
Yanti dan Deli melangkah ke luar kamar, duduk di sofa ruang keluarga.
“Siapa Iqbal? Bagaimana kalian bisa mengenal? Kau menjalin hubungan dengannya? Dasar kau ini, mengapa merahasiakannya?” Deli memberondong Yanti dengan pertanyaan.
Yanti menarik nafas dalam dan menghembusnya perlahan.
“Aku harus menjelaskan dari mana? Kau sendiri tahu kalau aku pernah bekerja di Perusahaan ****TV. Perusahaan itu milik tuan Denny dan Iqbal sebagai sekretarisnya. Kami bertemu kembali di perjalanan kemarin. Itu saja, tidak ada yang perlu dirahasiakan.” Yanti mengangkat bahu menjelaskan dengan wajah tenang menatap Deli.
“Hubungan kalian?” Tanya Deli penuh selidik.
“Awalnya aku membenci dia, karena alasan tertentu. Sekarang kesalahpahaman kami telah selesai. Aku sendiri juga tidak percaya kami bisa menjalin hubungan sedekat ini.” Yanti menatap Deli dengan melempar senyum.
“Kau sendiri, apa kau mencintainya?” Deli masih bertanya memastikan perasaan Yanti terhadap Iqbal karena dia tahu lelaki itu sangat menyukai Yanti.
“Hem…, aku rasa aku sedang jatuh cinta dengannya. Aku sudah menjawab semua rasa penasaranmu. Sekarang, mengapa kau bisa di rumah ini?” Tanya balik Yanti ingin mengetahui alasan sahabatnya.
“Dokter Harun memintaku merawat temannya penderita leukemia. Aku ingin membantu, apalagi pasien sedang mengandung.” Jawab Deli singkat.
“Leukemia dan mengandung? Kau tahu siapa yang kau rawat saat ini, selain istri Denny Prasetyo dia pewaris tunggal pengusaha Singapura terkenal Raja Corps.” Mata Yanti membesar mengetahui penyakit dan keadaan Hanna.
“Kekayaan dan kedudukan tidak menjamin kesehatan dan nyawa seseorang. Sekarang ini, kalau semua itu dapat ditukarkan untuk kesembuhan, aku yakin dia akan memberikannya.” Ucap lirih Deli menatap jauh ke depan.
“Suster Deli, dipanggil tuan,” terdengar suara Bik Surtik, Deli dan Yanti menoleh ke arahnya.
“Iya, saya datang Bik,” Jawab Deli menatap Bik Surtik.
“Ayo kita ke sana,” Deli beranjak dari sofa diikuti Yanti. Bersama mereka melangkah menuju kamar.
Di kamar, Denny dan Iqbal terlihat duduk bersama.
“Apa yang kalian bicarakan?” Denny menatap Hanna yang kembali tertidur setelah berbicara dengan Iqbal.
“Dia menanyakan siapa gadis bersamaku dan meminta serius menjalin hubungan. Dia berpesan jangan meninggalkanmu sendiri setelah kepergiannya. Aku marah dia bicara begitu, dia tidak boleh menyerah. Aku minta dia harus ada disaat aku menikahi gadis pilihanku, tapi dia tidak bisa. Dia merasa hidupnya tidak lama lagi.” Iqbal menatap Denny dalam, air mengalir dari sudut matanya. Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.
“Aku akan berusaha membantunya bertahan. Setelah melahirkan, dia bisa menjalankan proses pengobatan,” Denny berkeyakinan kuat Hanna mampu bertahan menghadapi penyakitnya.
Kedua lelaki itu terdiam sejenak, mereka larut dalam pikiran masing-masing.
“Tok, tok, tok,” pintu diketuk dari luar. Iqbal menoleh dan beranjak menuju pintu lalu membukanya. Terlihat Yanti dan Deli berdiri di balik pintu.
“Masuklah,” ucap Iqbal menatap keduanya.
Yanti dan Deli melangkah masuk. Iqbal berjalan di samping Yanti.
Sambil berjalan, Yanti menoleh ke arah Iqbal, sesuatu telah terjadi, sisa air mata masih terlihat jelas membasahi matanya. Mulutnya ingin bertanya, tapi dia ragu untuk melakukan. Langkah kaki, membawa dirinya mengikuti Iqbal menghampiri Denny.
“Denny, aku ingin mengenalkan dia,” Iqbal menatap Yanti dan beralih ke arah Denny.
Denny berdiri, menatap bergantian Iqbal dan Yanti.
“Yanti,” ucap Yanti gugup dengan mengulurkan tangan ke arah Denny. Dia tidak pernah sedekat ini berhadapan dengan Denny.
__ADS_1
“Denny Prasetyo, senang berkenalan” ucap Denny menyambut uluran tangan Yanti.
“Kau tidak ingat dengannya?” Tanya Iqbal menatap Denny.
“Siapa, Dia? Maaf, aku tidak mengenalnya selain kau mengaku kekasihnya. Bukan begitu?” Tanya Denny balik karena dia tidak mengenal Yanti sebelumnya.
“Dasar payah, dia dulu pernah bekerja diperusahaanmu dan dia juga temannya Indah. Aku juga ingin memberitahukan kalau telah terjadi rumor tidak benar tentang kematian Indah. Aku akan menyelidiki dan membersihkan namanya.” Iqbal ingat akan janjinya meluruskan berita tidak benar tentang kematian Indah.
“Indah? Ternyata Yanti mengenal Indah, dan dia juga telah tiada? Heh…Sungguh malang kau tuan Denny. Semua gadis yang mencintaimu pergi.” Bisik batin Deli mendengarkan pembicaraan ketiga orang di hadapannya.
“Maaf, aku tidak bisa mengingat karyawanku, juga tidak begitu tahu teman-teman Indah,” Denny tersenyum mengenang kelemahan dirinya.
“Tidak apa-apa, tuan memiliki ratusan karyawan, tidak akan mengingat semuanya,” Yanti melihat sikap ramah Denny, selama ini dalam ingatannya hanya wajah dingin.
“Rumor itu, kau harus membereskan secepatnya. Aku tidak suka ada yang bergunjing di belakangku,” Denny memasang wajah tidak suka mengetahui ada orang yang berani menyebar isu tidak benar.
*********
Iqbal dan Yanti berada di dalam mobil kembali dari rumah Denny.
“Kenapa membawaku menemui Hanna dan tuan Denny?” Tanya Yanti memecah kebisuan diantara keduanya selama dalam perjalanan.
“Maaf, kalau kau tidak suka. Bagiku mereka berdua adalah teman sekaligus saudaraku,”jawab Iqbal dengan tatapan mengarah ke jalanan di hadapannya.
“Aku hanya terkejut, sudah lama tidak melihat mereka. Kau akan menikahiku dan memintanya hadir. Kata-kata itu bagus, memberi semangat agar Hanna tidak menyerah dengan penyakitnya. Aku suka dengan pemikiranmu,” Yanti teringat ucapan Iqbal saat mengenalkan dirinya pada Hanna. Dia tidak menyangka akan mendengar ucapan itu ke luar dari bibir Iqbal. Dia mengangap, lelaki di sampingnya tidak akan berpikir sejauh itu, apalagi hubungan mereka terbilang sangat baru.
“Apa yang sudahku ucapkan tidak akan ditarik lagi dan aku serius. Sekarang, apa pendapatmu?” Tanya Iqbal ingin mengetahui isi hati Yanti.
Yanti terdiam, dia tidak mampu berpikir. Pertanyaan Iqbal membuat isi kepalanya kosong. Tiba-tiba mobil melambat dan berhenti di pinggir jalan. Yanti bertambah bingung, melihat sikap Iqbal.
“Apa dia marah? Apa aku telah menolaknya? Yanti, ada apa denganmu, mengapa kau tidak bisa menjawab? Laki-laki ini, benar-benar serius, aku harus jawab sekarang?” Kepala Yanti penuh dengan pertanyaan, matanya melirik Iqbal yang fokus mengemudi tidak terdengar lagi kata-kata ke luar.
Di rumah Denny, Deli mencuri pandang menatap Denny.
“Sampai kapan lelaki ini menemani istrinya, dia seperti tidak ingin lepas. Aku ingin lihat sebesar apa cintanya bertahan.” Bisik batin Deli melihat Denny tidak beranjak dari kamar Hanna. Dia hanya ke luar untuk membersihkan diri selebihnya menghabiskan waktu menemani Hanna.
“Tuan, anda bisa istirahat di kamar, saya akan menjaga nyonya,” Deli berusaha memulai pembicaraan dengan Denny.
“Tidak, aku ingin bersamanya. Kalau kau sudah selesai, kembalilah ke kamarmu. Aku akan memanggil kalau membutuhkanmu,” ucap Denny datar. Dia tidak ingin jauh dari Hanna, saat Hanna sadar, dia pastikan wajahnya yang akan dilihat.
“Baiklah tuan,” Deli melangkah pergi meninggalkan kamar. Dia juga tidak bisa memaksa Denny.
Sampai di kamar, Deli membaringkan tubuh. Pikirannya kembali teringat dengan nama Indah. Lalu Deli meraih ponsel dan membuat panggilan dengan Yanti.
“Hallo,” sapa Yanti dari seberang.
“Kau sudah pulang?” Tanya Deli.
“Hem,” jawaban singkat.
“Kenapa suaramu terdengar aneh?” Tanya Deli kembali, mendengar suara Yanti yang lesu.
__ADS_1
“Apa aku telah menolaknya? Dia tidak memberiku kesempatan berpikir. Dasar laki-laki itu membuatku kesal,” Yanti merutuki dirinya, sikap Iqbal membuatnya bingung.
“Apa yang kau bicarakan, aku tidak mengerti" Deli tidak tahu apa yang terjadi hingga membuat Yanti kesal.
“Dia seperti melamarku, tapi aku tidak langsung menjawab. Dia bilang tidak ingin memaksa, apa maksudnya?” Suara Yanti terdengar meninggi.
“Kalau kau bingung tanyakan saja, Dia masih mau bersamamu atau tidak?" Deli berusaha membantu Yanti menentukan sikapnya.
“Aku tidak mau, aku akan menunggu apa dia masih ingin menghubungiku. Kalau tidak berarti dia sudah memutuskan hubungan kami.” Jawab Yanti sedih.
“Terserah, aku ingin bertanya, Apa kau kenal Indah dan siapa dia bagi tuan Denny?” Tanya Deli tidak ingin berlama-lama dengan berasaan galau Yanti.
“Indah, sama sepertimu kami berteman sejak kuliah, menjadi bersahabat dan bekerja di tempat yang sama. Belakangan sikapnya semakin banyak menyimpan rahasia, hingga pernikahannya dengan tuan Denny juga tidak diketahui banyak orang. Dia jarang masuk kerja karena berbagai alasan. Kabar mengejutkan, dia mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Kami belum sempat berbagi cerita tentang pernikahannya.” Ucap Yanti mengulang kembali kenangannya bersama Indah.
“Oh…, jadi dia istri pertama tuan Deny dan sudah meninggal. Sekarang istrinya juga sedang sakit keras, sungguh lelaki yang malang.” Celoteh Deli menanggapi cerita Yanti.
“Kenapa kau tanyakan itu?” tanya Yanti tersadar dari kenangan masa lalunya.
“Tidak apa-apa, hanya ingin tahu karena kalian ada menyebut namanya tadi.” Sudah ya, aku ingin istirahat. Tut, tut, tut.” Yanti memutus panggilan, rasa penasarannya sudah terbayar dengan jawaban Yanti.
“Hei, anak itu, aku masih ingin bicara dia sudah main tutup saja,” Yanti mendaratkan ponselnya dengan sembarang di atas tepat tidur.
*******
Waktu terus berjalan mengiringi perjalanan hidup. Kehidupan yang terkadang membawa seseorang diselimuti kesenangan dan juga kesedihan. Keduanya tidak dapat lepas dari pergelutan hidup. Pijakan yang kuat adalah rasa syukur dan ikhlas menerima, diikat dengan kesabaran.
Keadaan Hanna semakin lemah dengan usia kehamilannya mencapai delapan bulan. Tubuhnya tidak sanggup lagi menahan penyakit yang semakin menggerogoti. Alia meminta izin untuk mengangkat janin di dalam kandungan karena kondisi Hanna. Denny memberi izin setelah mendengar masukan dan saran Harun. Operasi pun dilakukan untuk kelahiran bayi Hanna. Setelah menjalani operasi yang beresiko besar, putri Denny pun lahir dengan selamat. Mama Denny dan papa Hanna ikut menyambut kelahiran cucu mereka.
Hanna di bawa ke ruang perawatan setelah menjalani operasi. Denny setia berada di sisinya dengan perasaan cemas menunggu Hanna kembali sadar. Iqbal tidak bisa bersama menemani Denny, pekerjaan membebaninya selama Denny tidak hadir di perusahaan. Dirinya juga sedang berusaha memenuhi janji yang harus ditepatinya yaitu membersihkan nama Indah di perusahaan dan juga janji terhadap Hanna. Sampai hari ini, janji itu belum bisa terwujud.
Di ruangan, perlahan mata Hanna terbuka.
“Mas,” suara lemahnya memanggil Denny yang menatapnya sendu.
“An, kamu sadar? Bayi kita selamat, dia cantik seperti kamu. Terima kasih, aku sangat menyayangimu.” Denny berbicara lembut dan mengelus kepala Hanna.
“Aku ingin melihatnya,” pinta Hanna.
Mama Denny mendekat, menggendong bayi Hanna dan meletakkan dipelukannya.
“Mas, jaga putri kita. Aku tidak bisa membesarkannya bersamamu. Maafkan aku,” Ucap Hanna dengan suara semakin lemah.
“Tidak An, kamu harus bertahan untuk aku dan bayi kita. Kamu sudah melakukannya selama ini, sekarang bertahanlah sedikit lagi, kamu akan sembuh, kamu akan menjalani perobatan.” Suara Denny terdengar gemetar, air matanya tidak dapat terbendung. Dirinya tidak sanggup kehilangan Hanna.
“Mas, maafkan apa yang sudahku lakukan selama ini. Jangan membenciku, aku sangat mencintaimu.”
Ucap Hanna.
“Aku sudah memaafkan, aku tidak bisa membencimu dan aku menyayangimu. Maafkan aku karena tidak bisa mencintai sebesar rasa cintamu.” Denny berbisik di telinga Hanna dengan berurai air mata dan mencium keningnya.
Air mata mengalir dari sudut mata Hanna, tarikan nafas panjang terakhir berhembus dari mulutnya. Mata Hanna tertutup rapat untuk selamanya dengan senyum membingkai di wajah.
__ADS_1
“Hanna…., Hanna….,” Denny memanggil nama teman kecil dan sahabat yang selama ini menemani hidupnya.
Kepergian Hanna diiringi isak tangis, dan keikhlasan. Mereka tahu Hanna sudah berjuang cukup keras hingga bisa melahirkan bayinya. Pemakaman Hanna dilakukan bersebelahan dengan makam Indah. Denny menatap sendu dua nisan yang berjejer di hadapannya. Kedua orang yang disayangi dan dicintai pergi meninggalkan dirinya.