
Denny telah sampai di halaman depan rumah. Iqbal turun dan membuka pintu samping untuk Denny. Perlahan Denny keluar sambil membawa Dania dalam gendongan. Bik Surtik telah menunggu di depan pintu dengan senyum sumringah menyambut kepulangan Denny dan Dania.
“Selamat sore tuan, mari Dania sama saya.” Ucap Bik Surtik mengulurkan kedua tangan kehadapan Denny yang telah berdiri di depannya.
Denny tersenyum membalas kebaikan Bik Surtik. Perempuan separuh baya bekerja sebagai pembantu rumah tangga juga merangkap mengasuh Dania sangat dia percaya menjaga rumah saat tidak ada.
“Tidak masalah Bik, Dania tidur, saya bawa dia ke kamar. Tolong angkatkan barang-barang ke kamar dan sekalian buatkan kopi antarkan ke ruang kerja.” Denny tersenyum sambil melanjutkan langkah terus masuk ke rumah.
Pandangan Denny menyapu ruangan, langkahnya membawa menaiki tangga menuju lantai dua rumah.
Iqbal menghampiri Bik Surtik yang masih berdiri menatap memasang garis senyum di bibir.
“Apa kabar Bik?” Sapa Iqbal memulai percakapan sambil tersenyum. Dirinya belum bisa beranjak dari rumah Denny meninggalkannya dalam kondisi marah. Sebagai sekretaris dan sahabat harus siap menemani.
“Baik, Tuan mau kopi? Tuan Denny minta buatkan kopi tadi dan minta saya antarkan ke ruang kerja. Baru pulang udah kerja lagi, ngak istirahat dulu. Kasihan Tuan Denny, coba dia punya istri, pulang ada yang nyambut, bermanja-manja, jadi pikirannya ngak kerjaan terus.” Ucap Bik Surtik seolah protes dengan kesibukan Denny yang tidak memikirkan kesehatan dan kesenangan dirinya.
“Hem, sabar Bik, ngak lama lagi ucapan bibik itu akan menjadi kenyataan.” Iqbal membalas, bayangan wajah Indah melintas di kepala. Dia juga sependapat dengan Bik Surtik, Denny sudah lama sendiri, waktunya memiliki pendamping sangat pantas.
“Betul Tuan? Udah ada calon nyonya Tuan Denny?” Tanya Bik Surtik semangat mendengar cerita yang membuatnya penasaran.
“Nanti juga BIbik akan tahu. Saya juga mau kopi dan tolong antarkan ke ruang kerja saya mau ke sana.” Iqbal tersenyum melihat wajah ingin tahu Bik Surtik, lalu melangkah ke dalam meninggalkan Bik Surtik yang masih terpaku menatapnya.
Sampai di dalam kamar Dania, perlahan Denny menurunkan gadis kecil itu dari gendongan dan membaringkan perlahan di atas tempat tidur. Matanya beralih ke sepasang sepatu yang masih terpasang. Kedua tangan mengulur melepaskan sepatu dan menarik selimut sampai ke dada Dania.
__ADS_1
Denny meninggalkan kamar Dania, menuju ruang kerja masih berada di lantai dua rumah. Langkahnya terhenti di depan pintu, tangan meraih gagang pintu dan mendorong pintu ke dalam.
“Kreeek,” pintu terbuka lebar. Denny melihat Iqbal duduk di sofa sedang berbicara dengan seseorang melalui ponsel. Suara Iqbal terhenti, saat matanya menangkap bayangan Denny masuk ruangan.
“Den, Gunawan membawa Indah ke restoran ***** lalu meninggalkannya bersama Elisa,” Ucap Iqbal menatap Denny mendaratkan tubuh di sofa tepat berhadapan. Orang suruhan Iqbal melaporkan kedua perempuan itu masih betah duduk di restoran membincangkan sesuatu dengan serius tanpa Gunawan bersama mereka.
“Ayo kita ke sana, siapkan beberapa mobil. Pantau dia terus, aku ada rencana.” Denny beranjak dari sofa, menarik langkah cepat meninggalkan ruang kerja. Iqbal pun menuruti langkah Denny dari belakang. Sambil tangan menempelkan ponsel ke telinga, terdengar memberi perintah kepada seseorang di seberang.
Bik Surtik masih menapaki langkah satu persatu di anak tangga membawa tas Dania. Seketika langkah terhenti, saat matanya menangkap dua lelaki terlihat buru-buru berjalan dan menuruni anak tangga yang sama. Bik Surtik tercengang saat keduanya melintas tanpa bicara atau sedikit memberi pesan.
“Tuan, kopinya gimana?” Bik Surtik bertanya ketika kepalanya mampu berpikir setelah kembali dari kekosongan. Mengamati punggung belakang kedua lelaki yang terus berjalan menuju pintu.
Iqbal mendengar suara Bik Surtik, tapi tidak berniat memberi jawaban. Dia juga sedang berpikir keras rencana yang akan dilakukan Denny. Pastinya berhubungan dengan Indah, karena belum pernah Denny bertindak tanpa membicarakan terlebih dahulu.
“Bal, kau pakai mobil lain?” Denny menyambar mobil, langsung masuk mendaratkan tubuh di belang stir. Mobil pun dalam kuasa Denny, dengan cepat mobil pun memanas dan perlahan melaju meninggalkan rumah.
Iqbal hanya bisa melepas nafas kasar melihat mobil perlahan hilang dari pandangannya. Sopir membawa mobil berhenti menghampiri Iqbal, dengan cepat Iqbal memasuki mobil.
“Ayo cepat susul, jangan sampai kehilangan jejak.” Perintah Iqbal terlontar mengendalikan sopir. Mobil segera bergerak menyusul sesuai dalam penguasaan kendali sang sopir.
Tatapan Iqbal liar menuntut ke jalanan mencari mobil Denny. Suasana tegang memenuhi udara di dalam mobil. Sekilas ekor matanya menangkap sebuah mobil meluncur cepat di depan meliuk-liuk di jalan. Jalanan sangat mendukung aksi nekat mobil karena lengang dan tidak banyak mobil berlalu-lalang. Iqbal meraih posel dan membuat panggilan.
Wajahnya menegang dan berkali-kali terdengar membuang nafas kasar saat panggilan tidak menerima jawaban.
__ADS_1
“Drekk….Drekk….Drekkk. Tut, Tut, Tut.” Panggilan kembali terabaikan.
“Ayo Den, angkat,” Rintih Iqbal bermohon di dalam hati merutuki Denny mengabaikan berkali-kali panggilan. Jari Iqbal masih betah menekan simbol panggilan berharap nomor yang dipanggil segera menjawab.
“Bal, bagaimana mobil yang lain?” Ucap Denny dari seberang menyambar panggilan Iqbal.
Air muka Iqbal sedikit tenang mendengar suara Denny di ujung ponsel.
“Ready. Den, aku di belakang, tolong kurangi kecepatanmu. CCTV memantau, akan sulit aku mengendalikan kalau sampai pihak berwajib menghubungi.” Iqbal berusaha meyakinkan meredam ketegangan memenjara Denny. Sikapnya bisa merugikan dan membatalkan apa pun rencana yang telah disusun sendiri.
“Baiklah, kau awasi saja dia. Aku tidak akan merugikan diriku sendiri.” Senyum menarik di bibir atas Denny, memasang tatapan tekun ke jalan. Laju kecepatan mobil sudah mulai berkurang walaupun masih di atas minimum.
Beberapa menit kemudian, mobil telah berhenti di halaman parkir restoran. Denny ke luar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam restoran. Memasang tatapan tertuju ke depan tanpa menoleh memperhatikan sekitarnya.
Memilih meja di bagian tengah ruangan, seolah sengaja dilakukan agar orang dapat dengan mudah melihat. Meraih ponsel dari saku baju, terlihat mulai tekun menatap layar ponsel.
Di tempat yang sama, Jesika masih menikmati minuman sambil berbicara dengan Elisa. Berdua terlihat sangat dekat meskipun baru bertemu, tapi pembicaraan dapat terjalin dengan mudah.
Sedang asik berbicara, ekor mata Jesika tanpa sengaja beralih melirik pemandangan di belakang Elisa.
Sekilas namun jelas, manik hitamnya menangkap bayangan wajah yang sangat dia kenal.
Wajah itu tak lain Denny yang berjarak dua meja dari mereka duduk.” Bagaimana dia bisa di sini? Sejak kapan dia ada di sini? Apa dia sengaja memata-mataiku?” Bisik batin Jesika digantunggi pertanyaan kemunculan Denny secara tiba-tiba. Jesika menahan diri, tidak memberitahu Elisa kalau orang yang dibicarakan hadir bersama mereka.
__ADS_1