ingin mamanya mengetahui kalau dia sakit. Itu akan semakin memperburuk sikapnya terhadap Indah. Dia berusaha melepaskan jarum infus yang menempel di pergelangan tangan.


“Mas jangan, Mas harus istirahat. Kita akan pulang, kalau dokter mengijinkan.” Indah menekan kuat tangan Denny, cairan berwarna merah tak tertahankan keluar dari tangannya, dia terkejut melihat sikap Denny.


“Ada apa?” Iqbal datang mendekat, terlihat ketegangan antara Denny dan Indah. Dia tidak tahu apa yang terjadi antara mereka berdua.


“Syukur kau datang Bal, ayo antar kami pulang.” Denny berdiri, menarik Indah dan menatap Iqbal. Iqbal tidak memahami jalan pikiran Denny. Tapi dia bisa merasakan kegelisahan dari tatapan matanya. Iqbal pun menuruti keinginan Denny. Langkah kaki membawa keduanya ke luar ruangan.


“Tapi Mas,” Indah tidak dapat berkata-kata, tubuhnya sudah tertarik mengikuti langkah Denny. Mereka terus berjalan walaupun Denny masih mengenakan seragam pasien rumah sakit. Iqbal buru-buru merapikan pakaian Denny, membawanya dan menyusul langkah Denny dan Indah yang telah lebih dulu meninggalkannya.


Sampai di apartemen Denny meminta Indah berkemas, mereka akan pergi ke suatu tempat.


“Mas kita mau ke mana? Kamukan belum sehat betul, harus istirahat.” Indah khawatir dengan kesehatan Denny. Dia tidak tahu, Denny ingin pergi ke mana membawa dirinya. Tambah lagi ancaman mama Denny yang membuatnya menjadi semakin takut dengan keadaan kesehatan Denny. Dirinya akan disalahkan, kalau terjadi hal-hal tidak baik terhadap Denny.


“In, Mas ingin kita pergi berbulan madu, biasakan bagi pasangan yang baru menikah? Kita akan melakukannya, jadi percaya sama Mas, kamu pasti akan suka,” Denny memeluk Indah, dia benar-benar ingin melindungi Indah dari tekanan Mamanya. Saat ini dia tidak menghiraukan apapun lagi. Dia tahu dari Iqbal, Mamanya datang menemuinya di rumah sakit dan berbicara dengan Indah. Dia tidak tahu ancaman apa yang diberikan mamanya pada Indah. Iqbal mengijinkan mereka sementara pergi, dan perusahaan akan tetap dalam pengawasan Denny melalui bantuan dirinya.

__ADS_1


Hari itu juga, Denny membawa Indah pergi ke suatu tempat, berusaha menjauh dari jangkauan Mamanya.


Berapa pun kuat usaha Denny menghindar dari Mamanya, tetap tidak berhasil. Kepergian mereka telah diketahui dan diikuti. Mereka tiba di sebuah tempat kota kecil, dan tidak ada yang mengenal mereka, kecuali ayah Iqbal. Pak Ajit tangan kanan Tuan Besar Prasetyo ayahnya Denny. Setelah Tuan Besar meninggal,beliau mengundurkan diri dan posisinya digantikan Iqbal sebagai tangan kanan Denny. Mereka di dalam perlindungan Pak Ajit.


Sebuah rumah bergaya minimalis, dengan halaman kecil dihiasi beberapa bunga menjadi tempat hunian sementara. Indah bahagia hari-harinya bersama dengan Denny, walaupun dia tahu Denny merahasiakan sesuatu dan kebahagiaan yang dia rasakan tidak akan berlangsung lama.


Mama Denny tahu, Denny mencoba melawan keputusannya dengan membawa Indah pergi. Untuk sementara dia tidak bertindak sesuai ucapannya memberi waktu keduanya selama satu bulan. Waktu satu bulan sudah cukup bagi mereka untuk bersenang-senang. Setelah itu, sebuah rencana sudah diatur Mama Denny.


Waktu terus berjalan, tanpa terasa sudah memasuki dua puluh sembilan hari kebersamaan Denny dan Indah. Hari ke tiga puluh kebersamaan mereka bertepatan dengan hari ulang tahun perusahaan. Iqbal sudah mengatur rencana, di hari itu akan mengumumkan Denny telah menikahi Indah di depan semua orang yang hadir. Pengumuman itu akan membuat status Indah diketahui semua orang dan Mama Denny tidak akan bisa memisahkan mereka berdua.


Denny menyetujui rencana Iqbal, mereka mengatur rencana dan merahasiakan dari semua orang. Perusahaan sudah menentukan tempat acara di studio dua. Studio pun dirancang dan ditata semenarik mungkin.


Mobil yang ditumpangi Indah berada di tengah karena dia menjadi target. Sedangkan mobil Denny dan Iqbal sebagai pengawal di depan dan di belakangnya.


Perjalanan berjalan lancar hingga sampai di pertigaan jalan. Sebuah truk besar tiba-tiba melintas tidk stabil dengan kecepatan tinggi. Ketiga mobil berusaha menghindar, tetapi terlambat. Terjadilah tambrakan beruntun dalam waktu yang serentak. Ketiga mobil tidak dapat menghindari benturan kuat, sehingga ketiganya mengalami rusak berat dan semua penumpang tidak sadarkan diri. Orang suruhan Mama Denny pun datang menolong, dan melarikan mereka semua ke rumah sakit terdekat.


Perlahan kelopak mata Denny terbuka, pandangannya samar dengan kepala yang masih terasa sakit kerena benturan keras. Matanya menatap Iqbal, Pak Ajit, Pak Jung dan Mama berada di dekatnya.


“Mana Indah? Bagaimana dia? Mengapa dia tidak ada di sini?” Denny sangat terkejut, tidak mendapati Indah berada di sisinya. Tidak seorang pun dapat menjawab pertanyaannya. Mereka saling menatap satu sama lain dengan mulut terkunci.


“Bal, di mana Indah? Aku ingin menemuinya, apa dia baik-baik saja?” Denny mencengkeram kuat dan menarik kerah baju Iqbal. Menata p Iqbal dengan tajam dan bola mata memerah menahan luapan amarah. Dia menduga sesuatu telah terjadi dengan Indah.

__ADS_1


“Denny sabar, Indah ada tapi tidak bisa ke sini, kamu yang harus menemuinya.” Suara Mama berusaha menenangkan Denny. Perlahan tangan Denny terlepas, seketika hawa dingin menyerang tubuhnya, rasa takut kehilangan menyelimuti setelah mendengar ucapan mamanya.


“Apa maksud mama, hah? Baik aku akan menemuinya sekarang juga. Bal, bawa aku ke tempatnya?” Denny beranjak dari tempat tidur , berdiri merangkul Iqbal, rasa sakit diseluruh tubuh tidak dihiraukan. Perlahan melangkahkan kaki bersama Iqbal menuju sebuah ruangan.


“Bal, tempat apa ini, kenapa kita ke sini, aku tidak mau masuk ke sana. Kamu pasti salah membawaku.” Denny melihat jelas di hadapannya tertulis Kamar Mayat. Jantungnya tanpa diundang berpacu cepat. Denny membalikkan tubuh, tapi Iqbal menahannya.


“Den, kau harus masuk, Indah ada di sana,” Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, Iqbal menatap Denny.


“Kau jangan bercanda, Bal. Dia tidak mungkin di sana, dia baik-baik sajakan? Kau hanya ingin mempermainkan aku.” Denny berusaha tidak mempercayai ucapan Iqbal. Dia berharap Iqbal hanya bercanda ingin mempermainkannya.


“Tidak, aku tidak bercanda, kita harus masuk. Aku harap kau kuat,” Iqbal merangkul dan membawa Denny masuk ke dalam kamar mayat. Denny menatap wajah Iqbal di sampingnya dengan derai air mata. Dia takut menerima kenyataan pahit yang akan dia jumpai di dalam.


Sampai di dalam seorang perawat telah berdiri di samping mayat yang terbaring ditutupi sehelai kain putih bersimbahkan darah.


“Kita ke luar Bal, itu pasti bukan Indah, kau harus membawaku ke tampatnya sekarang,” suara Denny meninggi menatap Iqbal, dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa mayat yang tertutup itu bukan Indah.


“Kau harus melihatnya dan menerima kenyataan ini,” Iqbal mendorong Denny, dan tubuhnya terlempar mendekati mayat tepat di depan wajahnya.


Perawat perlahan membuka kain yang menutupi wajah mayat setelah mendapat isyarat dari Iqbal. Perlahan kain terbuka dan wajah Indah yang lemah terbujur kaku dalam pandangan Denny. Tubuh Indah dirangkul erat dalam dekapan Denny.


“Tidakkkk, tidak, hiks-hiks-hiks,Indah bangun, jangan seperti ini, kamu jangan pergi, kamu jangan tinggalkan aku In. Hiks-hiks-hiks, Bal, dia tidurkan? Suruh dia bangun sekarang, atau aku akan marah. Suruh dia bangun Bal.” Tangan Denny menggoyang kuat tubuh Iqbal, Denny terduduk lemah di lantai. Hatinya hancur, wanita yang sangat dicintai telah pergi dan tidak akan kembali untuk selama-lamanya. Iqbal menatap sedih, atas kehilangan sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2